OUR NETWORK

Dimas Kanjeng Taat Pribadi Itu Kita!

dimas-kanjeng
Dimas Kanjeng Taat Pribadi [kabarkan.net]
Judul ini merupakan kombinasi dari judul dua karya: artikel Emha Ainun Nadjib di Kompas edisi 4 Mei 2003 berjudul “Pantat Inul adalah Wajah Kita Semua” dan buku karya Mochtar Lubis berjudul “Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungan Jawab)”. Dua karya yang secara jujur mengakui dan mempertanggungjawabkan “jati diri” kita, manusia Indonesia.

Kita sering terburu-buru menghujat. Padahal, jika introspeksi diri, apa yang kita hujat itu kadang merupakan sesuatu yang terpendam dalam lautan nafsu kita, tapi (masih) malu kita lakukan atau kita lakukan diam-diam. Ini sekaligus menjadi ciri pertama kita, manusia Indonesia, sebagaimana diungkapkan Mochtar, yakni munafik: lain di muka, lain di belakang.

Mumpung kita belum jauh ngomongin tema utama kolom ini yang mungkin bagi sebagian atau banyak orang tak penting, tapi sebaliknya bagi saya: Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang mendadak tenar tak mau kalah dengan Awkarin itu, saya mau ajak pembaca kolom ini berandai-andai sejenak: jika Dimas Kanjeng Taat Pribadi itu benar-benar bisa menggandakan uang, apakah kita tetap menghujatnya seperti sekarang?

Atau, jangan-jangan, diam-diam kita memenuhi halaman rumahnya, membawa duit yang kita punya, ngantri untuk digandakan sebagaimana ngantri-nya mereka di teras rumah “anak ajaib” Ponari dulu. Sebab, kita sering cinta dan benci secara irasional. Kita juga tak jarang teriak dan hujat maling dengan perasaan kenapa bukan kita yang maling, sih? Kan, sudah kaya kita!

Kedua, kita ini penganut “keyakinan”, bukan “kebenaran”. Apa yang kita yakini akan dipegang erat-erat dan rela bertengkar mempertahankannya, meskipun jelas-jelas itu tak benar dan orang menyadarkannya dengan sederet dalil rasional. Karenanya, seperti ditulis Mochtar sebagai ciri keempat manusia Indonesia dalam bukunya bahwa manusia Indonesia mudah percaya “takhayul”.

Saya tak mengatakan bahwa keyakinan sama dengan takhayul. Namun ia “pisau bermata ganda”, bisa berhulu ke kebenaran, tapi seringkali ke takhayul. Yang pertama jika ia kemudian diverifikasi melalui pendekatan rasional, minimal pada gejalanya jika objeknya benar-benar irasional, dan yang kedua jika ia diyakini begitu saja seperti makan onde-onde tanpa dikunyah.

Ketiga, Dimas Kanjeng Taat Pribadi itu wajah paradigma kita terhadap rezeki: pengen-nya instan, tak mau jalani sebab tapi ambisi pada akibat: tak mau kerja tapi pengen kaya. Kalau bisa, sekali doa dan Tuhan langsung ubah hujan yang biasanya turun air menjadi turun uang.

Kita sering lupa bahwa rezeki itu berbanding lurus dengan keringat, sehingga begitu mudah dibodohi oleh orang macam Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang versi tak populernya bertebaran di negeri ini dalam ragam format dan hingga kini tak dihujat, tak ditangkap, bahkan (mungkin) diam-diam dielu-elukan.

Keempat, saat kecil, saya suka mikir, kenapa Bank Indonesia tak nyetak saja uang sebanyak-banyaknya, jadi kita tak jadi negeri miskin, bukan?! Begitu juga mungkin pola pikir mereka yang datang ke Dimas Kanjeng Taat Pribadi itu, disadari atau tidak. Bedanya dengan saya hanya bahwa sekarang saya sudah dewasa dan mengerti bahwa ekonomi itu ada rumusnya: inflasi, dan lain-lain. Tak sembarangan.

Dan mereka, meski berumur dewasa, tetap saja berpikiran bocah: menduga ada hukum di luar ekonomi di mana uang bisa tergandakan tanpa kerja.

Kelima, kita ini gemar mengambil hikmah. Nah, dalam konteks itu, sebenarnya Dimas Kanjeng Taat Pribadi itu sebuah kritik menghujam ke jantung perekonomian negeri ini, yang telah melahirkan gelombang frustasi superbesar bagi rakyatnya hingga mereka sudah tak tahu lagi bagaimana harus keluar dari cengkraman kemiskinan, sampai-sampai harus coba-coba datang ke Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

“Setengah mabuk, mencoba mencuri nasib,” seperti dalam lirik lagu Iwan Fals. Dan jika berhasil, mungkin dia akan diajukan rakyat secara serentak untuk jadi Menteri Keuangan RI menggantikan Sri Mulyani.

Keenam, ciri lainnya dari manusia Indonesia versi Mochtar adalah boros, bukan economic animal. Borju tapi tak sadar kantong, tak tahu diri. Sehingga, segalanya harus dipaksakan, walau harus terjepit. Makanya, begitu mudah diiming-imingi demi memenuhi hasrat hedonisnya. Bahkan dalam beragama: lihatlah “pengantin” bom bunuh dalam aksi terorisme yang rela mengorbankan nyawa dengan iming-iming surga yang instan.

Jadi, daripada kita sibuk menghujat Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang sebenarnya sudah ada yang ngurus, mending introspeksi diri, mengutuk “Dimas Kanjeng Taat Pribadi” yang (diam-diam) ada dalam paradigma kita, serta memastikan bahwa kita takkan pernah jadi “Dimas Kanjeng Taat Pribadi” versi terbaru atau format lain di lain waktu, di masa mendatang.

Sayyed Fadel
Juragan buku, suka ngopi di KedaiSastra.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.