Rabu, Oktober 28, 2020

Kapan Indonesia Punya De Lijn?

Kita Masih Indonesia (Bagian 2)

Jokowi dan Sun Tzu: Win the War not the Battle Bagi Jokowi, "Sang Joki" adalah lawan tanding yang  cukup menggairahkan. Dan Jokowi sangat menikmati pertarungan...

Pesan Terakhir tentang Ekonomi Berbagi

Warga mencari transportasi dengan aplikasi online di Jakarta, Kamis (17/3). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa. Sebelum antusiasme dan kericuhan ekonomi berbagi berakhir sebagaimana nasib setiap isu...

Langkah Kuda Ahok

Langkah Basuki Tjahaja Purnama menghadapi Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017 bagaikan langkah kuda dalam permainan catur, zig-zag, dan tak mudah ditebak. Gubernur petahana...

Polemik Injil dan Egoisnya Cara Beragama Kita

Injil berbahasa Minangkabau memang sudah tidak ada lagi di google playstore tetapi pembahasannya tak kunjung usai. Hal tersebut salah satunya karena turut dilaporkannya Dosen Universitas...
Avatar
Abi Ardianda
Creative Assistant di 87.7 Hardrock FM Bandung.

Halte bus De Lijin di Hasselt, Belgia. [Sumber: dokumentasi penulis]
Halte bus De Lijin di Hasselt, Belgia. [Sumber: dokumentasi penulis]
“Sampai ketemu di stasiun pukul 13.00,” tulis lelaki yang belakangan menjadi teman kencan saya melalui Whatsapp.

 

Ya, saya tahu prolog dari tulisan ini menjijikkan. Tapi, saya merasa perlu melakukan komparasi mengenai transportasi negara kita tercinta Indonesia, dengan salah satu negara di Eropa. Dan harus saya akui, prolog tadi adalah contoh paling tepat dan faktual untuk menggambarkan situasinya.

Saat ini saya berada di Belgia, tepatnya di bagian barat Eropa, dan saya tidak memiliki izin mengemudi. Bila hal ini terjadi di Indonesia, saya dengan praktis dapat menggunakan jasa transportasi online seperti Gojek atau Uber. Tetapi, semenjak Uber menuai kontroversi di Belgia; seperti kriminal dan izin mengemudi bagi para pengemudi taksi yang tarifnya bisa mencapai 100 ribu euro, yang tidak diperlukan oleh para pengemudi Uber, saat ini Uber hanya beroperasi di Brussels.

Mereka dibentuk secara ilegal pada tahun 2014 silam. Uber tidak beroperasi di kota kecil seperti kota tempat saya tinggal; Herk De Stad. Maka, transportasi publik menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa.

Sebagai perempuan, saya memerlukan waktu untuk bersolek. Mohon tidak mengabaikan fakta bahwa kaum Adam menggunakan mata sebagai alat indera utama kala menilai sesuatu. Jadi, karena pesan singkat tadi dikirim pukul 11.00, itu artinya saya memiliki dua jam untuk bersiap dan menempuh perjalanan. Saya melihat orang-orang di Belgia mengibaratkan waktu seperti buah khuldi; ada harga yang harus kamu bayar ketika kamu “memakan” waktu mereka.

Keterlambatan berarti ketidakmampuan kita mengelola waktu dan itu akan menjadi aib seolah-olah julukan “ngaret” merupakan nama lengkapmu. Mengelola waktu saja tidak becus, bagaimana kamu akan mengelola hidupmu? Kurang lebih itulah apa yang akan dipikirkan oleh orang-orang ketika kamu terlambat dari waktu yang telah kamu janjikan.

Saya tinggal di Steenweg, Herk De Stad. Sebuah kawasan di mana satu rumah dan lainnya dapat dipisahkan oleh sebuah ladang luas di mana sapi atau kuda bisa bengo-bengo kalau mereka sedang tidak ada kerjaan. Sementara stasiun yang dimaksudkan oleh lelaki tadi adalah Stasiun Hasselt. Butuh sembilan belas menit dengan bus 299 untuk menuju Stasiun Hasselt. Dua jam dikurangi sembilan belas menit, itu artinya saya masih memiliki satu jam empat puluh satu menit untuk bersiap.

Kedengarannya tidak masalah sampai kamu tahu bahwa bus 299 hanya melintas setiap satu jam, pada menit ketiga puluh satu. Itu artinya, untuk tiba di stasiun pukul 13.00, saya sudah harus berangkat pada pukul 12.20. Kenapa? Sebab, busnya akan tiba pukul 12.31, sementara jarak dari rumah saya menuju shuttle bus itu 70 meter.

Di sini, bus tidak berhenti sembarangan. Kita tidak bisa mengetuk-ngetukkan koin ke besi yang terbentang di dalam bus untuk memberhentikannya. Di dalam bus terdapat bel dan kita harus menekannya ketika kita hampir tiba di shuttle yang paling dekat dengan tujuan.

Bus bergerak meninggalkan halte. [Sumber: dokumentasi penulis]
Bus bergerak meninggalkan halte. [Sumber: dokumentasi penulis]
Baru bus akan berhenti. Atau, ada seseorang yang berdiri di shuttle. Dengan begitu juga bus akan berhenti.

Bus, tram, kereta, metro, sampai belbus yang berada di bawah perusahaan De Lijn memiliki jadwal yang akurasinya sama seperti jadwal matahari mengelilingi bumi. Mungkin itu terkesan hiperbola, tapi itulah faktanya. Kamu tidak perlu khawatir macet, sebab negara ini menyediakan jalur khusus bus. Dalam rambu lalu lintas, bus selalu menjadi prioritas.

Kamu bisa mengunduh aplikasi De Lijn secara gratis di smartphone. Kamu hanya perlu memasukkan posisi dan tujuanmu, kemudian di sana akan tertera penawaran rute yang dapat kamu tempuh. Lengkap dengan nomor kendaraan, denah, kemudian yang terpenting; waktu.

Waktu; buah khuldi tadi benar-benar merupakan sesuatu yang sakral di sini.

Akhirnya, saya memiliki waktu satu jam dua puluh menit untuk mandi, meluruskan rambut, dan berdandan. Kemudian pada pukul 12.20 saya meninggalkan rumah dan berjalan menuju shuttle terdekat, Berbroek Veiling. Pada pukul 12.31, bus 299 tiba dan saya menaikinya untuk kemudian diantarkan sampai ke Stasiun Hasselt. Aplikasi De Lijn memberi tahu bahwa saya akan tiba di Stasiun Hasselt pada pukul 12.48. Saya tidak akan terlambat.

Apabila saya membayar di tempat, harga tiketnya 3,20 euro untuk satu jam perjalanan. Apabila kamu melampaui batas waktu, kamu harus membeli tiket lagi. Tetapi, kamu bisa mendapatkan harga lebih murah apabila kamu membeli tiket melalui pelayanan pesan singkat (SMS). Kamu hanya perlu mengetikkan DL ke 4884, kemudian pulsamu akan dipotong sebesar 2 euro dan kamu akan diberikan pesan singkat berisi tiket busmu yang juga berlaku selama satu jam.

Dengan pengelolaan operasional yang luar biasa mumpuni; kondisi mesin yang prima, higienis, deretan kursi yang empuk dan wangi, saya rasa siapa pun akan rela membayar sebesar 2 sampai 3 euro untuk satu jam perjalanan dan meninggalkan kendaraan pribadinya di rumah. Dengan begitu, kita telah berkontribusi untuk mengurangi kemacetan di dalam kota. Di Belgia, kebanyakan orang hanya mengemudikan mobil pribadinya saat mereka hendak bepergian keluar kota.

Di atas bus De Lijn, dalam perjalanan menuju ke Stasiun Hasselt, saya tidak mampu menahan diri untuk berangan; kapan Indonesia akan membangun perusahaan transportasi seperti De Lijn? Bukankah dengan begitu kita akan tergerak untuk bepergian dengan transportasi publik dan meninggalkan kendaraan pribadi di rumah?

Di tengah kemacetan dalam kota yang mengular itu, kita semua nyaris gila, kan? Mau sampai kapan?

Avatar
Abi Ardianda
Creative Assistant di 87.7 Hardrock FM Bandung.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.