Banner Uhamka
Senin, September 21, 2020
Banner Uhamka

ISIS dan Monopoli Narasi Jihadis Salafi di Suriah

Koran Tumbang, Jurnalisme Bertahan

Pada tahun 2014, Serikat Perusahaan Pers (dahulu Serikat Penerbit Suratkabar – SPS) menerbitkan sebuah buku kecil berjudul Umur Koran Masih 100 tahun. Buku kecil...

Partai Politik (yang Tidak) Pancasilais?

Himbauan Presiden Jokowi dalam presidential lecture di istana merdeka pada awal bulan di penghujung tahun (3/12/2019) ini menarik untuk disimak. Karena diikuti oleh para...

Makanan di Penjara Bukan Persoalan Sepele

Saya kira, semua orang yang pernah mengadakan riset lapangan di penjara tahu masalah di penjara seperti timpangnya jumlah petugas dan tahanan. Ketimpangan ini tentu...

Jokowi dan Fobia Jurnalis Asing

Pekan lalu Pengadilan Negeri Batam mengadili dua orang wartawan asal Inggris, Neil Richard George Bonner dan Rebecca Bernadette Margaret Prosser, karena dianggap menyalahgunakan visa...
Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah

salafi-jihadi
Kelompok Salafi Jihadi Libya mendukung perjuangan ISIS.

Salafisme adalah sebuah doktrin yang mengusung gerakan pemurnian (puritan) teologis. Pada posisi ekstrimnya, salafi menganut doktrin jihad. Kata ini berarti “perjuangan”, “berjuang” dalam bahasa Arab, dan memuat banyak definisi. Akan tetapi, ketika Uni Soviet menginvasi Afghanistan pada tahun 1979, definisi utama jihad dalam konteks ini menjadi “perlawanan bersenjata”.

Kaum salafi yang kuat mengusung tema jihad bersenjata ini kemudian dikenal dengan Salafi Jihadi. Contoh kelompok atau organisasi yang berideologi Salafi Jihadi adalah al-Qaidah dengan segenap cabangnya.

Jadi, Salafi Jihadi adalah varian baru dari gerakan salafi atau yang selama ini kita kenal dengan Wahabi. Memang, secara teknis istilah Wahabi tidak diakui kalangan salafi. Namun, banyak kalangan tetap menggunakan sebutan “Wahabi”, karena semata-mata menisbatkan pada nama pengasas sekte ini yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab. Bahkan kalangan salafi sendiri keberatan dengan nama Wahabi, karena istilah tersebut dianggap bernada peyoratif ketika dilafalkan.

Doktrin jihad sebagai perlawanan bersenjata atau perang memang tak dimonopoli oleh kaum salafis. Banyak gerakan militan non-salafi bersenjata seperti HAMAS di Palestina dan Taliban di Afghanistan juga menyebut dirinya adalah mujahidin (jihadis). Kaum jihadis ini memiliki keyakinan bahwa lemahnya umat Islam sehingga bisa dijajah lantaran umat meninggalkan ibadah jihad.

Tak bisa dibantah, kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sebagai “anak kandung” al-Qaidah juga termasuk dalam aliran Salafi Jihadi, meski dalam perjalanannya si anak ini akhirnya “durhaka” pada induknya. Pada fase berikutnya jihadis ISIS berkenalan dengan konsep takfirisme, mengkafirkan sesama umat Islam, memasukkan kelompok Syiah dan setiap muslim Sunni yang tidak mengikuti ajaran Salafi Jihadi yang menimbulkan konsekuensi hukum yang hampir selalu berupa hukuman mati.

Usamah bin Ladin tak pernah menggunakan kategori kafir ini, sebab ibunya adalah keturunan Alawite Suriah, dan salah satu leluhurnya adalah Syiah.

Pada posisi ekstrim, jihadis salafi ISIS memperluas definisi kuffar (orang-orang kafir) bahkan mengkafirkan kelompok Salafi Jihadi yang lain karena tidak segaris dengan misi “jihad” ISIS. Dengan kata lain, ISIS telah menjadi ultra-salafi jihadi.

ISIS puritanisasi sebagai ciri khas salafi ditegakkan ISIS di setiap wilayah yang dikontrolnya; penghancuran situs-situs purbakala karena dianggap berhala, dan segala praktik keagamaan yang menyimpang karena dianggap bercampur dengan tradisi lokal diberangus.

Sebagai pewaris Salafi Jihadi al-Qaidah, ISIS menolak ide-ide sekuler sepert demokrasi, pluralisme, hak asasi manusia (HAM), dan lain-lain karena dianggap warisan Barat atau kafir. Penerapan syariat Islam hanya sah di bawah naungan khilafah, sehingga negara yang menerapkan formalisasi syariat seperti Saudi Arabia dan Brunei tak lebih dari thagut (tiran) bagi ISIS. Maka, mustahil memahami ISIS tanpa mengenali lebih dulu apa itu aliran salafi, khususnya salafi jihadi.

ISIS juga menganggap jihad sebagai ibadah yang rentan dengan penyimpangan dalam praktiknya. Bagi ISIS, jihad tak bisa dicampur dengan semangat nasionalisme atau dibatasi sekat-sekat negara bangsa, seperti yang dilakukan militan HAMAS yang berjihad untuk kemerdekaan Palestina atau Taliban yang hanya beroperasi di Afghanistan.

ISIS ingin menawarkan jihad yang murni tanpa terkontaminasi nasionalisme. “Wahai umat Islam, perangi negaramu. Ya, negaramu. Karena Suriah bukan untuk orang Suriah, Irak bukan untuk orang Irak.” Abu Bakar al-Baghdadi, yang saat itu berkhutbah di Masjid al-Nuri, Mosul, 28 Juni 2014, beberapa hari setelah kota tersebut berhasil dicaplok ISIS.

Di Suriah, ekspansi ISIS dipuji sebagai langkah yang strategis. Suriah menjadi tanah paling ideal, baik secara geopolitik maupun geoideologis, sebagai habitat jihad, setelah meletus perang saudara. Daya tarik ini dirasakan hingga luar kawasan. Tak ada aktivis salafi jihadi di belahan bumi mana pun, kecuali tertarik untuk datang. ISIS mendapat sumber daya manusia (SDM) melimpah jihadis salafi di negeri ini.

Dalam perang Suriah, jihadis salafi pindah haluan dari kelompok satu ke kelompok salafi jihadi yang lain adalah suatu hal yang biasa, sebagaimana kelompok mereka berganti nama dan bendera, atau merger antar kelompok salafi jihadi. Seringkali ISIS memangsa milisi salafi jihadi yang lebih kecil yang tak mau bergabung dengannya guna merebut wilayah operasional mereka. Ini mirip dengan perang mafia untuk berebut wilayah kekuasaan.

Sementara itu, Jabhat Nusrah di Suriah yang belakangan berganti nama menjadi Jabhat Fath al-Sham (Front Penakluk Syam) pasca-cerai dari al-Qaidah memilih memposisikan diri sebagai jihadis “nasionalis” tanpa ambisi internasional. Hipokrisi ini menyebabkan ISIS semakin memonopoli narasi jihadis-salafi global dan visinya untuk menaklukkan dunia.

Peperangan di Suriah telah menjadi “universitas” salafi jihadi dari berbagai gerakan dan organisasi. Bersaing tak hanya untuk memenangkan predikat menjadi siapa jihadis yang paling sejati, tapi juga siapa yang paling “Wahabi” di antara mereka.

Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Religion in Academic Study; An Introduction

"Religion" in relation to ritual practice became an item in an inventory of cultural topics that could be presented either ethnographically in terms of...

Optimisme di Tengah Ketidakbersatuan ASEAN

Optimisme ASEAN yang memasuki usia 53 tahun pada 8 Agustus lalu harus dihadapkan pada kenyataan pahit dan diliputi keprihatinan. Negara-negara anggota ASEAN dipaksa atau...

Investasi dalam Bidang SDA dan Agenda Neoliberal

Hari telah menuju sore, dengan wajah yang elok Presiden Joko Widodo membacakan naskah pidatonya saat dilantik untuk kedua kalinya pada tahun 2019 lalu. Sepenggal...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Konflik Yaman dan Kesepakatan Damai Israel-UEA

Kesepakatan damai Israel-UEA (Uni Emirat Arab), disusul Bahrain dan kemungkinan negara Arab lainnya, menandai babak baru geopolitik Timur Tengah. Sejauh ini, pihak yang paling...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.