Kamis, Maret 4, 2021

Jurnalisme Ala Bangku Kosong

Hari Santri, Kaum Sarungan, dan Istana

Pertanyaan ini pernah saya sampaikan di sejumlah majelis pengajian, tapi jamaah tidak ada yang bisa spontan menjawab. Baiklah, kali ini akan saya tanyakan di...

Kitab Merdeka [Refleksi Kebangkitan Nasional]

Dalam satu kronik Cina, diperkirakan berasal dari akhir abad ke-3, diberitakan tentang Po ("perahu" dalam bahasa Melayu). Po adalah perahu besar yang menandai peran...

Silakan Tuding Kristen Syirik! [Mengapresiasi Mun’im yang “Sudah Lebih” Katolik…]

Selalu membingungkan membincangkan agama, apalagi perbedaan-perbedaan di antaranya. Nikmat memang. Kurang nikmat apalagi jika kita mengejek agama orang lain. Itu sudah semacam candu. Bukankah...

Mudik dan Ironi Mereka yang Terusir

Ada banyak orang terusir di dunia ini. Ada yang terusir dari negerinya sendiri, seperti rakyat Palestina. Juga rakyat di negara-negara Timur Tengah yang berkecamuk,...
Rangga Asmara
Rangga Asmara mengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tidar. Meminati kajian sosiolinguistik, pragmatik, critical discourse, dan jurnalistik. Sebelum menjadi dosen, ia sempat bekerja pada harian Media Indonesia sebagai kontributor dan menjadi surveyor lapangan pada Lembaga Survei Indonesia (LSI).

“Raibnya” Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto di panggung publik akhir-akhir ini langsung direspon cepat oleh tayangan talk show Mata Najwa. Tim Mata Najwa seperti tidak kurang akal mengatasi sulitnya menghadirkan sang Menteri. Jadilah Najwa Shihab mewawancarai bangku kosong yang mestinya diduduki Menteri Terawan.

Bisa dibilang momen ini menjadi salah satu momen terbaik dalam jurnalisme televisi di Indonesia. Meski bukan hal yang lumrah, ide mewawancarai bangku kosong dalam sebuah acara talk show di televisi bukan hal yang baru dalam sejarah jurnalisme televisi.

Dalam lintasan sejarah jurnalisme televisi di Indonesia, memang baru Mata Najwa yang pertama dan “berani” melakukannya. Benar saja menghadirkan bangku kosong sang Menteri tentu sangat berisiko. Apalagi jabatan menteri adalah jabatan eksekutif tertinggi setelah presiden, bukanlah pihak yang powerless.

Di negara-negara yang telah lama memiliki tradisi demokrasi dan jurnalisme, misalnya Inggris atau Amerika, treatment menghadirkan bangku kosong sudah menjadi sesuatu yang lumrah terjadi. Di Inggris, presenter senior BBC, Andre Neil mewancarai bangku kosong yang mestinya diduduki Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.

Kejadian serupa juga dialami presenter berita Sky NewsKay Burley. Salah satu menteri dari partai Konservatif Inggris James Cleverly, tak jadi datang, meski sudah janji untuk diwawancarai. Sang presenter yang jengkel, akhirnya mewawancarai bangku kosong. Burley mengarahkan rentetan pertanyaannya ke bangku kosong yang seharusnya ditempati Cleverly.

Bukan Wawancara Imajiner

Tampaknya teknik wawancara ini akan menjadi tren bagi media lain dalam menyampaikan kritik pada pemegang kursi kekuasaan. Dalam konteks tanggap bencana Covid-19, meng-kursi-kosong-kan pihak-pihak yang memiliki wewenang terhadap kondisi krisis, namun enggan bersikap transparan bisa menjadi cara-cara extraordinary untuk menunjukkan sense of crisis. Sejatinya bukan hal aneh meng-kursi-kosong-kan politisi atau pejabat yang tidak mau ditanya perkara yang menjadi tanggung jawabnya. Lebih-lebih kalau kebijakannya selama menjabat patut dikoreksi.

Mewawancarai bangku kosong tentu berbeda dengan wawancara imajiner.Secara teknis, pewawancara tidak sepenuhnya dianggap sedang melakukan wawancara. Pewawancara hanya mengajukan sejumlah pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut juga tidak harus langsung dijawab, sebagaimana wawancara secara tatap muka. Jawaban dari narasumber bisa disampaikan kapan saja, di mana saja, dan dengan media apapun. Ketika mewawancarai bangku kosong, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan juga bukan pertanyaan fiktif. Suasana harus dikondisikan seolah-olah si narasumber hadir. Meski drama tanya jawab hanya tampak seperti balada di depan layar kaca.

Format wawancara imajiner sebagai produk jurnalistik sempat eksis pada periode 1990-an. Ide wawancara jenis ini sempat digagas oleh wartawan tabloid Detak Christianto Wibisono yang berusaha mengulas pemikiran-pemikiran Presiden Pertama Indonesia Soekarno. Tentu Bung Karno bukanlah tokoh yang masih eksis. Ia telah lama meninggal. Sebetulnya, menyajikan hasil tanya jawab imajiner dalam media cetak, lebih mudah daripada media elektronik/televisi. Alih-alih sekadar melempar pertanyaan kepada narasumbernya, sebetulnya Christianto sebagai pewawancara sedang menjawab pertanyaan-pertanyaanya sendiri.

Secara imajiner, sesi wawancara dengan Pak Menteri harusnya berlangsung panas. Seperti biasanya Najwa mampu mengajukan pertanyaan yang intimidatif dan provokatif.  Bahkan, Mbak Nana sapaan akrabnnya, memulai wawancaranya dengan sanjungan sarkastik kepada Pak Terawan sebagai menteri kesehatan paling low-profile di seluruh dunia selama wabah Covid-19.

Pujian sarkastik ini memang bisa jadi berlebihan dan cenderung tidak menghormati Pak Terawan. Sikap respek terhadap narsumber dalam prinsip kerja jurnalistik harusnya dijunjung tinggi oleh semua jurnalis. Bahkan, narasumber yang minta identitasnya disembunyikan pun tetap harus dihormati. Kita ingat, HB Yassin rela masuk penjara karena tidak maau menyebutkan identitas Ki Panji Kusmin yang menulis di medianya.

Hak Menolak

Berdasarkan Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) pasal 30, narasumber memiliki hak untuk menolak berpartisipasi dalam sebuah program siaran yang diselenggarakan lembaga penyiaran. Namun demikian, kesediaan mereka menjawab pertanyaan dan keresahan masyarakat sejatinya adalah bentuk tanggung jawab sebagai pejabat publik.

Dalam hal pandemi ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tetaplah institusi paling strategis. Betapa pun sejumlah satgas dan komite telah dibentuk untuk mengatasi pandemi dan dampak-dampaknya, Kemenkes tetaplah pengampu utamanya. Kemenkes inilah yang pada dasarnya memiliki kewenangan, anggaran, perangkat birokrasi terkait sektor kesehatan.

Meski begitu, tak semua orang sepakat dengan cara Mata Najwa. Ada yang merespons bahwa bertanya kepada bangku kosong termasuk upaya mempermalukan sang Menteri. Bisa jadi disclaimer Pak Terawan untuk datang ke Mata Najwa juga bentuk kegagalan seorang jurnalis menghadirkan narasumber. Sesuatu yang sebenarnya kontradiktif. Namun dengan analogi memancing ikan, mewawancarai bangku kosong adalah kailnya, Najwa sebagai si pemancing sebenarnya sedang memancing agar sang Menteri bicara.

Tentu saja bertanya kepada pejabat yang mempunyai kewenangan di bidangnya tidak bisa dikategorikan sebagai persekusi atau bullying. Dalam jurnalistik, mewawancarai entah secara langsung maupun jarak jauh dianggap sebagai upaya mencari klarifikasi/konfirmasi untuk memenuhi prinsip cover both side. Justru ketika Mata Najwa menyediakan bangku kosong inilah, ada ruang alternatif bagi publik untuk menyimak paparan rencana pemerintah dalam mengatasi pandemi yang tak kunjung berhenti. Banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan, namun semua bisa diawali dengan kehadiran sang Menteri.

Rangga Asmara
Rangga Asmara mengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tidar. Meminati kajian sosiolinguistik, pragmatik, critical discourse, dan jurnalistik. Sebelum menjadi dosen, ia sempat bekerja pada harian Media Indonesia sebagai kontributor dan menjadi surveyor lapangan pada Lembaga Survei Indonesia (LSI).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.