Rabu, Desember 2, 2020

Membaca Jokowi dari Sampul demi Sampul Tempo

Generasi Y dan Pola Berbagi

Dalam buku Generations: The History of America’s Future, 1584 to 2069 (1991), William Strauss dan Neil Howe merumuskan sebuah teori yang mengemukakan bahwa generasi...

Penting dan Urgen: Menyehatkan Udara yang Kita Hirup

Indeks Kualitas Udara sedang menunjukkan angka 210 untuk wilayah Jakarta ketika tulisan ini dibuat, sehari sebelum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2019 yang jatuh pada...

Simalakama Laporan Pelecehan Seksual Sopir Grab

Sejumlah laporan pelecehan seksual yang dilakukan sopir Grab beredar di media sosial. 7 Oktober lalu, akun Instagram @dearcatcallers.id mengunggah beberapa screenshot pembicaraan salah satu...

Jokowi dan Heboh Video ISIS di Masjid Jakarta

  Terdakwa simpatisan ISIS Ahmad Junaedi melambaikan tangan usai sidang pembacaan vonis di PN Jakarta Barat, Jakarta, Selasa (9/2). Ahmad Junaedi divonis tiga tahun penjara...

Krista Neher, sosok berpengaruh di dunia digital marketing mengatakan bahwa otak lebih cepat memproses gambar dibandingkan teks. Secara berlebihan bahkan dia mengatakan kemampuan dalam memprosesnya 60 ribu kali lebih cepat. Sulit bagi awam seperti kita menguji kebenaran kualitatif yang dikuantifikasi tersebut.

Walaupun mungkin angka pengganda sebenarnya 37ribu atau cuma sekedar 2 kali lebih cepat, pernyataan Neher tersebut di lapangan acap kali mendapatkan pembuktian. Satu produk akan mudah diterima oleh masyarakat karena menarik secara visual daripada info produknya dituliskan panjang lebar.

Bahkan untuk mengetahui situasi politik terkini di negara ini sebenarnya tidak susah-susah amat. Cukup hamparkan majalah Tempo dari berbagai edisi selama beberapa tahun ini, akan tampak fragmen demi fragmen bagaimana Joko Widodo dan Prabowo Subianto menjalani hari-hari yang melelahkan, penuh intrik, dan sangat mungkin sudah sama-sama terkena racun kekuasaan.

Dalam pembacaan lain, akan terlihat bagaimana Jokowi mempunyai kehendak yang sama dengan pendukungnya. Ingin melestarikan kekuasaannya. Demikian pula Prabowo, pantang berhenti nyapres sebelum berkuasa.

Ingat, itu semua cukup kita ketahui dengan melihat sampul Majalah Tempo, tidak perlu repot-repot baca berita yang dihidangkan oleh jurnalisnya melalui liputan mendalam. Dari sampul, langsung simpulkan. Lah, kalau salah? Salah itu biasa, Bung! Bukankah orang Indonesia dalam keseharian sangat terlatih membaca judul tanpa baca beritanya?

Selama 2018 saja, dari 22 edisi Majalah Tempo yang telah terbit, 6 edisi di antaranya bersampulkan Jokowi. Apa sih sebenarnya mau Tempo? Apa mereka sengaja memosisikan diri sebagai media spesialis mengangkat Pakde Jokowi jadi sosok yang top of mind, atau pembaca saja yang tidak peka pada petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh sang illustrator majalah tersebut?

Mari susuri sejak awal Jokowi akan masuk pusaran kekuasaan. Maret 2012, Tempo mengeluarkan edisi dengan sampul dwimuka, Prabowo dan Jokowi. Tanpa membaca liputan di dalamnya, dan tanpa membaca tema ”Bandar Calon DKI-1” yang terpampang jelas di sampul itu, orang akan mafhum bahwa muka Prabowo yang digambarkan lebih jelas merupakan dalang utamanya.

Itu saat belum dikenal istilah orang baik dukung orang baik yang dipopulerkan Anies Baswedan, sehingga kehadiran Prabowo yang menyokong dana dan menyalakan mesin partainya untuk kemenangan Jokowi tidak pernah dipermasalahkan oleh pendukungnya.

Hasilnya positif, PDIP dan Gerindra bersama para relawan Jokowi-Ahok mengandaskan petahana yang didukung 7 partai. Tempo kemudian menghadirkan samul menyambut kemenangan putaran pertama tersebut. Jokowi santai menyandarkan diri di ring tinju, sementara Fauzi Bowo bersandar dalam kondisi babak belur dan menunjukkan muka jeri untuk berlaga lagi.

Bulan-bulan itu saya kebetulan sedang mengadakan penelitian di Distrik Agats, Kabupaten Asmat. Setiap saya bertemu penduduk setempat, senyum mereka mengembang begitu mereka mengetahui saya datang dari Jakarta. “Kami iri dengan Bapak. Sebentar lagi pu Gubernur yang hebat. Semoga nanti Jokowi jadi presiden.”

Saya terus terang bengong melihat reaksi yang sungguh luar biasa tersebut. Bagaimana bisa, sedangkan mereka berasal dari tempat yang harga tiketnya sekelas pergi ke Hong Kong atau Tokyo. Tahu dari mana mereka kehebatan Jokowi?

Dari visualisasi, bukan dari teks yang dinarasikan oleh para sarjana sekolah-sekolah papan atas.

Kejadian yang berlaku nasional itu terbaca oleh para aktor-aktor politik utama. Tidak perlu waktu 2 tahun bagi Tempo untuk membaca Jokowi akan berlaga menuju RI-1, di sampul edisi 15 September 2013; Mega menuntun banteng yang diduduki Jokowi. Sementara Prabowo yang tengah menyiapkan palagan terakhirnya, tidak siap mengantisiasi.

Lalu Mega berada dalam kebimbangan akut, sementara restu tengah ditunggu Jokowi yang di banyak survei selalu menjadi pemuncak. Sampul edisi awal tahun 2014 menyiratkan itu, Megawati satu frame dengan Jokowi, yang ditopang kekuatan besar, tengah berdiri bergantungan di dalam kereta.

Pesan tersebut diperkuat lagi di edisi 7 April 2014, yang sampulnya bertemakan koalisi hiruk-pikuk. Dalam sampul tersebut digambarkan, Prabowo dan Jokowi meniupkan seruling dikelilingi para pendukungnya. Menariknya, yang berada di sekeliling Jokowi digambarkan orang-orang asing berbaju necis. Apa itu menjawab sinyal positif yang diberikan para pelaku pasar, khususnya investasi asing? Ataukah Jokowi yang siap memanjakan investor asing? Isu itu yang selalu direproduksi dari waktu ke waktu.

Di edisi 30 Juni 2014, ilustrator Tempo memberikan petunjuk terbuka dan berani: Jokowi siap memenangkan kontestasi, dan kalau itu terjadi, Jusuf Kalla yang makan-makan. Terlihat dalam gambar tersebut, Hatta Rajasa, pasangan Prabowo, sudah siap gigit jari. 14 Juli 2014, Jokowi yang menang pilpres digotong kru Tempo dan ditampilkan dalam sampul. Ini sepertinya cara Tempo merayakan kemenangan atas ramalan-ramalannya.

Di beberapa edisi sesudahnya, Jokowi “disampulkan” berada di bawah pengaruh bayang-bayang Megawati melaui proxy-nya, Rini Soemarno. Juga perkara rivalitas dengan wapresnya sendiri, Jusuf Kalla. Tidak saja dalam saling rebut posisi basah di kementerian tertentu yang tidak kentara dari luar, tetapi juga yang terlihat jelas dalam Pilkada DKI 2017.

Sudah melihat sampul Majalah Tempo edisi awal Juni 2018?

Apa yang kira-kira ada di benak ilustratornya saat menggambarkan Jokowi tengah berteriak tersebut? Sekadar untuk menggambarkan kekalahan melawan tagar #2019GantiPresiden—yang sering diejek tidak laku tapi ternyata makin menguat itu? Atau ada hal lain yang mengkhawatirkan?

Kalau melihat kecenderungan perilaku masing-masing pendukung di media sosial, ada kecenderungan perubahan strategi di kubu #2019GantiPresiden. Mereka mulai solid dan fokus. Apa pun kebijakan pemerintah, tetap saja mereka konsisten dengan tagar tersebut.

Itu belum digabungkan dengan “suara diam” yang tidak terafiliasi dengan tagar ganti presiden dan serombongan aktivis sakit hati yang akan menggerogoti suara Jokow.

Sementara energi pendukung Jokowi cepat habis terkuras sekadar untuk merespons kepemimpinan Anies-Sandi di Jakarta. Untungnya apa? Tidak ada, selain menertawakannya. Hampir tidak ada kebaruan dalam strategi dukungan, apalagi akuisisi suara.

Di banyak sektor riil, di mana kantong pekerja sektor informal berada, suara para pemilih Jokowi menunjukkan kecenderungan melemah. Ini tidak disadari oleh para pendukungnya. Mereka terlalu sibuk menunjukkan menterengnya hasil-hasil pembangunan yang tidak dipahami benar manfaatnya bagi para pekerja kelas bawah.

Jokowi memang mengantongi modal politik yang besar, untuk saat ini kekuatan parlemen benar-benar sudah berada dalam genggamannya. Pengganggu kewibawaan pemerintah di parlemen relatif hanya beberapa orang yang sudah kita hafal. Maka menjadi aneh ketika pemerintah merasa perlu menggunakan jasa Ali Mochtar Ngabalin, pria bersorban yang pernah menjadi seteru. Itu seperti menjadi pembenar kalau pemerintah tengah panik dalam meredam pergerakan lawan-lawan politiknya.

Itu pun ternyata belum cukup. Amien Rais, veteran yang sering menampilkan sisi antagonis bagi pemerintah pun “mendadak” hendak ditemui. Pria tua yang dianggap sudah habis, dan lebih menyukai menghadap Rizieq Shihab dibanding Jokowi tersebut, terus memberikan perlawanan.

Dari titik ini kita tahu bahwa menuju periode kedua ternyata terjal dan berliku.

Ekspresi Jokowi di sampul majalah ini mengingatkan saya pada teriakan William Wallace, tokoh sentral dalam film Braveheart sebelum digantung. Teriakan sebelum dipenggal kepalanya untuk menularkan semangat kebebasan, sementara orang-orang di sekitarnya sudah tiarap, habis energinya, dan tidak dapat lagi diandalkan.

Sampul Tempo sudah memberikan sinyal “kepanikan Jokowi”, tinggal para pendukung Jokowi ingin bangkit atau tidak. Waktu kurang dari satu tahun dan terus berjalan, sedangkan mereka belum mengorganisir diri sesolid 2014. Bukan tidak mungkin, hasilnya akan memaksa mereka untuk kembali mengalami trauma seperti halnya Pilkada DKI 2017.

Ingat, cukup lihat sampul Tempo, tidak perlu menghabiskan waktu dengan membaca, apalagi analisis dari para buzzer. Soalnya kelas kita memang baru tahap membaca judul, bukan isi.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.