Rabu, Desember 2, 2020

Jangan Lihat Siapa Gus Mus, tapi Apanya!

Belajar Demokrasi dari Desa Rantau Kermas

Di celah lereng perbukitan yang tertutup hutan Taman Nasional Kerinci Sebelat, terdapat lembah sempit tempat sebuah desa berdiri sebagai enclave. Desa itu, Rantau Kermas,...

Menuntut Pertanggungjawaban Presiden

Asap adalah bencana di republik ini. Akibat pemerintah yang tidak mampu menemukan solusi pembakaran hutan, asap telah melumpuhkan puluhan kota, menyebabkan ratusan orang menderita...

Indonesia dan Manuver Arab Saudi Melawan ISIS

Warga dan tentara loyal kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad memeriksa kerusakan setelah serangan bunuh diri di Sayeda Zeinab, sebuah distrik di selatan Damaskus, Suriah,...

Resesi Koperasi, Kepada Menteri Teten Masduki

Dalam sidang kabinet Presiden marah-marah. Wajar saja, karena masih banyak kementerian yang berjalan lambat dalam masa pandemik. Sejak awal pemberlakuan darurat nasional akibat Covid19,...
Avatar
Maman Suratman
Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

[nujateng.com]
[nujateng.com]
Sejak isu penistaan yang melibatkan nama besar calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bergulir, muncul banyak sekali ragam dukungan sekaligus penolakan yang tidak semestinya. Dan hal yang tidak semestinya ini tentu juga sangat patut mendapat respons ketimbang melulu mendebat soal isu yang sebenarnya sudah lama tuntas.

Sejauh yang bisa saya amati, entah dalam bentuk dukungan atau penolakan, tak jarang saya dapati orang-orang yang mendasarkan argumentasinya hanya dari “siapa yang berbicara”. Sedikit sekali di antara mereka yang mendasarkannya dari “apa yang dibicarakan”. Orang-orang semacam ini, meminjam istilah novelis Pramoedya Ananta Toer, adalah mereka yang tidak adil sejak dalam pikiran.

Coba kita ambil contoh tentang dukungan dan penolakan atas KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). Sejumlah argumen yang ia tebar di berbagai jejaring sosial, terutama yang berhubungan erat atau rangkaian dari isu penistaan, selalu saja menuai pro-kontra. Baik yang mendukung ataupun menolak, sekali lagi, mendasarkan sikapnya dari “siapa dia”, bukan “apa yang disampaikan”.

Ya, yang mendukung Gus Mus tak lebih hanya karena dia adalah seorang ulama yang santun, bijak, lagi cerdas. Mereka melihat Gus Mus hanya dari sisi pribadinya semata. Mereka lupa bahwa seorang ulama sekalipun, meski dirinya santun, bijak, cerdas, dan segala nilai-nilai baik melekat dalam dirinya, tak berarti apa yang diungkapkannya selalu benar.

Tentu, tipe orang semacam ini bisa benar, bisa juga salah. Tapi ingat, dia bisa benar hanya dari “apa yang disampaikannya”. Dia bisa benar jika memang kata-katanya benar, bukan berlandas dari “siapa dia”.

Penilaian semacam ini tentu juga harus berlaku ketika kita mengambil sikap penolakan untuknya. Bahwa Gus Mus salah jika memang apa yang disampaikannya itu memang salah.
Sayangnya, kecenderungan orang untuk menilai dari sisi “siapa dia” membuat semuanya jadi buyar.

Seperti pada pendukungnya, mereka yang menolaknya pun tak lebih melihat Gus Mus dari sisi pribadi semata. Bahwa dia seorang ulama atau kiai yang cenderung liberal ketimbang fanatik; dia seorang inklusif daripada fundamental atau konservatif; dia seorang pluralis, anti-intoleransi; cap-cap semacam inilah yang membuatnya selalu salah di mata para penolaknya. Gus Mus, di mata mereka, selamanya adalah bagian dari “yang kafir”.

Sungguh, baik pendukung atau penolaknya, mereka tak mampu—jika bukan tak mau—melihat bahwa apa yang disampaikan Gus Mus, tanpa harus peduli kecenderungan sikap pribadinya, punya sisi kebenaran juga kesalahan. Ya, meski tetap harus kita pandang relatif sebagaimana konsep kebenaran/kesalahan yang kita yakini masing-masing.

Tentu, contoh di atas hanyalah puncak dari gunung es saja. Masih banyak contoh lain yang bisa kita ambil yang tak lebih baik relevansinya juga. Termasuk atas Ulil Abshar Abdalla di mana pendukungnya hanya melihat dia sebagai kader dari Partai Demokrat; penolaknya lebih melihat dirinya sebagai Muslim Liberal; yang jarang menelaahnya dari sisi apa yang disampaikannya ke khalayak publik.

Dengan bergulirnya tulisan ini, ke depan saya hanya bisa berharap bahwa tak ada lagi penilaian yang lahir berdasar “siapa yang berbicara”. Bahwa penilaian tersebut hanya akan lebih layak kita sebut “benar” atau “salah” jika itu benar-benar berdasar pada “apa yang dibicarakan”.

So, telaah dulu apa yang disampaikan. Jangan asal cap sana-sini hanya dari sosok pribadinya semata.

Avatar
Maman Suratman
Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.