Jumat, Februari 26, 2021

Palestina Setelah HAMAS Merevisi Manifestonya

Di Balik Kemenangan Hassan Rouhani

Berakhir sudah Pemilu Iran yang berlangsung pada Jumat 19 Mei 2017. Sang Presiden petahana Hassan Rouhani terpilih untuk kedua kalinya menjadi presiden Iran. Rouhani...

Bara Menyala di Baghdad dan Kurdistan

Kendati masih dalam skala terbatas, konflik bersenjata antara pasukan Irak dan pasukan pemerintahan regional Kurdi sungguh mengkhawatirkan. Bentrok kecil itu berpotensi menyulut bara besar...

Timur Tengah di Balik Kunjungan Bin Salman ke AS

Di tengah atmosfir pemecatan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson, Muhammad bin Salman melakukan kunjungan penting ke Amerika Serikat. Kendati status Muhammad bin Salman “hanyalah”...

Gonjang-Ganjing Iran: Arab Spring atau Intervensi?

Di tengah gencarnya pemberitaan agresivitas Iran di sejumlah negara Arab selama lima tahun terakhir, isu dalam negeri Iran seperti tak pernah mencolok ke permukaan....
Avatar
Ahmad Imam Mujadid Rais
Lembaga Hubungan dan Kerja Luar Negeri PP.Muhammadiyah. Master of International Relations di The University of Melbourne, dan Penikmat Film

Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengulurkan tangan ke arah Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat memberikan pernyataan setelah keduanya bertemu di Istana Kepresidenan di kota Bethlehem, Tepi Barat, Selasa (23/5). ANTARA FOTO/REUTERS/Jonathan Ernst

Belum lama ini Hamas mengumumkan manifesto barunya yang, konon, memakan waktu bertahun-tahun untuk mendiskusikannya di antara anggota Hamas, baik yang di dalam penjara ataupun pelarian. Manifesto yang diumumkan menjelang pertemuan antara Donald Trump dan Mahmoud Abbas itu seolah ingin memberi pesan bahwa Hamas siap untuk melanjutkan rekonsiliasi dan kerja sama dengan Fatah. Bagaimana dengan nasib perdamaian dengan Israel?

Seperti diketahui, Hamas (Harakat al-Muqawwamah al-Islamiyya/The Islamic Resistance Movement) merupakan salah satu kelompok perlawanan di Palestina yang mulanya menginduk ke Ikhwanul Muslimin. Didirikan pada tahun 1987, Hamas bercita-cita untuk membebaskan tanah Palestina.

Selain berjuang melalui jalur militer dengan pasukan paramiliternya, Brigade Izzudin Al-Qassam, Hamas juga berjuang di jalur elektoral. Dengan sayap militernya, mereka melawan Israel, walau bermodalkan pelontar batu seperti ketapel hingga roket-roket buatan rumah tangga. Dengan modal ini, Israel dibuat keteteran.

Di jalur elektoral, Hamas mengejutkan dunia ketika berhasil memenangkan pemilu Palestina di tahun 2006 dengan mengalahkan Fatah, walau kemudian dunia internasional tidak mengakuinya.

Kelahiran Hamas diinisasi oleh Syeikh Ahmad Yassin, seorang ulama kharismatis yang berjuang melawan Israel. Dengan keterbatasan penglihatannya, beliau sanggup melahirkan organisasi yang konsisten dan militan sebagai koreksi atas strategi Fatah dalam membebaskan Palestina dari okupasi Israel.

Sepanjang perjalanan organisasi perlawanan ini, Hamas seolah merupakan antitesis dari Fatah yang sekuler, akomodatif, kalau bukan pragmatis, kompromis terhadap Israel dalam berbagai perjanjian kerjasama antara Palestina dan Israel. Garis perjuangan Hamas tegas-tegas menyebut Israel harus dihapuskan dari peta dunia (manifesto Hamas 1988) dan kemudian mendirikan negara Islam di tanah itu. Tidak ada tawar menawar dalam hal kemerdekaan Palestina.

Sepanjang Intifada pertama, Hamas turut memainkan peran penting dengan pasukan intifada yang menyerang pasukan Israel. Sepanjang tahun 1992-2005, organisasi ini memicu kampanye bom bunuh diri yang menargetkan rakyat sipil di lingkup kawasan yang diduduki Israel, yang menyebabkan ratusan rakyat sipil tewas. Selain itu, Hamas juga melakukan serangan roket ke wilayah Israel dari basisnya di Jalur Gaza.

Di tahun 2006, HAMAS menguasai mayoritas parlemen setelah pemilu Palestina dengan 76 kursi dari 132 kursi parlemen Palestina dengan mengalahkan faksi Fatah. Mandat demokratis yang diperoleh Hamas ini tak pelak melahirkan kekhawatiran di Timur Tengah dan dunia internasional.

Berbagai kelompok mendesak Hamas untuk menaati aturan kesepakatan antara Otoritas Palestina dan Israel, menolak kekerasan dan mengakui negara Israel. Namun desakan ini malah dijawab HAMAS dengan tawaran gencatan senjata dan penarikan tentara Israel ke perbatasan sebelum tahun 1967. Hal ini malah memperburuk situasi dan menyebabkan kebuntuan serta pembekuan bantuan untuk otoritas Palestina.

Di tahun 2007, tak lama setelah Hamas memenangi pemilu di Palestina, anggaran nasional juga tak kunjung dicairkan oleh Fatah. Demikian pula salah satu sumber keuangan Palestina yang cukup besar, yakni bea masuk, dibekukan oleh pemerintah Israel. Selama masa blokade di Jalur Gaza, Hamas dan rakyat Palestina di Jalur Gaza bertahan dengan membangun terowongan bawah tanah untuk menyeludupkan bahan makanan, keperluan sehari-hari, hingga senjata.

Yang lebih buruk lagi adalah terjadinya konflik antara Hamas dan Fatah yang menyebabkan 600 orang tewas dan pemerintahan Otoritas Palestina mengalami kekacauan sepanjang tahun 2007. Di akhir tahun 2007, pemerintahan Palestina pecah ke dalam dua faksi, yakni Hamas yang memerintah di Jalur Gaza dan Fatah di Tepi Barat.

Setelah mendapat tekanan dari berbagai komunitas internasional, akhirnya Fatah dan Hamas menandatangani kesepakatan untuk pemerintahan nasional bersatu. Persatuan ini diiringi dengan langkah selanjutnya untuk mendaftarkan Negara Palestina yang berdaulat ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Manifesto Baru

Namun, dalam pertemuan nasional beberapa waktu lalu, HAMAS merevisi manifestonya. Dalam manifesto tersebut dinyatakan bahwa HAMAS akan mengambil langkah yang lebih moderat dalam perjuangan menghadapi Israel. Bagaimanakah langkah-langkah yang lebih moderat ini? Apakah ini strategi HAMAS untuk memulai suatu proses perdamaian dengan Israel dan membuka rekonsiliasi dengan Fatah?

Apakah konsitusi baru Hamas ini akan mendorong HAMAS menjadi lebih moderat dalam membangun hubungan dengan Israel? Apakah konstitusi ini juga akan mendorong perdamaian di Timur Tengah di tengah keinginan Hamas menghadapi  “dinamika politik regional dan internasional dengan lebih realistis, dengan tetap mewakili kepentingan rakyatnya”?

Pertama, Hamas menetapkan bahwa perjuangan mereka bukanlah perjuangan agama melawan Yahudi, namun perjuangan melawan zionisme. Walau kelompok zionis  juga selalu membawa-bawa aspek Yahudi dalam perjuangan mereka. Hal ini mengonfirmasi para penganut paham yang mendukung kemerdekaan Palestina bahwa pembebasan Palestina bukanlah perjuangan satu agama, tapi lintas agama, yang merupakan perjuangan melawan ketidakadilan dan pendudukan di tanah Palestina.

Kedua, dokumen konstitusi baru tersebut tidak serta akan membangun proses perdamaian yang lebih baik dengan Israel, walau tertulis di dalamnya bagaimana Hamas menghapus kata-kata dramatis yang sering diungkapkan oleh mantan Presiden Iran, Mahmoudinejad, “menghapus Israel dari peta dunia”. Hamas nyatanya tetap akan memperjuangkan untuk ‘membebaskan’ negara Palestina, termasuk yang saat ini masuk teritori Israel. Namun, persetujuan Hamas untuk mendukung pendirian negara Palestina sebagaimana batas teritorial tahun 1967 merupakan perkembangan tersendiri.

Ketiga, dokumen tersebut merupakan strategi Hamas agar tidak diisolasi oleh dunia internasional sebagaimana yang mereka alami selama 10 tahun ini (blokade oleh Israel), serta ditutupnya Gerbang Rafah oleh Mesir.

Keempat, Hamas juga menjaga jarak dengan Ikhwanul Muslimin, organisasi yang pernah menjadi induk Hamas saat di awal-awal pendiriannya—demi menghormati dan mengambil hati penguasa Mesir saat ini, Abdel Fatah Al-Sisi. Hal ini ingin menegaskan bahwa Hamas bukanlah kekuatan yang akan mengintervensi dan ikut campur urusan domestik negara lain.

Kelima, suasana domestik politik Palestina yang memburuk juga menjadi latar belakang dikeluarkannya manifesto ini. Pemerintahan Abbas dari Fattah mengancam akan membekukan dana untuk Jalur Gaza bila Hamas tidak mengubah perilakunya.

Avatar
Ahmad Imam Mujadid Rais
Lembaga Hubungan dan Kerja Luar Negeri PP.Muhammadiyah. Master of International Relations di The University of Melbourne, dan Penikmat Film
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.