Selasa, Maret 2, 2021

Halimah, Sang Pendobrak Sejarah Singapura

Di Balik Kemenangan Hassan Rouhani

Berakhir sudah Pemilu Iran yang berlangsung pada Jumat 19 Mei 2017. Sang Presiden petahana Hassan Rouhani terpilih untuk kedua kalinya menjadi presiden Iran. Rouhani...

ISIS, Ideologi Hari Kiamat, dan Kultus Al-Baghdadi

Mesin propaganda kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) rupanya masih bekerja dengan baik. Salah satunya adalah terbitnya Dabiq edisi terbaru, sebuah majalah...

Kaleidoskop 2017: Bara Timur Tengah yang Tetap Menyala

Peristiwa-peristiwa di dunia Arab atau Timur Tengah secara umum sepanjang 2017 mencerminkan pelik dan kompleksnya persoalan di kawasan itu, tingginya potensi konflik, dan lemahnya...

Kemungkinan Indonesia Bernasib Seperti Suriah (Bag. 1)

Hari-hari ini, di era lubernya informasi dan meriahnya media sosial, kita dapat melihat semua orang bisa serta-merta berpendapat dan selanjutnya ramai-ramai menganalisis hal sumir...
Avatar
Moddie Wicaksono
Pegiat GASPOLIAN (Gerakan Sadar Politik Internasional) Yogyakarta.

Presiden Singapura Halimah Yacob.

Singapura mendobrak sejarah. Untuk pertama kalinya sepanjang rentetan pemilihan presiden, ada perempuan yang berhasil menjadi presiden. Bukan itu saja, tercatat pula baru saat ini ada presiden bernuansa Muslim. Orang yang berkesempatan duduk dan menjabat presiden Singapura adalah Halimah Yacob.

Anak bungsu dari lima bersaudara ini berhasil menyisihkan dua kandidat yang lain: Mohammad Salleh Marican dan Farid Khan. Ia menjadi satu-satunya kandidat yang berhak maju untuk pemilihan presiden. Namun, karena hanya satu kandidat, hari ini, Kamis (14 September 2017), secara langsung ia ditetapkan sebagai Presiden Singapura yang kedelapan.

Halimah Yacob bukan orang baru dalam dunia politik. Beliau sudah banyak makan asam garam dan malang melintang sebelum terjun ke dunia pemerintahan. Sejak tahun 1978, ia tergabung pada NTUC, sebuah gerakan buruh yang cukup populer di Singapura. Ia menjabat mulai dari petugas hukum, sekretariat pembangunan perempuan, hingga wakil sekretaris jenderal.

Kemudian pada tahun 2011, ia ditunjuk sebagai Menteri Negara pada Kementerian Pemuda dan , Olahraga. Berlanjut ke tahun 2013, ia ditunjuk sebagai Ketua Parlemen Singapura. Tak heran 40 tahun telah ia gunakan kemampuan dan pengabdiannya untuk pembangunan dan kemajuan Singapura.

Tantangan Halimah Yacob

“Although this is a reserved election, I am not a reserved president”

Kalimat di atas terlontar setelah dirinya ditetapkan sebagai presiden Singapura. Banyak yang menganggap keberhasilan Halimah adalah sebuah keberuntungan yang cukup mulus. Kedua kandidat sebelumnya terkendala oleh peraturan yang mungkin dirasa sebagian pihak terlalu berat. Peraturan tersebut menyatakan bahwa, selain terlihat karakter, integritas, dan reputasi yang cukup baik, maka minimal selama tiga tahun pernah memegang jabatan penting untuk sektor publik.

Nah, poin pentingnya adalah pernah menjabat sebagai CEO dengan total aset minimum SG$500 juta (dalam sektor swasta). Kemungkinan poin terakhir tersebut yang menggagalkan kedua kandidat lainnya untuk bisa maju ke pemilihan presiden selanjutnya yang sejatinya dilangsungkan pada 23 September 2017.

Ada banyak dukungan yang mengalir lancar. Begitu pula dengan penolakan yang mengucur deras. Tagar #NotMyPresident sempat menjadi perbincangan publik. Anggapan yang beredar di sebagian kalangan masyarakat Singapura adalah peraturan yang ada digunakan oleh pemerintah untuk mengatur pemilihan dan mencegah para oposan mencalonkan diri.

Anggapan tersebut bisa berarti dua hal. Pertama, anggapan tersebut kuat karena mengacu kandidat lain yang tak bisa memenuhi persyaratan memegang perusahaan dengan aset SG$500 juta. Dengan kata lain, pemerintah berusaha mengeliminasi para oposan secara halus.

Kedua, anggapan tersebut menjadi lemah karena jabatan presiden bergiliran secara etnis. Bahkan pada akhir 2016, PM Lee Hsien Loong menyebutkan bahwa memang pemilihan presiden selanjutnya hanya diperuntukkan bagi etnis Melayu. Hal itu mengacu pada konstitusi yang telah diubah pada 30 November 1991 bahwa etnis Melayu belum pernah ada yang menjabat sebagai presiden Singapura.

Secara garis besar, etnis Melayu memang tergolong minoritas. Mereka hanya berjumlah 13% dari total penduduk Singapura yang mencapai 5,8 juta. Namun, apakah terpilihnya Halimah yang notabene etnis Melayu melahirkan tantangan kuat dari publik? Sepertinya tidak. Ini terkait sejarah bahwa Singapura adalah negara multietnis. Bahkan sebelum Halimah ada Yusof Ishak yang pernah memegang jabatan presiden Singapura pada tahun (1965-1970).

Prospek Halimah bagi Singapura

Terpilihnya Halimah sebagai presiden tentu akan menjadi tanda tanya besar. Mampukah ia membawa Singapura lebih baik? Dengan slogan kampanye “Do Good Do Together”, ia berupaya semaksimal mungkin membawa Singapura lebih spesial. Namun, masalahnya adalah kewenangan presiden yang masih di bawah dari Perdana Menteri.

Sistem pemerintahan Singapura hampir mirip Inggris. Jabatan presiden hanya untuk jabatan formal, sedangkan jabatan untuk kuasa pemerintahan tetap berada di bawah kendali Perdana Menteri. Namun, memang ada perubahan semenjak hadirnya konstitusi baru Singapura di tahun 1991. Konstitusi tersebut menyatakan bahwa presiden memiliki hak veto pada anggaran negara, mengangkat pejabat negara, dan mengawasi jalannya pemerintahan.

Akan tetapi, seluruh kendali pemerintahan tetap pada Perdana Menteri. Bahkan untuk membuat dan menerapkan suatu kebijakan negara pun diatur oleh kabinet yang berkuasa. Uniknya pula kabinet berkuasa dipimpin oleh Perdana Menteri sehingga mereka yang bertanggung jawab penuh pada parlemen secara kolektif.

Bagi sebagian pengamat politik, seperti telah dibeberkan tadi, kemunculan Halimah adalah sebuah usaha yang biasa saja. Tak ada yang spesial. Kemunculannya hanya menunggu waktu karena notabene pergantian presiden berdasarkan etnis. Kebetulan pula etnis Melayu belum pernah menjadi presiden sejak tahun 1991.

Di beberapa negara mayoritas Muslim seperti Indonesia dan Malaysia, kemunculan Halimah seakan sebagai oase untuk menunjukkan bahwa Muslim, utamanya perempuan, mampu dan berhak untuk menjadi pemimpin negara. Ini didukung pula dengan kenyataan bahwa Muslim menjadi minoritas di Singapura.

Jika Indonesia mengelu-elukan Halimah sebagai presiden Muslim dan perempuan pertama yang patut dibanggakan, maukah Indonesia meniru sistem pemilihan Singapura yang memperbolehkan pergiliran etnis yang mana minoritas berhak memimpin setiap 6 tahun sekali? Mungkin belum saatnya. Karena sebagian masyarakat kita lebih suka mengelu-elukan minoritas di negara lain daripada membangkitkan minoritas di negeri sendiri.

Baca juga:

Belajar dari Lee Kuan Yew

Jakarta Tak Butuh Lee Kuan Yew

Avatar
Moddie Wicaksono
Pegiat GASPOLIAN (Gerakan Sadar Politik Internasional) Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.