OUR NETWORK

Jadi Caleg Artis, Bukan Berarti Cari Duit di Politik

Namun, gue enggak marah dengan hal itu. Gue menganggap mereka yang berpikiran demikian karena belum kenal aja. Belum tahu gue sebenarnya. Cuma tahu kalau gue penyanyi, personel Mahadewi. Kan kata pepatah, tak kenal maka tak sayang.

Menjadi Calon Legislatif (Caleg) berlatar belakang artis, perempuan, berusia muda, dan berasal dari keluarga biasa-biasa saja sangat rentan stigma. Dari dianggap cuma modal tampang dan enggak punya kemampuan, sampai dianggap cari jalan pintas dapat penghasilan tambahan karena karier di dunia seni mulai meredup. Itulah yang gue alami sekarang.

Namun, gue enggak marah dengan hal itu. Gue menganggap mereka yang berpikiran demikian karena belum kenal aja. Belum tahu gue sebenarnya. Cuma tahu kalau gue penyanyi, personel Mahadewi. Kan kata pepatah, tak kenal maka tak sayang.

Biasanya, tiap kali ada orang yang menstigma demikian, gue selalu ngajak dia ngobrol baik-baik. Kalau kebetulan dia menstigma lewat media sosial, gue jelasin lewat private chat. Kalau pas lagi di Dapil, gue ajak nongkrong atau ngopi. Gue ceritakan pelan-pelan latar belakang dan kisah hidup gue dari kecil sampai memutuskan jadi Caleg.

***

Gue mengawali karier sebagai penyanyi sejak usia 4 tahun. Masih kecil banget. Karena kebetulan keluarga gue memang musisi. Bisa dibilang warisan bakat musik dari orang tua gue sudah mengalir di darah gue sejak lahir.

Meskipun begitu gue enggak langsung terkenal. Sebagai penyanyi cilik, gue nyanyi dari panggung ke panggung. Acara ke acara. Enggak sering awalnya, karena orang tua gue masih memprioritaskan pendidikan gue. Di situ gue sangat bersyukur. Karena gue jadi enggak cuma bisa nyanyi aja, tapi bisa mengenyam pendidikan.

Enggak cuma itu. Orang tua gue juga membebaskan buat jadi apapun. Mereka enggak pernah melarang gue belajar hal baru asalkan bisa bermanfaat buat diri sendiri. Dan gue memang tipe orang yang suka mencoba hal baru. Semakin susah dan baru hal itu, gue semakin tertarik buat mencobanya.

Masuk SMP, gue mulai belajar jadi MC. Menurut gue jadi MC lebih susah dari nyanyi. Seorang MC harus paham tata bahasa yang baik, tahu cara berinteraksi dengan audiens secara baik, dan tahu cara mengelola humor. Intinya harus punya manner dan knowledge yang baik. Setelah itu, gue mulai rutin nyanyi dan jadi MC.

Gue juga belajar nari dan basket pas SMA. Sampai jadi anggota dance dan tim basket sekolah gue. Tapi akhirnya enggak gue jadikan mata pencaharian seperti nyanyi dan MC. Cukup buat menambah kemampuan aja.

Lulus SMA, gue sempat bingung antara kuliah di jurusan Public Relation yang memang sudah jadi keseharian gue atau jurusan Hubungan Internasional. Waktu itu gue sudah mulai tertarik dengan isu sosial dan politik karena sering mengisi acara di lembaga pemerintahan. Gue melihat para pejabat pemerintahan dan tokoh-tokoh politik di acara-acara itu keren banget. Mereka orang-orang pintar dan punya perhatian ke masyarakat. Gue pengen jadi seperti mereka.

Akhirnya, setelah melalui serangkaian pertimbangan dan atas dorongan jiwa sosial gue yang memang tinggi, gue putuskan kuliah di jurusan Hubungan Internasional, di Universitas Paramadina.

Selama kuliah, gue sama sekali bukan tipe mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang. Gue aktif di organisasi kampus. Gue sempat jadi pengurus Serikat Mahasiswa Paramadina dan terlibat langsung dengan advokasi sosial yang jadi agendanya. Aktif diskusi seputar isu sosial, politik dan kebudayaan. Dan kegiatan-kegiatan lainnya. Kalau kata teman-teman, gue termasuk golongan aktivis selama di kampus.

Berbarengan dengan semua kesibukan itu, karier nyanyi gue mulai naik. Gue jadi penyanyi tetap acara Pemprov DKI Jakarta. Waktu itu gubernurnya Pak Jokowi. Menurut gue dia benar-benar orang yang baik, bersih, hebat, dan merakyat. Setiap kali berbincang dengan dia, gue selalu dapat pesan agar jadi pribadi yang bermanfaat buat masyarakat lewat jalur apa pun.

Menurutnya, penyanyi sangat bermanfaat karena menghibur masyarakat yang sedih atau lelah dengan kehidupannya. Sehingga mereka bisa semangat lagi menjalani hidup, membuat perubahan buat dirinya sendiri dan lingkungannya. Katanya, itu alasannya suka musik.

Pernah juga gue lihat sendiri Pak Jokowi membatalkan acara hiburan di Balai Kota karena ada kabar satu wilayah kena banjir. Padahal makanan, panggung, dan perlengkapan lain sudah siap. Dia perintahkan pegawai Pemprov bawa semua makanannya ke lokasi banjir. Keren banget, dong. Benar-benar enggak kayak elite, merakyat banget. Makanya dari 2014 sampai sekarang gue 100 persen pilih Pak Jokowi.

