Rabu, Oktober 28, 2020

Jurnalisme Ala Bangku Kosong

Mengetuk Pintu Hati Presiden

Ada baiknya kita mundur kurang lebih satu dekade. Masih segar dalam ingatan kita, seorang perempuan hebat bernama Sri Mulyani Indrawati kala itu menjabat sebagai Menteri...

Mogura Tataki (土竜 叩き)  – Whack-A Mole

Permainan Mogura Tataki atau Whack-A-Mole sering kita jumpai di acara karnival di mana kita harus dengan cepat memukul tikus-tikus tanah yang bermunculan secara acak. ...

Perbedaan Memahami Allah dalam Islam

Semua Muslim saat ini percaya hanya ada satu Tuhan. Sebagian mereka kekeh menggunakan nama Allah. Tetapi sebagian lagi memanggilnya dengan nama-nama dalam bahasa ibu...

Seratus Tahun Kebahagiaan

Tanggal 14 April lalu mestinya Eddie Jaku merayakan ulang tahun ke-100 di kotanya, Sydney, Australia. Pandemi membuatnya mengurungkan niatnya. "Tapi bukan dibatalkan, hanya ditunda,"...
Rangga Asmara
Rangga Asmara mengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tidar. Meminati kajian sosiolinguistik, pragmatik, critical discourse, dan jurnalistik. Sebelum menjadi dosen, ia sempat bekerja pada harian Media Indonesia sebagai kontributor dan menjadi surveyor lapangan pada Lembaga Survei Indonesia (LSI).

“Raibnya” Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto di panggung publik akhir-akhir ini langsung direspon cepat oleh tayangan talk show Mata Najwa. Tim Mata Najwa seperti tidak kurang akal mengatasi sulitnya menghadirkan sang Menteri. Jadilah Najwa Shihab mewawancarai bangku kosong yang mestinya diduduki Menteri Terawan.

Bisa dibilang momen ini menjadi salah satu momen terbaik dalam jurnalisme televisi di Indonesia. Meski bukan hal yang lumrah, ide mewawancarai bangku kosong dalam sebuah acara talk show di televisi bukan hal yang baru dalam sejarah jurnalisme televisi.

Dalam lintasan sejarah jurnalisme televisi di Indonesia, memang baru Mata Najwa yang pertama dan “berani” melakukannya. Benar saja menghadirkan bangku kosong sang Menteri tentu sangat berisiko. Apalagi jabatan menteri adalah jabatan eksekutif tertinggi setelah presiden, bukanlah pihak yang powerless.

Di negara-negara yang telah lama memiliki tradisi demokrasi dan jurnalisme, misalnya Inggris atau Amerika, treatment menghadirkan bangku kosong sudah menjadi sesuatu yang lumrah terjadi. Di Inggris, presenter senior BBC, Andre Neil mewancarai bangku kosong yang mestinya diduduki Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.

Kejadian serupa juga dialami presenter berita Sky NewsKay Burley. Salah satu menteri dari partai Konservatif Inggris James Cleverly, tak jadi datang, meski sudah janji untuk diwawancarai. Sang presenter yang jengkel, akhirnya mewawancarai bangku kosong. Burley mengarahkan rentetan pertanyaannya ke bangku kosong yang seharusnya ditempati Cleverly.

Bukan Wawancara Imajiner

Tampaknya teknik wawancara ini akan menjadi tren bagi media lain dalam menyampaikan kritik pada pemegang kursi kekuasaan. Dalam konteks tanggap bencana Covid-19, meng-kursi-kosong-kan pihak-pihak yang memiliki wewenang terhadap kondisi krisis, namun enggan bersikap transparan bisa menjadi cara-cara extraordinary untuk menunjukkan sense of crisis. Sejatinya bukan hal aneh meng-kursi-kosong-kan politisi atau pejabat yang tidak mau ditanya perkara yang menjadi tanggung jawabnya. Lebih-lebih kalau kebijakannya selama menjabat patut dikoreksi.

Mewawancarai bangku kosong tentu berbeda dengan wawancara imajiner.Secara teknis, pewawancara tidak sepenuhnya dianggap sedang melakukan wawancara. Pewawancara hanya mengajukan sejumlah pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut juga tidak harus langsung dijawab, sebagaimana wawancara secara tatap muka. Jawaban dari narasumber bisa disampaikan kapan saja, di mana saja, dan dengan media apapun. Ketika mewawancarai bangku kosong, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan juga bukan pertanyaan fiktif. Suasana harus dikondisikan seolah-olah si narasumber hadir. Meski drama tanya jawab hanya tampak seperti balada di depan layar kaca.

