Selasa, Januari 19, 2021

ISIS, Negara atau Bukan?

Sajak Hujan Milik Sapardi

Malam itu, tiba-tiba saya terkenang Sapardi Djoko Damono. Penyair sepuh yang tetap dikenal publik. Di masa saya remaja, setiap menjelang tujuh belasan, selalu ada...

Jurus Jitu Erick Thohir Menyelamatkan Jiwasraya

Kasus Jiwasraya memanas. Presiden Joko Widodo menyebut masalah Jiwasraya itu sudah berlangsung sudah lama, sejak 10 tahun lalu. Sontak saja, sejumlah politisi Partai Demokrat...

Konflik Timur Tengah di Pusaran Pandemi Covid 19

Penyebaran Pandemi Covid 19 sudah menyapu bersih seluruh wilayah di dunia ini. Negara-negara Asia, Eropa, Afrika dan Amerika semuanya berjibaku melawan wabah global ini. Tak...

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...
Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah

isis-logoKelompok militan yang bercokol di Suriah pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi ini kadang disebut dengan nama yang berbeda oleh media dan banyak kalangan. Kelompok ini memang awalnya memperkenalkan diri dengan nama Daulah Islamiyah fil Iraq was Syam, nama bahasa Arab yang artinya Negara Islam di Irak dan Syam. Masyarakat di Timur Tengah kemudian menyebutnya DAISH sebagai singkatan dari nama tersebut. Hingga saat ini.

Sementara masyarakat Barat kemudian menerjemahkan dalam bahasa Inggris, Islamic State of Iraq and Levant, dan disingkat ISIL. Levant adalah sebuah istilah yang lumrah di era kolonial Prancis untuk menyebutkan kawasan yang mencakup negara Suriah, Yordania, Lebanon, Palestina-Israel, dan bahkan bagian tenggara Turki. Sebuah kawasan dalam bahasa Arab klasik dengan istilah Syam.

Sebagian lagi memadukannya dengan menyebut Islamic State of Iraq and Syam disingkat ISIS. Hanya saja karena kata Syam masih terlalu asing bagi penutur di luar bahasa Arab, lalu diubah dengan kata Syria (Suriah), tetap disingkat ISIS. Beberapa media banyak menggunakan istilah yang terakhir ini.

Di saat publik belum mencapai kesepakatan (konsensus) bagaimana harus menyebut kelompok militan tersebut, setidaknya dalam bahasa Inggris, kelompok ini pada pertengahan tahun  2014 memperbarui namanya. Lebih tepatnya memperpendek menjadi Daulah Islamiyah atau Islamic State. Mereka beralasan ini sebagai penegasan dari negara Khilafah, konsep negara global yang mereka tegakkan. Beberapa media seperti Vice News dan BBC pun akhirnya menggunakan nama “Islamic State” yang selanjutnya disingkat IS.

Lepas dari semua itu, saya pribadi menggunakan nama ISIS untuk menyebut nama kelompok ini. Bukan berarti saya menyetujui kelompok ISIS ini sebagaimana arti dari kepanjangan  ISIS. Saya menggunakan nama ini hanya karena sudah telanjur populer, seperti masyarakat Arab yang menggunakan nama DAISH. Toh, pada kenyataannya kelompok ini juga tidak menguasai wilayah Irak dan Suriah sepenuhnya, apalagi tanah Syam yang jelas secara geografis lebih luas.

Dan lagi yang saya tahu dan dengar kelompok ini keberatan dengan penggunaan nama ISIS atau DAISH. Belakangan beberapa media di Indonesia mulai ada yang menggunakan nama NIIS untuk penyebutan nama kelompok ini, maksudnya Negara Islam Irak dan Suriah. Tapi tampaknya nama ISIS tetap lebih akrab di telinga. Jadi, izinkan saya tetap menggunakan kata ISIS di tulisan ini.

Negara atau Bukan?

Menurut kacamata pendukung ISIS, ISIS tentu adalah sebuah negara. Tak tanggung-tanggung mereka menyebutnya Negara Islam atau Daulatul Islamiyah. Mereka meyakini doktrin agama sekaligus negara, jadi Islam agama sekaligus negara.

ISIS bukan satu-satunya kelompok yang meyakini doktrin agama satu paket dengan negara. Al-Qaidah beberapa kali sejak tahun 2000-an juga mengungkapkan memiliki rencana mendirikan negara yang mereka sebut Khilafah .

Hizbut Tahrir mungkin organisasi yang paling getol mengampanyekan Khilafah selama ini. Organisasi ini didirikan pada 1959 di Al-Quds, dipelopori oleh Taqiyuddin An-Nabhani, mantan hakim agama di Palestina. Hizbut Tahrir memiliki cabang di beberapa negara. Di Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI kerap melakukan demonstrasi dan rapat akbar mendorong penegakan negara Islam atau Khilafah.

Meski memiliki keyakinan yang sama tentang kewajiban mendirikan Khilafah, ISIS, Al-Qaidah, dan Hizbut Tahrir kenyataannya malah berseberangan satu sama lain. Klaim ISIS mendirikan negara ditolak mentah-mentah, Al-Qaidah dan Hizbut Tahrir menganggap Khilafah yang didirikan ISIS tidak sah.

Jadi, publik tidak perlu repot-repot mengkaji untuk mencapai sebuah konsensus ISIS ini apakah sebuah negara atau bukan. Di kalangan mereka yang memiliki akar keyakinan yang sama dengan ISIS menganggap ISIS bukan negara, tapi hanya “ormas”.

Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.