OUR NETWORK

Persekongkolan Nazi-Islamis

Persekongkolan Nazi-Islamis ini sepintas terlihat aneh. Bagaimana mungkin kaum Muslim yang beriman bisa berkolaborasi dengan Nazi yang tidak jelas komitmen keimanannya?

Karena didorong oleh kepentingan yang sama, selain gampangnya diprovokasi, umat Islam rela menjalin kerja sama, koalisi, dan persekongkolan dengan berbagai negara selama Perang Dunia II berkecamuk: Amerika, Itali, Soviet, Inggris, Jerman, dan lainnya.

Persekongkolan umat Islam dengan rezim Jerman, yang waktu itu berada di bawah kekuasaan Partai Nazi pimpinan Adolf Hitler (1889–1945), dimulai pada 1940-an. Kala itu (1933–1945), di bawah kendali Nazi, Jerman menjelma menjadi negara diktator–totaliter yang sangat kejam dan menakutkan, terutama bagi lawan-lawan politik utamanya: Uni Soviet, Inggris, dan Yahudi.

Ada sejumlah buku akademik bagus yang mengulas tentang persekongkolan ini, misalnya Islam and Nazi Germany’s War yang ditulis oleh sejarawan David Motadel.

Dalam rangka melawan ketiga kelompok inilah, Hitler menjalin koalisi dengan umat Islam. Bukannya menolak, sebagian umat Islam justru menerima ajakan koalisi itu dengan riang gembira.

Tahun 1941 hingga 1942 adalah masa intensif saat Nazi dan Hitler mulai mendekati dan menjajaki aliansi dengan umat Islam. Pada waktu itu, umat Islam yang sudah tidak lagi memiliki representasi politik karena Turki Utsmani sudah rontok berkeping-keping, memang seperti “gadis molek” yang lugu yang diperebutkan banyak kekuatan asing. “Gadis molek” ini dianggap bisa menjadi patron politik yang strategis untuk menggempur negara-negara lawan.

Hampir semua negara yang terlibat dalam Perang Dunia II mengajak bersekutu dengan (dan memanipulasi) umat Islam.

Menariknya, fenomena seperti ini (menjadikan kawasan yang mayoritas berpenduduk Muslim sebagai “ajang pertempuran”) masih berlangsung pasca Perang Dunia II. Misalnya, dulu Amerika menjadikan Pakistan dan Afghanistan sebagai medan pertempuan melawan “tentara merah” Soviet pada 1980–1989.

Amerika melatih ribuan milisi Muslim, khususnya Timur Tengah, Asia Tengah, dan Asia Selatan (kelak dari mereka ada yang menjadi militan al-Qaeda, Taliban, dan sejumlah kelompok teroris lain) untuk berperang melawan “rezim komunis”.

Kawasan Timur Tengah (Irak, Suriah, dan lainnya) kini juga menjelma menjadi “ajang perang” berbagai negara raksasa: Amerika, Inggris, Rusia, dan lainnya.   

Supaya ajakan atau rayuan terhadap umat Islam untuk berkoalisi dengan Jerman berhasil, Nazi melakukan sejumlah kebijakan dan propaganda.

Pertama, membangun masjid-masjid dan institusi-institusi keislaman seperti Berlin Islamic Central Institute (Islamisches Zentralinstitut).  

Kedua, memperkerjakan umat Islam, termasuk para elitenya, di sejumlah sektor birokrasi pemerintahan dan lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan Nazi Jerman. Strategi dan taktik ini bukan hanya diterapkan oleh rezim Nazi, tapi juga oleh negara-negara kolonial lain.

Di Indonesia dulu, dalam rangka mengkooptasi warga setempat, Belanda (dan Jepang) juga memperkerjakan para penduduk lokal sebagai “tenaga rendahan” birokrasi dan lembaga-lembaga di bawah otoritas pemerintah kolonial.

Ketiga, merekrut umat Islam dalam sistem ketentaraan dan milisi Nazi Jerman seperti Wehrmacht dan Schutzstaffel. Wehrmacht adalah gabungan tentara dari berbagai kesatuan seperti Heer, Kriegsmarine dan Luftwaffe. Konon, total jumlah tentara yang tergabung di Wehrmacht ini ada lebih dari 18 juta.

Sedangkan Schutzstaffel atau biasa disingkat SS adalah organisasi milisi atau paramiliter Nazi yang beranggota sekitar 800 ribuan. Menurut sejarawan David Motadel, umat Islam yang direkrut dalam sistem Wehrmacht dan SS ini yang berjumlah mencapai puluhan ribu, kebanyakan dari kawasan Uni Soviet, Balkan, dan juga Timur Tengah.  

Keempat, menjadikan hal-ihwal yang berkaitan dengan Islam (kitab suci, wacana, teks, simbol, ikonografi, dan lain-lain) sebagai bagian penting dalam “manajemen propaganda” serta dokumen-dokumen resmi kebijakan dan birokrasi pemerintahan.

Dengan kata lain, kebijakan politik Nazi Jerman, antara lain, dengan menjadikan Islam (Mohammedanertum) sebagai medium atau alat legitimasi teologis-keagamaan guna memuluskan jalan bagi Nazisme. Tak tanggung-tanggung Nazi menyisipkan atau mengutip dengan teks-teks Bahasa Arab (serta ayat-ayat Al-Qur’an atau Hadits) supaya terlihat lebih Islami dan meyakinkan publik Muslim.   

Pada waktu itu, teks-teks dan diskursus keislaman, seperti seruan jihad, perang, dan anti-Yahudi dan Kristen, dimanipulasi dan dipolitisir sedemikian rupa sesuai dengan kepentingan politik Nazi dan kebutuhan lokal umat Islam.

Jika di sebagian kawasan Timur Tengah (khususnya Palestina), seruan jihad berperang melawan Yahudi digelorakan, di Uni Soviet atau Balkan, seruan anti-Kristen dan ateis yang digemakan dengan memakai idiom-idiom dan retorika keislaman. Sementara di kawasan lain, propaganda digelorakan melawan “Inggris yang Kristen”.

Hitler memang dikenal luas sebagai sosok yang antipati terhadap Yahudi dan Kristen. Oleh karena itu, tidak heran, jika Nazi bisa bersekutu dan gampang menggandeng umat Islam yang juga memiliki “memori tidak bersahabat” dengan Yahudi dan Kristen. Di Palestina, umat Islam dan tentara Nazi bersatu menyerang Israel dan umat Yahudi.

Di kawasan Soviet, umat Islam, misalnya kaum Muslim Bosnia, bersatu padu dengan tentara Nazi melawan umat Kristen Kroasia dan Serbia. Maka, tak heran jika kelak, pada waktu “Perang Bosnia” meletus (1992–1995), gantian milisi Serbia dan Kroasia balas dendam menyerbu kaum Muslim Bosnia. Begitulah sejarah selalu berulang. Lagi dan lagi.                 

Selain sejumlah kebijakan di atas, Nazi sendiri selalu menyerukan dalam setiap kampanye dan proganda sebagai “teman kaum Muslim” dan “pembela agama dan iman Islam”, khususnya di “zona perang” yang didominasi oleh umat Islam seperti di Afrika Utara, Timur Tengah, Balkan, Crimea, dan Caucasus.

Karena terbius oleh kampanye, propaganda, retorika, dan kebijakan Nazi, banyak tokoh umat Islam berpengaruh kala itu yang dengan suka rela berperang bersama Nazi, membela dan menjadi “bamper teologis” Nazi, dan mengelu-elukan Hitler sebagai “mesias” dan “penyelamat” kaum Muslim. Ini persis seperti umat Islam Indonesia yang pada awalnya menyambut dengan heroik dan antusias atas kedatangan tentara Jepang yang mereka anggap sebagai penyelamat atas penjajahan Belanda.

Di antara klerik dan tokoh umat Islam yang menjadi “teman setia” Nazi dan “anjing poodle” Hitler adalah Jakub Szynkiewicz of Vilnius, seorang mufti besar Lithuania yang mengkampanyekan “Orde Baru Hitler” sebagai fondasi konsolidasi dan revivalisme Islam di teritori kaum Muslim di kawasan Asia Tengah dan Eropa Timur.

Kemudian juga masuk barisan “Hitler mania” dan “sekutu Jerman” di Balkan adalah seorang klerik terkenal Bosnia dan anggota lembaga ulama Sarajevo, Muhamed Pandza.

Lalu, Amin al-Husaini, mufti agung Yerusalem yang diangkat Inggris, yang menyerukan umat Islam dari Afrika Utara dan Timur Tengah hingga Asia Tenggara untuk berjihad bersama Jerman melawan sekutu.

Tak ketinggalan Mohamed Sabry, propagandis ulung Ikhwanul Muslimin yang berbasis di Berlin. Dalam bukunya, Islam, Judaism and Bolshevism, Sabry menyebut Yahudi sebagai musuh alami kaum Muslim yang harus dimusnahkan dari muka bumi.

Tokoh umat Islam lain yang menjadi “antek” Nazi dan Hitler adalah Zaki Ali yang pernah menyebut Adolf Hitler sebagai “fuhrer of the believers”, termasuk kaum Muslim tentunya. Dalam Bahasa Jerman, “fuhrer” berarti “pemimpin besar”, dan dalam konteks kepolitikan waktu itu, kata ini merujuk pad Hitler sebagai satu-satunya pemimpin yang mendapat julukan “Fuhrer”.

Jelas bahwa kaum Nazi dan umat Islam, khususnya kelompok Islamis, memiliki dan berbagi “roman politik-spiritual” sepanjang Perang Dunia II. Kedua kelompok ini (Nazi dan Islamis) klop karena sama-sama anti-Yahudi, Bolshevik, dan demokrasi liberal. Kombinasi antara pragmatisme, anti-Semitisme, dan kontra liberalisme, antara lain, yang mampu menyatukan kedua golongan ekstrem ini.

Selain itu, keduanya juga sama-sama berambisi untuk mengubah dunia secara politik dan spiritual melalui peperangan dan jihadisme.

Persekongkolan Nazi-Islamis ini sepintas terlihat aneh. Bagaimana mungkin kaum Muslim yang beriman bisa berkolaborasi dengan Nazi yang tidak jelas komitmen keimanannya?

Tetapi, sebetulnya tidak ada yang aneh dalam dunia politik. Karena didorong oleh syahwat, kepentingan, dan tujuan yang sama, dua kelompok yang berbeda secara ekstrem pun bisa bersatu-padu dan bahu-membahu. Jika dulu ada persekongkolan Nazi–Islamis, kini ada persekutuan Gerindra–PKS, misalnya.

Kolom terkait:

Ateisme dalam Sejarah Islam dan Timur Tengah (1)

Islam dan “Hantu” Komunis-Ateis

Bersikap Jujur tentang Tan Malaka dan Islam

Buya Syafii Maarif, Gejala Ateisme, dan Hoax

Islam, Komunisme, dan Bencana Ingatan Kolektif 65

Dosen Antropologi Budaya, King Fahd University of Petroleum and Minerals, Dhahran, Arab Saudi

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…