Format wawancara imajiner sebagai produk jurnalistik sempat eksis pada periode 1990-an. Ide wawancara jenis ini sempat digagas oleh wartawan tabloid Detak Christianto Wibisono yang berusaha mengulas pemikiran-pemikiran Presiden Pertama Indonesia Soekarno. Tentu Bung Karno bukanlah tokoh yang masih eksis. Ia telah lama meninggal. Sebetulnya, menyajikan hasil tanya jawab imajiner dalam media cetak, lebih mudah daripada media elektronik/televisi. Alih-alih sekadar melempar pertanyaan kepada narasumbernya, sebetulnya Christianto sebagai pewawancara sedang menjawab pertanyaan-pertanyaanya sendiri.

Secara imajiner, sesi wawancara dengan Pak Menteri harusnya berlangsung panas. Seperti biasanya Najwa mampu mengajukan pertanyaan yang intimidatif dan provokatif.  Bahkan, Mbak Nana sapaan akrabnnya, memulai wawancaranya dengan sanjungan sarkastik kepada Pak Terawan sebagai menteri kesehatan paling low-profile di seluruh dunia selama wabah Covid-19.

Pujian sarkastik ini memang bisa jadi berlebihan dan cenderung tidak menghormati Pak Terawan. Sikap respek terhadap narsumber dalam prinsip kerja jurnalistik harusnya dijunjung tinggi oleh semua jurnalis. Bahkan, narasumber yang minta identitasnya disembunyikan pun tetap harus dihormati. Kita ingat, HB Yassin rela masuk penjara karena tidak maau menyebutkan identitas Ki Panji Kusmin yang menulis di medianya.

Hak Menolak

Berdasarkan Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) pasal 30, narasumber memiliki hak untuk menolak berpartisipasi dalam sebuah program siaran yang diselenggarakan lembaga penyiaran. Namun demikian, kesediaan mereka menjawab pertanyaan dan keresahan masyarakat sejatinya adalah bentuk tanggung jawab sebagai pejabat publik.

Dalam hal pandemi ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tetaplah institusi paling strategis. Betapa pun sejumlah satgas dan komite telah dibentuk untuk mengatasi pandemi dan dampak-dampaknya, Kemenkes tetaplah pengampu utamanya. Kemenkes inilah yang pada dasarnya memiliki kewenangan, anggaran, perangkat birokrasi terkait sektor kesehatan.

Meski begitu, tak semua orang sepakat dengan cara Mata Najwa. Ada yang merespons bahwa bertanya kepada bangku kosong termasuk upaya mempermalukan sang Menteri. Bisa jadi disclaimer Pak Terawan untuk datang ke Mata Najwa juga bentuk kegagalan seorang jurnalis menghadirkan narasumber. Sesuatu yang sebenarnya kontradiktif. Namun dengan analogi memancing ikan, mewawancarai bangku kosong adalah kailnya, Najwa sebagai si pemancing sebenarnya sedang memancing agar sang Menteri bicara.

Tentu saja bertanya kepada pejabat yang mempunyai kewenangan di bidangnya tidak bisa dikategorikan sebagai persekusi atau bullying. Dalam jurnalistik, mewawancarai entah secara langsung maupun jarak jauh dianggap sebagai upaya mencari klarifikasi/konfirmasi untuk memenuhi prinsip cover both side. Justru ketika Mata Najwa menyediakan bangku kosong inilah, ada ruang alternatif bagi publik untuk menyimak paparan rencana pemerintah dalam mengatasi pandemi yang tak kunjung berhenti. Banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan, namun semua bisa diawali dengan kehadiran sang Menteri.

Rangga Asmara
Rangga Asmara mengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tidar. Meminati kajian sosiolinguistik, pragmatik, critical discourse, dan jurnalistik. Sebelum menjadi dosen, ia sempat bekerja pada harian Media Indonesia sebagai kontributor dan menjadi surveyor lapangan pada Lembaga Survei Indonesia (LSI).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Mengenal Dua Tokoh Ateisme: Feuerbach dan Marx

Ludwid Feuerbach (1804-1872) dan Karl Marx (1818-1883) menjadi dua tokoh besar ateisme dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya digolongkan filsuf materialistis karena bagi mereka pemikiran...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.