OUR NETWORK

Timur Tengah di Balik Kunjungan Bin Salman ke AS

Penyingkiran atas Menteri Luar Negeri Tillerson dan pertemuan antara Bin Salman dan Trump sangat terasa sedang mengarahkan Timur Tengah ke arah yang berbahaya. Mengapa demikian?
Donald Trump dan Muhammad bin Salman.

Di tengah atmosfir pemecatan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson, Muhammad bin Salman melakukan kunjungan penting ke Amerika Serikat. Kendati status Muhammad bin Salman “hanyalah” pangeran, calon pengganti raja, ia adalah penguasa de facto Arab Saudi saat ini. Ia adalah raja Arab Saudi yang sesungguhnya. Karena itu, pertemuan pangeran-presiden ini tak ubahnya pertemuan dua kepala negara.

Bin Salman adalah sosok sentral dalam keputusan-keputusan penting kerajaan Arab Saudi akhir-akhir ini yang berpengaruh terhadap kawasan Timur Tengah secara luas. Ia adalah decision maker terkait sikap Saudi menggeber perang luas di Yaman yang kemudian menyebabkan krisis kemanusiaan skala luas di negeri itu. Perang yang sekarang menjadi rumit itu hingga sekarang sulit dihentikan.

Pangeran yang melancarkan kampanye antikorupsi besar-besaran terhadap anggota keluarga dan pejabat kerajaan itu juga merupakan shohib al-qarar di balik isolasi kuartet Arab terhadap Qatar. Hingga saat ini, tak ada tanda-tanda boikot itu akan berakhir.

Pangeran yang juga populer di kalangan anak muda Arab Saudi ini punya peran besar dalam memperburuk hubungan Saudi-Iran dan seluruh jaringan Syiahnya, termasuk Hizbullah di Libanon.

Menilik durasi waktu dan sifatnya sebagai kunjungan pertama ke luar negeri sebagai Putra Mahkota, kunjungan ini sepertinya sangat istimewa. Lawatan Bin Salman ke AS kali ini dinyatakan akan membahas masalah Iran, Suriah, Yaman, dan lain-lain.

Saya menduga hasil kunjungan ini akan berdampak signifikan terhadap tiga isu besar tersebut plus isu Suriah. Apalagi pertemuan ini memperoleh momentum penting dengan pencopotan Menteri Luar Negeri Tillerson. Kendati hanyalah “menteri”-nya Trump, Tillerson adalah sosok yang berupaya keras membangun kesepahaman baik antara AS dan negara-negara lain, termasuk musuh-musuhnya seperti Rusia yang merupakan pesaingnya di mana-mana dan juga dengan Korea Utara.

Tillerson ini pula yang sempat  mengejutkan Bin Salman ketika ia seperti tiba-tiba berkunjung ke Doha untuk menandatangani kerja sama memerangi terorisme, padahal saat itu adalah saat-saat mendidihnya isolasi kuartet pimpinan Saudi terhadap Qatar. Kunjungan Bin Salman dalam atmosfir pemecatan Tillerson ini tak ubahnya deklarasi kemenangannya di dapur kebijakan luar negeri AS.

Pasca penyingkiran tokoh ini, agenda Trump dan Bin Salman yang sesungguhnya  di Timur Tengah kemungkinan akan semakin jelas. Jika mencermati kunjungan Bin Salman ke Eropa dan wawancaranya dengan CBS beberapa waktu terakhir ini, ada isyarat semakin jelas bahwa sang pangeran menginginkan langkah-langkah yang kongkret dan tegas terhadap Iran dan Qatar.

Trump juga setali tiga uang. Dia sangat sadar bahwa negaranya adalah produsen senjata perang. Perang bagaimanapun adalah kebutuhan bagi kalangan pengusaha industri senjata di negara itu. Kemungkinan segera berakhirnya perang Suriah adalah kerugian bagi industri maut di negeri ini. Karena itu, konflik baru di kawasan sepertinya akan terus didorong.

Trump sejak awal telah mempermasalahkan perjanjian nuklir Iran dengan 5+1. Dan hal itu diulang-ulang di berbagai kesempatan. Dalam kunjungan ini, masalah Iran kemungkinan juga memperoleh perhatian besar. Trump gelagatnya juga belum mau menerima hasil perang sangat destruktif di Suriah. Ia sepertinya ingin mengembalikan wibawa AS di Suriah.

Pamor AS di Suriah saat ini jeblok seiring dengan hasil perang. Sebagaimana diketahui, Suriah secara de facto berada di bawah pengaruh Rusia, Iran, dan secara lebih terbatas oleh Turki. Tiga negara itulah yang sangat berkuasa di bumi Suriah saat ini, sementara posisi AS dan koalisi kawasannya semakin terpinggir.

Trump tidak menginginkan proses perdamaian Suriah berhasil ketika AS di lapangan terpuruk seperti sekarang. Karena itu, usaha perdamaian Suriah beberapa tahun terakhir seperti tak ada kemajuan, padahal situasi kemanusiaan di lapangan sudah tak masuk akal lagi.

Tampak jelas ada aksi saling jegal antara AS dan Rusia dalam menggelar proses negosiasi damai antara pihak-pihak yang bertikai di bumi Syam itu. Karena itu, Trump masih terus mencari jalan untuk mengembalikan marwahnya di arena tempur yang rumit itu. Misalnya ia sempat mengutarakan akan mempersenjatai dan melatih 30.000 milisi Kurdi di Suriah Utara yang kemudian inisiatif ini dilawan habis-habisan oleh Turki.

Arah kebijakan Trump semacam ini sangat cocok dengan semangat “raja muda” Arab Saudi yang berambisi menjadi dominator di kawasan. Saudi yang dulu sangat kalem di kawasan seperti itu tiba-tiba menjadi agesif dalam beberapa tahun terakhir. Tak hanya di fora politik, kemampuan militer kerajaan ini juga digenjot sedemikian rupa terutama dengan pembelian senjata-senjata tempur tercanggih baik darat maupun udara.

Defisit APBN dan pengurangan program-program sosial tak bisa dihindarkan akibat arah kebijakan ini. Belakangan, retorika Bin Salman terhadap Iran sudah sangat kasar. Kata-kata “Imam Ali Khomeini tak ubahnya Hitler”, Iran dan Turki bagian dari segitiga poros setan”, dan semacamnya diumbar di mana-mana.

Faktanya, dengan eskalasi kecil antara Saudi dan Qatar, serta Saudi dan Iran, penjualan persenjataan tempur negara itu kepada negara-negara kawasan meningkat. Apalagi jika suatu saat eskalasi itu terus meningkat dan mengarah ke konflik senjata. Lawatan Bin Salman sebelumnya juga  membuktikan hal itu. Ia “memborong” empat skuadron (48 buah) jet tempur canggih jenis Eurofighter Typhoon dari Inggris dalam lawatan awal bukan ini.

Padahal, dalam kunjungan sang Pangeran pada Maret 2017, kesepakatan jual-beli senjata skala raksasa diperkirakan terjadi dan mencapai angka Rp 1.400 triliun. Hal serupa juga dilakukan beberapa negara Teluk, baik untuk mendukung maupun mengimbangi langkah Saudi ini.

Penyingkiran atas Tillarson dan pertemuan antara Bin Salman dan Trump sangat terasa sedang mengarahkan Timur Tengah ke arah pendulum yang berbahaya. Babak selanjutnya masih kita tunggu.

Kolom terkait:

Kita dan Suriah: Tidak Trump, Tidak Putin, tapi Kita

Jihad Versus Industri Senjata

Risiko Politik Serangan AS ke Suriah

Israel dan Bara yang Masih Menyala di Suriah

Arab Spring dan Enam Tahun Revolusi Suriah

Trump dan Prediksi Geopolitik Timur Tengah

Ibnu Burdah
Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.