OUR NETWORK

Yerusalem Sayang, Yerusalem Malang

Ia pernah dikuasai kerajaan Yahudi, kekaisaran Kristen, dan kedinastian Islam.

Yerusalem! Takdirmu sungguh sangat beruntung tercipta sebagai kota suci bagi tiga agama besar: Yahudi, Kristen, dan Islam. Bisa jadi, kau paling beruntung dan satu-satunya kota di seluruh dunia dengan takdir begitu. Kau memiliki potensi untuk memantik renungan, kesadaran, hingga gerakan yang membawa tiga agama pada persatuan.

Namun, malang betul nasibmu. Takdirmu seolah jadi “petaka” di tangan manusia yang memang kerap berkonflik justru atas nama kesucian. Saat ini, negerimu justru menjadi satu-satunya negara di dunia yang masih terjajah dan kau menjadi salah satu kota paling berkecamuk konflik.

Tak terhitung sudah darah yang tumpah, anak-anak dan wanita yang menjadi yatim dan janda hingga mati di Yerusalem. Sepanjang sejarah Yerusalem yang merupakan salah satu kota tertua di dunia, hingga setidaknya satu dekade lalu, Yerusalem sudah pernah dihancurkan dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan direbut serta direbut-kembali 44 kali. Ia pernah dikuasai kerajaan Yahudi, kekaisaran Kristen, dan kedinastian Islam.

Bagi saya, Yerusalem seperti seorang anak yang broken home. Orang tuanya bercerai. Hak asuhnya diperebutkan. Sudah disidangkan berkali-kali di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), namun tak pernah dicapai kata sepakat dan keputusan inkracht.

Maka, bagaimana seharusnya Yerusalem dilihat dan diperlakukan?

Pertama-tama, visinya harus keagamaan, bukan politik: yakni kesucian Yerusalem. Dalam artian, takdirnya harus diaktualisasikan menjadi nasibnya. Ia diperlakukan layaknya takdirnya sebagai kota suci. Bukan kita berpikir untuk menguasainya, biarkan ia justru “menguasai” kita. Tak boleh ada darah tumpah di sana. Tak boleh ada perang di sana. Tak boleh ada invasi ke sana. Dijaga bersama kesuciannya.

Sebagaimana Mekkah dan Madinah, di mana Arab Saudi (seharusnya) bukan tuan atas dua kota tersebut, melainkan “budak”: “Budak Dua Kota Suci” (Khadimul Haramain as-Syarifain). Meskipun dalam konteks Arab Saudi kita melihat fenomena sebaliknya, di mana mereka berlagak seperti tuan atas Mekkah dan Madinah, yang menghancurkan situs-situs peninggalan Nabi Muhammad hanya lantaran mereka punya pandangan yang berbeda dengan umat Islam pada umumnya yang begitu menghormati situs peninggalan Nabi tersebut.

Selanjutnya, pendekatannya harus hukum. Layaknya seorang anak broken home, maka Yerusalem harus dilindungi hak-haknya melalui pendekatan hukum (yakni hukum internasional). Siapa pun pemegang otoritas di sana, mereka adalah “budak” yang tunduk pada hukum yang perlu dibuat secara khusus dan disepakati secara detail di bawah payung PBB dengan visi melindungi kesuciannya sesuai keputusan UNESCO yang menjadikannya sebagai “Situs Warisan Dunia” dan Konvensi Jenewa yang berupaya melindungi situs-situs suci di Yerusalem Timur. Pemegang otoritasnya bertanggung jawab pada dunia melalui PBB.

Namun, faktanya, Israel sejak 1967 mencaplok dan berambisi menguasai (menjadi tuan yang angkuh) atas Yerusalem Timur. Di mana ambisi itu ditolak oleh komunitas dunia yang menghendaki, minimal solusi paling rasional adalah kembali ke pembagian wilayah sesuai 1967. Selain itu, dalam sejarah, Israel seringkali membatasi Masjid Al-Aqsa untuk Muslim, di mana terakhir terjadi baru-baru ini pada Juli 2017. Padahal, Resolusi UNESCO 159: 15 Juni 2000 telah mengecam itu.

Selama puluhan tahun sejak 1967, Israel melakukan berbagai manuver (pembangunan pemukiman, parade militer, dan berbagai sikap tuan yang angkuh) di Yerusalem Timur yang jika dihitung minimal melawan 16 Resolusi Dewan Keamanan PBB, sebagaimana dilansir laman Al Jazeera.

Yang paling memprihatinkan dan bahaya, sikap Israel yang terang-terangan melawan Resolusi UNESCO 150: 27 November 1996, yang menyebutkan bahwa “Kota Tua Yerusalem” keputusan Israel membuka dan membangun terowongan dekat Masjid Al-Aqsa sebagai tindakan yang menyerang sentimen keagamaan di dunia. Namun, Israel adalah Israel. Seperti dilansir medianya, Haaretz, Israel secara terang-terangan dan angkuh menyatakan takkan mematuhi PBB atau siapa pun terkait Yerusalem Timur.

Maka, keputusan Donald Trump untuk membangun Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Yerusalem sebagai bentuk pengakuan sepihak atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel adalah manuver yang memperburuk keadaan. Mengancam stabilitas politik Timur Tengah, memperburuk situasi yang sudah tak begitu aman di sana, dan yang paling mengerikan adalah berpeluang memperluas wilayah konflik Israel-Palestina pada ranah agama yang rentan memicu aksi yang nantinya akan dituduhkan oleh Trump sebagai radikalisme Islam. 

Jika hidup seenak cocote Trump, maka dunia akan hancur. Inilah sejarah kelam AS edisi pasca-George W. Bush di Gedung Putih.

Kolom terkait:

Trump yang Songong, Palestina, dan Khilafah

Balada Bacot Donald Trump

Yerusalem, Pembuka Jalan Negara Palestina?

Palestina di Tengah Keabsurdan Dunia Islam [Hari Al-Quds Internasional]

Konflik Israel Palestina, Siapa Musuh Bersama Sebenarnya?

Husein Ja'far Al Hadar
Vlogger Islam Cinta yang tak lagi jomblo. Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…