OUR NETWORK

Suara Milenial dalam Jaket Denim Jokowi

Pada mulanya adalah bendera. Ibu negara saat itu merasa perlu menjahit sebuah lambang negara, bendera Merah Putih berbahan dasar kain hasil pemberian Hitoshi Shimizu, kepala Sendenbu (Departemen Propaganda Jepang). Kurir yang mengantar kain itu adalah Chairul Basri, perwira didikan Jepang yang punya jasa besar dalam proses pembuatan sang Saka Merah Putih.

Nasionalisme, seperti juga mimpi, kadang hadir dari sumber yang tak pernah diduga. Simbolisme merah putih di Indonesia nyaris sama sakralnya dengan suara azan. Mungkin ini berlebihan, tetapi bagi seorang prajurit; menjatuhkan bendera ke tanah sama menghinanya dengan menyebut suara azan itu mengganggu. Setiap manusia punya nilai yang ia anggap sempurna, pedoman yang menjadi pijar hidup untuk menjalani hari.

Jokowi mungkin adalah satu dari sekian banyak orang di Indonesia yang kerap disalahpahami. Kita banyak mendengar bagaimana orang menggunjing caranya minum dengan tangan kiri, memakai ihram, sampai meragukan caranya beribadah. Mungkin satu-satunya orang yang kehidupan pribadinya lebih menarik dari Presiden Jokowi hari ini adalah Lucinta Luna, itupun eksistensi Luna terhapus saat Presiden kita memakai jaket bergambar peta nusantara sembari naik motor custom.

Virginia Woolf, dalam novelnya Orlando, pernah menulis kira-kira seperti ini: Meski terdengar naif, tetapi pakaian bukan sekadar benda untuk menghangatkan tubuh. Ia mengubah cara pandang kita terhadap dunia dan cara pandang dunia terhadap kita.

Anda boleh tidak setuju, tapi bagi hypebeast, sekumpulan manusia penggila street fashion, gaya dan merk fashion nyaris segalanya. Ia lebih dari sekadar kain yang menempel di badan, ia pernyataan sikap, sebuah suar yang menunjukkan eksistensi diri.

Tentu ada alasan mengapa Presiden Jokowi memilih menggunakan jaket denim modifikasi dari seniman pakaian @nevertoolavish. Kita bisa menebak alasannya, tetapi menafsirkan semestinya juga memakai nalar.

Sebuah akun di Instagram menuduh Jokowi bangga menunjukkan perpecahan nusantara melalui jaket yang ia kenakan. Sebagai tafsir ini sah, tapi sebagai propaganda ini pandir bukan main. Mengapa?

Sebagai orang yang nyaris tiap hari naik motor dari Jagakarsa ke Setiabudi, saya merasakan betapa jalanan di Jakarta demikian panas. Para pengendara ojek online kerap kali harus berteduh, membuka jaket dan baju yang basah kuyup dengan keringat. Maka jika seorang presiden membuka jaket usai mengendarai motor itu perkara sepele. Bukan sesuatu yang perlu ditafsirkan menginginkan Indonesia bubar.

Lagi pula, cetek amat kedaulatan bangsa ini diukur dari selembar kain. Jaket, sesakral apa pun, bukan bendera negara. Bernhard Suryaningrat seniman di balik kreasi jaket denim itu punya pendapat yang semestinya kita dengar. Melalui akun Instagramnya, Bernhard menuturkan narasi penting tentang nasionalisme dalam selembar kain.

Pada bagian depan, peta Indonesia adalah representasi 17.000 pulau yang menyambung menjadi kesatuan bernama Indonesia. Sementara pada bagian belakang, tersusun kata “Indonesia” di atas warna dasar bendera Indonesia.

Setiap huruf punya maknanya sendiri, ada gambaran pelbagai kreasi kebudayaan masyarakat Indonesia seperti Tarian Saman, Kain Sasirangan khas Banjarmasin, Tarian yang berasal dari Bali, Wayang Kulit, Barong, Lompat Batu dari Nias, Candi Borobudur, Batik Benowo serta Budaya Papua. Tentu kita bisa berdebat bahwa nilai-nilai ini klise, terlalu dangkal untuk dianggap sebagai sesuatu yang adiluhung. Benarkah demikian?

Anak muda di Indonesia sudah banyak ambil bagian membentuk identitas kolektif nusantara bernama Indonesia. Gerakan seperti Indonesia Mengajar, Buku Untuk Papua, Sabang Merauke, adalah sedikit dari banyak inisiatif anak muda membangun negara. Kita mungkin bisa mencemooh inisiatif tadi sebagai volunterisme akhir pekan belaka. Tapi sudah terlalu banyak anak muda yang dibuat jemu dengan keadaan dan ingin mengubah kondisi buruk dengan caranya sendiri.

Apa yang dilakukan oleh Bernhard bersama @nevertoolavish bisa jadi komodifikasi nasionalisme ala Jokowi. Tapi mengajak anak muda yang apatis, yang sebelumnya hanya bisa hura-hura untuk kemudian peduli pada isu politik adalah langkah yang cerdas. Dengan dirisaknya jaket buatan Bernhard, anak-anak muda hypebeast ini diajarkan bahwa kondisi politik hari ini demikian mengerikan sampai-sampai kreatifitas dimaknai dengan keji.

Anak-anak muda yang kebanyakan dari golongan milenial dan generasi Z ini dibuat tidak nyaman. Apa yang menjadi bagian hidup dan kebudayaan mereka, fashion, motor, musik, dan pop culture dianggap sebagai sesuatu yang nista. Jika ini terus terjadi, bukan tidak mungkin sekian juta milenial yang terhubung dengan Instagram ini akan muak dan melakukan gerakan radikal serupa di Amerika yang memanfaatkan kebudayaan populer sebagai alat politik.

Ini adalah kesalahan paling fatal yang dilakukan oleh oposisi. Mereka mengira dengan menghina jaket, motor, atau penampilan Jokowi, anak-anak muda akan ciut nyali dan membenci pemerintah. Mereka salah, anak-anak muda yang sebelumnya bodo amat dan enggan peduli ini jelas tidak akan diam, mereka akan ambil bagian mendukung Joko Widodo. Jika ada sekelompok orang yang mengaku telah menyiapkan grup WhatsApp ganti presiden, anak-anak muda ini mungkin tengah menyiapkan gerakan serupa.

Lagi pula, jika ada yang harus dikritik dari pakaian Joko Widodo, itu bukan pilihan jaketnya, melainkan selera sepatunya; ia lebih memilih Yeezy ketimbang Jordan.

Arman Dhani
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…