Pada 2016 gue ikut ajang pencarian personel Mahadewi yang diselenggarakan Ahmad Dhani dan Republik Cinta Management (RCM). Alhamdulillah, gue terpilih. Praktis gue masuk ke dunia industri. Dari yang awalnya cuma dikenal sebagai penyanyi panggung, gue mulai dipanggil artis.

Di RCM, gue sering ikut Mas Dhani isi acara di Gerindra. Karena dia sudah aktif di partai itu. Gue sempat juga ditawari Pak Fadli Zon masuk ke Gerindra, tapi akhirnya gue tolak. Gue akan profesional sebagai penyanyi, bisa nyanyi di acara apa saja, tapi soal pilihan politik gue punya idealisme.

***

Pak Max Lomban, Wali Kota Bitung, adalah salah satu guru politik gue. Dia yang memberi saran agar gue terjun ke politik praktis. Dia bilang, “idealisme selamanya akan berhenti di kepala kalau enggak diwujudkan ke praktik. Sebatas teori. Enggak memberi dampak apa-apa. Yang paling penting adalah praktik. Kamu punya kelebihan usia muda dan kecerdasan, lebih baik terjun ke politik praktis dari sekarang”.

Perkenalan gue dengan Pak Max Lomban lewat nyanyi. Gue sering diskusi sama dia soal politik dan pemerintahan. Gue utarakan kegelisahan-kegelisahan seputar kondisi sosial masyarakat. Bahwa masih banyak orang di Jakarta, tempat tinggal gue, yang hidup terhimpit gemerlap kota. Kurang akses pekerjaan dan pendidikan. Itu enggak bisa diselesaikan lewat tangan pemerintah saja, melainkan butuh uluran tenaga dan pikiran banyak pihak. Gue pengen melakukan itu.

Begitulah kiranya kenapa dia menyarankan gue terjun ke politik praktis. Setelah gue pikir mendalam, benar juga. Partai politik masih jadi saluran utama yang diakui undang-undang bagi masyarakat menyampaikan aspirasi politiknya. Gue setuju dengan pendapat Pak Max Lomban n bahwa teramat sayang kalau Parpol diisi orang-orang yang sekadar mau jabatan.

Singkat cerita, Pak Max Lomban memperkenalkan gue ke orang Nasdem DKI Jakarta. Agar bisa tahu dinamika partai politik dari dalam. Kalau memang setuju dengan cita-cita Nasdem, kata dia silakan bergabung. Kalau tidak, setidaknya menambah ilmu dan jaringan.

Ternyata gue cocok dengan Nasdem yang ingin merestorasi Indonesia menjadi lebih maju dan sejahtera. Mereka benar-benar serius soal itu. Kaderisasi dan pendidikan politik diselenggarakan kepada siapapun yang memiliki minat membangun bangsa secara gratis. Salah satunya melalui Akademi Bela Negara (ABN) Nasdem yang gue ikuti juga.

Sampai ikut ABN Nasdem, gue belum kepikiran menjadi Caleg. Menurut gue waktu itu, jadi Caleg butuh modal yang besar dan berat. Untuk bisa dicalonkan saja mesti memiliki koneksi politik yang kuat. Bisa dikatakan rentan kolusi dan nepotisme.

Namun, pikiran gue berubah setelah mengetahui kalau di Nasdem siapapun bisa menjadi Caleg. Apapun latar belakangnya. Enggak perlu mengeluarkan uang. Asal serius dan memiliki kemampuan memadai sebagai wakil rakyat yang diketahui lewat seleksi. Gue pun ikut mendaftar jadi caleg DPRD DKI Jakarta, ikut seleksi, dan lolos. Sekarang gue resmi Caleg Dapil 4 DPRD DKI Jakarta nomor urut 5.

***

Setiap keputusan punya risiko yang harus ditanggung. Dalam hal ini, gue harus menanggung risiko berselisih pilihan politik dengan Pakde Dhani. Pada mulanya menciptakan ketegangan. Ia mengaku kecewa karena gue enggak masuk Gerindra dan mendukung Prabowo. Beberapa kawan-kawan di RCM juga menyayangkan. Meskipun ada juga yang mendukung.

Hubungan gue dengan Pakde Dhani dan keluarganya secara masih baik sampai sekarang. Meskipun, per Januari kemarin kontrak gue di RCM enggak diperpanjang lagi. Saat Pakde Dhani terkena kasus hukum lalu ditahan, gue tetap menyemangatinya. Barangkali itu memang jalan terbaik bagi Pakde Dhani agar terhindar dari hal buruk lain di lain waktu. Gue mendoakan Pakde Dhani kuat menjalaninya dan segera bebas.

Risiko lain, adalah gue harus membiayai proses pencalegan sendiri. Seperti yang gue bilang di awal, gue dari keluarga biasa-biasa. Jadi Caleg atas kemauan sendiri dan enggak diback up siapa pun. Kecuali saran dan semangat, gue enggak dapat bantuan uang untuk keperluan kampanye dan lain-lain. Semuanya gue biayai dari menyisihkan honor nyanyi.

Jadi, benar-benar enggak benar anggapan gue jadi caleg buat alih mata pencaharian. Pekerjaan utama gue tetap menyanyi. Mungkin ada artis lain yang jadi Caleg untuk pindah pekerjaan, tapi bukan gue. Gue jadi Caleg untuk berbakti ke masyarakat. Kalau pun tidak terpilih, gue tetap menganggap upaya kampanye selama ini sebagai bakti untuk masyarakat. Gue sudah cukup senang bisa melakukan itu dan akan lebih senang lagi bisa melakukan yang lebih seandainya terpilih.

Putri Bilanova
Caleg Nasdem, Penyanyi

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…