Rabu, Oktober 21, 2020

Islam dan Negara, Narasi Tak Berujung

Teman Ahok dan Perbaikan Fungsi Partai Politik

Di luar kontroversi dan beragam tuduhan yang ditujukan pada Teman Ahok, kita patut mengapresiasi pencapaian relawan yang mampu mengumpulkan lebih dari satu juta kartu...

Memperkuat Profesi Guru, Menakar Risiko Tugasnya

Peristiwa pemukulan terhadap guru Dahrul oleh Adnan dan anaknya di SMKN 2 Makassar pekan lalu merupakan hal yang sangat memprihatinkan. Padahal semua terjadi karena...

Mengenang Huston Smith

Huston Cummings Smith, guru para guru agama-agama sedunia, salah satu tokoh studi perbandingan agama, dan salah satu pembela kebebasan beragama di dunia, wafat pada...

Korupsi, Korporasi, dan KPK

Presiden Direktur PT Agung Podomoro Land (APL) Ariesman Widjaja keluar dari mobil tahanan untuk diperiksa di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (19/4). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan Awal...
Azyumardi Azra, CBE
Azyumardi Azra, CBE
Guru Besar Sejarah Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Rektor IAIN/UIN Syarif Hidayatullah selama dua periode (IAIN,1998-2002, dan UIN, 2002-2006. Guru Besar kehormatan Universitas Melbourne (2006-2009). Dewan Penyantun, penasehat dan guru besar tamu di beberapa universitas di mancanegara; dan juga lembaga riset dan advokasi demokrasi internasional. Gelar CBE (Commander of the Most Excellent Order of British Empire) dari Ratu Elizabeth, Kerajaan Inggris (2010) dll.

Narasi dan perdebatan tentang hubungan antara agama (Islam) dengan negara atau din wa siyasah bakal terus berlanjut di masa depan karena beberapa faktor. Lebih daripada sekadar narasi. Dalam narasi juga terjadi kontestasi, konflik, kekerasan sektarian di antara kelompok-kelompok mazhab dan aliran politik di batang tubuh umat Islam.

Perdebatan, tarik tambang, kontestasi dan konflik itu mengakibatkan ketidakstabilan banyak negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim. Ketidakmampuan menyelesaikan kontestasi mengundang campur tangan kekuatan asing.

Narasi Tak Berujung, Kenapa?

Ketiadaan konsep yang jelas dalam al-Qurán dan Hadits. Yang ada hanya beberapa prinsip dasar tentang politik/pemerintahan/negara seperti: al-ádalah (keadilan), al-musawa (kesetaraan), syura (musyawarah/konsultasi). Hasilnya berbagai bentuk negara muncul sepanjang sejarah sejak masa Nabi Muhammad, pasca-Nabi (masa klasik, abad pertengahan dan modern) sampai sekarang.

Adanya bagian umat Islam yang meyakini tentang kesatuan antara agama dan negara. Pandangan ini menguat terutama setelah terjadinya pertemuan keras antara masyarakat-masyarakat Muslim dengan kekuatan perdagangan, ekonomi, politik dan kekuasaan Eropa (kemudian Barat keseluruhan).

Masyarakat Muslim umumnya tidak pernah mengalami sekularisasi seperti umat Kristianitas yang sejak abad 18 mengalami sekularisasi/pemisahan antara agama dan politik/negara. ‘Berikanlah hak kaisar kepada kaisar dan hak Paus kepada Paus’ menjadi paradigma dasar sekularisme yang diadopsi banyak negara Barat.

Belum berhasilnya eksperimen sistem kenegaraan moderen ala Barat di banyak negara Islam. Banyak negara Islam sejak Perang Dunia II menjadi negara otoriter (militer atau sipil) yang gagal menjalankan pembangunan untuk peningkatan kesejahteraan para warganya.

Bentuk Negara Masyarakat Muslim

Negara Madinah—yang tidak disebut ‘dawlah Islamiyah—di bawah pimpinan Rasulullah; kewargaan majemuk secara agama dan ras; diselenggarakan berdasarkan ‘konstitusi Madinah’, dokumen pertama dengan prinsip-prinsip HAM.

Al-Khilafah al-Rasyidah dengan pemangku kekuasaan al-Khulafa’ al-Rasyidun; suksesi berdasar merit dan keutamaan pribadi. Abu Bakr Shiddiq diangkat secara aklamasi dengan bayát  dan menyebut dirinya sebagai Khalifatu Rasulillah; Umar bin Khattab diangkat melalui wasiat Abu Bakar mengganti sebutannya sebagai Amir al-Mu’minin; Usman bin Affan diangkat setelah terpilih dari 6 sahabat yang dinominasikan Umar; Ali bin Abi Thalib diangkat sebagian umat setelah terbunuhnya Usman dalam pengepungan rumahnya.

Sejarawan-cum-sosiolog Ibn Khaldun (1332-1406) menyimpulkan, tidak ada ‘khilafah’ pasca-al-Khalifah al-Rasyidah, yang ada hanyalah ‘mamlakah’.

Dinasti Umaiyah (41H/661M-132H/760M), suksesi kekuasaan berdasarkan tali darah keluarga Úmaiyyah, karena itu adalah mamlakah, bukan ‘khilafah’.

Dinasti Abbasiyah (132H/750M-656H/1258M); suksesi juga berdasarkan tali dari darah keluarga Bani Abbas; karena itu adalah mamlakah, bukan ‘khilafah’.

Dinasti Turki Usmani (1229-1924), suksesi kekuasaan juga berdasarkan tali darah Usmani; nama resminya Devlet-i Aliyet-i Osmaniye (Dawlah Tinggi Usmani); bukan khilafah

Agama dan Negara: Masa Moderen

Sekularisme; pemisahan agama dan negara. Republik Turki moderen setelah penghapusan Kesultanan Turki Usmani; negara tidak bersahabat dengan agama.

Integrasi agama dengan negara dengan al-Qurán sebagai ‘konstitusi’ dan penerapan syariáh; contoh tipikal Arab Saudi.

Akomodasi Islam dalam negara: Islam menjadi dasar negara modern dengan penerapan sistem politik dan hukum modern, seperti Mesir, Malaysia, Pakistan.

Akomodasi Islam dalam dasar negara yang kompatibel atau bersahabat dengan agama, khususnya Islam; contoh tipikal Indonesia dengan Pancasila.

Narasi ‘Khilafah’

Istilah ‘khilafah’ tidak ada dalam al-Qurán, apalagi dengan konotasi sebagai sistem politik dan kenegaraan.

Kata ‘khalifah’ dalam al-Qurán (QS 2:30) tentang penciptaan manusia di muka bumi (QS al-Shad:26) dengan tugas memakmurkan bumi Allah, menegakkan keadilan dan menghindari diri daripada dikuasai hawa nafsu angkara murka dan merusak alam.

Wacana kontemporer tentang ‘khilafah’ adalah romantisasi, idealisasi dan ideologisasi atas ‘’khilafah’ melalui misreading dan miskonsepsi.

Narasi ‘khilafah’ dapat menguat jika negara dan masyarakat Muslim gagal mewujudkan kemajuan di tengah berbagai tantangan dan disrupsi politik, sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, sain-teknologi, dan agama. Wallahu a’lam bish shawab.

Disampaikan pada Webinar LTN-NU Sudan dan PCINU Turki, 4 September 2020

 

Azyumardi Azra, CBE
Azyumardi Azra, CBE
Guru Besar Sejarah Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Rektor IAIN/UIN Syarif Hidayatullah selama dua periode (IAIN,1998-2002, dan UIN, 2002-2006. Guru Besar kehormatan Universitas Melbourne (2006-2009). Dewan Penyantun, penasehat dan guru besar tamu di beberapa universitas di mancanegara; dan juga lembaga riset dan advokasi demokrasi internasional. Gelar CBE (Commander of the Most Excellent Order of British Empire) dari Ratu Elizabeth, Kerajaan Inggris (2010) dll.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.