Sabtu, Maret 6, 2021

Isra’ Mi’raj dan Paradigma Islam Progresif

Sudahlah, Inggris, Sepakbola Tak Akan Pulang Kampung

Sepakbola tak akan pulang ke kampung halaman, Inggris. Sori. Ah, sebenarnya tak usah ada sori-sorian. Sepakbola tak akan kembali. Titik. Tidak tahun ini. Tak juga...

Ya Allah, Kami Tak Takut Mati

"Ke arah mana pun wajahmu berpaling maka kau akan kepergok virus corona". Ini kesadaran mengerikan yang diam-diam terbangun pada semua warga penghuni bumi. Ada begitu...

Agar Jokowi Tak Setengah Hati Merevisi UU ITE

Setelah berbagai ketidakpastian, akhirnya revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) masuk ke dalam Progam Legislasi Nasional 2016. Revisi itu disebabkan UU ITE lebih...

Membangkitkan Ekonomi di Tengah Pandemi

Menkeu Sri Mulyani dalam konferensi persnya mengenai APBN Selasa (22/9/020) menyatakan, Indonesia dipastikan mengalami resesi ekonomi. Ini karena, pada kuartal ketiga, PDB (produk domestik...
Avatar
Nafi Muthohirin
Peneliti di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. Anggota Lembaga Informasi dan Komunikasi PW Muhammadiyah Jawa Timur. Penulis buku "Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus" (2015)

jokowi-mirajPresiden Joko Widodo tertawa saat mendengarkan tausiah pada peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, Rabu (4/5) malam. ANTARA FOTO/Anis Efizudin

Isra’ Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjid al-Haram di Makkah menuju Masjid al-Aqsa di Palestina. Dari Masjid al-Aqsa, Nabi melanjutkan perjalanan dengan “menumpang” Buraq bertemu Allah SWT dengan melewati langit-langit. Sejak peristiwa itu, dimulailah perintah salat lima waktu kepada umat Islam yang menandai hubungan transenden antara hamba dengan Tuhan-Nya.

Pada tahun ini, Isra’ Mi’raj jatuh pada Jumat, 6 Mei 2016. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, sebagian umat Islam di sejumlah daerah di Indonesia ada yang memperingatinya dengan menyelenggarakan pengajian, membaca salawat Nabi (sholawatan) secara berjamaah, dan membagi-bagikan makanan kepada warga kampung. Berbagai acara menyambut Isra’ Mi’raj tersebut patut diapresiasi sebagai sebuah upaya penghormatan terhadap Nabi.

Akan tetapi, Isra’ Mi’raj akan jauh lebih memberikan pesan mendalam bila umat Islam menjadikan momentum peringatan ini sebagai langkah awal memusatkan perhatian terhadap berbagai problem kemanusiaan universal. Dalam hal ini, penting kiranya bagi umat Islam untuk mengambil peran-peran signifikan dalam menuntaskan persoalan diskriminasi sosial, perubahan iklim, konflik agraria, bahkan perjuangan terhadap hak-hak buruh.

Isra’ Mi’raj juga bisa menjadi momentum bagi umat Islam untuk “menggertak” kepada sebagian penegak hukum yang senantiasa pongah terhadap keadilan. Saat ini, mereka yang menduduki kursi-kursi sebagai “wakil Tuhan di muka Bumi” seolah tampak memperkaya diri dengan korupsi, gratifikasi, dan menerima suap untuk pengurusan perkara tertentu yang tidak lazim. Hal ini, misalnya, berkaca pada kasus ditangkapnya seorang pejabat Mahkamah Agung dan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum lama ini.

Dengan memaknai Isra’ Mi’raj yang seperti itu berarti umat Islam dapat dikatakan telah mengamalkan semangat Islam profetik sebagaimana yang dikatakan Kuntowijoyo dalam bukunya Paradigma Islam; Interpretasi untuk Aksi (1991). Dalam perspektifnya, Kuntowijoyo menyebut tiga hal penting yang termuat dalam misi kenabian (profetik), yaitu moderasi, liberasi, dan transendensi.

