in

Politisasi Haji, Krisis Qatar, dan Masa Depan Teluk Arab


Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson bertemu Menteri Luar Negeri Qatar Syeikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani (kedua kanan) di Doha, Qatar, Selasa (11/7). ANTARA FOTO/REUTERS/Tom Finn

Krisis Qatar hampir memasuki bulan ketiga. Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda ke arah penyelesaian. Manuver penguasa Arab Saudi memberikan izin dan fasilitas “wah” bagi jamaah haji Qatar menegaskan adanya eskalasi berbahaya. Izin itu diperoleh melalui negosiasi Pangeran Abdullah bin Ali, pesaing klan bin Hamad yang saat ini berkuasa dalam keluarga Ali Thani.

Dari pemberitaan media-media Saudi, tampak jelas bahwa mereka seolah telah “mengakui” dan menobatkan Abdullah bin Ali sebagai penguasa baru Qatar. Tentu ini membuat penguasa Qatar meradang. Saudi dituding oleh pejabat negeri telah menjadikan haji sebagai alat politik.

Qatar tampaknya sudah bersiap dengan segala kemungkinan terburuk. Negara ini sebenarnya sangat berharap keberhasilan mediasi Amir Kuwait dan mediasi Amerika yang masih berjalan.

Namun, baik Amir maupun pejabat Kementerian Luar Negeri AS nampaknya sudah merasa tak sanggup atau bahkan frustasi dengan tak adanya kemajuan dalam upaya perundingan. Kwartet Arab pimpinan Saudi (Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat, dan Bahrai) sepertinya sudah punya rencana matang bagi penyelesaian Qatar di luar jalur diplomasi.

Suksesi di Arab Saudi

Krisis Qatar didahului oleh proses suksesi putra mahkota (waliyyul ahdi) di Arab Saudi. Muhammad bin Nayif, sang putra mahkota, ditendang dari kursinya untuk digantikan wakil putra mahkota yang masih sangat muda, yaitu Muhammad bin Salman, anak sang raja.

Baca Juga :   Kemungkinan Indonesia Bernasib Seperti Suriah (Bag. 1)

Raja Saudi biasanya berusia sangat tua, sekitar 70-90 tahun. Tentu akan ada efek psikologis ketika Muhammad bin Salman (30-an tahun) nanti naik takhta, sebab para pejabat–termasuk gubernur sebelumnya–umumnya juga berusia tua. Padahal, kesehatan Raja Salman sudah sering turun drastis dan suksesi kerajaan itu diperkirakan tak lama lagi.

Pencoretan putra mahkota ini jelas menyalahi pakem pergantian takhta Saudi. Kendati sudah banyak yang memprediksi, termasuk saya, bahwa hal ini bakal terjadi, pergantian hak takhta itu tetap menjadi berita besar. Sebuah peristiwa yang mengejutkan kalangan luas.


Nasib mantan putra mahkota saat ini belum jelas, apakah ia baik-baik saja, jadi tahanan rumah, dipenjara, atau ke mana. Organisasi HAM menuntut rezim Saudi terbuka mengenai nasib sang mantan putra mahkota ini.

Sang mantan putra mahkota yang didepak, Muhammad bin Nayif, dikenal memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Emir Qatar saat ini, Syekh Tamim bin Hamad Ali Tsani. Bahkan hubungan itu juga terjalin dengan orangtua sang Emir, yaitu Amir Qatar sebelumnya. Ada jalinan persekutuan yang erat antara keduanya. Persekutuan personal antarpangeran inilah sepertinya yang berpengaruh besar terhadap politik Arab Teluk saat ini.

Sementara itu, Pangeran Muhammad bin Salman, penguasa riil Saudi saat ini, dikenal memiliki persekutuan erat dengan Pangeran Muhammad bin Zayd dari Uni Emirat Arab. Duet Muhammadayn (dua Muhammad) inilah yang saat ini dipandang sedang menggegerkan kawasan dengan sepak terjangnya di Yaman, Qatar, dan sebagainya.

Baca Juga :   Di Balik Investasi Arab Saudi di Indonesia

Di sinilah titik persoalannya. Sang mantan putra mahkota jelas akan jadi kerikil tajam jika Arab Saudi dan sekutunya hendak mengisolasi atau bahkan melengserkan Emir Qatar yang dituduh mem-back up terorisme, main mata dengan Iran, dan pro-ekstremisme. Antara lain karena itu, ia dilengserkan.

Persekutuan antarpangeran

Masa depan Teluk Arab kemungkinan sangat dipengaruhi oleh konstelasi persekutuan antarpangeran lintas negara ini. Jika pergantian takhta Saudi dari Raja Salman ke putranya mulus, maka skenario isolasi Qatar hingga usaha pendongkelan rezim negeri itu kemungkinan akan terus berlangsung. Sedangkan jika suksesi Arab Saudi ke Muhammad bin Salman menemui kendala, maka kemungkinan masa depan hubungan Saudi dan Qatar bisa membaik dengan sendirinya.

Proses suksesi ke tangan Pangeran Muhammad bin Salman bisa saja terganjal oleh para pangeran dari klan lain. Bagaimanapun, sejak Raja Salman berkuasa sudah dua putra mahkota yang disingkirkan. Selain Muhammad bin Nayif, generasi cucu, ada nama lain dari generasi anak yaitu Muqrin bin Abdul Aziz, yang berarti masih saudara Raja Salman. Banyak klan lain yang juga sangat berpengaruh baik di masyarakat, militer, dan pemerintahan Saudi saat ini seperti klan Abdullah, klan Sulthan, dan seterusnya.

Belum lagi kendala dari militer. Bagaimanapun, tak ada jaminan bahwa militer akan sepenuhnya loyal kepada calon raja baru yang muda ini. Sebab, mereka juga memerintah belum lama. Militer tentu juga tahu apa yang terjadi dalam keluarga kerajaan. Lebih berbahaya lagi jika militer lepas kendali dan menginginkan merebut kekuasaan.

Baca Juga :   Rohingya dan Komoditas Politik Domestik

Keberhasilan suksesi ke tangan Pangeran Muhammad kemungkinan juga akan membantu pangeran-pangeran lain di luar Saudi untuk naik takhta. Katakanlah yang sering menjadi pembicaraan adalah Muhammad bin Zayd di Emirat. Bagaimanapun, suksesi di Emirat lebih kompleks daripada di Saudi. Sebab, Emirat adalah federasi sejumlah keemiran yang antara satu keemiran dengan yang lain bersaing, terutama antara Emir Abu Dhabi dan Emir Dubai.

Skenario lain adalah suksesi takhta Saudi ke Raja Muhammad bin Salman dan takhta Emirat ke Muhammad bin Zayd gagal. Jika ini terjadi, kemungkinan persoalan Saudi dan Qatar akan berbeda. Keduanya mungkin akan menjalin hubungan yang lebih baik. Apalagi jika pangeran yang naik takhta kelak berasal dari klan yang memiliki kedekatan dengan Syekh Tamim, Emir Qatar saat ini.

Baca juga:

Raja Salman, Takhta Saudi, dan Kontestasi Para Pangeran

Isyarat Bencana Kuartet Arab versus Qatar

Di Balik Perseteruan Qatar vs Arab Saudi


Written by Ibnu Burdah

Ibnu Burdah

Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR