Rabu, Januari 27, 2021

Jaringan Sufi Kepulauan Nusantara; Dinamika Islamisasi dan Neo-Sufisme

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Manuver Zig-Zag Ahok dan Erdogan

Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok akan mencalonkan diri kembali merebut kursi DKI 1 melalu jalur partai politik. Ahok mengklaim sudah tiga partai...

Semisal Kita Adalah ODHA

Andaikan kita seorang perempuan janda ditinggal suami diikuti beranak dua  yang sangat miskin di kampung, kemudian menjadi korban dari human trafficking dengan iming–iming uang...

Ahok dan Penggusuran: Dibenci dan Dirindu

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dari masa ke masa tidak pernah luput dari kontroversi penggusuran. Menjelang Pemilihan Kepala Daerah Jakarta 2017, isu penggusuran semakin meluas...
Azyumardi Azra, CBE
Azyumardi Azra, CBE
Guru Besar Sejarah Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Rektor IAIN/UIN Syarif Hidayatullah selama dua periode (IAIN,1998-2002, dan UIN, 2002-2006. Guru Besar kehormatan Universitas Melbourne (2006-2009). Dewan Penyantun, penasehat dan guru besar tamu di beberapa universitas di mancanegara; dan juga lembaga riset dan advokasi demokrasi internasional. Gelar CBE (Commander of the Most Excellent Order of British Empire) dari Ratu Elizabeth, Kerajaan Inggris (2010) dll.

Islamisasi Kepulauan Nusantara: Peran Guru Sufi

Muslim pedagang dan pengembara sudah ada di pelabuhan Sriwijaya sejak abad 7-8, tetapi tidak ada bukti mereka aktif melakukan Islamisasi.

Momentum Islamisasi warga lokal mulai terjadi sejak paroan kedua abad 12 dan seterusnya. Penyiar utama Islam adalah para guru sufi yang mengembara dari satu tempat ke tempat lain.

Islam Kepulauan Nusantara bersumber dari banyak ‘mata air’—terbesar Arabia.

Islamisasi: Raja dan Guru Sufi

Islamisasi massal bermula ketika guru Sufi berhasil melakukan konversi raja lokal ke dalam Islam yang kemudian diikuti para warga. Raja-raja ada menjadikan kerajaannya sebagai pusat Islamisasi (keraton-centered Islamization).

Istana atau keraton juga menjadi pusat keilmuan bersama ulama (fuqahamutasawwifin). Raja dan ulama (fuqahamutasawwifin) menjalin patron-client relationship.

Corak Islam Sufi

Guru sufi agen Islamisasi memperkenalkan Islam inklusif dan akomodatif. Bagi guru sufi, yang penting raja dan warga mengucapkan dua kalimah syahadah, walau mereka masih menjalankan kepercayaan dan praktek pra-Islam.

Guru sufi pada awalnya bisa menerima sinkretisme Islam dengan kepercayaan dan praktek spiritualitas lokal. Para guru sufi dalam perjalanan sejarah membawa Islam Kepulauan Nusantara lebih dekat pada ortodoksi Islam.

Kebangkitan Jaringan ‘Ulama: Sufi-Fuqaha

Jaringan ‘Ulama global yang berpusat di Makkah dan Madina mulai menemukan momentum sejak abad 15 dan selanjutnya.

Inti jaringan ‘ulama adalah sejumlah ulama (ahli berbagai ilmu Islam khususnya fiqh dan tasawuf) yang datang dari berbagai bagian Dunia Muslim yang kemudian menetap di Haramayn, membuat Jaringan ulama kosmopolitan.

Jaringan-jaringan ulama terbentuk dari hubungan guru-murid, murid-murid dan guru-guru melalui isnad keilmuan dan silsilah tarekat.

Inti Jaringan Ulama Abad 17: Fuqaha dan Sufi

Inti jaringan ulama yang solid terbentuk di Makkah dan Madina sejak abad 17. Mereka mencakup Syaikh Sibghat Allah al-Hindi (w. Medina 1606), Ahmad al-Shinnawi al-Misri (w. 1619) dan Ahmad al-Qushashi al-Madani (w. 1661).

Inti terpenting jaringan ulama abad 17 adalah Ibrahim al-Kurani al-Kurdi (w. 1690). Al-Kurani diklaim sebagai mujaddid abad 10H/17M; dia menjadi guru utama murid Jawi.

