OUR NETWORK

Kang Thowil dan Siti Marginal Menemani Milad Muhammadiyah

Tapi memang, kalau dipikir-pikir sekarang, soal kesetiaan ini menarik sekali, apalagi kesetiaan sebagian elite politik, kesetiaannya lebih besar pada kekuasaan, bukan pada kemanusiaan.

Judul tulisan ini masuk ke dalam ruang pikir saya ketika berada dalam mikrolet menuju Stasiun Tebet. Ceritanya begini. Hari itu usai menyeruput kopi susu pakai gula aren bersama intelektual Muhammadiyah, Ahmad Mujadid Rais dan Mantan Panglima KOKAM, Mashuri, saya diajak seorang kawan senior, tokoh KAUMY (Keluarga Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Abdullah Sumrahadi, makan Padang nan mewah di rumah makan, Padang Merdeka.

Karena sering makan nasi Padang yang biasa-biasa saja dan kadang bungkusan, kemudian diajak makan di Padang Merdeka, barangkali ini menjadi penyebab kenapa ruang pikir dan alam sosial saya digugat, sehingga timbul inspirasi untuk menulis dengan judul seperti ini.

Sesungguhnya, untuk menyambut 107 tahun Milad Muhammadiyah ini, saya sudah menyiapkan tulisan, judulnya gagah nian dan kekinian, Alam Digital Muhammadiyah. Keren kan judulnya?

Namun, apa rasa, biarkan tulisan itu saya ikhlaskan untuk Jurnal MAARIF edisi terbaru. Entah isinya keren apa tidak, nanti saya serahkan nasibnya kepada pemimpin redaksinya, Moh. Shofan, intelektual MAARIF Institute yang naik daun karena rajin update status Facebook dan sibuk mengurus Sekolah Kebudayaan Ahmad Syafii Maarif. Tapi pastinya, tulisan itu tidak menceritakan soal Youtuber yang ngeprank bergaya ala pengemis atau ala pengamen kemudian berubah menjadi hartawan yang dermawan.

Mari kita kembali ke soal inspirasi di dalam mikrolet. Generasi milenial Muhammadiyah tentu banyak yang tidak tahu kisah Kang Thowil dan Siti Marginal itu. Bisa jadi kisah ini yang tahu cuma generasi Muhammadiyah yang dulunya mengambil honor tulisan dengan menukar wesel di Kantor Pos, lalu weselnya cair.

Baiklah. Menyambut Milad 107 Muhammadiyah ini, sebagai senior, kepada generasi baru Persyarikatan Muhammadiyah, kandamu ini akan memberikan sedikit gambaran tentang kisah Kang Thowil dan Siti Marginal itu. Jikalau dirasa kurang lengkap dan tak puas, adinda bisa cari dan baca sendiri bukunya. Sepertinya ada di toko online.

Kalau tidak dapat buku yang asli, ya pasti ada yang bajakan. Kalau soal menghargai mahkota intelektual, ya kita masih marginal. Mau musim digital atau musim hujan, pemain bajakan tak kenal musim. Pembajak sudah banal sejak dalam hati dan pikiran. Tinggal menunggu “digigit” presiden saja itu.

Kang Thowil dan Siti Marginal adalah cerita tentang kasus-kasus etnografi perjalanan hidup orang-orang yang tersingkir dan tersisih yang dialami Supii bin Dulah alias Syafi’i bin Abdullah alias Kang Thowil alias Kang Moeslim. Selain kisah tentang Kang Thowil dari desa sampai kota, Kang Thowil sebagai santri, mahasiswa, aktivis, ustad sampai sebagai cendekiawan, banyak kisah tentang nasib hidup orang-orang kecil yang tertinggal.

Seperti kisah Mbak Sih yang merasa berdosa karena jadi pelacur, tapi sekarang setelah tobat, sudah ada derap pembangunan, nasibnya kok masih begitu-begitu juga. Begitupun dengan kisah nasib Siti Marginal. Entahlah. Barang kali saja memang nasibnya belum masuk dalam proposal (1995:141).

Karya-karya Kang Moeslim

Kisah Kang Thowil dan Siti Marginal adalah pengalaman antropologis cendekiawan Muhammadiyah, Moeslim Abdurrahman (1947-2012). Kang Moeslim menjumpai kisah-kisah kemanusiaan yang sungguh menyentuh. Kisah orang-orang kecil yang tetap saja menjadi kecil, seolah-olah tidak tersentuh oleh sejarah. Mereka bagaikan buih, sejarah hidup mereka mengalir begitu saja mengikuti nasib ke mana arus membawa. Orang-orang yang secara sosial malang nasibnya. Sebauh ‘fiksi’ etnografi yang menakjubkan.

Di kota, ada kisah tentang pembantu keluarga Kang Thowil yang ia bawa dari desa. Mbok Isah, yang sabar dan sangat sayang mengasuh Kang Thowil sejak kecil. Mbo Isah adalah anggota satu keluarga yang sudah sejak kakek-neneknya ikut keluarga Kang Thowil dengan setia.

Mbok Isah, contoh kesetiaan wong cilik di desa. Biarpun mungkin ada yang mengatakan dia sebenarnya hanya korban dari “kesadaran palsu” yang ditanamkan budayanya sejak kecil.

Tapi memang, kalau dipikir-pikir sekarang, soal kesetiaan ini menarik sekali, apalagi apalagi soal kesetiaan sebagian elite. Kesetiaannya lebih besar pada kekuasaan, bukan pada kemanusiaan. Dengan keluarganya saja tidak setia apalagi dengan rakyat, begitulah kira-kira. Kalah jauh sama Mbok Isah.

Selain itu ada pula cerita Kang Thowil soal makan. Kang Thowil cenderung makan di rumah makan Padang. Selain rasa pedasnya cocok, mungkin juga ada rasa aman dari segi syar’i. Namun, lama-lama selera makan Padang itu tidak seketat semula. Apalagi setelah banyak kawan yang mentraktirnya di rumah-rumah makan baru.

Moeslim Abdurrahman

Kisah itu agak mirip dengan pengalaman saya. Tapi Kang Thowil pastinya belum merasakan nikmatnya makan Padang di restoran makanan Minang, Padang Merdeka. Oh iya, lantas apa hubungan ini semua dengan Muhammadiyah?

Begini. Menurut Kang Moeslim, Muhammadiyah sebagai gerakan Islam kota yang berbasis kelas menengah agar tidak hanya mampu kembali melakukan tajdid, yakni pencerahan umat, tapi juga jihad untuk melakukan pemerdekaan umat dari kemiskinan struktural dan kultural.

Jadi, gerakan Muhammadiyah akan tetap hidup bukan dalam kesannya selama ini sebagai “tumpukan amal shaleh” yang melelahkan. Tetapi gerakan Muhammadiyah yang menggairahkan sebagai imajinasi dan rumah intelektual, karena orang-orang mudanya berpikir kreatif dan terbuka, dibiarkan tumbuh sebagai bagian dinamika sejarah masa depan Islam, untuk dialog kemanusiaan dan peradaban. Demikian core pesan Kang Moeslim.

Nah, kepada generasi baru Muhammadiyah, pesan kanda ini mohon diingat. Sambil mendengar lagu-lagunya Ed Sheeran atau Ariana Grande di Spotify atau nonton prank-prank di Youtube jangan lupa baca buku ini. Atau bagi adinda yang suka musik islami sambil dengar lagu Sabyan atau Maher Zain, tetap baca karya-karya tokoh-tokoh Muhammadiyah yang sudah merelakan hidupnya untuk persyarikatan agar berkemajuan dan berkeadilan.

Akhir cerita, hari ini, saat resepsi Milad 107 Muhammadiyah dan Grand Launching Muktamar Muhammadiyah di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, saya hanya bisa menemani atau bahasa kekiniannya “membersamai” lewat live streaming di Youtube. Semoga saja data pulsa ini tiba-tiba tidak habis masanya. Kalau begitu ya sudah, HBD 107 Muhammadiyah, GBU ya. Amin.

Bacaan terkait

Kang Moeslim, Selamat Jalan (Mengenang Moeslim Abdurrahman)

Merayakan Maulid Nabi, Membaca Ulang Pancasila

Dakwah Muhammadiyah Vs Manipulator Agama

107 Tahun Muhammadiyah, Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Muhammadiyah dan Isu Radikalisme

David Krisna Alka
Penyuka kopi susu gula aren, Alumni INS, UIN Jakarta, dan Wall Street English, sedang studi di Pascasarjana Departemen Ilmu Antropologi UI. Anggota Muhammadiyah dan Peneliti Senior MAARIF Institute for Culture and Humanity,

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…