OUR NETWORK

Jokowi Tak Akan Menang Mutlak di Jawa Tengah

Survei memang sebatas potret. Bisa berubah kapanpun. Hari ini Prabowo meningkat, besok bisa jadi menurun. Begitupun sebaliknya.

Kalau dilihat sekilas Jawa Tengah memang layak disebut sebagai kandang banteng dan secara otomatis kandang Jokowi-Ma’ruf Amin. PDIP menjadi pemenang di Pemilu 2014 dan menguasai DPRD Jawa Tengah dengan 31 kursi. Gubernur Ganjar Pranowo dan beberapa bupati juga telah mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf Amin.

Namun, tidak benar jika PDIP dan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin mengklaim akan menang mutlak di Jawa Tengah pada Pilpres 2019 mendatang. Alhamdulillah dari hari ke hari, angin baik terus berembus ke pasangan Prabowo-Sandiaga.

Saat ini, Prabowo dan Sandiaga semakin disambut oleh masyarakat Jawa Tengah. Setiap kali kabar kedatangan mereka ke salah satu kota atau kabupaten, hiruk pikuk terjadi. Orang-orang secara spontan membicarakan dan datang. Membuat kami tidak perlu repot-repot untuk melakukan pengerahan massa. Bahkan di wilayah yang disebut basis Jokowi-Ma’ruf Amin, seperti Boyolali, Solo dan Semarang.

Acara di Boyolali tahun lalu, ratusan orang berkumpul, meskipun acara tersebut sebenarnya dadakan. Itu karena mereka antusias ingin mendengarkan pidato beliau yang penuh semangat mengulas permasalahan rakyat. Sayangnya, oknum tertentu yang kurang punya selera humor sengaja memelintir pidato beliau saat itu. Akhirnya membuat inti materi tertutup dengan isu tampang Boyolali.

Momen Prabowo salat Jumat di masjid Kauman, Semarang apalagi. Ribuan orang datang. Tidak hanya dari Semarang, tapi dari kota-kota lain di sekitarnya. Seperti Kebumen, Banyumas, Solo, Kudus, dan Demak. Padahal pemberitahuan disebarkan hanya dua hari sebelumnya. Saya yang hadir saat itu cukup kaget. Hampir tidak pernah sebelumnya saya melihat massa sebanyak itu memadati masjid Kauman selain Idul Fitri.

Hal sama juga dialami Sandiaga saat berkunjung ke Jawa Tengah. Sampai sekarang, beliau sudah mengunjungi 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Artinya, semua sudah terjangkau. Selama kunjungan tersebut, seperti yang saya saksikan sendiri setiap kali mendampingi, masyarakat selalu antusias. Baik masyarakat biasa, maupun para tokoh setempat.

Lonjakan antusiasme masyarakat Jawa Tengah kepada Prabowo-Sandiaga tersebut karena mereka sudah mulai memahami sosok dua orang itu. Tidak seperti sebelumnya yang hanya tahu selewat saja dari berita televisi atau media online. Kini, mereka tahu kalau Prabowo memiliki darah Jawa Tengah dari keturunan bapaknya yang asli Kebumen. Begitu juga Sandiaga yang punya darah Demak dari keturunan eyangnya.

Pengetahuan asal keturunan Prabowo dan Sandiaga tersebut membuat masyarakat Jawa Tengah merasa lebih dekat secara kultural dengan mereka. Menganggap keduanya seperti saudara sendiri. Yang terpenting, itu mematahkan asumsi bahwa hanya Jokowi Capres putra daerah Jawa Tengah.

Selain itu, masyarakat juga semakin memahami bahwa visi-misi Prabowo-Sandiaga memang berkaitan langsung dengan hajat hidup mereka. Misalnya komitmen pasangan nomor urut 02 ini untuk menghentikan import beras dan jagung dan menurunkan harga BBM. Mayoritas masyarakat Jawa Tengah adalah petani dan nelayan. Selama periode Jokowi, para petani padi dan jagung dirugikan karena import. Sementara nelayan merugi karena harga solar naik terus. Walhasil, mereka merasa dekat dan memiliki harapan pada pasangan ini.

Proses penanaman pemahaman visi-misi Prabowo-Sandiaga ke masyarakat Jawa Tengah menjadi efektif lantaran kinerja bahu-membahu seluruh tim. Terutama golongan emak-emak yang sangat militan atau saya sebut sebagai partai emak-emak. Mereka tidak malu untuk datang dari rumah ke rumah untuk berkampanye. Mengajak setiap emak-emak lainnya untuk mendukung Prabowo-Sandiaga.

Perlu diketahui, emak-emak merupakan golongan massa yang solid. Mereka sukar diubah pendiriannya. Sekali memutuskan A, maka sudah pasti A. Maka, semakin besar suara mereka, semakin besar pula peluang Prabowo-Sandiaga memepet perolehan Jokowi-Ma’ruf Amin di Jawa Tengah, atau bahkan memenangkan suara secara nasional, karena di kubu Jokowi-Ma’ruf Amin tidak memiliki partai emak-emak.

Survei Membuktikan

Barangkali Anda sekalian kurang percaya dengan pemaparan di atas karena saya adalah Ketua DPD Gerindra Jawa Tengah. Tapi semuanya telah terbukti melalui hasil survei internal kami dan survei lembaga lainnya yang menyatakan selisih Prabowo-Sandiaga dan Jokowi-Ma’ruf di Jawa Tengah semakin tipis.  Hanya saja, kali ini saya akan menyebutkan survei eksternal. Karena survei internal bersifat rahasia.

Hasil survei Median periode 6-15 Januari 2019 terhadap 1.500 responden dengan margin of error 2,5 persen menyatakan, keunggulan Jokowi atas Prabowo di Pulau Jawa menurun dari 16 persen pada November 2018 menjadi 11,8 persen pada Januari 2019.

Pada November 2018, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf di Jawa sebesar 48,7 persen. Sementara Prabowo-Sandiaga sebesar 32,7 persen dan undecided voters sebesar 18,6 persen. Lalu, pada Januari 2019, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf di Jawa sebesar 47,4 persen, Prabowo-Sandiaga sebesar 35,6 persen, dan undecided voters sebesar 17 persen.

Menurut Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, seperti yang saya baca pernyataannya di media-media massa, penurunan tersebut erat dipengaruhi peningkatan suara Prabowo di basis Jokowi pada pemilu 2014, yakni Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan, di Jawa Barat yang menjadi basis Prabowo pada pemilu 2014, Jokowi belum mampu membobolnya.

Survei memang sebatas potret. Bisa berubah kapanpun. Hari ini Prabowo meningkat, besok bisa jadi menurun. Begitupun sebaliknya. Akan tetapi, dengan soliditas tim di lapangan dan sosok Prabowo-Sandiaga yang semakin menunjukkan kepantasannya memimpin negeri ini dari waktu ke waktu, saya yakin suara mereka akan semakin meningkat.

Jangan lupa, pada Pilgub Jawa Tengah 2018 semua lembaga survei menyatakan pasangan Ganjar-Yasin bakal menang mutlakt, atau meminjam bahasa Megawati Soekarnoputri waktu itu adalah menang total. Toh buktinya pasangan Sudirman-Ida yang selalu diprediksi tidak akan mendapat suara lebih dari 20 persen, malah bisa mendapat 42 persen suara saat penghitungan suara. Jadi, kalau sekarang survei menyatakan selisih tidak lebih dari 20 persen, bukan tidak mungkin Jokowi-Ma’ruf Amin justru bakal tumbang di Jawa Tengah.

Abdul Wachid
Ketua DPP Gerindra Jawa Tengah

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…