Kamis, Januari 28, 2021

Benarkah Jessica Membunuh Mirna?

Pendakian Basuki

“Kites rise highest against the wind – not with it” (Winston Churchill) Layang-layang bisa terbang paling tinggi karena menantang angin, bukan mengikutinya. Ini rumus sederhana...

Tanggung Jawab Intelektual dan Topeng Rekonsiliasi

“Permainan kau permainkan..” (Amir Hamzah) Seperti yang kita duga, MK akhirnya menolak seluruh permohonan tim hukum BPN Prabowo-Sandi yang menuding Pemilu 2019 dipenuhi kecurangan hingga...

Pilihan “Tiket” Basuki

Sebagai Ibu Kota Negara, Jakarta adalah pusat perhatian. Etalase dari semua aktivitas ekonomi dan politik kenegaraan. Saya kira hampir semua penduduk negeri ini dalam...

Selamat Hari Ibu, Ibu Pertiwi!

Sejak Republik Indonesia tekonsolidasi setelah tahun 1950, gagasan peringatan hari ibu pada 22 Desember diusulkan dan diterima pada Kongres Perempuan di tahun 1938, sepuluh...
Avatar
Hariman Satria
Pengajar Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Kendari. Doktor Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

jessica2
Psikolog Sarlito Wirawan berjalan di samping terdakwa kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin, Jessica Kumala Wongso (kanan), di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jakarta, Kamis (1/9). ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf.

Hampir tiap hari beberapa televisi nasional, seperti Metro TV, TV One, dan Kompas TV, menyiarkan secara langsung proses persidangan Jessica Wongso atas tuduhan menghilangkan nyawa Wayan Mirna Salihin di Kafe Oliver Grand Indonesia pada 6 Januari 2016 yang diduga menggunakan racun sianida. Sejak kasus ini mencuat, istilah racun sianida begitu familiar di tengah khalayak.

Kini, proses hukumnya memasuki babak krusial: tahap pembuktian. Dikatakan krusial sebab pada tahap inilah segala alat bukti akan diuji di persidangan. Bila penuntut umum tidak mampu membuktikan tuduhannya, maka konsekuensi logisnya terdakwa dibebaskan (actore non probante reus absolvitur). Sebaliknya, jika terdakwa tidak mampu membantah bukti-bukti yang diajukan penuntut umum, maka ia akan dijatuhi pidana (actori incumbit onus probandi).

Jadi, ini ibarat pertarungan bukti antara terdakwa versus penuntut umum. Saya sendiri sengaja menahan diri untuk tidak menuliskan gagasan akademis atas masalah tersebut sebab prosesnya tengah berjalan. Tetapi dalam sepekan terakhir benang merah masalah ini semakin jelas warnanya.

Dimulai dari pemeriksaan ahli, seperti Prof. Eddy O.S. Hiariej (ahli hukum Pidana UGM, guru saya sendiri) hingga ahli patalogi forensik dari Australia bernama Prof. Beng Beng Ong. Hal ini semakin menggugah nalar kita dan terus bertanya apakah benar Jessica membunuh Mirna dengan menggunakan sianida?

Delik Materil
Penuntut umum mendakwa Jessica dengan tuduhan melanggar Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Secara terminologi pasal ini sering disebut sebagai pasal pembunuhan berencana (moord), sebagai pembeda dari pembunuhan biasa (doodslag) yang diatur dalam Pasal 338 KUHP.

Kedua bentuk pembunuhan tersebut dikategorikan sebagai perbuatan pidana dan tidak membutuhkan motif dalam implementasinya. Dalam perspektif hukum pidana, istilah “perbuatan” dalam frasa perbuatan pidana mengandung dua hal yakni kelakuan (handeling) dan akibat (gevolg). Imbasnya, dalam melihat perbuatan pidana arahnya terbagi dua, yakni ada yang menitikberatkan pada perbuatan saja (delik formil) tetapi ada juga yang menitikberatkan pada akibat (delik materil).

Dalam delik formil seseorang sudah dapat dikatakan melakukan perbuatan pidana ketika  perbuatannya telah memenuhi unsur-unsur pasal. Sedangkan dalam delik materil perbuatan seseorang tersebut telah menimbulkan akibat, misalnya hilangnya nyawa seseorang. Jadi, seseorang baru dapat dikatakan menghilangkan nyawa orang lain apabila korban benar-benar meninggal dunia.

Konsekuensi yuridis nan logis dari delik materil adalah penyelidikannya harus dimulai dari akibat. Sebab, karakteristiknya adalah menitikberatkan pada akibat. Dalam konteks pembunuhan berencana, fokus utama penyidik dan penuntut umum adalah harus mengetahui mengapa seseorang kehilangan nyawa? Korelasinya dengan kasus Jessica adalah bahwa penuntut umum mesti memulai dengan pertanyaan mengapa Mirna meninggal dunia?

Untuk menjawab pertanyaan ini dibutuhkan kajian lebih lanjut, misalnya melalui otopsi forensik oleh dokter ahli di bidangnya. Masalahnya kemudian adalah ternyata ada perbedaan pandangan dan keyakinan signifikan antara ahli forensik yang dihadirkan oleh penuntut umum dan yang dihadirkan oleh kubu Jessica.

Di satu pihak, ahli forensik dari penuntut umum meyakini bahw Mirna meninggal karena racun sianida dengan konsentrat 0,2 ml yang terdapat di lambung. Di pihak lain, ahli dari Jessica meragukan keberadaan sianida 0,2 ml tersebut sebagai penyebab kematian Mirna. Hal ini dilandasi oleh argumen bahwa konsentrat 0,2 ml sianida bila melalui mulut seharusnya rentan waktu matinya korban cukup lama dan takaran 0,2 ml tersebut tidak mutatis mutandis membunuh seketika.

Pada titik ini hakim akan mengalami dilema (keragu-raguan), sebab belum diketahui persis penyebab kematian korban. Masalah lain yang mesti dijawab juga adalah jika benar terdapat sianida dalam lambung Mirna, maka siapakah yang menaruh racun tersebut?

Sampai sidang pada Rabu pekan lalu belum dapat dipastikan bahwa Jessica yang menaruh racun sianida di minuman Mirna. Parahnya lagi pada bukti CCTV tidak ada tayangan yang menunjukkan bahwa Jessica yang menaruh racun di minuman Mirna. Intinya, kematian Mirna masih menjadi misteri yang mesti diungkap dalam persidangan.

Ihwal Alat Bukti
Dalam hukum acara pidana Indonesia, ketentuan tentang alat bukti diatur dalam Pasal 184 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang meliputi: keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa. Secara implisit baik pihak penuntut umum maupun terdakwa mengajukan alat bukti di persidangan berupa: keterangan saksi, keterangan ahli, keterangan terdakwa, dan bukti CCTV.

Perlu diketengahkan di sini bahwa penggunaan CCTV sebagai bukti belum dikenal dalam KUHAP. Namun demikian, dalam praktiknya di Indonesia keberadaan CCTV telah berulang kali digunakan sebagai alat bukti, misalnya dalam perkara tindak pidana terorisme. Saya pun berkeyakinan bahwa CCTV dapat dijadikan sebagai alat bukti, yakni bukti petunjuk. Jadi, tidak perlu ada perdebatan di situ.

Masih mengenai alat bukti, berdasarkan alat-alat bukti yang dihadirkan dalam persidangan, kekurangan utamanya adalah alat bukti yang dapat menunjukkan keterlibatan Jessica sebagai orang yang menaruh racun sianida di kopi Mirna. Jika melihat tayangan CCTV, tidak ada satu potongan gambar pun yang dapat menunjukan bahwa ada pergerakan badan atau tangan dari Jessica ketika ia sedang menaruh sianida.

Apalagi bila mencermati keterangan saksi, tidak ada satu saksi pun yang melihat atau mendengar bahwa Jessica sedang menaruh sianida di kopi Mirna. Inilah yang saya katakan sejak awal bahwa majelis hakim akan mengalami dilema ihwal penentuan siapa yang membunuh Mirna. Sebab, penuntut umum dengan merujuk pada alat-alat bukti yang diajukannya belum dapat membuktikan bahwa Jessica-lah yang menaruh racun.

Padahal, dalam Pasal 183 KUHAP disebutkan bahwa hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah. Yakni, ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan terdakwalah yang bersalah melakukannya.

Secara teori peraturan ini sering disebut sebagai negatief wettelijk bvewijstheorie (pembuktian berdasarkan keyakinan hakim yang timbul dari alat-alat bukti dalam undang-undang secara negatif). Jadi, untuk menyatakan seseorang terbukti melakukan tindak pidana, selain berdasarkan dua alat bukti, hakim juga harus yakin bahwa terdakwalah yang melakukannya.

Jika dua alat bukti tidak terpenuhi (bewijs minimum-prima facie evidence), hakim tidak dapat menjatuhkan pidana, meski ia sendiri meyakini bahwa pelaku bersalah. Demikian pula sebaliknya. Konsekuensinya, bila terdapat keragu-raguan pada diri hakim, maka ia harus menjatuhkan putusan yang paling meringankan bagi terdakwa (in dubio pro reo atau lex favor reo). Hal ini selaras dengan postulat yang biasa disebut lex favor reo dalam hukum acara pidana.

Avatar
Hariman Satria
Pengajar Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Kendari. Doktor Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ayat-Ayat Ekosistem dan Dakwah Politik Lingkungan

Postingan saya tentang ayat-ayat ekosistem di status akun Facebook perlu saya jelaskan. Walaupun sebagian besar pemberi komen di status tersebut bersuara mendukung, satu atau...

Mencermati Dampak Kebijakan Kendaraan Listrik di AS

Amerika Serikat (AS) baru saja menjalani transisi pemerintahan dari Presiden Donald Trump dari partai Republik kepada Joseph (Joe) Biden yang didukung partai Demokrat. Saat...

Mengapa Pancasila?

Oleh: Alif  Raya Zulkarnaen SMAN 70 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Rumusan-Rumusan Staatsidee 29 Mei-1 Juni 1945 “Ketuhanan yang Maha...

Kritik Jamaluddin al-Afghani Atas Khilafah Islamiyah

Sejak abad ke-9 M hingga memasuki abad ke-14 M menjadi masa keemasan Islam dalam panggung peradaban dan ilmu pengetahuan. Ternyata uforia ilmu pengetahuan terhenti...

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

ARTIKEL TERPOPULER

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Ada Apa Di Balik Pembangunan Jalan Tol Kita?

Dua catatan tentang jalan tol ini saya tulis lebaran tahun sebelumnya, saat terjadi tragedi di pintu keluar tol Brebes Timur (Brebes Exit/Brexit) yang menewaskan...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.