OUR NETWORK

Jokowi dan Ilusi Daging Sapi

daging-sapi
Pembeli berbelanja daging sapi di Pasar Tradisional Peunayong, Banda Aceh, Senin (23/5). Harga daging sapi di daerah itu naik dari Rp 120.000 per kg menjadi Rp 130.000 per kg. ANTARA FOTO/Ampels

Ilusi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah sesuatu yang hanya dalam angan-angan, khayalan, pengamatan yang tidak sesuai dengan pengindraan, dan tidak dapat dipercaya alias palsu. Dalam perspektif konsumen, ilusi adalah sesuatu yang wajar, bahkan normal. Ilusi konsumen dimaknai sebagai pengetahuan yang salah terhadap suatu produk konsumsi yang mempengaruhi perilaku konsumen.

Barangkali kita tidak sadar, ilusi konsumen itu telah terjadi pada daging sapi. Kenaikan harga daging sapi yang selalu berulang setiap tahun tak lepas dari hadirnya ilusi dalam persepsi masyarakat konsumen.

Selama ini, sebagai konsumen, kita menganggap daging sapi tidak tergantikan (tidak ada substitusi). Daging sapi amat khas. Kekhasan itu tidak ditemukan dalam daging kambing, kerbau, apalagi kuda.

Di sisi lain, konsumsi daging sapi rata-rata warga Indonesia masih amat rendah: 2,61 kg per kapita per tahun. Jauh dari tingkat konsumsi di Filipina (7 kg), dan Singapura (15 kg), apalagi Argentina (55 kg). Jika tingkat konsumsi masih rendah, mengapa seolah-olah kebutuhan warga terhadap daging sapi amat tinggi?

Sejauh ini tingkat partisipasi konsumsi warga terhadap daging sapi juga rendah: 16,16%. Bandingkan dengan tingkat partisipasi konsumsi warga terhadap daging unggas yang mencapai 56,98%. Jika diselami lebih dalam, angka 16,16% itu pun terkonsentrasi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Jika demikian faktanya, pertanyaannya kemudian, mengapa kenaikan harga daging sapi selalu membuat heboh Republik? Seolah-olah harga daging sapi yang tak terjangkau kantong masalah 254 juta warga Indonesia. Apakah karena konsumennya warga Jabodetabek yang suaranya lebih nyaring dan mudah membuat Istana bising?

Semua ini, sekali lagi, karena ilusi kita terhadap daging sapi. Kalau orientasi kita adalah kelezatan, bukankah banyak jenis daging lain yang bisa diolah menjadi makanan super lezat sebagai pengganti daging sapi? Satai ayam atau daging kelinci tidak kalah lezat, bahkan lebih enak, ketimbang satai daging sapi?

Lebih dari itu, harga daging kelinci dan ayam juga lebih murah. Kalau tujuan kita adalah kandungan gizi sumber protein, bukankah masih banyak sumber protein yang setara bahkan lebih tinggi daripada daging sapi dengan harga yang tidak membuat kantung belanja rumah tangga jebol?

Sumber protein hewani yang murah meriah dengan kandungan gizi protein setara dengan daging sapi, antara lain ayam, telur, dan aneka jenis ikan (belut, gabus, dan lele misalnya). Ikan, secara umum, mengandung omega-3 yang baik untuk perkembangan sel-sel otak bagi kecerdasan, protein setara daging, mengandung asam amino paling lengkap (mendekati asam amino tubuh manusia), antioksidan, vitamin D, B6, B12, dan aneka mineral (zat besi, Yodium, Selenium, Seng dan Fluor).

Yang tak kalah penting, berbeda dengan daging sapi yang mengandung asam lemak jenuh tinggi, ikan berisi asam lemak tak jenuh. Asam lemak ini dapat mencegah terjadinya penyumbatan pembuluh darah. Jadi, mengonsumsi ikan sebetulnya lebih sehat buat tubuh dan kantong belanja kita.

Konsumen, menurut teori pemasaran, adalah raja. Ketika konsumen beralih ke komoditas lain apakah ayam, telur atau pelbagai jenis ikan, dengan sendirinya permintaan terhadap daging sapi akan turun. Sesuai hukum besi supply-demand, ketika demand menurun harga juga akan mengikuti.

Tanpa perlu repot rapat kabinet berkali-kali, bahkan Presiden Joko Widodo tidak harus memerintahkan para menterinya untuk menurunkan harga daging sapi menjadi Rp 80 ribu/kg harga akan turun sendiri. Bulog, PT Berdikari, dan pihak lain tidak usah pusing-pusing menggelar operasi pasar. Bahkan, pemerintah tidak usah mengeluarkan izin impor daging dari Australia yang menguras banyak devisa.

Lebih jauh perubahan perilaku konsumsi ini, boleh jadi, bakal mengubah pola swasembada yang selama ini terjebak pada orientasi komoditas. Dalam konteks daging, tidak lagi swasembada daging sapi, tetapi berubah menjadi swasembada daging. Masing-masing daerah, dengan potensi khas lokal, bisa menyumbang target swasembada daging nasional.

Daerah yang memang potensial kambing, lembu atau ayam, tidak perlu dipaksa mengembangkan sapi. Ketika salah satu jenis komoditas daging itu harganya naik tidak membuat seluruh isi Republik resah seperti saat ini. Karena warga bisa beralih pada aneka komoditas daging pengganti, tanpa perlu tertipu lagi oleh ilusi daging sapi.

Khudori
Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI). Anggota Kelompok Kerja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Pusat (2010 - sekarang). Penulis 6 buku dan menyunting 12 buku. Salah satunya buku ”Ironi Negeri Beras” (Yogyakarta: Insist Press, 2008)

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…