in

Jalan Terjal Kim Jong Un dan Korea Utara

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menandatangani perintah melaksanakan uji-tembak roket balistik antarbenua Hwasong-14 dalam foto tanpa tanggal yang disiarkan Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA) di Pyongyang, Selasa (4/7). ANTARA FOTO/KCNA/via REUTERS

Meradang. Itu adalah kata yang tepat menggambarkan kemarahan Donald Trump saat ini. Pasalnya, negara yang sudah diperingatkan berulangkali bahkan lebih dari ratusan kali, yaitu Korea Utara, tetap melanggengkan uji coba rudal balistik. Beruntung uji coba terakhir yang dilakukan Korea Utara “hanya” berjarak 100 kilometer dari lintasan penerbangan pesawat Air France.

Andaikan saja, rudal tersebut meleset dari jalur lintasan, bisa jadi pesawat Air France akan bernasib serupa seperti yang dialami pesawat Malaysia MH-17 yang diklaim terkena rudal salah sasaran hingga menewaskan 238 orang.

Korea Utara bergeming. Berulangkali diperingatkan, baik dari pihak Amerika Serikat maupun sekutu mereka yaitu China, Korea Utara tetap mengacuhkan peringatan tersebut. Melalui pemimpin tertinggi, Kim Jong Un, Korea Utara menyatakan bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah langkah preventif. Tak ada tindakan perlawanan agresif, apalagi sampai memunculkan hawkish effect. Mereka melakukannya semata-mata demi kepentingan nasional.

Ada sebuah anekdot tentang Korea Utara, “apalagi yang mampu dibanggakan Korea Utara selain rudal, nuklir, dan pemimpinnya?

Setidaknya, hingga saat ini anekdot tersebut masih berlaku. Mulai dari terbentuknya Korea Utara hingga Kim Jong Un menjadi presiden, Korea Utara tidak sedikit pun berniat mengurungkan atau menghapuskan kebijakan nuklir. Bagi Korea Utara, nuklir adalah sebuah simbol. Tak boleh satu pun negara yang mengecam bahkan menghentikannya.

Bahkan yang lebih menakjubkan adalah Kim Jong Un mengklaim bahwa negaranya mampu membuat bom yang lebih dahsyat daripada bom atom yang meluluhlantakkan Nagasaki dan Hiroshima. Mereka menyebutnya bom hidrogen. Bom tersebut diklaim mampu membuat hancur negara bahkan menewaskan setidaknya 500.000 orang. Yang lebih hebat lagi dari klaim mereka adalah jika bom hidrogen mampu dijatuhkan di New York, maka yang terjadi lautan kematian manusia berjumlah 1,7 juta orang.

Baca Juga :   Janji Donald Trump (Ternyata) Bukan Omong Kosong

Klaim tersebut yang membuat Trump benar-benar meradang. Melalui sebuah status di media sosial, “Jika Korea Utara tak mampu diajak berdialog, maka jalan terakhir adalah perang.” Bak gayung bersambut, militer Amerika Serikat mulai menyisir dan menyeruak hingga perbatasan Korea Utara. Akankah perang dunia ketiga akan terjadi?

Sanksi terhadap Korea Utara

Beruntungnya, mungkin kita masih belum diperlihatkan perang dunia ketiga. Kemarin, Dewan Keamanan (DK) PBB melalui Tiongkok dan Rusia menjatuhkan sanksi berupa embargo ekonomi kepada Korea Utara. Ada empat sanksi yang tak dapat dilakukan oleh Korea Utara.

Pertama, tak ada lagi penambahan pekerja migran. Sungguh merugikan mengingat ada 50.000 lebih pekerja migran yang mampu menghasilkan devisa bagi Korea Utara. Jika tak boleh lagi ada penambahan migran, Korea Utara bakal kehilangan devisa sejumlah USD2 miliar per tahun.

Kedua, tak ada lagi ekspor. Ada beberapa barang seperti besi, timah, hingga batu bara yang akan diberhentikan. Sebenarnya ini keputusan yang sulit bagi Tiongkok. Pasalnya, Tiongkok adalah salah satu negara pengimpor utama barang-barang dari Korea Utara, yang mana 90% perdagangan Tiongkok bergantung pada Korut. Diperkirakan Korea Utara bakal kehilangan pemasukan lebih dari USD4 miliar dari larangan ekspor.

Ketiga, tak ada lagi investasi. Kemungkinan besar tak akan ada lagi perjanjian baru. Ini artinya Korea Utara tak mampu mengembangkan produk-produk senjata kepada sekutu, padahal senjata adalah industri utama Korea Utara.

Keempat, pembekuan Bank Valuta Asing. Larangan yang terakhir membuat Korea Utara dapat lagi berkutik secara fisik maupun nonfisik dari segi ekonomi.

Menanti Reaksi Kim Jong Un

Secara ekonomi, Korea Utara mungkin bakal terpojok, namun yang patut diingat adalah Korea Utara memiliki ideologi Juche. Ideologi yang memiliki prinsip “manusia mampu melakukan segalanya dan mampu memutuskan segalanya.” Melalui para pemimpin terdahulunya, Kim Il Sung, Korea Utara percaya bahwa mereka mampu menentukan nasibnya sendiri. Tak perlu bergantung pada negara lain terutama negara-negara Barat.

Baca Juga :   Khilafah Virtual ISIS dan Jihadis Millenial

Ideologi Juche sendiri terbagi atas 3 hal: Chaju berarti negara mandiri secara politik. Charip berarti bebas secara ekonomi. Korea Utara mengecam kapitalisme. Chawi, bergantung pada diri sendiri. Ini berarti dalam ideologi tersebut mengharapkan pembangunan manusia seutuhnya tanpa mengandalkan hal lain.

Itulah mengapa Korea Utara tetap saja “terlihat santai”, meski sanksi ekonomi sudah di ujung mata. Korea Utara justru menganggap Amerika Serikat terlalu mencampuri urusan negara orang lain. Seakan membangun perdamaian dunia, namun lebih banyak menghadirkan kerusakan di muka bumi.

Amerika Serikat berharap dengan sanksi yang dikeluarkan melalui Dewan Keamanan PBB, Korea Utara akan tunduk padanya seperti yang pernah dilakukan AS kepada Iran ataupun Kuba. Tetapi seharusnya AS lebih waspada. Korea Utara semakin ditekan, dia semakin menggeliat. Mungkin benar bahwa Korea Utara akan teralienasi secara ekonomi dari negara-negara Barat, namun dia bisa saja mengambil jalur diplomasi dengan menghubungi negara-negara yang pernah terkena embargo ekonomi.

Ada security dilemma bagi Korea Utara. Pertama, Korea Utara akan mengambil langkah militer, namun dengan mengorbankan segala bentuk sanksi ekonomi yang menghinggapinya. Atau kedua, Korea Utara menyetujui pembicaraan denuklirisasi yang artinya akan tunduk pada penguasa Amerika Serikat. Ini akan menjadi perdebatan yang pelik bagi Korea Utara, utamanya Kim Jong Un.

Reputasi Korea Utara sebagai penentang utama Amerika Serikat akan dilihat seberapa besar reaksi yang akan dihadirkan. Mana yang kamu pilih Kim Jong Un? Melawan atau menunduk? Let’s wait and see.

Written by Moddie Wicaksono

Moddie Wicaksono

Pegiat GASPOLIAN (Gerakan Sadar Politik Internasional) Yogyakarta.

Leave a Reply

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR