Kamis, November 26, 2020

Politik Mesir Setelah Kemenangan El-Sisi

Perang Suriah, Konflik Agama Sunni-Syiah?

Awal tahun 2012 saya berkunjung ke Arab Saudi. Saya ingat pada saat itu Revolusi Arab sudah menjadi isu hangat yang menarik perhatian dunia Islam,...

Ancaman Baru Radikalisme ISIS

Militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mempublikasikan video propaganda berdurasi 20  menit yang menampilkan anak-anak Indonesia hasil didikan ISIS. Dalam video itu anak-anak...

Merespons Hegemoni Cina

Seiring terdesentralisasinya lanskap unipolar dunia karena kian meredupnya hegemoni Amerika Serikat beberapa tahun terakhir, tak dapat dipungkiri bahwa posisi Cina kian menguat sebagai hegemoni...

Nestapa Muslim Rohingya yang Belum Berujung

Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa mendesak mengadakan penyelidikan atas dugaan penganiayaan, pemerkosaan, dan pembunuhan terhadap warga Rohingya oleh tentara Myanmar. Dewan HAM juga...
Avatar
Moddie Wicaksono
Pegiat GASPOLIAN (Gerakan Sadar Politik Internasional) Yogyakarta.

Pemilihan Umum Mesir telah berakhir. Pemilu yang memakan waktu selama tiga hari itu tidak menimbulkan banyak kejutan. Pemenangnya, sesuai prediksi baik dari media dalam negeri maupun luar negeri, yakni Abdel Fattah El-Sisi.

Hanya, prediksi survei sedikit meleset. Jika dua minggu lalu Sisi diprediksi akan menang dengan persentase 92%, ternyata hasil pemilu melebihi prediksi. Sisi berhasil menang dengan persentase 97%.

Tempo lalu saya pernah menulis apa jadinya pemilu Mesir tanpa oposisi? Apakah akan terjadi revolusi?

Prediksi saya saat itu adalah, jika tanpa oposisi, pemilu berlangsung damai. Sebaliknya, jika ada oposisi, terjadilah revolusi. Namun, ternyata, prediksi saya meleset. Tak ada revolusi sama sekali. Bahkan, detik-detik terakhir ada lawan dari Sisi, yakni Moussa Mustafa Moussa.

Saya mengatakannya lawan. Bukan musuh, apalagi oposisi. Moussa hanyalah “boneka” yang dijadikan oleh Sisi sebagai lawan agar pemilu Mesir tidak diselenggarakan hanya dengan menghadirkan calon tunggal.

Tentu Sisi akan khawatir dengan reaksi dari publik dalam negeri jika nantinya hanya dia yang maju sebagai calon presiden. Meskipun sejak awal Sisi yakin akan menang, rasanya tak elok jika tak mendapat perlawanan dari kubu lain.

Sayangnya, lima bakal calon sebelumnya tak jadi maju akibat “intimidasi” dari kubu Sisi. Alhasil, justru Moussa yang notabene adalah pendukung Sisi didorong maju sebagai lawannya.

Moussa pun hanya mendapatkan 3% dari total pemilih, 23 juta orang. Saya berpikir mungkin yang memilih Moussa adalah orang-orang yang disuruh Sisi atau sekumpulan kecil orang (oposisi) yang tidak ingin melihat Sisi menang mutlak.

Lalu, apa makna dari kemenangan Sisi? Apa benar kemenangan Sisi adalah kehendak rakyat? Atau adakah potensi revolusi?

Anomali Kemenangan Sisi

Setelah kemenangan Sisi, tak ada parade kemenangan, baik dari militer maupun rakyat sipil. Tampaknya, rakyat Mesir sadar bahwa lambat ataupun cepat Sisi akan kembali meneguhkan takhta sebagai penguasa Mesir selama dua periode.

Kampanye dengan slogan “For the love of Egypt” atau “We are all with you for the sake of Egypt” tampaknya dianggap oleh masyarakat hanya sebagai kampanye bias. Toh, nyatanya tak ada perubahan berarti dari Mesir.

Perekonomian Mesir biasa saja. Tak ada yang spesial. Tak ada peningkatan yang signifikan. Infrastruktur berjalan sekenanya. Justru, ada slogan “New Cairo” yang terletak di gurun-gurun. Di sana akan dibangun perumahan yang nantinya terbebas dari tumpukan sampah dan bau tak sedap yang biasa turis temukan di kota Kairo.

Kejahatan seksual acap kali terjadi. Bahkan, Kairo dinobatkan sebagai tempat paling tidak aman bagi kaum perempuan,m engalahkan kota-kota besar seperti Tokyo atau Jakarta.

Namun, ini yang agak unik. Istri saya saat bertugas di sana mengatakan bahwa Mesir lebih baik dipimpin oleh militer. Alasannya, sebagian rakyat Mesir sangat tidak teratur. Administrasi sungguh lamban. Kehidupan kota, terutama di Kairo, sangatlah bising.

Nah, militer mampu mengendalikan itu. Setidaknya sebagian rakyat Mesir boleh dikatakan benci tapi rindu dengan kehadiran militer.

Namun begitu, kemenangan Sisi dinilai positif oleh dunia internasional. Salah satunya adalah Amerika Serikat. Secara khusus, Trump mengucapkan selamat kepada Sisi karena telah berhasil memenangkan pemilu. Trump menilai Sisi mampu menjaga kawasan perdamaian di Timur Tengah.

Ini tak lepas tanggapnya pasukan Mesir untuk mengusir ISIS dari wilayahnya. Meskipun sempat kecolongan dengan gerak teroris saat mengebom gereja dan masji beberapa pekan silam, Mesir masih dianggap AS mampu mengendalikan ISIS agar tak merangsek lebih ke dalam kawasan Mesir.

Sejatinya ucapan selamat dari Trump adalah bias makna. Dengan kemenangan Sisi, penjualan senjata kepada Mesir tetap langgeng. Global Firepower merilis laporan tahun 2017 bahwa kekuatan militer Mesir termasuk dalam daftar sepuluh besar terbaik dunia. Bahkan, jika ukuran Timur Tengah, Mesir menempati urutan kedua setelah Turki.

Potensi Revolusi

Lalu, apakah rakyat Mesir diam saja? Apakah Sisi akan tetap melenggang dengan kekuasaan (yang mungkin) absolut?

Ini menjadi pertanyaan rumit. Namun, yang pasti perlakuan Sisi yang menjurus tirani telah terjadi sehari pasca kemenangannya. Harian Masr al-Arabia dibredel karena mengabarkan berita yang menyudutkan Sisi.

Dengan dibredelnya Masr al-Arabia berarti menambah daftar panjang media daring yang tak boleh lagi beroperasi. Jumlahnya hampir mencapai 500. Tentu saja pembredelan seperti ini mengingatkan saya pada kasus Tempo dan Kompas yang dilarang beroperasi setelah mengkritik Soeharto di era Orde Baru.

Pembredelan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa Sisi membawa Mesir ke arah otoriter. Kritik harus dibungkam. Tak peduli kritik yang benar-benar kritik atau kritik yang membangun.

Tentu saja persoalan kritik tak hanya menjangkit di Mesir. Indonesia pun mengalami hal serupa. Hadirnya UU MD3 diyakini akan memperlemah tindakan masyarakat Indonesia untuk melaporkan pihak-pihak yang berwenang jika ada anggota DPR yang diduga melakukan tindak kriminal.

Seharusnya Mesir belajar dari Indonesia. Sekuat-kuatnya pemerintahan otoriter, pasti akan jatuh juga. Rakyat melalui cara apa pun akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperjuangkan hak-haknya.

Sehebat apa pun Sisi mengendalikan pemerintahannya, suatu saat akan ada celah kecil terhadap dirinya untuk jatuh dari puncak kekuasaannya. Tinggal menunggu waktu saja, Sisi.

Kolom terkait:

Pemilu Abal-Abal di Mesir dan Transisi yang Salah

Teror Mesir, ISIS, dan Mengapa Tarekat Sufi Jadi Target

Ekspansi ISIS di Mesir

Berebut Umat Islam di Perang Dunia II

Avatar
Moddie Wicaksono
Pegiat GASPOLIAN (Gerakan Sadar Politik Internasional) Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Diego Maradona Abadi, Karena Karya Seni Tak Pernah Mati

Satu kata dalam bahasa Indonesia yang paling menyebalkan buat saya adalah “andai”. Ia hadir dengan dua konsekuensi: (1) memberikan harapan, sekaligus (2) penegasan bahwa...

Fenomena Pernikahan Dini di Tengah Pandemi

Maraknya pernikahan dini menjadi fenomena baru di masa pandemi Covid-19. Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, teradapat sebanyak 34.000 permohonan dispensasi perkawinan yang...

Tips Menjaga Kesehatan Saat Tidak WFH di Saat Pandemi COVID-19

Beberapa kantor di Indonesia sudah menerapkan sistem kerja work from home, di mana karyawan bekerja di rumah tanpa perlu ke kantor. Namun, tidak sedikit...

Dampak Video Asusila yang Beredar bagi Remaja

Peristiwa penyebaran video asusila di media sosial masih seringkali terjadi, pemeran dalam video tersebut tidak hanya orang dewasa saja bahkan dikalangan remaja juga banyak...

How Democracies Die, Sebuah Telaah Akademis

Buku How Democracies Die? terbitan 2018 ini, mendadak menjadi perbincangan setelah Anies Baswedan mengunggah sebuah foto di Twitter dan Facebook sembari membaca buku tersebut. Bagi saya,...

ARTIKEL TERPOPULER

Hari Guru Nasional dan Perhatian Pemerintah

Masyarakat Indonesia sedang merayakan hari guru nasional 2019 yang jatuh tepat pada hari senin, tanggal 25 November 2019. Banyak cara untuk merayakan hari guru...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Nyesal, Makan Sop Kambing di Rumah Habib

Hadist-hadist yang mengistimewakan habaib atau dzuriyat (keturunan Nabi Muhammad) itu diyakini kebenarannya oleh sebagian umat Islam. Sebagian orang NU percaya tanpa reserve terhadap hadist...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.