Minggu, Januari 17, 2021

Kami Sekeluarga Tahun Ini Memilih PSI, Bukan Lagi PDI-P

Fatwa MUI Bukan Hukum Positif

"Fatwa Majelis Ulama Indonesia bukanlah hukum positif." Pernyataan tersebut saya gunakan sebagai mukaddimah dalam kolom ini dengan tujuan penegasan pendapat saya bahwa fatwa yang...

Mengukur Kerukunan Umat Beragama

Sejumlah pemuka agama berdoa saat diskusi lintas agama di Gereja Kristen Indonesia, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (9/2) malam. Diskusi bertujuan memperkuat silaturahmi dan membangun...

Menunggu Kedewasaan Pemerintah Tentang 65

Kita semua tentu tak asing dengan dongeng dari J. M. Barrie. Kira-kira plot paling terkenal dari kisah itu, yang sudah dialih-wahanakan ke beragam bentuk...

Kakek dan Otong No Vaksin?

Para "kritikus'' Jokowi meleleh! Kritiknya loyo. Tak relevan lagi. Kenapa? Tantangan para oposan dijawab lugas presiden. "Vaksin gratis untuk seluruh rakyat," kata Presiden Joko Widodo, Rabu...
Avatar
Dr. Ade Armando
Dosen Universitas Indonesia

Pada Pemilu 2014, saya sekeluarga mendukung Jokowi dan PDI-P. Sampai sekarang saya masih mengagumi sejumlah aktivis PDI yang saya pandang adalah contoh anggota parlemen terbaik: Eva Sundari, Charles Honoris, Budiman Sudjatmiko, Rieke Diah Pitaloka, dan TB. Hasanuddin, plus mungkin ada satu dua lainnya. Mereka keren.

Tapi sebagai partai politik, mereka sudah tidak lagi cukup keren untuk dipilih.
Karena itu, tahun ini, saya sekeluarga akan memilih Jokowi dan PSI.
Ada sejumlah alasan.

1. PDI-P sudah aman. Semua survei terpercaya menunjukkan suara PDI-P jauh di atas yang lainnya. Mereka diperkirakan bisa memperoleh 25% suara pemilih; sementara Gerindra cuma di kisaran 15%. Jadi kalaupun sebagian suara PDIP diambil PSI, mereka tetap partai terbesar dan menentukan.

2. PDI-P besar, tapi sebagai partai terbesar, PDI-P mengecewakan. PDI-P tidak bisa diharapkan dalam perang melawan korupsi yang adalah salah satu persoalan terbesar negara ini. Indeks korupsi ICW periode 2002-2014 mencatat PDI-P sebagai Parpol dengan tingkat korupsi tertinggi, 7.7; jauh di atas partai-partai lainnya. Akhir tahun lalu, SETARA Institute mengumumkan PDI-P menjadi penyumbang terbanyak dalam jumlah kader yang terjaring OTT KPK (2018). Awal tahun ini kader PDI-P di Kalteng memecahkan rekor tertinggi kerugian negara akibat korupsi di Indonesia, dengan Rp 5,8T.

3. Karena PDI-P adalah partai dengan kursi terbanyak di DPR, PDI-P sangat bertanggungjawab atas korupsi E-KTP yang mencapai lebih dari Rp 2T, pemborosan dalam hal pembangunan gedung baru DPR, ketidakproduktifan DPR dalam hal melahirkan UU (sampai-sampai disebut Forum Masyarakat Peduli Parlemen sebagai ‘DPR terburuk dalam sejarah reformasi’).

4. PDI-P bertanggungjawab dan terlibat dalam pemborosan triliunan rupiah akibat perjalanan dinas dan kunjungan kerja anggota DPR yang pertanggungjawabannya sangat tidak transparan dan tidak akuntabel. BPK menyebut tahun 2016, uang kunker fiktif mencapai hampir Rp 1 Triliun.

5. PDI-P menjadi pengusul hak angket yang berusaha melemahkan KPK. (Sementara, PSI jelas-jelas mengecam hak angket tersebut).

6. PDI-P ngotot dengan pasal-pasal kontroversial dalam Revisi UU MD3 yang akan melemahkan kemampuan masyarakat untuk mengontrol dan mengeritik DPR. Untung pasal-pasal itu akhirnya dibatalkan MK, setelah digugat oleh, antara lain, PSI.

7. PDI sangat mengecewakan dalam kasus-kasus penindasan hak-hak beragama dan berkeyakinan. PDI-P sebagai partai terbesar bungkam ketika ada gereja disegel, vihara dibakar, masyarakat sipil dibungkam, kaum minoritas ditindas. Aneh, mereka besar tapi tak mau ambil risiko bersuara, sementara PSI bersuara lantang.

8. Lebih parah lagi, kader-kader PDIP di banyak tempat bertanggungjawab atas lahirnya Perda-perda Syariah. (Dalam kasus ini, PSI bersuara lantang menolak Perda Syariah).

