in

Ekspansi ISIS di Mesir


Para pelayat mengangkat peti jenazah ke gereja Koptik yang diledakkan pada hari Minggu di Tanta, Mesir, Minggu (9/4). ANTARA FOTO/REUTERS/Mohamed Abd El Ghany

Pemberitaan dramatis tentang adanya aktivitas militan Da’ish atau Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Mesir membuat banyak orang bingung. Puncaknya ketika kelompok ini mengaku bertanggung jawab atas serangan bom di gereja-gereja di dua kota Mesir pada April lalu (9/4).

Tak lama setelah itu, serangan kembali terjadi di pos pemeriksaan polisi sekitar 800 meter dari biara St. Catherine di Sinai Selatan, seakan menegaskan keberadaan ISIS di Mesir semakin terbukti dan tak tertutupi.

Para analis Barat menilai, meningkatnya teror ISIS di Mesir karena kelompok ini terus-menerus kehilangan teritorialnya di Irak dan Suriah dan kemungkinan mereka diduga mencari basis yang lebih kuat, yakni di Mesir.

Pandangan tersebut ada benarnya, namun tidak sesederhana itu. Pertanyaannya, kenapa di Mesir? Bukan Yaman, Afghanistan atau negeri konflik yang lain?.

Membahas aktivitas teror ISIS di Mesir, kita harus memulainya dari sebuah kawasan kuno di Mesir bernama Sinai, karena di wilayah inilah ISIS bermula dan terornya merajalela.
Kawasan ini merupakan hamparan luas yang sebagian besar gersang yang berisi gurun pasir.

Ini adalah satu-satunya wilayah yang dianggap sebagai bagian dari benua Asia di Mesir. Pengaruh strategisnya berakar pada fakta sejarah Sinai yang merupakan jalur berharga untuk perdagangan darat antara Afrika dan Asia.

Daerah tandus dan kurangnya sumber daya alam telah membuatnya relatif tidak berpenghuni dan terbelakang, menjadikannya tempat yang ideal untuk menyelundupkan senjata. Memang, secara geografis, Sinai di sisi timur berbatasan darat dengan Israel dan Jalur Gaza.

Baca Juga :   Bom Istanbul: Turki di Tengah Pusaran ISIS

Menurut beberapa literatur, Sinai merupakan bagian tak terpisahkan dari Syam (Suriah Raya). Maka, tak heran jika Sinai memiliki daya tarik tersendiri bagi kaum jihadis. Sinai pada masa lampau juga dikenal sebagai “benteng alami” Mesir yang melindungi dari invasi bangsa asing.


Di samping itu, tidak stabilnya politik Mesir membuat kontrol pemerintah lemah dan menyebabkan Sinai seakan menjadi wilayah tanpa hukum.

Seperti kita tahu, Mesir adalah negeri yang tak pernah lepas dari “kutukan” kudeta, bahkan sejak negara ini merdeka. Dilengserkannya Husni Mubarak melalui Arab Springs (2011) kemudian kudeta terhadap Muhammad Mursi oleh Militer (2013) telah memperburuk kawasan Sinai sebagai wilayah yang kosong dari penjagaan keamanan (security vacuum).

Meskipun Sinai adalah bagian dari Mesir, wilayah ini memiliki karakter yang berbeda. Mayoritas penduduk Sina adalah suku-suku Arab Badui yang yang secara kultur mereka lebih dekat dengan tradisi moyang mereka (jazirah Arab) daripada budaya Mesir. Dalam soal bahasa, mereka memiliki dialek tersendiri yang khas, lebih mirip dengan gaya bahasa orang Arab Saudi dan Yordania serta Syam.

Dengan beragamnya suku yang ada, yang masing-masing memiliki batas-batas teritorial kesukuan, kawasan Sinai mirip kawasan suku (tribal area) di perbatasan Pakistan-Afghanistan. Ironisnya, suku-suku itu sejak lama merasa diasingkan pemerintah di Kairo. Kondisi ini kerapkali menjadi penyulut gesekan-gesekan antara rakyat dengan elemen pemerintah di Sinai.

Baca Juga :   Teror London dan Ancaman Puing-puing ISIS

Pemerintah Kairo membagi wilayah Sinai menjadi dua muhafazhah (provinsi) dengan luas hampir berimbang. Provinsi Sinai Utara dan Sinai Selatan. Situasi Sinai Selatan relatif kondusif, masyarakatnya mayoritas menggantungkan hidup dari pariwisata. Kondisi berbeda di Sinai Utara yang telah lama dikenal sebagai zona konflik antara militer Mesir dan militan bernama Ansar Bayt al-Maqdis.

Banyak jihadis negara Mesir yang dipenjara selama pemerintahan Presiden Husni Mubarak dibebaskan setelah revolusi tahun 2011. Jihadis ini kemudian memainkan peran penting kelompok seperti Ansar Bayt al-Maqdis, yang pada akhir 2013 telah menjadi kelompok teroris paling aktif dan berdarah di Mesir

Sekitar akhir tahun 2014 kelompok ini melakukan ikrar kesetiaan secara terbuka kepada pemimpin ISIS di Suriah. ISIS meresponnya pada 2015 dengan menetapkan kawasan konflik tersebut menjadi bagian dari wilayat (provinsi) kekhalifahan ISIS, sementara Ansar Bayt al-Maqdis berubah nama menjadi ISIS provinsi Sinai.

Perubahan nama rupanya juga membawa dampak yang sangat terasa. Kelompok ini secara bertahap diketahui mengadopsi taktik dan metode operasional yang digunakan oleh ISIS di Irak dan Suriah. Tak hanya itu, ISIS di Sinai terindikasi kuat telah memperoleh bantuan teknis, rekrutmen, logistik atau pendanaan dari ISIS pusat secara signifikan.

Lebih jauh, investigasi yang dirilisi Reuters bulan ini melaporkan bahwa ISIS di Sinai Utara telah terbukti memaksakan hukum syariat secara ketat terhadap penduduk setempat seperti yang mereka lakukan di Irak dan Suriah.

Baca Juga :   Suu Kyi, Kejahatan atas Rohingya, dan Rekomendasi Kofi Annan

Mokhtar Awad, peneliti Program Ekstrimisme di George Washington University, menilai tampaknya ISIS telah menginvestasikan lebih banyak waktu dan sumber daya di Sinai secara khusus. Pandangan ini cukup masuk akal, sebab setelah wilayah mereka di Libya jatuh, Sinai adalah satu-satunya aset yang masih dimiliki ISIS di kawasan Afrika Utara.

ISIS provinsi Sinai yang sebelumnya memusatkan pemberontakan terbatas di Sinai Utara, kini mulai mengusik Selatan yang selama ini relatif kondusif. Bahkan melancarkan serangan terorisme perkotaan seperti bom-bom spektakuler dengan jatuhnya korban massal di luar Sinai.

Pendek kata, kemampuan strategi pemerintah Mesir mengatasi terorisme yang biangnya ada di Sinai Utara kembali dipertanyakan. Jangan sampai citra Mesir sebagai destinasi turis berubah menjadi destinasi teroris di mata dunia.


Written by Iqbal Kholidi

Iqbal Kholidi

Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR