OUR NETWORK

Jangan Lihat Siapa Gus Mus, tapi Apanya!

[nujateng.com]
[nujateng.com]
Sejak isu penistaan yang melibatkan nama besar calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bergulir, muncul banyak sekali ragam dukungan sekaligus penolakan yang tidak semestinya. Dan hal yang tidak semestinya ini tentu juga sangat patut mendapat respons ketimbang melulu mendebat soal isu yang sebenarnya sudah lama tuntas.

Sejauh yang bisa saya amati, entah dalam bentuk dukungan atau penolakan, tak jarang saya dapati orang-orang yang mendasarkan argumentasinya hanya dari “siapa yang berbicara”. Sedikit sekali di antara mereka yang mendasarkannya dari “apa yang dibicarakan”. Orang-orang semacam ini, meminjam istilah novelis Pramoedya Ananta Toer, adalah mereka yang tidak adil sejak dalam pikiran.

Coba kita ambil contoh tentang dukungan dan penolakan atas KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). Sejumlah argumen yang ia tebar di berbagai jejaring sosial, terutama yang berhubungan erat atau rangkaian dari isu penistaan, selalu saja menuai pro-kontra. Baik yang mendukung ataupun menolak, sekali lagi, mendasarkan sikapnya dari “siapa dia”, bukan “apa yang disampaikan”.

Ya, yang mendukung Gus Mus tak lebih hanya karena dia adalah seorang ulama yang santun, bijak, lagi cerdas. Mereka melihat Gus Mus hanya dari sisi pribadinya semata. Mereka lupa bahwa seorang ulama sekalipun, meski dirinya santun, bijak, cerdas, dan segala nilai-nilai baik melekat dalam dirinya, tak berarti apa yang diungkapkannya selalu benar.

Tentu, tipe orang semacam ini bisa benar, bisa juga salah. Tapi ingat, dia bisa benar hanya dari “apa yang disampaikannya”. Dia bisa benar jika memang kata-katanya benar, bukan berlandas dari “siapa dia”.

Penilaian semacam ini tentu juga harus berlaku ketika kita mengambil sikap penolakan untuknya. Bahwa Gus Mus salah jika memang apa yang disampaikannya itu memang salah.
Sayangnya, kecenderungan orang untuk menilai dari sisi “siapa dia” membuat semuanya jadi buyar.

Seperti pada pendukungnya, mereka yang menolaknya pun tak lebih melihat Gus Mus dari sisi pribadi semata. Bahwa dia seorang ulama atau kiai yang cenderung liberal ketimbang fanatik; dia seorang inklusif daripada fundamental atau konservatif; dia seorang pluralis, anti-intoleransi; cap-cap semacam inilah yang membuatnya selalu salah di mata para penolaknya. Gus Mus, di mata mereka, selamanya adalah bagian dari “yang kafir”.

Sungguh, baik pendukung atau penolaknya, mereka tak mampu—jika bukan tak mau—melihat bahwa apa yang disampaikan Gus Mus, tanpa harus peduli kecenderungan sikap pribadinya, punya sisi kebenaran juga kesalahan. Ya, meski tetap harus kita pandang relatif sebagaimana konsep kebenaran/kesalahan yang kita yakini masing-masing.

Tentu, contoh di atas hanyalah puncak dari gunung es saja. Masih banyak contoh lain yang bisa kita ambil yang tak lebih baik relevansinya juga. Termasuk atas Ulil Abshar Abdalla di mana pendukungnya hanya melihat dia sebagai kader dari Partai Demokrat; penolaknya lebih melihat dirinya sebagai Muslim Liberal; yang jarang menelaahnya dari sisi apa yang disampaikannya ke khalayak publik.

Dengan bergulirnya tulisan ini, ke depan saya hanya bisa berharap bahwa tak ada lagi penilaian yang lahir berdasar “siapa yang berbicara”. Bahwa penilaian tersebut hanya akan lebih layak kita sebut “benar” atau “salah” jika itu benar-benar berdasar pada “apa yang dibicarakan”.

So, telaah dulu apa yang disampaikan. Jangan asal cap sana-sini hanya dari sosok pribadinya semata.

Maman Suratman
Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…