9. PDI-P hampir-hampir tak bersuara dalam tumbuhnya budaya kekerasan dan kejahatan seks terhadap perempuan. Salah seorang anggota DPR asal PDI-P, Masinton Pasaribu, malah diketahui melakukan kekerasan terhadap asistennya di DPR, dan dia tetap bisa melenggang sebagai Caleg PDI-P 2019-2024 (Dalam hal ini, PSI jelas-jelas menkampanyekan pensahan UU Penghapusan Kekerasan Seks).

10. PDI-P tidak bisa diharapkan karena barangkali mereka sudah terlalu besar dan lamban. Di dalam PDI-P, Megawati terlalu dominan. ‘Emak banteng’ adalah pusat dari segalanya. Pertimbangan rasional sering diabaikan. Tidak ada orang di PDI-P yang berani melawan titah Megawati. Ini pasti akan menjadi isu besar tatkala ada regenerasi kepemimpinan, mengingat hampir pasti kandidat utamanya adalah keturunan Soekarno.

11. Struktur internal PDI-P sendiri sudah semakin membeku dan mereka yang berada di atas berusaha mempertahankan status quo. Jangan lupa, pada awalnya PDI-P sebenarnya tidak solid mendukung Jokowi pada Pilpres 2014. Bagi PDI-P, Jokowi adalah orang luar. Hanya di saat-saat terakhir, PDI-P menyerah dan mendukung Jokowi. Pada Pilgub DKI 2017, banyak orang PDI-P yang tidak sungguh-sungguh mendukung Ahok.

12. Kultur politik PDI-P sudah terlalu kaku dan sulit berubah. Banyak aktivis PDI-P yang kritis terpinggirkan. Banyak dari mereka yang kritis kini bersifat oportunis dan kompromistis serta bertahan di PDI-P sekadar karena merasa tidak ada kendaraan politik yang lebih baik daripada PDI-P.
Karena segenap catatan tentang PDI-P itulah, saya kini menaruh harapan pada PSI. Mereka memberi harapan baru dalam dunia perpolitikan Indonesia yang sudah semakin kaku dan terbelakang.

Saya merasa PSI layak mendapat tempat di DPR, karena saya sudah tidak bisa berharap bahwa PDIP – apalagi partai-partai lain—akan mentransformasi diri. PSI diisi orang-orang muda dari berbagai wilayah di Indonesia yang memiliki track record mengagumkan. Mereka mungkin bukan orang lama dalam dunia partai (yang kotor), tapi mereka sudah menapakkan jejak keberhasilan dan kesuksesan sebelumnya.

Selama ini publik mungkin hanya mengenal Grace Natalie, Tsamara Amany dan Giring Nidji yang bersuara lantang. Tapi di dalam PSI ada puluhan anak muda yang sebelumnya adalah kaum profesional, budayawan, ilmuwan atau aktivis demokrasi, kemanusiaan, pluralisme, perlindungan atas perempuan. Dan kalau dibaca latarbelakang pendidikannya, hampir pasti kita membelalakkan mata. Saya sendiri melihat PSI sebagai semacam LSM kemanusiaan dan demokrasi berbentuk partai politik.

Lebih dari itu mereka menawarkan cara untuk memaksa siapapun –termasuk anggota PSI—yang masuk DPR agar bisa dikontrol masyarakat. Mereka mengembangkan mekanisme yang mewajibkan setiap anggota DPR melaporkan apa yang mereka lakukan setiap hari pada publik melalui aplikasi yang bisa diunduh masyarakat. Melalui aplikasi itu, masyarakat bisa mengontak mereka setiap saat. Mereka juga sudah mengajukan rancangan PP yang akan memaksa setiap anggota DPR mempertanggungjawabkan setiap sen pengeluaran dinas. Mereka juga menyediakan mekanisme bagi rakyat untuk meminta Parpol menarik anggota parlemen yang mengkhianati kepercayaan rakyat. Mereka bukan cuma bicara. Mereka menawarkan solusi.

PDI-P sudah puluhan tahun ada di politik Indonesia. Mereka hebat. Tapi sudah saatnya, ada parpol lain dengan ideologi serupa namun dengan integritas dan prestasi mengagumkan seperti PSI juga berada di parlemen.

Pada akhirnya, apakah saya percaya sepenuhnya pada PSI? Dengan yakin saya menjawab, ya. PSI memberikan harapan bagi masa depan Indonesia, sebagaimana Presiden Jokowi telah membuktikan bahwa orang baru dalam dunia politik bisa merombak Indonesia secara revolusioner ke arah yang jauh lebih baik. Saya setuju dengan pernyataan Jokowi bahwa PSI adalah unicorn Indonesia.
Indonesia sudah memiliki presiden sehebat Jokowi. Kini saatnya Indonesia juga memiliki anggota parlemen sehebat orang-orang PSI.

Avatar
Dr. Ade Armando
Dosen Universitas Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.