OUR NETWORK

Keajaiban Dunia Bernama China

“Kita tidak sedang perang dagang dengan China. Kita sudah kalah bertahun-tahun lalu… Sekarang kita punya defisit perdagangan US$500 miliar setahun,” kata Trump. Nasib dunia tergantung China?

Geliat kita berbangsa dan bernegara terus berpusar di lingkaran kebanalan. Betapa tidak, sebuah “puisi” bermutu rendah saja, bisa menyulut api yang seketika menjalar ke seantero negeri.

Kita sungguh benar dibikin lelah dengan keremeh-temehan belaka, setelah sibuk mengurusi soal berita palsu, ujaran kebencian para politisi yang merasa benar sendiri dengan mesin partainya, dan kafir mengafirkan dalam berkeyakinan.

Padahal, jika ditilik lebih dalam, itu semua sama sekali tak produktif. Kita menghabiskan teramat banyak tenaga dan menguras sedemikian rupa perasaan, bukan demi perikehidupan yang baik lagi sejahtera. Camkanlah…

Keinginan para pendiri negara-bagsa ini untuk membangun karakter manusia Indonesia, sebagaimana pernah dicanangkan Presiden Sukarno, terkubur bersama akrobat para badut politik yang sibuk mengincar posisi demi keuntungan sendiri. Sementara pada saat yang sama, kita luput mengikuti gelombang perubahan yang terjadi di luar Indonesia.

“Kita tidak sedang perang dagang dengan China. Kita sudah kalah bertahun-tahun lalu karena orang-orang bodoh dan tidak kompeten yang mewakili AS. Sekarang kita punya defisit perdagangan US$500 miliar setahun, dengan pencurian hak kekayaan intelektual US$300 miliar. Kita tak bisa lanjutkan ini!” demikian cuit Trump dalam akun Twitter-nya pada Kamis, 5 April 2018.

Informasi penting dari Presiden Amerika ini berlalu bersama angin. Paling banter hanya kalangan pelaku bisnis saja yang mengetahuinya. Lantaran saat yang sama, di negeri kita sedang terjadi gonjang-ganjing ihwal sebuah puisi mahadahsyat yang nyaris membangunkan Proklamator Republik Indonesia dari pesareannya.

Pertanyaan kita, kenapa Trump sampai sedemikian muntab alias murka dengan China? Menurut South Deutsch Newspaper, China dengan mantap berjalan pada jalurnya sendiri. Baru-baru ini Prancis mengusulkan kerjasama Engineering Technology Phantom 2000 Jet Fighter, yang dibarter dengan teknologi China Quantum Computing Communication. Hasilnya, China menolak mentah-mentah.

Permintaan Ukraina untuk menjual Surveilance Ship terakhir ke China pun ditolak negeri Tirai Bambu. Tak mau ketinggalan oleh Prancis, Inggris menawarkan China kerjasama pembuatan mesin pesawat jumbo jet dengan memanfaatkan standar Inggris. Lagi, China menampiknya.

Melampaui itu, Amerika menawarkan pada China memakai sebagian teknologi ruang angkasa Paman Sam untuk digunakan pada stasiun luar angkasa China yang mendekati penyelesaian. Hasilnya nihil, China tak menerima. Negeri Panda ini mendadak tak lagi mengagumi Barat. Tak lagi mengikuti cara mereka yang membabi buta sejak era kolonialisme berubah jadi neoliberalisme.

Melihat perkembangan Tencent dan Alibaba yang demikian pesat dan berhasil di sektor mobile payment, Apple tak sudi dikalahkan. Mereka mulai menekan Tencent & Alibaba, dengan meminta bagi hasil 30 persen  appreciation amount dari We Chat dan UC. Namun, kali ini Apple salah duga. Hegemoni mereka pada masa Steve Jobs tak mempan menggertak. Tencent malah memutus hubungan dengan Apple.

Pun Alibaba yang menutup UC appreciation. Tencent dan Alibaba telah memutuskan mencopot fungsi appreciation IOS. Alhasil, Apple menderita kerugian besar. Saham mereka jatuh US$55,7 juta dalam lima hari.

Tak hanya menepis Apple, Alibaba bahkan telah memperkenalkan model pembayaran melalui pindai wajah. Langsung transaksi. Tak perlu chip lagi! Tekhnologi ini bernama “Alipay’s facial recognition payment solution” yang mulai diterapkan pada ritel KFC di China.

Setengah tahun lalu, Huawei bahkan telah memimpin dunia dengan membuat standar internet 5G. Menyusul Huawei, akhir-akhir ini ada tiga perusahaan lain di China yang memasuki pembuatan 5G. Kurun tujuh tahun ke depan, mereka akan menanamkan modal senilai US$1,2 triliun demi membawa China memasuki era 5G.

Masa di mana negara Barat bisa lenggang kangkung mencari untung, makan enak, minum nikmat, berfoya-foya dan menzalimi bangsa lain, tak lama lagi akan hilang. Jikalau mereka tak segera tanggap, bias-bisa jalan keluarnya hanya minta tolong pada China sahaja.

Amerika dan Eropa yang selama ini kadung menganggap diri mereka lebih hebat sebagai pusat dunia–yang kemauannya harus dituruti, mesti berpikir ulang. Kini aturan main sudah berubah. China tak mau lagi diatur Barat. Sebaliknya, China ingin membuat aturan main yang baru.

Dana penelitian dan pengembangan China pada 2015 saja sudah lebih besar 75 persen ketimbang Amerika. Padahal, pada medio 2000, anggaran mereka hanya sebesar 12 persen. Lucunya, 15 tahun ke belakang, dana penelitian dan  pengembangan Amerika, Kanada, Australia, Inggris, mandek. Sementara China terus melesat jauh. Teknologi yang mereka kembangkan menembusi batas terjauh nalar manusia modern.

Apa kabar Indonesia?

Dahulu kala, ketika BJ Habibie yang sedang menjabat Menteri Riset dan Teknologi tengah membangun Batam sebagai kota satelit, Guangzhou masih berupa kampung kecil nan kumuh. Kini lihatlah wajah kota-kota di China. Anda pasti akan setuju mengatakan bahwa permata dunia telah bersinar di Tiongkok.

Belajar dari riwayat kebangkitan China yang mengagumkan itu, kita seharusnya mulai menata ulang sistem berpikir bangsa besar dan tua ini. Sejak dari era Nusantara silam, bangsa kita telah menjalin hubungan harmonis dengan dinasti-dinasti besar yang menganut Konfusianisme dalam laku kehidupan mereka–hingga kini.

Jika China punya Konfusianisme, kita di sini memiliki Pancasila, dan terutama Islam yang spirit utamanya adalah merahmati alam semesta. Maka, dengan kata lain, Muslim Indonesia jangan lagi tenggelam dalam perbalahan beda mazhab dan keyakinan. Jangan lagi terlampau sibuk mengurusi harlah, haul, dan apalagi politik semata.

Lembaga pesantren segera harus merombak sistem pembelajarannya, agar tak hanya melahirkan santri penghafal kitab, doa-doa, hadits, dan al-Qur’an belaka, lantas gagap menerapkan ilmu yang mereka peroleh dari para kiai, di tengah masyarakat yang kian dinamis. Sudah saatnya pesantren melahirkan saintis-cendekiawan cum mujtahid dan mufti kaliber dunia.

Sesungguhnya, Islam tak pernah menuntut umatnya jadi penghafal yang baik. Islam menghendaki para penganutnya menjadi pemimpin (khalifah) di bumi dengan berlandaskan akhlak yang luhur, supaya menjadi al-Insan al-Kamil: Manusia nan Mulia di jagat kehidupan.

Kolom terkait:

Ekonomi Indonesia-Tiongkok: Menjadi Pembantai atau Pawang Naga? (1)

Ekonomi Indonesia-Tiongkok: Menjadi Pembantai atau Pawang Naga? (2-Habis)

Jokowi, Tsinghua University, dan Transformasi Menuju Industri 4.0

Senjakala Uber: Dari London hingga Quebec

Menanti Invasi Kaum Perempuan

Penulis, pendiri Khatulistiwa Muda, Direktur Eksekutif Candra Malik Institute.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…