in

Tragedi Suriah dan Amnesia Dunia


Anak-anak yang mengungsi dari kota Raqqa berdiri dekat tenda di sebuah kamp di Ain Issa, gubernuran Raqqa, Suriah, Sabtu (1/4). [ANTARA FOTO/REUTERS/Rodi Said]
Jumat 7 April 2017, membawa deja vu. Militer Amerika Serikat menembakkan 59 misil Tomahawk ke pangkalan militer Al-Sha’ayrat, Homs, Suriah. Sebenarnya ini bukan serangan pertama AS ke Suriah, namun sebelumnya AS selalu berdalih sedang membombardir militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

 

Pada 22 Maret lalu, koalisi militer yang dipimpin AS bahkan mengebom “tidak sengaja” sebuah kamp pengungsi di Raqqa dan menewaskan minimal 30 warga sipil. Kali ini, AS justru membombardir pangkalan militer yang selama ini menjadi basis serangan tentara Suriah dalam melawan ISIS.

“Assad mencekik nyawa pria, wanita, dan anak-anak. Ini adalah kematian yang pelan dan brutal bagi banyak orang. Bahkan bayi-bayi yang cantik juga tewas dalam serangan barbar ini,” kata Donald Trump demi menjustifikasi serangannya.

Deja vu itu muncul karena pada 1991, Presiden Bush Senior mengulang-ulang kalimat ini enam kali dalam sebulan, “Ada anak-anak yang dilempar keluar dari inkubator oleh tentara Saddam, agar Kuwait benar-benar hancur.”

Kisah bayi-bayi dalam inkubator itu disampaikan oleh seorang perempuan muda bernama Nayirah yang mengaku perawat di rumah sakit di Kuwait. Ia tampil di depan layar televisi menangis menceritakan kejadian itu. Berkat kisah itu, Bush Sr. mendapatkan dukungan publik untuk menyerbu Irak. Sebanyak 135.000 warga sipil Irak tewas, dan sejuta orang lainnya, separuhnya anak-anak, tewas dalam kurun 10 tahun kemudian karena kekurangan pangan dan obat-obatan akibat sanksi ekonomi yang diterapkan oleh AS.

Dunia kemudian mengetahui bahwa Nayirah ternyata bukan perawat, melainkan putri dari Duta Besar Kuwait untuk AS yang sudah mengikuti kursus akting di perusahaan public relations (PR) raksasa AS, Hill and Knowlton. Tapi sudah terlambat. Siapa yang bisa mengembalikan nyawa jutaan orang itu?

Baca Juga :   Trump Versus Hillary di Mata Indonesia

Skenario yang sama kembali terulang pada tahun 2003 ketika Bush Junior menyerbu Irak dengan alasan Saddam memiliki senjata pembunuh massal dan mendukung Al-Qaeda. Pada 2011, para elite AS, mulai dari Bush sendiri hingga Collin Powel, Dick Cheney, dan Donald Rumsfeld mengaku bahwa tidak ada senjata pembunuh massal di Irak.

Pengakuan para pembunuh berdarah dingin ini sudah terlambat karena tidak bisa menghidupkan lagi 165.000 warga sipil Irak yang tewas secara langsung akibat serangan AS dan dua kali lipat lainnya tewas akibat sampingan dari invasi AS tersebut, misalnya malnutrisi atau sakit karena buruknya kondisi di Negeri 1001 Malam itu.

Kini, kisah serupa terulang di Suriah. Namun komunitas internasional terlihat amnesia, lupa pada rekam jejak AS. Padahal, belum lama berselang, tahun 2013, pemerintah Suriah juga dituduh melakukan serangan senjata kimia dan hampir saja AS melakukan serangan. Namun investigator PBB Carla del Ponte setelah melakukan penyelidikan justru menemukan bahwa pihak pemberontaklah yang menggunakan senjata kimia. Bahkan, menurut laporan dari IHS Conflict Monitor, justru ISIS-lah yang selama ini terbukti menggunakan senjata kimia, sebanyak 52 kali di Suriah dan Irak.

White Helmets dan Mesin Propaganda Barat
Penyebab dari amnesia massal ini adalah kecanggihan kerja mesin-mesin propaganda AS. Seperti saya bahas di dalam buku saya, Salju di Aleppo, front terdepan dalam aksi propaganda ini adalah White Helmets (WH). Lembaga SAR (Search and Rescue) ini hampir setiap hari memproduksi video-video penyelamatan warga sipil yang diklaim sebagai korban serangan tentara Suriah. Video-video tersebut sangat efektif dalam membangun opini “kebrutalan Assad pada rakyatnya sendiri”.

Baca Juga :   Kita dan Suriah: Tidak Trump, Tidak Putin, tapi Kita

WH didirikan oleh mantan militer Inggris, James Le Mesurier, yang rekam jejaknya terhubung dengan Blackwater. Selain didanai US$23 juta oleh AS dan 32 juta Pound oleh Inggris, WH didukung oleh sebuah perusahaan PR mahal yang berbasis di New York, Purpose Inc. Purpose bertugas memimpin kampanye publik yang masif demi memperkenalkan WH kepada dunia.

Media-media arus utama pun secara serempak mengangkat WH sebagai pahlawan di tengah pertempuran Suriah. Bahkan Oscar pun akhirnya diberikan kepada film dokumenter White Helmets yang dibuat oleh Netflix.

Pada hari yang sama dengan serangan di Idlib, salah satu pimpinan WH, Read Saleh, yang tak bisa berbahasa Inggris -dan pernah ditolak masuk ke AS karena masuk dalam daftar teroris yang di-black-list oleh Gedung Putih- diberi kesempatan menulis di The Guardian, berperan sebagai reporter yang menyampaikan kejadian tersebut.

Berita-berita pun ditulis dengan tendensius dengan menggunakan satu versi cerita, tanpa melakukan proses verifikasi informasi. Padahal ada banyak kejanggalan dalam berbagai foto dan video yang disebarkan oleh “aktivis” oposisi. Antara lain, di satu foto, anggota WH mengenakan masker tetapi tidak memakai sarung tangan saat menangani korban senjata kimia. Di foto lain justru pasien yang memakai sarung tangan karet sementara dokternya tidak.

Juga tidak tersedia foto dan video dalam scene yang lebih luas, misalnya di perkampungan warga, karena gas kimia dapat diterbangkan angin ke berbagai arah sehingga efeknya akan sangat luas. Atau, bila dicermati, beberapa foto jasad anak-anak memperlihatkan luka di bagian kepala sehingga terindikasi mereka sudah tewas sebelum kejadian tersebut.

Baca Juga :   Menanti Negara Kurdi di Timur Tengah

Sikap skeptis pada video-video WH penting dimiliki karena rekam jejak kejanggalannya sudah banyak diungkap oleh media anti-arus utama. Bahkan pada Maret 2017, Organisasi Dokter Swedia untuk HAM merilis hasil analisis mereka terhadap sebuah video penyelamatan korban senjata kimia yang dirilis WH. Mereka menilai bahwa anak-anak dalam video itu kemungkinan sudah tewas sebelum direkam atau, akhirnya tewas karena kesalahan prosedur penyelamatan yang terlihat di video tersebut.

Tentu saja pembuktian tentang serangan senjata kimia di Idlib dan siapa pelakunya perlu menunggu tim investigasi PBB. Namun, tanpa menanti proses investigasi, mesin-mesin propaganda langsung bekerja sehingga Trump pun memutuskan untuk menyerang Suriah. Ini membuktikan apa yang ditulis Bahador (2007) bahwa media (dalam hal ini ia membahas CNN) berperan dalam agenda setting, yaitu memilih berita mana yang diangkat sehingga opini publik terguncang, dan pemerintah terpaksa/dipaksa mengambil keputusan perang sesegera mungkin.

Pertanyaan pun kembali terpulang kepada komunitas internasional, apakah mereka akan terus-menerus membiarkan diri amnesia dan baru terjaga ketika semua sudah terlambat?


Written by Dina Y. Sulaeman

Dina Y. Sulaeman

Analis isu-isu sosial dan geopolitik Timur Tengah. Meraih gelar doktor Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran (2016), Direktur Indonesia Center for Middle East Studies. Beberapa karyanya antara lain "Salju di Aleppo", "Pelangi di Persia", "Ahmadinejad on Palestine", "Obama Revealed", "Princess Nadeera", "Journey to Iran", "Prahara Suriah", dan "A Note from Tehran" (antologi). Saat ini tinggal di Bandung.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR