Kamis, Januari 21, 2021

Pemilu Abal-Abal di Mesir dan Transisi yang Salah

ISIS dan Monopoli Narasi Jihadis Salafi di Suriah

Salafisme adalah sebuah doktrin yang mengusung gerakan pemurnian (puritan) teologis. Pada posisi ekstrimnya, salafi menganut doktrin jihad. Kata ini berarti "perjuangan", "berjuang" dalam bahasa...

Menuju Negara Kurdistan Merdeka

Situasi Timur Tengah, khususnya di Irak dan Suriah, mulai matang bagi lahirnya sebuah negara Kurdistan. Yakni, negara dengan penduduk mayoritas etnis Kurdi di sebagian...

Teror London dan Ancaman Puing-puing ISIS

Ketika pemerintah dan rakyat Irak baru saja merayakan kemenangan atas kehancuran militan ISIS di Mosul, sel-sel kelompok keji itu kembali menebar horor. Inggris kembali...

Menanti Negara Kurdi di Timur Tengah (2)

Seperti yang sudah saya prediksi selama ini bahwa seiring berakhirnya kekuasaan ISIS, negeri Irak akan menghadapi konflik antara Pemerintah Irak dan Pemerintah Regional Kurdistan...
Avatar
Ibnu Burdah
Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Di tengah pemberitaan aksi peledakan di kota Alexandria (kota terbesar kedua di negeri itu), Mesir menyelenggarakan Pemilihan Presiden pada 26-28 Maret 2018 ini. Pemungutan suara di luar negeri dilaksanakan lebih awal 10 hari.

Kandidat yang maju dalam pemilu ini ada dua. Pertama, Abdul Fattah al-Sisi. Ia adalah incumbent, Presiden Mesir, dan mantan menteri pertahanan di era Presiden Muhammad Mursyi. Ia naik ke tampuk kekuasaan sejak pertengahan 2013 melalui kombinasi kekuatan militer dan protes rakyat dan tandatangan jutaan warga yang digalang kelompok Tamarrud.

Presiden al-Sisi hampir bisa dipastikan akan terpilih kembali dengan suara di atas 90 persen, kendati tingkat partisipasi rakyat Mesir kemungkinan akan sangat rendah. Pasalnya, tak ada pesaing serius dalam pemilu kali ini. Orang-orang yang berpotensi menyainginya dalam pemilu ini dan sempat menyatakan akan maju menuju Mesir 1 telah disingkirkan.

Kedua, nama-nama pesaing kuat tapi tersingkir adalah Ahmad Syafik, mantan perdana menteri dan calon presiden pesaing Muhammad Mursyi dalam pemilu demokratis 2012. Ia hampir memperoleh suara 50 persen dalam pemilu demokratis itu.

Nama lainnya adalah Sami Hafiz Anan, mantan Panglima Angkatan Bersenjata Mesir yang sangat disegani tetapi kemudian ditangkap karena tuduhan korupsi dan memalsukan dokumen setelah menyatakan pencalonannya. Beberapa nama lain yang kurang menonjol juga muncul seperti pengacara Khalid Aly dan ketua partai Wafd Baru, Sayyid Badawi.

Pesaing al-Sisi dalam pemilu kali ini hanyalah Musa Mustofa Musa. Pimpinan Partai al-Ghadd ini jelas bukan tandingan al-Sisi. Ia kurang populer. Ia bahkan diketahui sebagai pendukung berat al-Sisi. Ia mencalonkan diri sehari sebelum pendaftaran ditutup. Kendati menolak tuduhan sebagai capres boneka, Musa jelas sekali maju bukan untuk memenangkan pertarungan tapi untuk kalah. Pencalonannya tak lain bertujuan menghindari calon tunggal yang bisa memperburuk citra demokrasi Mesir yang memang sudah sangat buruk.

Al-Sisi sendiri juga menyampaikan langsung ke publik bahwa ia sebenarnya menginginkan agar ada sejumlah pesaing berkualitas (afaadhil) sehingga rakyat Mesir bisa memilih yang terbaik bagi mereka dan masa depan Mesir. Namun, pernyataan yang disampaikan dengan lemah lembut dan “mengiba” kepada rakyat, sebagaimana kebiasaannya, itu tetap sulit dipercaya. Sebab, itu sama sekali bertolak belakang dengan praktik di lapangan.

