in ,

Jabhat Nusrah dan Evolusi Al-Qaidah di Suriah


jaulani-ok
Abu Muhammad Al-Jaulani

Akhirnya kelompok militan Jabhat Nusrah, cabang Al-Qaidah di Suriah, mengumumkan mengakhiri hubungan mereka dengan organisasi teror global yang didirikan Usamah bin Ladin (Kamis, 28 Juli 2016). Jabhat Nusrah adalah salah satu pemberontak berpengaruh di Suriah sejak tahun 2012.

Bersama ISIS, Jabhat Nusrah tidak dilibatkan oleh Amerika Serikat dan Rusia dalam gencatan senjata atau perundingan antara rezim Suriah dan faksi pemberontak pada tahun ini. Jabhat Nusrah selama ini terdaftar sebagai organisasi teroris oleh AS dan PBB.

Putusnya ikatan dengan Al-Qaidah itu diumumkan oleh emir Jabhat Nusrah, Abu Muhammad Al-Jaulani. Dia membacakan pesannya dalam sebuah video yang kemudian disiarkan oleh stasiun televisi di seluruh Timur Tengah. Al-Jaulani tampak memakai sorban putih dengan baju loreng, yang diapit dua petinggi militan.

Pada penampilan sebelumnya, dalam sebuah wawancara ekslusif dengan jurnalis Al-Jazeera, gambar dan wajah Al-Jaulani dikaburkan. Al-Jaulani adalah nom de guerre (nama samaran) yang digunakan dalam perang. Dia belakangan diketahui bernama Ahmed Hussein al-Shar’a, warga Suriah kelahiran 1984 dan tumbuh di Damaskus.

Al-Jaulani menyatakan kelompoknya akan dibentuk kembali, menanggalkan nama Jabhat Nusrah, tampil dengan nama baru, yakni Jabhat Fath al-Sham. Dia juga menekankan organisasi barunya tidak ada hubungannya dengan pihak asing.


Desas-desus rencana “perceraian” ini sudah lama beredar dan menjadi perbincangan hangat banyak kalangan. Al-Qaidah bahkan sudah meresponnya melalui rekaman audio yang beredar di internet dan menyetujui serta tidak mempermasalahkan jika Al-Nusrah memutuskan ikatan dengannya.

Baca Juga :   Ketika Eks-Jihadis Suriah Kembali ke Indonesia

Rita Katz, direktur SITE Intellegence Group, menilai perpisahan Al-Nusrah dan Al-Qaidah adalah sebuah pukulan besar untuk Al-Qaidah. Al-Qaidah dianggap telah kehilangan instrumen dalam perang Suriah, menandai lebih lanjut penurunan organisasi ini dalam bersaing dengan ISIS dalam jihad global. Benarkah?

Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah, saya menilai “perceraian” antara Jabhat Nusrah dan Al-Qaidah berlangsung secara baik-baik. Tidak terlihat seperti sebuah perpecahan organisasi, sebagaimana kasus Jabhat Nusrah dan ISIS tiga tahun silam. Bahkan “perceraian” ini terkesan telah diatur matang di balik layar oleh kedua belah pihak.

Keputusan Jabhat Nusrah ini adalah sebuah manuver untuk menunjukkan bahwa ia berusaha membangun basis lokal (Suriah) lebih kuat dan meluas. Yakni, dengan memanfaatkan pengaruhnya yang ia peroleh selama hampir 5 tahun dalam dinamika revolusi bersenjata di Suriah.

Bagi Jabhat Nusrah, ini adalah sebuah langkah strategis untuk bertahan hidup dalam jangka panjang. Sebab, kontraterorisme yang digerakkan dunia internasional menjadi tantangan berat perjalanan organisasi ini ke depan. Kemungkinan besar Al-Nusrah berkaca dari ISIS terkait kekalahannya belakangan ini. Artinya, bukan karena organisasinya lemah, tapi akibat menghadapi banyak musuh dari banyak front dalam waktu bersamaan, khususnya kekuatan internasional.

Dengan memakai nama baru Jabhat Fath al-Sham, tentu hal ini untuk menarik warga Suriah yang telah lama enggan terlibat Jabhat Nusrah karena afiliasinya dengan Al-Qaidah dan kehadiran para jihadis asing di jajarannya. Di samping itu, agar organisasi “baru” ini diterima kelompok pejuang oposisi sehingga bisa bekerja sama menghadapi rezim Suriah tanpa risih dengan label Al-Qaidah.

Baca Juga :   Revisi UU Terorisme Dinilai Minim Pemenuhan Hak-Hak Korban

Dengan memutuskan hubungan dengan Al-Qaidah, organisasi ini ingin mendemonstrasikan kemandiriannya dalam beroperasi. Juga ingin melepaskan stereotip “teroris” yang selama ini melekat: bahwa Jabhat Nusrah telah bubar dan berusaha mencuri perhatian negara-negara teluk agar mendapat sokongan tanpa perlu was-was lagi organisasi ini adalah kaki tangan Al-Qaidah di Suriah.

Cara Al-Qaidah menyikapi pemutusan hubungan ini menunjukkan organisasi ini rupanya telah siap akan hal itu. Bos Al-Qaidah Zawahiri berkata, hubungan Jabhat Nusrah dan Al-Qaidah tanpa harus ragu dikorbankan jika mengancam persatuan di Suriah. Ia menegaskan, “Persaudaraan atas nama Islam lebih diutamakan daripada persaudaraan organisasi.”

Karena itu, saya menangkap sejatinya tak ada kerugian berarti bagi Al-Qaidah. Ini hanyalah cara Al-Qaidah “berevolusi” di Suriah, agar gerakannya fleksibel demi memperoleh keuntungan dan mencapai tujuannya di Suriah.

Jabhat Nusrah dan Al-Qaidah mungkin telah putus ikatan. Namun perlu digarisbawahi ini hanya putus ikatan organisatoris, bukan ideologis. Sekalimlagi, ini terlihat dari bagaimana proses “perceraian” dua kelompok ini secara baik-baik, jauh dari aroma konflik.

Untuk itu, masyarakat internasional dituntut harus bekerja lebih keras, mendorong lebih tegas penyelesaian diplomatik atas konflik Suriah, mewaspadai munculnya kelompok teroris lama dengan wajah baru, mencegahnya segera dan tidak memberikan kesempatan mereka bertahan hidup dengan mengambil keuntungan dari perang saudara di Suriah.


Baca Juga :   Indonesia dan Manuver Arab Saudi Melawan ISIS

Written by Iqbal Kholidi

Iqbal Kholidi

Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR