Kamis, Desember 3, 2020

Islam dan Multikulturalisme

Ketika Taman dan Sungai Memikat Hati Warga

Usai salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, pekan lalu, belasan ribu massa umat Islam yang didominasi Front Pembela Islam (FPI) berpawai di jalan-jalan ibukota....

Rokok dan Ke(tidak)adilan Negara

Hari-hari ini isu mengenai kenaikan harga rokok yang mencapai Rp 50 ribu per bungkus menimbulkan kegaduhan di aras publik. Tak sedikit masyarakat yang setuju,...

Hukum yang Berjalan Mundur [Catatan Hukum 2016]

Seluruh rangkaian Tahun 2016 segera berakhir dalam hitungan hari. Refleksi menjadi perlu agar pembenahan dapat dilakukan. Tulisan ini hendak fokus "merenung ulang" pelbagai peristiwa...

Membumikan “Ruh” Kaum Pembaru di Era Kebohongan

Islam, tak bisa dimungkiri, adalah agama universal. Sebagai agama universal, Islam memiliki misi rahmatan li al-‘âlamîn, memberikan rahmat bagi seluruh alam; meruang dan menyapa...
Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist

Semua agama mengklaim: hanya agamanya yang benar. Lainnya salah.

Meskipun klaim itu secara teologis masih bisa diperdebatkan, tapi secara sosiologis sulit, karena pandangan tersebut sudah memfosil. Bahkan sudah jadi teologi. Karena itu, tantangan terbesar multikulturalisme terletak pada kegigihannya untuk menjinakkan teologi radikal yang mengabaikan kondisi sosiokultural masyarakat.

Di sinilah letak seni dari perjuangan menegakkan multikulturalisme. Yaitu memperjuangkan toleransi dan pluralisme dalam damai.

Jika multikulturalisme diperjuangkan dengan kekerasan, maka ia akan sama saja dengan terorisme itu sendiri. Ini ironis sebab terorisme tumbuh dari sikap antimultikulturalisme.

Dengan demikian, multikulturalisme perlu ditanamkan kepada umat bahwa ia merupakan kenyataan sosio-kultural yang tak terhindarkan. Karena itu, Allah memberikan ruang terhadap perbedaan dalam berkeyakinan dan beragama.

Dalam kaitan ini, sepanjang sejarahnya Islam menghadapi tantangan antara doktrin Islam dengan realitas sosial. Tapi dalam pergulatan sejarah itu, Islam bisa mendamaikan antara doktrin dan kenyataan sosial kultural tersebut.

Tatkala doktrin pokok al-Qur’an tentang ritual keagamaan, misalnya, memerlukan rumusan terinci agar aplikatif, ketika itu pulalah para ahli fikih bisa mempertimbangkan faktor sosial kultural. Karena itulah tercipta perbedaan-perbedaan antarmadzhab (rujukan dalam peribadatan dan hubungan antarmanusia).

Imam Syafi’i, misalnya, mengembangkan apa yang disebut qawl al-qadim (norma lama) ketika di Irak dan qawl al-jadid (norma baru) ketika ia pindah ke Mesir. Jadi sejak awal perkembangannya, Islam telah mengakomodasi realitas sosio-kultural.

Akomodasi ini semakin terlihat ketika Islam tersebar ke seluruh dunia. Pada kasus-kasus tertentu, akomodasi itu terbentuk sedemikian rupa, sehingga memunculkan varian Islam yang berbagai rupa sebagai penegasan Islam rahmatan lil alamin.

Sebagai bahan renungan terkait multikulturalisme, ada baiknya kita membaca puisi Ibnul Arabi. Mursyid kaum sufi ini, dalam Tarjuman al Asywaq (Puisi Kerinduan), menulis:

Sebelum ini aku benci sahabatku
Jika agamanya tak sama denganku
Kini, hatiku telah terbuka
Terhadap segala realitas budaya.
Di padang rumput dan rusa
Di gereja para rahib dan pendeta
Di Kuil-kuil penyembah berhala
Di Ka’bah orang-orang tawaf
Di lempengan-lempengan taurat
Di gulungan injil penuh mukjizat
Di lembar-lembar Qur-an al-mushaf
Di situ aku mabuk cinta
Di Segala Yang Ada
Karena hakikatnya
ENGKAU jualah yang Ada
Hanya kepadaMU aku memuja

Syair cinta Ibnu Arabi di atas dimensinya sangat luas. Syair di atas tak hanya merefleksikan cinta kepada Tuhan. Tapi juga cinta kemanusiaan.

Cinta yang suci membentangkan kesadaran manusia bagaimana menghadapi realitas; baik sebagai mahluk sosial maupun makhluk spiritual. Kesadaran ini penting agar manusia mengenal dan menghayati makna ma’rifat lebih luas. Tak hanya melihat Tuhan dalam dirinya. Tapi juga melihat Tuhan dalam diri orang lain.

Dalam bahasa Maulana Jalaludin Rumi digambarkan: Jika anda belum mengenal Tuhan di wajah orang lain, berarti anda belum mengenal Tuhan dalam dirimu sendiri.

Itulah universalitas Islam. Luas membentang di segala penjuru kesadaran manusia. Tuhan tak hanya hadir dalam samudera. Tapi juga hadir dalam setetes air dalam diri kita! Dan manusia adalah samudera dalam setetes air itu!

Sekali lagi, Ibnul Arabi menggambarkan betapa ma’rifah menjadi inti untuk membangun kebersamaan dalam keberagamaan. Dalam konteks ma’rifah inilah kita harus memahami pesan ayat al Qur-an: “li ta’arafu” sehingga bermakna bahwa sesama manusia harus saling mengenal, memahami dan mencintai, meskipun satu sama lain berbeda.

Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.