Minggu, Oktober 25, 2020

Dimas Kanjeng Taat Pribadi Itu Kita!

Duka Nawa Cita Jokowi-JK

Seperti pendahulunya, Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla mematok target ambisius: swasembada beras, jagung, dan kedelai dalam tiga tahun. Swasembada gula dan...

Israel Pasca Netanyahu Keok

"Maybe time has come to say goodbye." Kalimat itu dilontarkan oleh Benjamin Netanyahu setelah mengetahui kegagalan Partai Likud dalam pemilu ulang 17 September 2019 di...

Gus Mus, Guru Bangsa Kita

Sebagai kader muda Nahdlatul Ulama, saya sangat beruntung mempunyai kiai-kiai yang dapat dijadikan teladan dan contoh dalam berpikir dan bersikap. Salah satu kiai yang...

Menguji Independensi Ahok

Ada anak muda bernama Singgih Widiyastono. Dalam dialog yang ditayangkan salah satu TV, dia begitu yakin Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, yang populer...
Avatar
Sayyed Fadel
Juragan buku, suka ngopi di KedaiSastra.com

dimas-kanjeng
Dimas Kanjeng Taat Pribadi [kabarkan.net]
Judul ini merupakan kombinasi dari judul dua karya: artikel Emha Ainun Nadjib di Kompas edisi 4 Mei 2003 berjudul “Pantat Inul adalah Wajah Kita Semua” dan buku karya Mochtar Lubis berjudul “Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungan Jawab)”. Dua karya yang secara jujur mengakui dan mempertanggungjawabkan “jati diri” kita, manusia Indonesia.

Kita sering terburu-buru menghujat. Padahal, jika introspeksi diri, apa yang kita hujat itu kadang merupakan sesuatu yang terpendam dalam lautan nafsu kita, tapi (masih) malu kita lakukan atau kita lakukan diam-diam. Ini sekaligus menjadi ciri pertama kita, manusia Indonesia, sebagaimana diungkapkan Mochtar, yakni munafik: lain di muka, lain di belakang.

Mumpung kita belum jauh ngomongin tema utama kolom ini yang mungkin bagi sebagian atau banyak orang tak penting, tapi sebaliknya bagi saya: Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang mendadak tenar tak mau kalah dengan Awkarin itu, saya mau ajak pembaca kolom ini berandai-andai sejenak: jika Dimas Kanjeng Taat Pribadi itu benar-benar bisa menggandakan uang, apakah kita tetap menghujatnya seperti sekarang?

Atau, jangan-jangan, diam-diam kita memenuhi halaman rumahnya, membawa duit yang kita punya, ngantri untuk digandakan sebagaimana ngantri-nya mereka di teras rumah “anak ajaib” Ponari dulu. Sebab, kita sering cinta dan benci secara irasional. Kita juga tak jarang teriak dan hujat maling dengan perasaan kenapa bukan kita yang maling, sih? Kan, sudah kaya kita!

Kedua, kita ini penganut “keyakinan”, bukan “kebenaran”. Apa yang kita yakini akan dipegang erat-erat dan rela bertengkar mempertahankannya, meskipun jelas-jelas itu tak benar dan orang menyadarkannya dengan sederet dalil rasional. Karenanya, seperti ditulis Mochtar sebagai ciri keempat manusia Indonesia dalam bukunya bahwa manusia Indonesia mudah percaya “takhayul”.

Saya tak mengatakan bahwa keyakinan sama dengan takhayul. Namun ia “pisau bermata ganda”, bisa berhulu ke kebenaran, tapi seringkali ke takhayul. Yang pertama jika ia kemudian diverifikasi melalui pendekatan rasional, minimal pada gejalanya jika objeknya benar-benar irasional, dan yang kedua jika ia diyakini begitu saja seperti makan onde-onde tanpa dikunyah.

Ketiga, Dimas Kanjeng Taat Pribadi itu wajah paradigma kita terhadap rezeki: pengen-nya instan, tak mau jalani sebab tapi ambisi pada akibat: tak mau kerja tapi pengen kaya. Kalau bisa, sekali doa dan Tuhan langsung ubah hujan yang biasanya turun air menjadi turun uang.

Kita sering lupa bahwa rezeki itu berbanding lurus dengan keringat, sehingga begitu mudah dibodohi oleh orang macam Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang versi tak populernya bertebaran di negeri ini dalam ragam format dan hingga kini tak dihujat, tak ditangkap, bahkan (mungkin) diam-diam dielu-elukan.

Keempat, saat kecil, saya suka mikir, kenapa Bank Indonesia tak nyetak saja uang sebanyak-banyaknya, jadi kita tak jadi negeri miskin, bukan?! Begitu juga mungkin pola pikir mereka yang datang ke Dimas Kanjeng Taat Pribadi itu, disadari atau tidak. Bedanya dengan saya hanya bahwa sekarang saya sudah dewasa dan mengerti bahwa ekonomi itu ada rumusnya: inflasi, dan lain-lain. Tak sembarangan.

Dan mereka, meski berumur dewasa, tetap saja berpikiran bocah: menduga ada hukum di luar ekonomi di mana uang bisa tergandakan tanpa kerja.

Kelima, kita ini gemar mengambil hikmah. Nah, dalam konteks itu, sebenarnya Dimas Kanjeng Taat Pribadi itu sebuah kritik menghujam ke jantung perekonomian negeri ini, yang telah melahirkan gelombang frustasi superbesar bagi rakyatnya hingga mereka sudah tak tahu lagi bagaimana harus keluar dari cengkraman kemiskinan, sampai-sampai harus coba-coba datang ke Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

“Setengah mabuk, mencoba mencuri nasib,” seperti dalam lirik lagu Iwan Fals. Dan jika berhasil, mungkin dia akan diajukan rakyat secara serentak untuk jadi Menteri Keuangan RI menggantikan Sri Mulyani.

Keenam, ciri lainnya dari manusia Indonesia versi Mochtar adalah boros, bukan economic animal. Borju tapi tak sadar kantong, tak tahu diri. Sehingga, segalanya harus dipaksakan, walau harus terjepit. Makanya, begitu mudah diiming-imingi demi memenuhi hasrat hedonisnya. Bahkan dalam beragama: lihatlah “pengantin” bom bunuh dalam aksi terorisme yang rela mengorbankan nyawa dengan iming-iming surga yang instan.

Jadi, daripada kita sibuk menghujat Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang sebenarnya sudah ada yang ngurus, mending introspeksi diri, mengutuk “Dimas Kanjeng Taat Pribadi” yang (diam-diam) ada dalam paradigma kita, serta memastikan bahwa kita takkan pernah jadi “Dimas Kanjeng Taat Pribadi” versi terbaru atau format lain di lain waktu, di masa mendatang.

Avatar
Sayyed Fadel
Juragan buku, suka ngopi di KedaiSastra.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.