Kamis, Januari 21, 2021

Teror Mesir, ISIS, dan Mengapa Tarekat Sufi Jadi Target

Ketika Yaman Kembali Bergejolak

Yaman, negara termiskin di Timur Tengah itu, kembali memanas. Koalisi yang dipimpin Arab Saudi meluncurkan serangan udara di ibu kota Sana’a yang mengakibatkan 100...

Egoisme Erdogan dan Ide Dialog Lintas Etnis di Arab Timur

Perkembangan baru di Efrin, Suriah bagian utara, menunjukkan besarnya potensi dan kompleksitas konflik di Arab Timur. Di tengah kepercayaan diri Turki dalam operasi Ghusnu...

Indonesia-Australia yang Nyaris Terpeleset

Rabu (4/1) beredar kabar Istana kalang kabut setelah Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengumumkan penghentian sementara semua kerjasama militer Indonesia dengan Australia. Alasannya, perwira...

Mengapa ISIS Tetap Diminati?

Sekitar 2 bulan lagi umat Islam akan menyambut dengan suka-cita datangnya bulan suci Ramadhan. Di bulan itu seluruh umat Islam di penjuru dunia akan...
Avatar
Ibnu Burdah
Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Di tengah upaya penghancuran sisa-sisa anasir militan ISIS di Irak dan Suriah, serangan brutal ala ISIS terjadi di wilayah Sinai Utara, Mesir. Sasaran tindakan keji kali ini bukan minoritas Kristen Koptik sebagaimana sebelumnya. Tapi jamaah masjid yang tengah menunaikan salat Jum’at. Jumlah korban meninggal dikabarkan 305 orang dalam peristiwa “sekejap” itu.

Masjid itu, menurut laman al-Syuruq, merupakan salah satu simpul bagi kelompok tarekat Jaririyah Ahmadiyah. Salah satu tarekat dengan pengikut paling banyak di Provinsi Sinai. Sebagaimana masjid-masjid tarekat di Timur Tengah pada umumnya, di samping masjid biasanya ada bangunan zawiyah (secara harfiyah bermakna pojok), yaitu tempat untuk melakukan latihan spiritual para anggota tarekat atau sufi, semacam kegiatan retret dalam tradisi Kristiani.

Masjid yang berada di desa al-Rawdhah, distrik Bir al-Abd, ini juga cukup dikenal. Sebab, masjid yang terletak 20 kilometer dari kota al-Arish ini berada dalam jalur transportasi antarkota besar di Mesir bahkan antarnegara. Masjid itu juga mudah terlihat dari jauh sebab memiliki menara yang cukup tinggi.

Mirip ISIS

Tak ada yang mengaku bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Namun, tuduhan secara cepat mengarah kepada kelompok Tandzim al-Dawlah Wilayat Sinai (ISIS Provinsi Sinai). Jaksa Agung Mesir juga mengarahkan tuduhan kepada kelompok yang memang sering melancarkan kekerasan di Mesir, khususnya kepada perwira dan prajurit Mesir yang bertugas di Sinai.

Tuduhan itu memang mudah dipahami, kendati ISIS kali ini, tidak seperti biasanya, tidak mengklaim anasirnya sebagai pelaku serangan menjijikkan ini. Mereka juga tidak memberikan pernyataan penolakan atas tuduhan banyak pihak itu. Namun, memperhatikan karakter kejahatan ini, tuduhan anasir ISIS Sinai sebagai pelakunya cukup beralasan.

Pertama, ajaran tarekat Sufi sangat bertentangan dengan doktrin ISIS. ISIS meletakkan pemurnian tauhid sebagai pusat ideologinya. Praktik keagamaan ala thuruq shufiyah dianggap kental dengan kesyirikan. Praktik bertawashul dengan guru-guru (mursyidin) yang telah meninggal dianggap sebagai kesyirikan nyata.

Cara mereka berhubungan dengan guru-guru yang masih hidup juga dipandang sebagai pemujaan kepada selain Allah. Sumber kesyirikan lain yang dituduhkan adalah kuburan para mursyid itu yang menjadi pusat kegiatan para aktivis sufi (salik, musafir, sarkub/sarjana kuburan). Kuburan para syekh Sufi itu biasanya diletakkan di bagian depan ruang utama zawiyah-zawiyyah tersebut.

Pusat ideologi ISIS yang lain adalah hijrah dan jihad dalam pengertian penggunaan sarana kekerasan dan kekejian untuk mencapai tujuan. Itu semua tidak diterima di kalangan Sufi. Kelompok Sufi pada prinsipnya tak hanya harus menjaga jarak dari politik dan kekerasan, tapi juga menjaga jarak dari keterlibatan mendalam dalam kehidupan duniawai. Kendati pada praktiknya hubungan antara zawiyah dan politik sering juga kental. Beberapa Zawiyah di Mesir dianggap sebagai pendukung kuat al-Sisi.

Tarekat pada prinsipnya juga menginginkan kehidupan yang penuh kedamaian dan harmoni. Menurut pengalaman penulis di zawiyyah-zawiyyah itu, para anggota tarekat Sufi bahkan sangat mudah untuk menerima kebersamaan dalam kebenaran dari berbagai golongan. Tak hanya golongan-golongan Islam yang diakui sebagai bagian dari kebenaran, tapi kadang juga pengakuan yang dalam terhadap kebenaran keyakinan agama-agama lain.

Hal terakhir ini tentu sangat bertentangan dengan prinsip ISIS yang harus mengkafirkan terhadap siapa saja yang tidak menyetujui doktrin dan sepak terjang mereka. Jadi, masuk akal jika tarekat, zawiyah, atau jamaah Sufi menjadi sasaran ISIS.

Kedua, hubungan kelompok-kelompok Sufi dengan kelompok-kelompok radikal di Sinai memang tidak baik. Sebagaimana dimaklumi, kelompok-kelompok radikal di wilayah itu berkembang sangat pesat. Perkembangan itu dipicu banyak faktor baik lokal, nasional, maupun regional.

Perkembangan itu mencapai tahap penting ketika Mohammad Mursyi dijatuhkan, gerbang Refah ditutup dan Gaza diisolasi, represi rezim baru terhadap masyarakat menguat, dan negara ISIS berjaya di Irak Utara dan Suriah Utara. Pada tahap ini, kelompok-kelompok radikal berhasil merekrut pemuda yang amat “frustasi” dalam jumlah besar.

Kelompok-kelompok radikal di Sinai, terutama Anshar Baitil Maqdis, kemudian menyatakan kesetiaan terhadap Abu Bakar al-Baghdadi, Sang Khalifah ISIS. Kelompok yang kemudian dikenal sebagai Tandzim Dawlah Wilayat Sina’ ini pada perkembangannya sempat digadang-gadang jadi salah satu pengganti Mosul dan Raqqa.

Salah satu penentang bagi radikalisasi di Sinai adalah kelompok-kelompok tarekat Sufi. Karena itu, hubungan keduanya sangat tegang sejak lama. Ancaman terhadap kelompok-kelompok tarekat itu sudah sering dilontarkan oleh ISIS sayap Sinai ini dan disinyalir menguat sekitar satu bulan terakhir. Kelompok Sufi kadang juga dituduh bekerja sama dan memberikan informasi tentang kelompok radikal kepada aparat keamanan.

Kekerasan kelompok radikal di Sinai dan di wilayah lain di Timur Tengah terhadap kelompok Sufi sesungguhnya bukan kali ini saja terjadi. Setahun lalu, Syekh Abu Harrash (98 tahun) dan Syekh al-Manshury diculik dan dipenggal kepalanya secara keji setelah beberapa kali diancam kelompok ISIS Sinai. Video kekejian tiada tara ini lalu disebarkan ke publik dengan judul “penegakan syariah bagi dua dukun”.

Keduanya adalah tokoh penting bagi kelompok tarekat di Arish bahkan di seluruh warga Badui di Provinsi Sinai. Di negara lain, di Yaman, Mali, Pakistan, dan beberapa negara lain, syekh tarekat dan kuburan tarekat juga merupakan sasaran kelompok-kelompok radikal.

Sasaran Khusus?

Namun, apakah kelompok radikal di Sinai itu memang sengaja menyasar tarekat Sufi secara spesifik dalam teror beberapa hari lalu? Ada beberapa indikasi yang menunjukkan anggapan ini tak sepenuhnya benar. Pertama, banyak korban di masjid itu bukan anggota tarekat. Para pelaku pasti sudah mengetahui bahwa salat Jum’at di masjid al-Rawdhah dihadiri oleh warga sekitar yang juga non-anggota tarekat. Bahkan banyak para musafir yang sedang dalam perjalanan dari daerah yang jauh turut menunaikan salat Jum’at di sana. Kawasan itu memang dekat dengan jalan raya.

Kedua, masjid al-Rawdhah kurang sempurna jika menjadi sasaran karena statusnya sebagai simpul tarekat. Sebab, di zawiyyah masjid itu diberitakan tak ada kuburan syekh atau mursyid tarekatnya. Bagaimanapun, sasaran terpenting dari kelompok radikal terkait tarekat adalah kuburan sang mursyid. Masih banyak zawiyah lain yang lebih representatif sebagai sasaran simbolik dari tarekat jika mereka ingin menyasar simbol-simbol tarekat.

Ketiga, jika yang disasar adalah kelompok tarekat, mengapa mereka melakukan serangan itu pada saat salat Jum’at, bukan pada acara hadrarat perayaan maulid Nabi pada Kamis malam di masjid itu? Acara itu diberitakan diikuti oleh para pengikut tarekat secara spesifik dari berbagai daerah sekitar dan jumlahnya bisa jadi lebih banyak.

Karena itu, tidak salah pernyataan Majlis Tinggi Thuruq Sufiyah Mesir bahwa yang disasar kelompok ini bukan hanya kaum sufi, tapi juga seluruh warga Mesir, termasuk Kristen Koptik, perdamaian, dan kemanusiaan.

Di tengah kehancuran pusat gerakan ISIS di Irak dan Suriah, kelompok-kelompok ISIS yang mengklaim sebagai “provinsinya” siap melakukan apa pun yang bisa dilakukan untuk mengabarkan kepada dunia bahwa mereka masih ada, termasuk dengan jalan membunuh kaum Sufi ataupun musuh-musuh lainnya.

Bacaan terkait:

Hijrah sebagai Dalil Perekrutan ISIS

ISIS, Ideologi Hari Kiamat, dan Kultus Al-Baghdadi

Setelah ISIS Dikalahkan di Marawi

Teror London dan Ancaman Puing-puing ISIS

Menafsir Pidato Terbaru Al-Baghdadi

Avatar
Ibnu Burdah
Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.