OUR NETWORK

ISIS dan Realitas Terorisme Global

Houda, 2, sits beside her birth certificate issued by Islamic State and not recognised by Iraqi authorities, in Khazer refugee camp, Iraq November 11, 2016. REUTERS/Zohra Bensemra SEARCH "CALIPHATE CHILDREN" FOR THIS STORY. SEARCH "WIDER IMAGE" FOR ALL STORIES.

Satu-satunya cara mengalahkan kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di planet ini adalah menyerang “pusat gravitasi” ISIS di Timur Tengah, yakni di Irak dan Suriah. Begitu banyak kalangan berasumsi demikian atas ISIS selama ini.

Jika semua mata kita tertuju pada pertempuran melawan militan ISIS di Mosul Irak yang telah berjalan sejak 17 Oktober, kemudian disusul operasi militer menyerang ISIS di Suriah di kota Raqqah, kita akan mendapatkan kesan pertama bahwa mengalahkan ISIS adalah masalah waktu.

Iraqi special forces soldiers fire weapons at Islamic State fighters in Mosul, Iraq November 14, 2016.  REUTERS/Goran Tomasevic      TPX IMAGES OF THE DAY
[REUTERS/ Goran Tomasevic]
Padahal, bila melihat lebih mendalam pada apa yang terjadi di medan perang global melawan ISIS, kita akan disuguhkan realitas yang sama sekali berbeda.

Kita ambil misalnya Mesir. Di negeri ini, ISIS telah lama beroperasi, mendirikan kamp pelatihan di Sinai, dan melancarkan serangan teror mematikan.

Ingat pada Oktober 2015 kelompok ini pernah mengklaim meledakkan pesawat sipil Rusia Metrojet A-321, yang menewaskan seluruh penumpang dan awak yang berjumlah 224 orang. Setelah banyak pihak meragukan klaimnya, ISIS mengaku menyelundupkan peledak di kabin pesawat sebelum penerbangan Sharm El-Sheikh.

Presiden Putin pada November tahun lalu pun mengatakan negaranya telah menemukan bukti bahwa bom memang dipasang di kabin pesawat. Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi pada Februari lalu juga mengakui bahwa terorisme adalah penyebab terjadinya kecelakaan pesawat tersebut.

Militan ISIS di Sinai sebelumnya dikenal sebagai Ansar Bait al-Maqdis. Di tahun 2014, kelompok ini menyatakan sumpah setia pada ISIS dan kemudian ISIS mendeklarasikan wilayat atau provinsi Sinai. Militan Sinai bercokol di kota-kota Sheikh Zuweid, Rafah, dan al-Arish di Sinai Utara.

Pemerintah Mesir mengklaim telah memulai serangan besar-besaran terhadap militan ISIS di Sinai. Tak ayal, ISIS membalasnya denganĀ  membunuh seorang petinggi militer Brigadir Jenderal Adel Rajei, yang memimpin operasi kontraterorisme terhadap ISIS di Sinai (22/10/2016). Adel Rajei ditembak mati di depan rumahnya di pinggiran kota Kairo ketika ia berjalan menuju ke mobilnya.

Meskipun militer Mesir telah mengklaim berhasil membunuh ratusan militan ISIS, ISIS di Sinai masih menjadi kanker kronis bagi rezim Mesir saat ini. Kemunculan ISIS di Sinai telah memunculkan kecurigaan Mesir bahwa kelompok ini menjalin hubungan strategis dengan HAMAS yang ada di Gaza, meski telah dibantah.

Hubungan HAMAS dengan rezim Mesir memburuk pasca-kudeta atas Presiden Mohammad Moursi yang notabene berasal dari kelompok Ikhwanul Muslimin, yang sekandung dengan gerakan HAMAS.

ISIS provinsi Sinai disebut-sebut adalah cabang ISIS terkuat di luar Irak, Suriah, dan Libya. ISIS Sinai juga dikenal produktif menyebarkan propaganda di internet. Yang terbaru, pada bulan ini kelompok ini memamerkan video eksekusi ala “Jihadi John” terhadap dua pemuka agama di Sinai, sebagaimana dikabarkan Al-Arabiya, Minggu (20/11).

Di Pakistan, serangan ISIS terus mengalami peningkatan. ISIS merekrut militan Uzbek, menarik pejuang Taliban yang tidak puas, dan bermitra dengan salah satu kelompok sektarian paling brutal di Pakistan. Teror di Pakistan yang didalangi militan ISIS yang terbaru adalah serangan Sabtu (12/11/2016) yang menyasar komunitas kaum Sufi yang menewaskan 50 orang dan melukai 100 lainnya.

isis-mosul

Serangan ini hanya selisih beberapa hari dari penyerangan terhadap Akademi Kepolisian di Quetta, Pakistan. Saat itu anggota ISIS menyelinap dan berhasil membunuh 59 taruna.
Zahid Hussain, analis keamanan Pakistan berkomentar, “ISIS mungkin tidak memiliki struktur formal di Pakistan, tapi mereka memiliki dukungan di antara kelompok radikal, kelompok sektarian seperti Lashkar Jhangvi. Ini semacam hubungan antara kelompok jihad global dan sektarian lokal.”

Saya menilai menguatnya serangan ISIS di Pakistan ini tidak lepas dari berkembangnya militan ini Afghanistan. Pendeknya, ISIS telah membuat basis di kawasan tak bertuan di perbatasan dua negara ini, di Provinsi Nangarhar.

Fenomena ISIS di Afghanistan dibenarkan Jenderal John Nicholson, komandan pasukan AS dan NATO di Afghanistan. Nicholson menilai bahwa ISIS telah memperluas kegiatannya di kawasan Nangarhar, Afghanistan timur.

Jika di Mesir ISIS mendirikan wilayat Sinai, di Afghanistan ISIS juga telah mengumumkan berdirinya wilayat Khurasan. Nama Khurasan untuk mendeskripsikan sebuah kawasan kuno yang mencakup Pakistan, Afghanistan, dan sebagian Iran.

Adanya wilayat Khurasan, kata Nicholson, telah menarik banyak orang Pakistan atau etnis besar Pashtun, khususnya mantan anggota Taliban Pakistan yang tidak puas. Nicholson menambahkan, orang Uzbek dari Gerakan Islam Uzbekistan (IMU) juga telah bergabung dengan ISIS wilayat Khurasan.

Sementara itu, pada 26 Oktober atau 9 hari sejak operasi Mosul digelar, ada kabar buruk dari Afrika. Di benua ini militan ISIS telah berhasil mengambil alih kota pelabuhan Qandala di wilayah semi otonom Punthland, Somalia.

Qandala adalah kota pertama yang direbut ISIS sejak kelompok militan tersebut muncul pada tahun lalu di Somalia. Di kota ini ada kastil kuno berwarna putih di tepi pantai; anggota ISIS mengibarkan bendera hitam untuk menandai kekuasaannya.

Di Irak dan Suriah, ISIS mungkin terdesak, dan mungkin saja saja akan kalah. Namun menggeliatnya ISIS di beberapa negara adalah bukti bahwa ideologi ekstremis ISIS mampu berkembang, meskipun pusatnya di Irak dan Suriah diramal menunggu ajal.

Selama ini bisa dikatakan, rata-rata tantangan mengalahkan ISIS adalah fakta di lapangan musuh ISIS bermusuhan satu sama lain. Dan dunia internasional juga cenderung meremehkan kemampuan ISIS dalam mengekspor ideologinya ke berbagai negara konflik.

Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.