Transisi yang Salah

Pemilu presiden kali ini jelas merupakan pemilu abal-abal. Tak ada kompetisi yang bebas dan sungguh-sungguh terjadi. Ini hanyalah proses peneguhan rezim militer Mesir di bawah kekuasaan Abdul Fatah al-Sisi. Tak ada yang bisa diharapkan dari pilpres kali ini untuk meningkatkan kualitas kehidupan politik dan kehidupan bangsa Mesir secara umum. Semua ini tak lepas dari kesalahan fatal dalam proses transisi yang terjadi sekitar 6 tahun lalu.

Kesalahan terpenting dalam proses transisi demokrasi Mesir adalah ketergesaan dalam menyelenggarakan pemilu tanpa kesepakatan aturan main terlebih dahulu. Aturan main yang dimaksud adalah penetapan konstitusi. Partai Kebebasan dan Keadilan (Hizb al-Hurriyah wal Adalah), sayap politik Ikhwanul Muslimin, sangat egois, dan tak mau berkompromi terkait waktu pemilu.

Mereka terus mendesak pemilu diaksanakan secepatnya, kendati konstitusi belum ditetapkan. Padahal, kebanyakan mereka tentu juga belum siap untuk memegang kendali kekuasaan sebab banyak tokoh mereka berada di penjara.

Pemilu langsung akhirnya dilaksanakan terlalu cepat. Pemilu itu dilaksanakan hanya sekitar setahun dari jatuhnya rezim Mubarak yang berkuasa lebih 30 tahun.  Setahun adalah waktu yang terlalu pendek untuk melakukan konsolidasi bagi sebuah pemilu baru yang sangat menentukan. Bandingkan dengan Indonesia yang memerlukan waktu 6 tahun pasca penjatuhan rezim untuk menyelenggarakan pemilu presiden secara langsung.

Padahal, secara de facto militer masih sangat berkuasa di lapangan. Militer jelas tidak menerima untuk dikembalikan ke barak begitu saja. Politik dan ekonomi Mesir memang dikuasai militer. Melawan kepentingan politik dan ekonomi militer dalam situasi transisi yang masih sangat rapuh itu tentu sangat berbahaya. Akan tetapi, Ikhwan terlalu berambisi untuk berkuasa bahkan tanpa menggandeng kekuatan-kekuatan pemuda revolusioner.

Di sisi lain, banyak kelompok yang memang tidak menginginkan Ikhwan memegang kendali kekuasaan. Sebagian kelompok itu merupakan pilar-pilar yang aktif dalam proses “revolusi” penjatuhan Husni Mubarak. Maka, aliansi mereka yang tak menginginkan Ikhwan berkuasa dan militer kemudian memaksa para tokoh Ikhwan keluar istana dan kembali memenuhi penjara-penjara “bawah tanah” Mesir. Padahal, Ikhwan memperoleh kekuasaan itu melalui pemilu yang bebas dan bersih.

Sebagai penutup, penulis ingin sedikit bercerita. Di awal-awal kekuasaan Mursyi, penulis diundang berbicara mengenai perkembangan politik Mesir bersama Dr. Ali Mun’im yang berasal dari Mesir. Saat itu ketika euforia orang-orang Ikhwan di seluruh dunia Islam membuncah, secara mengejutkan pembicara itu menyebut bahwa kekuasaan Mursyi akan berlangsung hanya sekitar enam bulan kecuali ia bersedia mundur lalu berbaris bersama para pemuda revolusioner di lapangan Tahrir.

Ramalan itu memang sedikit melesat mengenai waktunya, tetapi faktanya memang tidak salah, yakni kekuasaan Ikhwan berakhir cepat bahkan dengan cara mengenaskan.

Yang berakhir dari proses sejarah itu bukan hanya kekuasaan Ikhwan yang sekarang kembali menjadi kelompok terlarang di negeri itu, tapi juga menandai kematian proses demokratisasi di Mesir. Pendek kata, perjuangan luas rakyat Mesir melalui revolusi 25 Januari berbuah sangat pahit: Mesir kembali kepada kekuasaan militer hingga sekarang yang tak mungkin akan dikembalikan kepada kekuasaan sipil melalui pemilu saat ini.

Avatar
Ibnu Burdah
Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.