Rabu, Desember 2, 2020

ISIS, Islam atau Bukan Islam?

Ujian Berat Basuki

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di ruang tunggu Gedung KPK, Jakarta, Selasa (12/4). Gubernur Ahok dipanggil KPK untuk dimintai keterangan terkait kasus dugaan...

Jokowi dan Peminggiran Agenda Hukum

Tak berbilang satu atau dua kritik yang tertuju pada ketidakberpihakan rezim pemerintahan Joko Widodo pada agenda hukum, terutama pemberantasan korupsi. Hampir selalu pemerintah menyuarakan,...

Kisah Penyintas Perkosaan dan Trauma yang Mengekor Pascakejadian

Dari semua jenis tindakan kriminal, yang membawa kepelikan paling besar bagi seseorang adalah kekerasan seksual. Tindakan tersebut bisa mendatangkan beban berlapis bagi si penyintas:...

Bangsa Ber-Pancasila atau Bangsa Pemerkosa?

Wacana penetapan Hari Lahir Pancasila sebagai libur nasional nyaris berbarengan dengan santernya berita kasus-kasus perkosaan brutal di negeri ini. Membuat kita layak berpikir lagi,...
Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah

isis-bunuh2Dok. breitbart.com

Pada Februari 2016 lalu saya berkunjung ke Mekkah, Arab Saudi. Saya tinggal di penginapan Saif Al-Yamani yang jika dilihat dari namanya ini penginapan milik keluarga keturunan Yaman.  Di seberang jalan tak jauh dari penginapan saya, ada rumah makan bernama Aden. Sepertinya nama ini diambil dari sebuah nama kota penting di Yaman, mungkin milik keturunan Yaman juga.

Kota Aden hingga saat ini menjadi rebutan pemberontak dan Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.

Ada banyak orang Yaman yang mengadu nasib di Saudi Arabia. Pernah ketika saya naik taksi di Mekkah sopirnya orang Yaman. Kalau sudah begini, kadang saya “kepo” apa pendapat dia tentang konflik Yaman dan soal intervensi militer yang dilakukan Arab Saudi terhadap Yaman misalnya.

Masih soal naik taksi di Mekkah, tapi pengalaman kali ini sopirnya warga Arab Saudi asli. Saya tidak tanya pendapat dia tentang perang di Yaman, tapi ingin tahu pendapatnya tentang fenomena Negara Islam (ISIS) yang membawa nama Islam. Sopir ini dengan berapi-api mengatakan ISIS bukan Islam!

“Mereka menyembelih manusia seperti ternak, membantai manusia tak peduli itu kaum perempuan atau anak-anak. Mereka menghidupkan praktek perbudakan. Apakah ini Islam? Islam tidak seperti itu,” kata dia.

Ada sebuah pernyataan dari seorang bernama Adel Al-Kalbani. Dia tentu bukan sopir taksi seperti yang saya ceritakan di atas. Dia seorang ulama dan mantan Imam Masjidil Haram, Mekkah, yang mengatakan, “Literatur yang dipelajari ISIS sama dengan yang kami pelajari di sini (Saudi).”

Ia katakan itu pada 22 Januari saat wawancara di saluran televisi MBC yang berbasis di Dubai. Sejujurnya saya pribadi tidak kaget, namun saya respek dengan kejujuran dia bahwa “perangkat lunak” ISIS adalah Salafisme atau Wahabisme, paham resmi Kerajaan Saudi Arabia.

Namun perlu dicatat tidak semua pengikut Wahabi setuju dengan tindakan ISIS, meski mereka tentu saja dalam pandangan dan pemikiran sama-sama ultrakonservatif. Misalnya, semua pengikut Wahabi sependapat kalau orang murtad dihukum mati, tapi mereka tidak setuju dengan ISIS yang gampang mengumbar vonis murtad pada siapa saja.

Tuduhan ini tidak berlebihan. Saya pernah membaca majalah Dabiq volume 13 (majalah online yang diterbitkan ISIS). Di situ ISIS tak hanya melabeli ulama Kerajaan Arab Saudi murtad, tapi pemimpin kekafiran (the imam of kufr). Di majalah tersebut ISIS merilis 13 daftar ulama kerajaan dan menyerukan kepada pengikutnya untuk menghabisinya. ISIS tegas menolak teologinya disamakan dengan mereka; ISIS merendahkan mereka dengan sebagai Wahabi gadungan.

Dunia Islam, khususnya kalangan ulama atau intelektual Islam yang tidak setuju dengan ISIS, tidak cukup menolak dan melawan ISIS hanya dengan pernyataan “ISIS bukan Islam” atau umpatan “ISIS Wahabi”. Perlu ada penafsiran tandingan terhadap dalil-dalil agama yang ISIS gunakan. Dalam hal ini justru agamawan Salafi Wahabi yang semestinya paling terdepan menyuarakan jika ingin mempertegas bahwa pahamnya sama sekali berbeda dengan ISIS.

Ini jauh lebih positif dan mendidik umat dibandingkan melempar tuduhan ISIS khawarij atau ISIS rekayasa luar Islam.

Tak bisa diabaikan ketika mempraktikkan kesadisannya, nyatanya ISIS memang selalu mengunakan dalil pembenaran keagamaan dengan mengacu pada sumber-sumber otentik Islam dan pandangan-pandangan ulama-ulama klasik yang banyak dirujuk oleh umat Islam. Tak jarang ISIS menggunakan potongan ayat suci untuk dijadikan judul-judul video sadis yang diproduksinya. Sungguh menyedihkan.

Terlepas dari pro-kontra adanya dasar-dasar agama yang digunakan ISIS bertindak sadis, pada saat bersamaan ISIS berhasil mencuri perhatian dengan mengunggah pandangannya ini di dunia maya, yang kemudian disambut oleh pengikut netizen-nya kemudian diteruskan lagi ke berbagai platform media sosial. Akibatnya, di media sosial pesan-pesan dan tafsir Islam yang damai, toleran, dan Islam yang berperikemanusiaan kalah “nyaring” dengan konten yang disebarkan pengikut dan simpatisan ISIS.

Ini bukan karena mereka mayoritas di dunia maya dan media sosial, tapi karena kaum intelektual Islam anti-ISIS sedikit sekali yang menjadikan dunia maya, khususnya media sosial, wadah untuk menandingi tafsir ekstremis ala ISIS. Kalaupun meng-counter, usulan saya sebaiknya tak cukup hanya sekadar jargon “ISIS bukan Islam”. Bukankah ini sama seperti jawaban yang saya terima dari sopir taksi Saudi di atas?

Kolom Terkait:

Kenapa ISIS Menyerang Eropa?

Kenapa ISIS Tidak Perangi Israel?

Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.