Spirit moderasi dan liberasi berarti bukan hanya menempatkan Isra’ Mi’raj sebagai sebuah peristiwa pengangkatan Nabi Muhammad ke langit dan dimulainya perintah ibadah salat lima waktu, melainkan juga memposisikannya sebagai satu dari sekian kejadian penting dalam Islam yang bisa diperlakukan sebagai momentum untuk kerja-kerja sosial.

Ketika “kepulangan” Rasulullah dari perjalanan yang jauh itu tidak dipercaya para sahabat di sekitarnya, kecuali Abu Bakar ash-Shiddiq, maka di era kekinian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, hal ini perlu diterjemahkan dengan mulai memupuk kepercayaan dan optimisme bahwa bangsa ini bisa terbebas dari belenggu kezaliman sosial.

Dengan demikian, manusia beragama akan lebih memiliki arti karena bermanfaat bagi penyelesaian berbagai problem di sekitarnya, bukan semata menjalin hubungan yang bersifat transenden antara seorang hamba dengan Tuhan-Nya. Pada titik inilah keberadaan agama tidak lagi hanya sebatas seperangkat identitas simbolik melainkan menjadi pencerah bagi misi kedamaian alam semesta.

Mengingat peristiwa Isra’ Mi’raj telah berlangsung beratus-ratus tahun yang lalu, dan terus diperingati setiap 27 Rajab dalam kalender Islam, maka spirit keteladanannya harus terus menyala. Menurut hemat saya, tidaklah cukup bila meneladani Isra’ Mi’raj hanya dengan lomba-lomba, perayaan keliling kampung, atau bagi-bagi makanan ke tetangga. Bila hanya itu, peringatan ini tidak akan ada bedanya dengan ritual tahunan, yang jika selesai momentumnya, hilang pula spiritnya.

Semangat moderasi, liberasi, dan transendensi perlu dibaca dan dipraktikkan di tengah momentum peringatan Isra’ Mi’raj ini. Umat Islam perlu memahami arti penting dari ketiganya agar semakin peka terhadap berbagai permasalahan sosial yang tak ada habis-habisnya. Ketidakadilan semakin merajalela, pisau hukum kita hanya tajam untuk masyarakat berekonomi bawah, sementara tumpul ketika berhadapan dengan elite politik dan pengusaha.

Selain itu, Isra’ Mi’raj pada tahun ini juga bisa menjadi momentum bagi umat Islam untuk berbenah diri, berperilaku toleran, dan membibitkan sikap terbuka terhadap segala bentuk pemikiran yang beraras pada kemajuan. Sikap inklusif mendorong umat Islam untuk berfikir, menggunakan akal dan pikirannya untuk semakin mengerti keberadaannya sebagai kelompok individu yang menjujung tinggi perdamaian. Sementara itu, sikap tertutup hanya akan menjadikan umat Islam terus berjalan di tempat dan tertinggal dari perubahan zaman yang terus berlangsung.

Menafsir ulang peringatan Isra’ Mi’raj yang lebih berparadigma kontekstual seperti ini memiliki maksud yang sangat mendalam dan progresif. Apalagi, akhir-akhir ini, potret Islam seringkali diidentikkan sebagai agama yang mengajarkan kekerasan, terorisme, dan tidak menghargai hak asasi manusia. Padahal, nilai dan ajaran yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad sesungguhnya menuntun umat-Nya pada jalan yang lurus dan selaras dengan berbagai bentuk pikiran modern yang berkembang di era kekinian, seperti demokrasi, HAM, cinta tanah air, dan menghormati pemimpin negara.

Ke depan, bertepatan dengan perayaan Isra’ Mi’raj, umat Islam berharap agar kehidupan beragama di Indonesia dapat terjalin toleran, penuh kedamaian, dan tak ada lagi orang-orang yang suka menyebar ujaran kebencian. Sedangkan dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air, umat muslim berharap semoga ketenangan publik tidak lagi dicederai oleh aksi-aksi ekstrimisme, juga pola pemberantasan terorisme yang tidak memandang hak asasi manusia.

Avatar
Nafi Muthohirin
Peneliti di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. Anggota Lembaga Informasi dan Komunikasi PW Muhammadiyah Jawa Timur. Penulis buku "Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus" (2015)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.