Senin, Oktober 26, 2020

Suara Milenial dalam Jaket Denim Jokowi

Tantangan Tito Karnavian

Presiden telah menunjuk Komisaris Jenderal Polisi Tito Karnavian sebagai calon Kapolri menggantikan Jenderal Badrodin Haiti yang akan segera memasuki usia pensiun. Komisi III Dewan...

Tak Ada Paksaan dalam Agama. Titik!

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menemani Grand Syekh Al-Azhar Prof. Dr. Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb (kanan) saat berkunjung ke Pondok Modern Gontor, Ponorogo,...

Menjadi Warga Negara Secara Kampungan

Pada rusuh di Jakarta, 21 dan 22 Mei 2019 lalu, Polri diserang dari berbagai penjuru. Tak hanya serangan langsung menggunakan sumpah-serapah, pelintiran ayat suci,...

Anies Baswedan, “Wahabib”, dan Halalbihalal yang Dipolitisasi

Gema takbir dan tahmid Idul Fitri 1 Syawal 1438 Hijriyah rupanya tak mampu mengurangi bara kontestansi politik Pilkada DKI 2017 yang membakar jiwa nyaris...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Pada mulanya adalah bendera. Ibu negara saat itu merasa perlu menjahit sebuah lambang negara, bendera Merah Putih berbahan dasar kain hasil pemberian Hitoshi Shimizu, kepala Sendenbu (Departemen Propaganda Jepang). Kurir yang mengantar kain itu adalah Chairul Basri, perwira didikan Jepang yang punya jasa besar dalam proses pembuatan sang Saka Merah Putih.

Nasionalisme, seperti juga mimpi, kadang hadir dari sumber yang tak pernah diduga. Simbolisme merah putih di Indonesia nyaris sama sakralnya dengan suara azan. Mungkin ini berlebihan, tetapi bagi seorang prajurit; menjatuhkan bendera ke tanah sama menghinanya dengan menyebut suara azan itu mengganggu. Setiap manusia punya nilai yang ia anggap sempurna, pedoman yang menjadi pijar hidup untuk menjalani hari.

Jokowi mungkin adalah satu dari sekian banyak orang di Indonesia yang kerap disalahpahami. Kita banyak mendengar bagaimana orang menggunjing caranya minum dengan tangan kiri, memakai ihram, sampai meragukan caranya beribadah. Mungkin satu-satunya orang yang kehidupan pribadinya lebih menarik dari Presiden Jokowi hari ini adalah Lucinta Luna, itupun eksistensi Luna terhapus saat Presiden kita memakai jaket bergambar peta nusantara sembari naik motor custom.

Virginia Woolf, dalam novelnya Orlando, pernah menulis kira-kira seperti ini: Meski terdengar naif, tetapi pakaian bukan sekadar benda untuk menghangatkan tubuh. Ia mengubah cara pandang kita terhadap dunia dan cara pandang dunia terhadap kita.

Anda boleh tidak setuju, tapi bagi hypebeast, sekumpulan manusia penggila street fashion, gaya dan merk fashion nyaris segalanya. Ia lebih dari sekadar kain yang menempel di badan, ia pernyataan sikap, sebuah suar yang menunjukkan eksistensi diri.

Tentu ada alasan mengapa Presiden Jokowi memilih menggunakan jaket denim modifikasi dari seniman pakaian @nevertoolavish. Kita bisa menebak alasannya, tetapi menafsirkan semestinya juga memakai nalar.

Sebuah akun di Instagram menuduh Jokowi bangga menunjukkan perpecahan nusantara melalui jaket yang ia kenakan. Sebagai tafsir ini sah, tapi sebagai propaganda ini pandir bukan main. Mengapa?

Sebagai orang yang nyaris tiap hari naik motor dari Jagakarsa ke Setiabudi, saya merasakan betapa jalanan di Jakarta demikian panas. Para pengendara ojek online kerap kali harus berteduh, membuka jaket dan baju yang basah kuyup dengan keringat. Maka jika seorang presiden membuka jaket usai mengendarai motor itu perkara sepele. Bukan sesuatu yang perlu ditafsirkan menginginkan Indonesia bubar.

Lagi pula, cetek amat kedaulatan bangsa ini diukur dari selembar kain. Jaket, sesakral apa pun, bukan bendera negara. Bernhard Suryaningrat seniman di balik kreasi jaket denim itu punya pendapat yang semestinya kita dengar. Melalui akun Instagramnya, Bernhard menuturkan narasi penting tentang nasionalisme dalam selembar kain.

Pada bagian depan, peta Indonesia adalah representasi 17.000 pulau yang menyambung menjadi kesatuan bernama Indonesia. Sementara pada bagian belakang, tersusun kata “Indonesia” di atas warna dasar bendera Indonesia.

Setiap huruf punya maknanya sendiri, ada gambaran pelbagai kreasi kebudayaan masyarakat Indonesia seperti Tarian Saman, Kain Sasirangan khas Banjarmasin, Tarian yang berasal dari Bali, Wayang Kulit, Barong, Lompat Batu dari Nias, Candi Borobudur, Batik Benowo serta Budaya Papua. Tentu kita bisa berdebat bahwa nilai-nilai ini klise, terlalu dangkal untuk dianggap sebagai sesuatu yang adiluhung. Benarkah demikian?

Anak muda di Indonesia sudah banyak ambil bagian membentuk identitas kolektif nusantara bernama Indonesia. Gerakan seperti Indonesia Mengajar, Buku Untuk Papua, Sabang Merauke, adalah sedikit dari banyak inisiatif anak muda membangun negara. Kita mungkin bisa mencemooh inisiatif tadi sebagai volunterisme akhir pekan belaka. Tapi sudah terlalu banyak anak muda yang dibuat jemu dengan keadaan dan ingin mengubah kondisi buruk dengan caranya sendiri.

Apa yang dilakukan oleh Bernhard bersama @nevertoolavish bisa jadi komodifikasi nasionalisme ala Jokowi. Tapi mengajak anak muda yang apatis, yang sebelumnya hanya bisa hura-hura untuk kemudian peduli pada isu politik adalah langkah yang cerdas. Dengan dirisaknya jaket buatan Bernhard, anak-anak muda hypebeast ini diajarkan bahwa kondisi politik hari ini demikian mengerikan sampai-sampai kreatifitas dimaknai dengan keji.

Anak-anak muda yang kebanyakan dari golongan milenial dan generasi Z ini dibuat tidak nyaman. Apa yang menjadi bagian hidup dan kebudayaan mereka, fashion, motor, musik, dan pop culture dianggap sebagai sesuatu yang nista. Jika ini terus terjadi, bukan tidak mungkin sekian juta milenial yang terhubung dengan Instagram ini akan muak dan melakukan gerakan radikal serupa di Amerika yang memanfaatkan kebudayaan populer sebagai alat politik.

Ini adalah kesalahan paling fatal yang dilakukan oleh oposisi. Mereka mengira dengan menghina jaket, motor, atau penampilan Jokowi, anak-anak muda akan ciut nyali dan membenci pemerintah. Mereka salah, anak-anak muda yang sebelumnya bodo amat dan enggan peduli ini jelas tidak akan diam, mereka akan ambil bagian mendukung Joko Widodo. Jika ada sekelompok orang yang mengaku telah menyiapkan grup WhatsApp ganti presiden, anak-anak muda ini mungkin tengah menyiapkan gerakan serupa.

Lagi pula, jika ada yang harus dikritik dari pakaian Joko Widodo, itu bukan pilihan jaketnya, melainkan selera sepatunya; ia lebih memilih Yeezy ketimbang Jordan.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

ARTIKEL TERPOPULER

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.