OUR NETWORK

Selamat Berperang, Kurdistan!

Presiden Kurdistan Masoed Barzani [Foto: rudaw.net]

Berbulan-bulan sebelum referendum yang engkau banggakan akan menyatukan rakyat Kurdi itu dihelat, engkau sudah merasakan tekanan dan ancaman yang begitu besar dari Irak sebagai negara kedaulatan yang secara de jure berada di atasmu. Di samping itu, negara-negara tetangga seperti Iran dan Turki sudah begitu dalam bermanuver dan menggandeng kekuatan besar di luar sana, dari negara-negara super power, pun melancarkan ancaman untuk mengobrak-abrik.

Namun engkau tetap bersikukuh, wahai Presiden Masoud Barzani, katanya demi suara rakyat Kurdi di Irak utara, untuk melangsungkan referendum. Betul, rakyat setuju dan memberikan suara bele (yes) melebihi 90%, yang artinya bahwa negara Kurdistan akan segera merdeka dari Irak. Tapi, tentu saja sangat ceroboh jika hanya dengan begitu engkau bisa mendirikan negara baru di kawasan yang diklaim sebagai tanah leluhurmu itu.

Dan engkau Tuan Barzani, hanya dengan bermodalkan suara rakyat yang memilih referendum lalu yakin akan membangun kekuatan baru di kawasan, adalah seorang pemimpin yang kehilangan nafas (apakah karena usiamu sudah senja?) Nasihat-nasihat dari banyak orang yang ingin mencari solusi untuk masa depan rakyatmu yang lebih baik ternyata tidak diindahkan. Mereka sudah begitu yakin bahwa referendum yang engkau paksakan itu akan menguap sia-sia. Karena sejak sudah jelas, engkau tidak mempunyai koalisi dan backing internasional yang kuat.

Sementara negara-negara di sekitarmu, yang kalian anggap musuh dan penghambat negara Kurdistan itu, sudah telanjur dalam bermain dengan cantik di kawasan dan mengumpulkan amunisi dukungan dari negara-negara kuat.

Sayangnya, engkau tetap ngotot untuk melawan kekuatan nyata dari Irak dan negara-negara tetangga. Saya yakin, Tuan Barzani tidak mencintai rakyatmu dengan tulus, bukan? Masa mau berkoalisi dengan Israel? Apa kata dunia! Atau ingin bergandengan tangan dengan Catalonia yang sama-sama tak diizinkan oleh Spanyol itu? Ah, jangan bercanda.

Tuan Barzani, kalau hanya untuk mengukur seberapa kuat suara rakyat Kurdi Irak utara dengan tujuan mempertahankan kekuasaan keluargamu—karena sebentar lagi November akan dilangsungkan pemilu—kenapa harus memakai cara referendum yang tanpa sadar sudah melibatkan emosi dan ego rakyat Kurdi di bawah kekuasaanmu? Apa yang bisa engkau janjikan kepada rakyatmu setelah referendum? Tak ada, selain satu hal: perang!

Tuan Barzani, tariklah kata-katamu bahwa “referendum adalah suara rakyat, tak ada kekuatan siapa pun yang bisa menggagalkannya” dan mundurlah! Ikuti semua perundingan yang dipersiapkan bersama Irak. Ingat, perang itu sudah mulai meletus hari Minggu dini, bukan? Dan pagi hari Senin, 16 Oktober, tembakan itu sudah terdengar di kota-kota di Kirkuk.

Tentu saja tak elok untuk mengatakan gertak sambal bagi milisi Kurdi di mana perang dan pemberontakan sudah menjadi nafas mereka. Peshmerga yang kuat itu, Tuan Barzani, jangan engkau jadikan tumbal demi kekuasaan. Mereka akan hancur dan dan tecerai berai menghadapi kekuatan nyata dari Irak dan faksi-faksi lain yang berkoalisi dengan mereka.

Tuan Barzani, pasukan militer Irak sudah masuk di kawasan kaya minyak Kirkuk yang akan menjadi medan pertempuran. Dan ketika menulis surat ini, saya bergetar dan meringis menyaksikan perang yang mulai meletus di sana. Saya tidak kuat mendengar derita dan luka lebih lama, Tuan Barzani. Kawan-kawan saya yang berasal dari Kirkuk sebenarnya sudah optimistis menatap daerah mereka yang multikultural itu akan damai dan semakin maju ke depan.

Tapi apa yang terjadi hari ini? Akankah daerah itu, juga daaerah-daerah lain di Kurdistan di Irak utara, dibiarkan hancur dan sia-sia?

Tuan Barzani, saya paham bahwa daerah kaya minyak Kirkuk yang sejak Juli 2014 silam sudah berada di bawah kendali pemerintahanmu itu tidak ingin engkau lepas. Tapi apalah daya, nafsu perang itu sudah hadir di tanah Kirkuk. Lupakan cadangan minyak bermiliar barel itu; lupakan satu juta barel produksi setiap harinya; lupakan kekayaan minyak yang nyaris separuh dari ekspor minyak di Irak itu; dan lupakan nafsu dan ego kekuasaanmu atas nama rakyat Kurdi di Irak, rakyat Kirkuk yang damai dalam keberagaman itu.

Jika perang ini terus dibiarkan berkobar tanpa ada jalan dialog untuk mencapai kesepakatan damai, ongkos yang teramat besar harus ditanggung adalah kehancuran di Kirkuk dan sangat mungkin menjalar kota-kota lain seperti Irbil dan Sulaimaniye, konflik dan perang sipil yang akan meledak seperti perang sipil di Suriah, dan polarisasi isu-isu sektarian agama ataupun suku yang akan menenggelamkan mereka dalam keburaman masa depan.

Tuan Barzani, engkau akan menyaksikan anak cucumu terus terluka dalam hantaman konflik perang. Perang hari ini atas nama kekuasaanmu, Peshmerga atau bahkan rakyat Kurdi di Irak, akan menjadi serentetan perang panjang selanjutnya. Kemarahan dan permusuhan akan lahir beranak-pinak, persis seperti warisan kemarahan para pejuang Kurdi yang dibantai di bawah pemerintahan Saddam Husein, ataupun kemarahan-kemarahan lain yang diam-diam menggumpal di Iran, Turki ataupun Suriah.

Tuan Barzani, sepertinya engkau sedang bermain api di tengah situasi perang seperti ini. Eskalasi militer dan perang tersebut ingin engkau pakai untuk mendapatkan simpati dan campur tangan dari kekuatan negara-negara super power, bukan? Engkau seperti sedang mempersiapkan diri “menjadi korban” yang butuh penyelamatan dan intervensi negara-negara seperti Amerika, Inggris atau Rusia. Engkau keliru, Tuan Barzani.

Feeling as victim yang ingin engkau tunjukkan sudah tidak mendapatkan ruang di mata internasional. Karena, dengan cara mendukung Irak, hasil minyak di Kirkuk atau di daerah lain Irak akan mudah diekspor ke Iran, Turki, Amrika, Rusia, atau negara-negara lain di Eropa. Mereka ingin berbisnis minyak yang aman, tapi tetap di bawah kontrol korporasi internasional. Ya, seperti ladang-ladang minya di daerah lain di Timur Tengah.

Tuan Barzani, sebelum perang sipil itu betul-betul meletus dan rakyatmu sendiri yang akan menjadi korban, tariklah pasukan dan mundur. Tapi tentu ongkosnya tetap besar: Kirkuk akan diambil kembali oleh Irak! Ingat pula bahwa jika perang itu terus berlangsung, negara seperti Iran dan Turki tidak akan tinggal diam.

Dua negara tersebut tentu saja tidak akan secara langsung berpartisipasi dalam perang. Turki secara tersembunyi berada di balik tangan pemerintah Irak, dan Iran berada di belakang pasukan milisi Syiah Hasd al-Shaabi (Popular Mobilization Force, PMF), yang saat ini mulai ikut aktif menembakkan peluru di Kirkuk.

Tuan Barzani, referendum itu adalah tragedi bagi kekuasaanmu, bagi rakyat Kurdi di Irak, sama seperti diteriakkan Turki: tragedi! Karena ke depan engkau bukan hanya kehilangan ladang minyak di Kirkuk, tetapi juga ancaman polarisasi kekerasan dan semakin melemahnya kekuasaan Kurdistan di kawasan.

Akhirnya, Tuan Barzani, yang menjadi perhatian serius di tengah meledaknya perang adalah konflik sektarian yang akan melebar menjadi perang sipil yang masif. Perang sipil yang sebelumnya terjadi di Suriah susah untuk dihindarkan ketika faksi-faksi militer baik dari pasukan militer Irak, dukungan PMF dan milisi dari kelompok lain (yang bersifat sukarelawan seperti Arab dan Turk) ikut terlibat dalam perang ke depan.

Jika engkau tidak segera menarik pasukan dan menyerah, Tuan Barzani, perlawananmu akan sia-sia. Kekuatan dan kemajuan Kurdistan di Erbil yang baru dibangun itu akan menghadapi keruntuhannya.

Jangan berperang, Kurdistan!

Kolom terkait:

Menuju Negara Kurdistan Merdeka

Kemerdekaan Kurdistan yang Tak Diinginkan

Turki, Minyak, dan Referendum Kurdistan

Menakar Skenario Pasca Referendum Kurdistan

Bernando J. Sujibto
Meraih Pascasarjana Sosiologi di Universitas Selcuk, Turki. Meneliti peacebuilding, kekerasan, sastra dan kebudayaan Turki.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…