Semua ulama ini adalah ahli ilmu eksoterik (fiqh atau tafsir) sekaligus esoterik (tasawuf). Mereka ulama fiqh dan tasawuf (sufi) sekaligus dan mursyid tarekat.

Inti Jaringan Ulama Abad 17:  Jaringan Tarekat

Ulama Sufi dan Ahl al-Tariqah: Sibghat Allah al-Hindi, terutama Tarekat Naqsybandiyah, Syattariyah, Khalwatiyah. Ahmad al-Shinnawi al-Misri, gelar ‘Bahr al-Tariqah’, terutama Tarekat Syattariyah. Ahmad Qushashi al-Madani, terutama Tarekat Naqsybandiyah dan Syattariyah.

Kemudian Ibrahim al-Kurani al-Kurdi, gelar ‘hujjat al-Sufiyyah’, terutama Tarekat Qadiriyah, Naqsybandiyah, Syattariyah. Taj al-Din al-Hindi (w. 1052/1642), terutama Tarekat Naqsybandiyah dan Syattariyah. Lalu Sulayman al-Maghribi, pendiri ribath Sufi di Makkah, terutama Tarekat Qadiriyah.

Jaringan ‘Ulama’ dan Komunitas Jawi

Istilah ‘Ashab al-Jawiyyin’ dan/atau ‘Jama’ah al-Jawiyyin’ telah digunakan sumber-sumber Arab sejak abad 16, merujuk kepada setiap dan seluruh Muslim yang datang dari Kepulauan Nusantara.

Komunitas Jawi terlibat dalam jaringan ulama kosmopolitan sejak abad 17 dan seterusnya. Murid Jawi yang kemudian kembali ke Kepulauan Nusantara sebagai faqih dan sufi sekaligus memainkan peran penting dalam islah dan tajdid.

Murid/Ulama Jawi dalam Jaringan Ulama Abad 17: al-Raniri

Nur al-Din al-Raniri (w. 1068H/1658M; keturunan Aydarusi Yaman. Ia belajar di Yaman dan Haramayn kemudian mengembara ke Randir, India.

Dari Randir, al-Raniri mencapai puncak karir di Aceh—diangkat sebagai Mufti. Sosok ulama penulis prolifik dalam bidang fiqh ibadah (al-Sirat al-Mustaqim dalam bahasa Melayu), tasawuf, kalam, sejarah (Bustanus Salatin). Mengikut ‘Wujudiyah Muwahhid’—sisi lain ‘Wujudiyah Mulhid’. Mursyid Tarekat Rifa’iyah, Aydarusiyah, dan Qadiriyah.

Murid/Ulama Jawi dalam Jaringan Ulama Abad 17: al-Sinkili

Abd al-Rauf al-Sinkili (1024-1105/1615-1693) asal dari Aceh. Ia belajar 19  tahun di Yaman dan Haramayn dan kembali ke Aceh menjadi ‘Kadi Malikon Adil’.

Penulis prolifik dalam bidang fiqh (mu’amalah ‘Mir’at al-Tullab berbahasa Melayu), tafsir (Tarjuman al-Mustafid, 30 juz berbahasa Melayu) tasawuf. Merestui perempuan menjadi penguasa (sultanah). Mursyid Tarekat Syattariyah, Qusyasyiyah, Naqsybandiyah dan Qadiriyah.

Murid/Ulama Jawi dalam Jaringan Ulama Abad 17: Yusuf al-Maqassari

Muhammad Yusuf al-Maqassari (1037-1111H/1627-99) adalah teman sesama murid dengan Abdurrauf as-Singkili—belajar dengan guru-guru yang sama. Ia menghabiskan waktu 28 tahun belajar di berbagai tempat di Yaman, Syria dan Haramayn. Banyak menulis karya terutama dalam bidang tasawuf.

Mursyid Tarekat Khalwatiyah, Naqsybandiyah. Kembali dari Haramayn, al-Maqassari diangkat menantu Sultan Ageng Tirtayasa, Banten; bersama Sultan berperang melawan Belanda.

Kemudian tertangkap di Cirebon, diasingkan ke Srilanka dan akhirnya ke Cape Town, menjadi ‘Founder of Islam in South Africa’.

Murid/Ulama Jawi dalam Jaringan Ulama-Jaringan Sufi Abad 18

‘Abd al-Samad al-Palimbani (l, 1116/1704); menetap di Makkah dan penafsir utama tasawuf al-Ghazali; mursyid Tarekat Sammaniyah.

Muhammad Arsyad al-Banjari (1122-1227/1720-1812); belajar di Haramayn dan Kairo, kemudian kembali ke Banjarmasin; penulis kitab tasawuf Kanzul al-Ma’rifah dan fiqh Sabil al-Muhtadin; musyid Tarekat Sammaniyah.

Muhammad Nafis al-Banjari (l. 1148/1735); belajar di Makkah, menulis kitab tasawuf al-Durr al-Nafis.

Daud bin ‘Abd Allah al-Patani (l. circa 1153/1710), belajar di Aceh dan Haramayn, menetap di Makkah, penulis prolifik, mursyid berbagai tarekat.

Murid/Ulama Jawi dalam Jaringan Ulama-Jaringan Sufi Abad 19:

  • Ahmad Rifa’i Kalisalak (lahir Kendal 1787, wafat Manado 1871).
  • Ahmad Khatib al-Sambasi (lahir di Sambas 1803, wafat di Makkah 1289/1875).
  • Nawawi al-Bantani (lahir di Tanara, Banten 1230/1813, wafat di Makkah 1314/1897.
  • Ahmad Khatib al-Minangkabawi (lahir di Kototuo, 1276/1860 wafat di Makkah 1334/1916.
  • Saleh Darat al-Samarani (lahir Jepara 1820 wafat Semarang 1903).
  • Mahfuzh al-Termasi (1868-1920).
  • Hasan Mustafa Bandung (1852-1930).

Jaringan Ulama Sufi Abad 17-dst: Karakter Utama

Rekonsiliasi syari’ah/fiqh dengan tasawuf—tasawuf menjadi bagian integral tradisi dan otodoksi Islam. Meninggalkan praktek tasawuf/Sufistik antinomian eksesif yang cenderung ekstatik.

Membatasi tasawuf falsafi spekulatif dan teoritis yang cenderung bisa membuat pelakunya mengabaikan syari’ah/fiqh. Menekankan tasawuf akhlaqi untuk awam dan tasawuf falsafi hanya untuk ‘khas al-khawas’.

Jaringan Ulama Sufi Abad 17-dst: Neo-Sufisme

Neo-Sufisme mementingkan kajian hadits untuk menggali Sunnah Rasulullah. Neo-Sufisme menekankan kepengikutan pada syariah/fiqh untuk memastikan tasawuf tetap berada dalam ortodoksi.

Neo-Sufisme menekankan aktivisme dalam kehidupan sehari-hari—sufi terlibat dalam sosial-politik, perlawanan/jihad melawan penjajah.

Neo-Sufisme adaptif menghadapi tantangan perubahan seperti modernisasi, sekularisasi dan globalisasi dengan berbagai dampak disruptifnya.

Disampaikan pada Seminar Internasional Milad Pondok Pesantren Suryalaya 115 ‘Tasawuf, Globalisme dan Tantangan Modernitas’ Tasikmalaya, 25 Agustus 2020

Kolom Terkait

Fiqh Siyasah Indonesia, Siasat Politik Kontemporer

 

 

Azyumardi Azra, CBE
Azyumardi Azra, CBE
Guru Besar Sejarah Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Rektor IAIN/UIN Syarif Hidayatullah selama dua periode (IAIN,1998-2002, dan UIN, 2002-2006. Guru Besar kehormatan Universitas Melbourne (2006-2009). Dewan Penyantun, penasehat dan guru besar tamu di beberapa universitas di mancanegara; dan juga lembaga riset dan advokasi demokrasi internasional. Gelar CBE (Commander of the Most Excellent Order of British Empire) dari Ratu Elizabeth, Kerajaan Inggris (2010) dll.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Hukum Tata Cara Mengendus Kuasa, Kuliah Gratis untuk Refly Harun

Semoga Saudara Refly Harun dalam keadan sehat akal wal afiat!! Awalnya saya merasa tidak begitu penting untuk memberi tanggapan akademis terhadap saudara Refly Harun. Kendati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.