in

Mengungkap Misteri Pembunuhan Kim Jong Nam


Doan Thi Huong (tengah), warga negara Vietnam, yang menjadi salah satu tersangka kasus pembunuhan Kim Jong Nam, digiring Kepolisian Malaysia setelah sidang perdananya di Pengadilan Sepang, 13 April 2017. (AFP PHOTO/MANAN VATSYAYANA) [Sumber: www.metrotvnews.com]
Belum lama ini dunia dihebohkan dengan terbunuhnya Kim Jong Nam, kakak tiri Presiden Korea Utara Kim Jong Un. Yang paling menyita perhatian adalah cara Jong Nam mati. Ia harus meregang nyawa dengan cara diracun oleh komplotan terlatih menggunakan cairan kimia berbahaya bernama VX Nerve Gas.

 

Bahan kimia tersebut adalah sebuah gas syaraf paling mematikan yang pernah dipakai dalam perang Irak-Iran, perang dunia, bahkan perang saudara di Suriah. Bandara Internasional Kuala Lumpur Malaysia menjadi saksi bisu betapa kejamnya aksi pembunuhan terhadap Jong Nam.

Jong Nam bermaksud take off dari Kuala Lumpur International Airport (KLIA) menuju Macau. Namun, tanpa sadar, ia diawasi oleh operator bayaran, kemudian dibunuh dengan menggunakan kain berlumuran racun VX yang diusapkan ke wajahnya. Meski Jong Nam sempat berjalan dan meminta pertolongan ke ruang klinik bandara, nyawanya tak dapat tertolong.

Ia tewas mengenaskan dan meninggalkan segudang misteri. Siapakah dalang pembunuhan keji tersebut? Banyak pihak, mulai dari intelijen, ahli strategi, akademisi, hingga praktisi hubungan-hukum internasional, sudah menyampaikan hasil analisis mereka pada khalayak. Semuanya sepakat setidaknya dalam satu hal, yakni ada skenario besar di balik kejadian ini dan pembunuhan Jong Nam hanyalah bagian kecil dari rencana keseluruhan.

Kita bahas dari yang paling sederhana. Kamera pengintai bandara (CCTV) memperlihatkan bahwa operator pembunuh yang membuntuti Jong Nam dari belakang dan mengusapkan kain beracun VX ke wajahnya belakangan diketahui bernama Siti Aisyah, perempuan berpaspor Indonesia.


Baca Juga :   Kemungkinan Indonesia Bernasib Seperti Suriah (Bag. 1)

Dalam pengakuannya kepada pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia, ia mengaku dibayar sebesar 400 ringgit. Tragisnya, ia diberi tahu bahwa apa dilakukannya hanyalah sebatas reality show yang sekadar main-main, tidak mengakibatkan kematian pada target operasi. Polisi Diraja Malaysia telah menahan Siti Aisyah serta beberapa tersangka lain dari Vietnam dan Korea Utara untuk kepentingan investigasi dan pengembangan kasus.    

Kasus ini pun membuat panas hubungan Malaysia-Korut. Tak ketinggalan, Korea Selatan, musuh bebuyutan Korut, juga angkat bicara terkait tewasnya Jong Nam. Korut marah besar kepada Malaysia karena dianggap telah berbuat sesuatu yang melampaui batas yang tidak dikehendaki Korut, yakni melakukan otopsi terhadap jenazah Jong Nam.

Sebelumnya, Korut berulangkali meminta Malaysia tidak mengotopsi mayat Jong Nam dan segera memulangkannya ke Korut. Namun Malaysia tidak mengindahkannya. Atas nama penyelidikan, pihak Malaysia tetap melakukan otopsi, bahkan sudah dua kali. Lebih jauh dari masalah otopsi ini, Otoritas Korut secara mengejutkan sempat meminta operator tersangka pembunuhan asal Indonesia dan Vietnam dibebaskan.

Kemarahan Korut semakin menjadi-jadi ketika Otoritas Malaysia mulai mencurigai bahwa pihak Korut adalah dalang pembunuhan Jong Nam. Malaysia memeriksa beberapa diplomat dan termasuk duta besar Korut untuk Malaysia. Puncaknya, Malaysia berani mengusir Duta Besar Korut dari Malaysia karena dianggap tidak mau kooperatif saat diperiksa.

Hal ini juga diperkuat dengan dukungan dari Korsel yang juga meyakini bahwa tewasnya Jong Nam tidak lepas dari peran Korut yang memang menginginkannya. Perang klaim antara kedua kubupun tak terhindarkan. Sebagai protes terhadap Korut, Malaysia telah menarik duta besarnya dari Korut.

Fakta-fakta yang dicoba dihimpun Polisi Diraja Malaysia memang menunjukkan bukti yang mengarah pada Otoritas Korut sebagai otak di balik pembunuhan ini. Pertanyaannya, jika itu benar, mengapa Korut melakukannya? Jawabannya, karena dalam kredo negeri komunis tersebut, siapa pun yang tidak memiliki pandangan dan garis perjuangan yang sama dianggap sebagai musuh negara yang harus ditumpas.

Tidak peduli apakah yang bersangkutan masih memiliki hubungan darah dengan penguasa Korut atau tidak, sepanjang tidak berpihak pada kepentingan negara, ia harus dilenyapkan. Buktinya, tahun 2013, Jong Un harus menghabisi pamannya sendiri karena tidak memiliki pandangan yang serupa dengan dirinya.

Lantas, bagaimana dengan Jong Nam? Jong Nam pada dasarnya adalah sosok yang juga berhak mewarisi takhta kekuasaan Korut pasca kematian Kim Jong Il tahun 2011. Ia lahir dari seorang ibu yang berdarah Korsel. Merasa tidak memiliki kesamaan pandangan politik, Jong Nam tidak berminat menggantikan ayahnya, sehingga takhta politik Korut akhirnya jatuh pada Jong Un, sang presiden termuda di dunia.

Seiring berjalannya waktu, Jong Nam lebih banyak menghabiskan waktu di luar Korut guna mengurusi kepentingan bisnis, termasuk kepergiannya ke Malaysia tempat ia menemui ajalnya. Dalam perspektif Korut, bisa dipahami bahwa Jong Nam dianggap sebagai sosok yang banyak mengetahui rahasia internal Korut yang kalau dibiarkan bergerak bebas bisa menjadi ancaman yang membahayakan negara.

Siti Aisyah dan kedua operator lainnya sukses menampilkan reality show yang membuat dunia terhenyak atas kenyataan bahwa demi tercapainya misi politik, apa pun akan dilakukan oleh aktor politik, meski itu berarti harus merenggut nyawa saudaranya sendiri.

Kamis dua pekan lalu (13/4), Siti Aisyah mulai menjalani sidang tuntutan terkait kasus pembunuhan yang membelitnya. Harapan kita tentu jaksa dan pengadilan Malaysia bisa memberikan tuntutan dan putusan yang seadil-adilnya.

Siti Aisyah dan komplotannya hanyalah korban yang dijadikan alat kepentingan politik, sementara kematian Jong Nam adalah tujuan utamanya. Saya optimistis, cepat atau lambat, waktu akan membuktikan semua selubung permainan ini dan dunia akan mengetahui siapa dalang utamanya.


Baca Juga :   Pembunuhan Kim Jong Nam: Kedaulatan Malaysia vs HAM

Written by Moh. Zahirul Alim

Moh. Zahirul Alim

Sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Brawijaya, Malang.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR