Sabtu, Januari 16, 2021

Suara Milenial dalam Jaket Denim Jokowi

Menakar Kompleksitas Pemerintahan Baru Israel

Politik domestik Israel mengalami komplikasi hebat pasca pemilu dipercepat beberapa hari lalu. Hasil pemilu menunjukkan tak ada blok yang bisa membentuk pemerintahan sendiri. Pemerintahan...

Buzzer: Antara Bisnis dan Hati

Sungguh ini betul-betul menarik. Belum lama ini sejumlah buzzer menyampaikan permintaan maaf di Twitter. Meminta maaf karena sudah terlibat dalam suatu kampanye terkait pembakaran...

Dalam NKRI Tak Ada Orang Kafir!

Dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tak ada orang kafir. Pemeluk agama disebut berdasar agama masing-masing: orang Islam, orang Kristen, orang Katholik, orang...

Tanpa Rekonsiliasi PPP Akan Hancur

Penetapan Muhammad Romahurmuzy (Rommy) sebagai tersangka dalam kasus jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) pada 16 Maret lalu, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Pada mulanya adalah bendera. Ibu negara saat itu merasa perlu menjahit sebuah lambang negara, bendera Merah Putih berbahan dasar kain hasil pemberian Hitoshi Shimizu, kepala Sendenbu (Departemen Propaganda Jepang). Kurir yang mengantar kain itu adalah Chairul Basri, perwira didikan Jepang yang punya jasa besar dalam proses pembuatan sang Saka Merah Putih.

Nasionalisme, seperti juga mimpi, kadang hadir dari sumber yang tak pernah diduga. Simbolisme merah putih di Indonesia nyaris sama sakralnya dengan suara azan. Mungkin ini berlebihan, tetapi bagi seorang prajurit; menjatuhkan bendera ke tanah sama menghinanya dengan menyebut suara azan itu mengganggu. Setiap manusia punya nilai yang ia anggap sempurna, pedoman yang menjadi pijar hidup untuk menjalani hari.

Jokowi mungkin adalah satu dari sekian banyak orang di Indonesia yang kerap disalahpahami. Kita banyak mendengar bagaimana orang menggunjing caranya minum dengan tangan kiri, memakai ihram, sampai meragukan caranya beribadah. Mungkin satu-satunya orang yang kehidupan pribadinya lebih menarik dari Presiden Jokowi hari ini adalah Lucinta Luna, itupun eksistensi Luna terhapus saat Presiden kita memakai jaket bergambar peta nusantara sembari naik motor custom.

Virginia Woolf, dalam novelnya Orlando, pernah menulis kira-kira seperti ini: Meski terdengar naif, tetapi pakaian bukan sekadar benda untuk menghangatkan tubuh. Ia mengubah cara pandang kita terhadap dunia dan cara pandang dunia terhadap kita.

Anda boleh tidak setuju, tapi bagi hypebeast, sekumpulan manusia penggila street fashion, gaya dan merk fashion nyaris segalanya. Ia lebih dari sekadar kain yang menempel di badan, ia pernyataan sikap, sebuah suar yang menunjukkan eksistensi diri.

Tentu ada alasan mengapa Presiden Jokowi memilih menggunakan jaket denim modifikasi dari seniman pakaian @nevertoolavish. Kita bisa menebak alasannya, tetapi menafsirkan semestinya juga memakai nalar.

Sebuah akun di Instagram menuduh Jokowi bangga menunjukkan perpecahan nusantara melalui jaket yang ia kenakan. Sebagai tafsir ini sah, tapi sebagai propaganda ini pandir bukan main. Mengapa?

Sebagai orang yang nyaris tiap hari naik motor dari Jagakarsa ke Setiabudi, saya merasakan betapa jalanan di Jakarta demikian panas. Para pengendara ojek online kerap kali harus berteduh, membuka jaket dan baju yang basah kuyup dengan keringat. Maka jika seorang presiden membuka jaket usai mengendarai motor itu perkara sepele. Bukan sesuatu yang perlu ditafsirkan menginginkan Indonesia bubar.

Lagi pula, cetek amat kedaulatan bangsa ini diukur dari selembar kain. Jaket, sesakral apa pun, bukan bendera negara. Bernhard Suryaningrat seniman di balik kreasi jaket denim itu punya pendapat yang semestinya kita dengar. Melalui akun Instagramnya, Bernhard menuturkan narasi penting tentang nasionalisme dalam selembar kain.

Pada bagian depan, peta Indonesia adalah representasi 17.000 pulau yang menyambung menjadi kesatuan bernama Indonesia. Sementara pada bagian belakang, tersusun kata “Indonesia” di atas warna dasar bendera Indonesia.

Setiap huruf punya maknanya sendiri, ada gambaran pelbagai kreasi kebudayaan masyarakat Indonesia seperti Tarian Saman, Kain Sasirangan khas Banjarmasin, Tarian yang berasal dari Bali, Wayang Kulit, Barong, Lompat Batu dari Nias, Candi Borobudur, Batik Benowo serta Budaya Papua. Tentu kita bisa berdebat bahwa nilai-nilai ini klise, terlalu dangkal untuk dianggap sebagai sesuatu yang adiluhung. Benarkah demikian?

Anak muda di Indonesia sudah banyak ambil bagian membentuk identitas kolektif nusantara bernama Indonesia. Gerakan seperti Indonesia Mengajar, Buku Untuk Papua, Sabang Merauke, adalah sedikit dari banyak inisiatif anak muda membangun negara. Kita mungkin bisa mencemooh inisiatif tadi sebagai volunterisme akhir pekan belaka. Tapi sudah terlalu banyak anak muda yang dibuat jemu dengan keadaan dan ingin mengubah kondisi buruk dengan caranya sendiri.

Apa yang dilakukan oleh Bernhard bersama @nevertoolavish bisa jadi komodifikasi nasionalisme ala Jokowi. Tapi mengajak anak muda yang apatis, yang sebelumnya hanya bisa hura-hura untuk kemudian peduli pada isu politik adalah langkah yang cerdas. Dengan dirisaknya jaket buatan Bernhard, anak-anak muda hypebeast ini diajarkan bahwa kondisi politik hari ini demikian mengerikan sampai-sampai kreatifitas dimaknai dengan keji.

Anak-anak muda yang kebanyakan dari golongan milenial dan generasi Z ini dibuat tidak nyaman. Apa yang menjadi bagian hidup dan kebudayaan mereka, fashion, motor, musik, dan pop culture dianggap sebagai sesuatu yang nista. Jika ini terus terjadi, bukan tidak mungkin sekian juta milenial yang terhubung dengan Instagram ini akan muak dan melakukan gerakan radikal serupa di Amerika yang memanfaatkan kebudayaan populer sebagai alat politik.

Ini adalah kesalahan paling fatal yang dilakukan oleh oposisi. Mereka mengira dengan menghina jaket, motor, atau penampilan Jokowi, anak-anak muda akan ciut nyali dan membenci pemerintah. Mereka salah, anak-anak muda yang sebelumnya bodo amat dan enggan peduli ini jelas tidak akan diam, mereka akan ambil bagian mendukung Joko Widodo. Jika ada sekelompok orang yang mengaku telah menyiapkan grup WhatsApp ganti presiden, anak-anak muda ini mungkin tengah menyiapkan gerakan serupa.

Lagi pula, jika ada yang harus dikritik dari pakaian Joko Widodo, itu bukan pilihan jaketnya, melainkan selera sepatunya; ia lebih memilih Yeezy ketimbang Jordan.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.