OUR NETWORK

Jadi Wartawan itu Enak (1)

Perjalanan hidup dan pekerjaan saya di media, kadang terasa ajaib, seperti komedi putar.

Saya mulai menulis opini di surat kabar tahun 1989. Semester 3 jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Andalas, sempat kuliah di kampus Jati, lalu pindah ke Limau Manis. Saat itu, cita-cita banyak. Jadi konsultan, peneliti, dosen dan wartawan.

Ada beberapa penelitian saya ikuti bersama dosen. Ya, paling sekedar pengumpul data dan surveyor. Yang paling berkesan, menjadi asisten peneliti untuk disertasi Prof Syarief Hidayat, peneliti LIPI, saat ia kuliah di Flinders University, Australia.

Di kampus, saya aktif. Mulai dari ketua kesenian, senat, pimred majalah kampus hingga ketua Unit Kegiatan Olahraga Universitas Andalas. Akibatnya, kuliah kelamaan 7,5 tahun! Saya tidak mengerti olahraga. Tapi, sering jadi team manager kerjurnas olahraga antar mahasiswa. Ke Pekanbaru, ke Jakarta, Semarang, dan kota lainnya.

Teman saya berasal dari hampir semua fakultas. Umumnya atlet. Ada Delikson Munte dari Sastra, Welmon Indra Teknik, Hery Fakultas Hukum, Primevera dari Ekonomi, Ridho dari Peternakan. Kami berkantor bersama Mapala, Kopma dan Menwa. Organisasi setingkat universitas.

Hobi membaca, menulis, jadi surveyor, meneliti itulah modal saya jadi wartawan. Saya bergabung dengan Riau Pos, Pekanbaru, 1 Maret 1996. Baru tiga bulan, ditugaskan ke Perawang. Sebuah desa dengan penduduk 15.000 jiwa. Sebab, di sanalah pabrik kertas PT Indah Kiat Pulp and Paper berlokasi. Jaraknya, 60 km dari Pekanbaru.

Saya membuat berita, menulis, dan memotret, dengan kamera saku merek Fuji. Saya anggap saja ke lapangan, penelitian. Saya sempat bertemu bos Indah Kiat Nyau Kit Min dan berdebat dengannya. Ditawari makan lobster, saya bingung. Lalu pesan nasi goreng saja. Dasar orang kampung.

Empat bulan, ditarik lagi ke Pekanbaru. Lalu dipindahkan ke Bukittinggi. Baru 8 bulan jadi wartawan, saya malah ditugaskan jadi Kepala Perwakilan Riau Pos, untuk wilayah Sumatera Barat.

Bersama rombongan wartawan Bukittinggi inilah perjalanan pertama saya ke luar negeri, ke Seremban, Melaka, Port Dikson, Malaysia tahun 1996, Setahun jadi wartawan, saya ikut pelatihan redaktur ke Surabaya. Pengajarnya mulai dari Nany Wijaya, Arief Afandi, hingga Dahlan Iskan.

Juni 1997, saya pindah ke Batam. Pesan yang saya terima, setiap wartawan yang dikirim dari Pekanbaru ke Batam gagal. Gagal? Kenapa? Itulah pertanyaan dalam benak saya dalam pesawat Merpati Foker 28 yang membawa saya ke Batam.

Ada beberapa orang yang berjasa selama saya jadi wartawan. Pertama, Mafirion, saat itu dia Koordinator Liputan. Dia pemarah. Suka bercarut. Rasanya, kelakuannya menular kepada saya.

Bang Ion, begitu kami sapa, tiap sebentar mau memindahkan saya. Awalnya, ke Dumai. Batal. Lalu ke Perawang. Ditarik lagi ke Pekanbaru, dipindahkan lagi ke Bukittinggi, lalu pindah ke Batam.

Tapi, motivasinya luar biasa. Cara berpikirnya logis. Dia suruh saya baca kliping tulisannya di Kompas. Karena rumah tante saya jauh di Rumbai, beberapa kali saya nginap di rumahnya. Baru bangun, belum mandi hanya cuci muka, disuruh wawancara Rusli Zainal, yang belakangan jadi gubernur itu.

Sejak di Batam, saya punya pager. Yang bunyinya tit..tit itu. Kalau ada perintah liputan tak jelas, terpaksa cari telepon umum. Malam minggu, ada minyak dari kapal tanker tumpah di laut Belakangpadang. Pesan Mafirion masuk. Saya cuek. Sadarlah, kau ini wartawan, tulisnya di pager. Yah, kerja lagi.

Kalau ada wartawan malas, saya kirim perintah, tapi saya bilang dari Mafirion. Besoknya, ada beritanya. Setahun kemudian, saya punya hape Nokia pisang melengkung itu. Saya bangga, Bang Ion pernah jadi anggota DPR RI. Sesekali berjumpa, tetap asyik diskusi dengannya.

Yang kedua, bos saya Rida K Liamsi. Saat di Pekanbaru, saya sering ditraktir orang humas. Tiga kali dikasih amplop, yang ada tulisannya air mail itu. Saya tau, isinya uang. Saya tidak berani membuka dan saya taruh di bawah lipatan baju lemari plastik saya. Begitu saya buka, 2 amplop isinya Rp50 ribu dan satunya Rp75 ribu.

Saya nekad temui Pak Rida dan bertanya. “Pak, kenapa orang lain memperhatikan saya, ngasih amplop, kenapa bukan perusahaan? Saat itu, gaji saya Rp150 ribu.

Pak Rida balik bertanya, “Maksud kau apa? “Naikkan gaji saya, Pak.” Pak Rida tersenyum dan berkata, “Kau sama seperti aku ketika pertama kali jadi wartawan. Tidak ada salahnya berteman dengan orang lain dan jangan mau diukur diri kita dengan uang,” katanya.

Yang paling berkesan, ketika diajak Pak Rida ke kampung halamannya, di Desa Bakong, Dabosingkep, tiga hari tiga malam. Sayalah anak buahnya yang pertama diajak kesana. Naik kapal Ferry 4 jam, naik boat pancung 1,5 jam.

Saya menulis feature. Terbit di halaman satu. Judulnya, tragedi kota tambang yang terbuang. Tidak banyak wartawan yang pernah tidur sekamar dengan Pak Rida seperti saya di Desa Pengambil, Kuala Raya.

Yang ketiga, Pak Amril Noor, mantan polisi itu. Saat baru bertemu, dia berkata, “Aku kira badan kau tinggi besar,” ketika melihat postur saya ala kadarnya. Tapi, soal menggertak orang, Bang Amril jagonya. Cuma, saya tidak pernah kalah gertak. Hehehe..

Dan yang terakhir, Bang Darmawi Kahar yang saya panggil Bang Mawi. Saya menggantikan posisi Bang Mawi di percetakan. Tidak banyak yang tahu, Bang Mawi yang menemukan cara mencetak dengan kalkir, sebelum mesin plat maker digunakan. Ia teman diskusi dan ngopi yang asyik.

Perjalanan hidup dan pekerjaan saya di media, kadang terasa ajaib, seperti komedi putar. Dari 1996 reporter di Riau Pos, 1997 Kepala Perwakilan, jadi Korlip saat Sijori Pos terbit 1998, jadi Redaktur Pelaksana saat Batampos terbit tahun 2000, jadi Pimred 2001, ganti nama jadi Posmetro Batam 2003, tahun 2006 balik lagi ke Batampos, tahun 2009 ke percetakan, tahun 2015 balik lagi ke Posmetro, eh tahun 2020 balik lagi ke Batampos. (bersambung)

Socrates
Wartawan Senior

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.