Sabtu, Januari 16, 2021

Islam dan Multikulturalisme

Ide Penghapusan UN Sandiaga Hanya Silat Lidah, Kiai Ma’ruf Lebih Konkret di Pendidikan

Dalam Debat Calon Wakil Presiden (Cawapres) Minggu malam lalu (17/3), Sandiaga Uno menyatakan akan menghapus Ujian Nasional (UN) karena berbiaya mahal, jika terpilih bersama...

Prasasti Kemanusiaan di Goa Tham Luang

12 remaja yang terjebak dua pekan di goa Tham Luang itu akhirnya selamat. Di balik operasi penyelamatan yang mendebarkan itu, muncul rangkaian kisah yang...

Mengorganisasikan Koleksi

Memiliki ribuan koleksi tidak selalu menyenangkan, terutama jika kita tidak tahu cara mengelolanya. Sejak lama saya mengabaikan katalogisasi sebagai cara mengelola perpustakaan pribadi. Cara...

Kharisma Jati dan Komedi yang “Sakit”

Jika Marquis de Sade harus ditahan berpuluh-puluh tahun di penjara dan rumah sakit jiwa sebagai pesakitan karena karya-karyanya yang dianggap tidak bermoral, seperti yang...
Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist

Semua agama mengklaim: hanya agamanya yang benar. Lainnya salah.

Meskipun klaim itu secara teologis masih bisa diperdebatkan, tapi secara sosiologis sulit, karena pandangan tersebut sudah memfosil. Bahkan sudah jadi teologi. Karena itu, tantangan terbesar multikulturalisme terletak pada kegigihannya untuk menjinakkan teologi radikal yang mengabaikan kondisi sosiokultural masyarakat.

Di sinilah letak seni dari perjuangan menegakkan multikulturalisme. Yaitu memperjuangkan toleransi dan pluralisme dalam damai.

Jika multikulturalisme diperjuangkan dengan kekerasan, maka ia akan sama saja dengan terorisme itu sendiri. Ini ironis sebab terorisme tumbuh dari sikap antimultikulturalisme.

Dengan demikian, multikulturalisme perlu ditanamkan kepada umat bahwa ia merupakan kenyataan sosio-kultural yang tak terhindarkan. Karena itu, Allah memberikan ruang terhadap perbedaan dalam berkeyakinan dan beragama.

Dalam kaitan ini, sepanjang sejarahnya Islam menghadapi tantangan antara doktrin Islam dengan realitas sosial. Tapi dalam pergulatan sejarah itu, Islam bisa mendamaikan antara doktrin dan kenyataan sosial kultural tersebut.

Tatkala doktrin pokok al-Qur’an tentang ritual keagamaan, misalnya, memerlukan rumusan terinci agar aplikatif, ketika itu pulalah para ahli fikih bisa mempertimbangkan faktor sosial kultural. Karena itulah tercipta perbedaan-perbedaan antarmadzhab (rujukan dalam peribadatan dan hubungan antarmanusia).

Imam Syafi’i, misalnya, mengembangkan apa yang disebut qawl al-qadim (norma lama) ketika di Irak dan qawl al-jadid (norma baru) ketika ia pindah ke Mesir. Jadi sejak awal perkembangannya, Islam telah mengakomodasi realitas sosio-kultural.

Akomodasi ini semakin terlihat ketika Islam tersebar ke seluruh dunia. Pada kasus-kasus tertentu, akomodasi itu terbentuk sedemikian rupa, sehingga memunculkan varian Islam yang berbagai rupa sebagai penegasan Islam rahmatan lil alamin.

Sebagai bahan renungan terkait multikulturalisme, ada baiknya kita membaca puisi Ibnul Arabi. Mursyid kaum sufi ini, dalam Tarjuman al Asywaq (Puisi Kerinduan), menulis:

Sebelum ini aku benci sahabatku
Jika agamanya tak sama denganku
Kini, hatiku telah terbuka
Terhadap segala realitas budaya.
Di padang rumput dan rusa
Di gereja para rahib dan pendeta
Di Kuil-kuil penyembah berhala
Di Ka’bah orang-orang tawaf
Di lempengan-lempengan taurat
Di gulungan injil penuh mukjizat
Di lembar-lembar Qur-an al-mushaf
Di situ aku mabuk cinta
Di Segala Yang Ada
Karena hakikatnya
ENGKAU jualah yang Ada
Hanya kepadaMU aku memuja

Syair cinta Ibnu Arabi di atas dimensinya sangat luas. Syair di atas tak hanya merefleksikan cinta kepada Tuhan. Tapi juga cinta kemanusiaan.

Cinta yang suci membentangkan kesadaran manusia bagaimana menghadapi realitas; baik sebagai mahluk sosial maupun makhluk spiritual. Kesadaran ini penting agar manusia mengenal dan menghayati makna ma’rifat lebih luas. Tak hanya melihat Tuhan dalam dirinya. Tapi juga melihat Tuhan dalam diri orang lain.

Dalam bahasa Maulana Jalaludin Rumi digambarkan: Jika anda belum mengenal Tuhan di wajah orang lain, berarti anda belum mengenal Tuhan dalam dirimu sendiri.

Itulah universalitas Islam. Luas membentang di segala penjuru kesadaran manusia. Tuhan tak hanya hadir dalam samudera. Tapi juga hadir dalam setetes air dalam diri kita! Dan manusia adalah samudera dalam setetes air itu!

Sekali lagi, Ibnul Arabi menggambarkan betapa ma’rifah menjadi inti untuk membangun kebersamaan dalam keberagamaan. Dalam konteks ma’rifah inilah kita harus memahami pesan ayat al Qur-an: “li ta’arafu” sehingga bermakna bahwa sesama manusia harus saling mengenal, memahami dan mencintai, meskipun satu sama lain berbeda.

Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.