Rabu, Januari 27, 2021

Trump yang Songong, Palestina, dan Khilafah

Jokowi dan Teror di Manchester – Marawi – Kampung Melayu

Hari-hari ini kita larut memantau perkembangan situasi mencekam yang sedang terjadi di Marawi, salah satu kota di Filipina, yang diserbu dan dikuasai militan yang...

Palestina Setelah HAMAS Merevisi Manifestonya

Belum lama ini Hamas mengumumkan manifesto barunya yang, konon, memakan waktu bertahun-tahun untuk mendiskusikannya di antara anggota Hamas, baik yang di dalam penjara ataupun...

Egoisme Erdogan dan Ide Dialog Lintas Etnis di Arab Timur

Perkembangan baru di Efrin, Suriah bagian utara, menunjukkan besarnya potensi dan kompleksitas konflik di Arab Timur. Di tengah kepercayaan diri Turki dalam operasi Ghusnu...

Pemilu, Brexit, dan Theresa May

Menginjak awal Juni, Eropa mulai menggeliat. Sesaat lagi Inggris yang baru saja menggelar referendum Brexit akan menyelenggarakan pemilihan parlemen. Rencananya, pemilu akan digelar pada...
Avatar
M. Kholid Syeirazi
Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU)

Banyak orang bilang Donald Trump itu songong, tetapi sebenarnya dia seorang pemberani. Tahun 1995, Amerika mengesahkan undang-undang bernama Jerusalem Embassy Act of 1995. Isi pokok undang-undang ini tiga: (1) Yerusalem tetap merupakan satu kota tak terbagi yang menjamin hak setiap kelompok etnis dan agama; (2) Yerusalem adalah ibu kota Negara Israel; dan (3) Kedutaan Besar Amerika di Israel harus didirikan paling lambat 31 Mei 1999.

Jadi, menurut UU ini, Kedutaan Besar Amerika di Israel sebenarnya sudah harus dipindah dari Tel Aviv ke Yerusalem di era Presiden Bill Clinton. Tetapi Clinton (1993-2001), Bush (2001-2009), dan Obama (2009-2017) memilih hati-hati dan terus menunda pelaksanaan UU ini. Baru di era Trump, Amerika Serikat menegaskan posisinya soal Israel dan Pelestina.

Saya menduga sikap Trump dilatari oleh faktor dalam dan luar. Pertama, Trump ingin merebut simpati dari lobi Yahudi yang menguasai partai oposisi. Pengaruh lobi Yahudi lebih besar di Demokrat ketimbang di partai asalnya: Republik. Langkah ini perlu sebagai barter terhadap kebijakan proteksionisme Trump yang perlu dukungan “kamar sebelah.”

Kedua, revolusi shale oil & gas AS membuat ketergantungan AS kepada impor minyak Timur Tengah berkurang. AS trauma oleh embargo negara-negara Arab menyusul Perang Yom Kippur tahun 1973. Gara-gara membela Israel dalam perang, ekonomi AS terpukul akibat pasokan minyak impor Timur Tengah terhenti, padahal AS negeri yang kecanduan minyak. Dengan revolusi shale, AS kini menyalip Arab Saudi dan Rusia, masing-masing sebagai produsen minyak dan gas terbesar di dunia.

Ketiga, harga minyak hancur beberapa tahun ini. Negara-negara Arab, termasuk Arab Saudi, mulai mengurangi ketergantungan APBN dari pendapatan minyak. Di bawah Putra Mahkota, Muhammad bin Salman, Arab Saudi berkomitmen lebih terbuka terhadap investor dan budaya asing melalui Vision 2030. Agenda ini membuat Arab Saudi lebih tergantung kepada duit Amerika dan sekutu-sekutunya ketimbang Amerika tergantung kepada minyak Arab Saudi.

Dengan kalkulasi ini, kebijakan Trump akan didukung Arab Saudi dan GCC (Gulf Cooperation Council) yang beranggotakan Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Saudi Arabia, dan Uni Emirat Arab. Dukungan Arab Saudi dan GCC akan membuat OKI (Organisasi Konferensi Islam), yang akan rapat pekan depan merespons kebijakan Trump, tak lebih dari sekumpulan macan ompong.

Kombinasi faktor dalam dan luar ini membuat Trump yakin perhitungnnya tidak meleset. Trump memang songong, tetapi dia pebisnis yang penuh perhitungan. Dia yakin Arab Saudi dan GCC akan mendukung kebijakannya.

Di sinilah masalah utamanya. Krisis Palestina tidak berujung karena negara-negara Islam sendiri tidak kompak. Banyak negara, termasuk Indonesia, menolak membangun hubungan diplomatik dengan Israel sebagai bentuk simpati kepada penderitaan rakyat Palestina. Tetapi negara lain seperti Mesir, Yordania, Turki, telah menjalin hubungan diplomatik resmi. Negara-negara Islam lain, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, menjalin hubungan dekat dengan Israel tetapi rahasia. Banyak dukungan dan komitmen negara Arab terhadap Palestina palsu belaka.

Lalu, apa urusannya dengan khilâfah? Kita ini urusan tata cara salat aja tidak seragam, urusan terkait Palestina saja tidak kompak, apalagi soal khilâfah! Sekarang ada pandangan dari pendukung khilâfah bahwa kita tidak perlu membela Palestina karena perjuangan rakyat Palestina adalah perjuangan negara-bangsa juga, benderanya bendera nasionalisme juga, padahal nasionalisme harus ditalak tiga.

Jadi, biarin mereka mati, kecuali pejuangnya tidak lagi mengibarkan bendera Palestina, tetapi panji-panji khilâfah. Jalan pikiran seperti ini absurd, seabsurd mimpi mereka tentang imperium Islam dunia.

Kolom terkait:

Di Balik Klaim Trump atas Yerusalem

Yerusalem, Pembuka Jalan Negara Palestina?

Menakar Komitmen Erdogan dalam Krisis Yerusalem

Membedah Islam Politik, Politik Islam, dan Khilâfah

Palestina di Tengah Keabsurdan Dunia Islam [Hari Al-Quds Internasional]

Avatar
M. Kholid Syeirazi
Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.