Kamis, Januari 28, 2021

Ekspansi ISIS di Mesir

Jalan Panjang Catalonia Merdeka

  Pekik merdeka membahana di Barcelona pada Jumat (27/10/2017). Ratusan hingga ribuan manusia memadati lapangan yang menjadi saksi penting bagi sebuah sejarah. Mereka menunggu keputusan...

Setelah Emmanuel Macron Menang Telak

Setelah melalui pergulatan panjang sejak 24 April hingga 8 Mei 2017, akhirnya pada putaran kedua pemilu, Prancis mendapatkan pemimpin baru. Ia adalah Emmanuel Macron,...

Iran: Antara Reformasi dan Revolusi

Tahun 2017 belum saja berakhir namun dunia internasional tersentak. Iran, salah satu negara di wilayah Timur Tengah yang dianggap memiliki kekuatan, dihadapkan dengan gelombang...

Merespons Hegemoni Cina

Seiring terdesentralisasinya lanskap unipolar dunia karena kian meredupnya hegemoni Amerika Serikat beberapa tahun terakhir, tak dapat dipungkiri bahwa posisi Cina kian menguat sebagai hegemoni...
Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah

Para pelayat mengangkat peti jenazah ke gereja Koptik yang diledakkan pada hari Minggu di Tanta, Mesir, Minggu (9/4). ANTARA FOTO/REUTERS/Mohamed Abd El Ghany

Pemberitaan dramatis tentang adanya aktivitas militan Da’ish atau Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Mesir membuat banyak orang bingung. Puncaknya ketika kelompok ini mengaku bertanggung jawab atas serangan bom di gereja-gereja di dua kota Mesir pada April lalu (9/4).

Tak lama setelah itu, serangan kembali terjadi di pos pemeriksaan polisi sekitar 800 meter dari biara St. Catherine di Sinai Selatan, seakan menegaskan keberadaan ISIS di Mesir semakin terbukti dan tak tertutupi.

Para analis Barat menilai, meningkatnya teror ISIS di Mesir karena kelompok ini terus-menerus kehilangan teritorialnya di Irak dan Suriah dan kemungkinan mereka diduga mencari basis yang lebih kuat, yakni di Mesir.

Pandangan tersebut ada benarnya, namun tidak sesederhana itu. Pertanyaannya, kenapa di Mesir? Bukan Yaman, Afghanistan atau negeri konflik yang lain?.

Membahas aktivitas teror ISIS di Mesir, kita harus memulainya dari sebuah kawasan kuno di Mesir bernama Sinai, karena di wilayah inilah ISIS bermula dan terornya merajalela.
Kawasan ini merupakan hamparan luas yang sebagian besar gersang yang berisi gurun pasir.

Ini adalah satu-satunya wilayah yang dianggap sebagai bagian dari benua Asia di Mesir. Pengaruh strategisnya berakar pada fakta sejarah Sinai yang merupakan jalur berharga untuk perdagangan darat antara Afrika dan Asia.

Daerah tandus dan kurangnya sumber daya alam telah membuatnya relatif tidak berpenghuni dan terbelakang, menjadikannya tempat yang ideal untuk menyelundupkan senjata. Memang, secara geografis, Sinai di sisi timur berbatasan darat dengan Israel dan Jalur Gaza.

Menurut beberapa literatur, Sinai merupakan bagian tak terpisahkan dari Syam (Suriah Raya). Maka, tak heran jika Sinai memiliki daya tarik tersendiri bagi kaum jihadis. Sinai pada masa lampau juga dikenal sebagai “benteng alami” Mesir yang melindungi dari invasi bangsa asing.

Di samping itu, tidak stabilnya politik Mesir membuat kontrol pemerintah lemah dan menyebabkan Sinai seakan menjadi wilayah tanpa hukum.

Seperti kita tahu, Mesir adalah negeri yang tak pernah lepas dari “kutukan” kudeta, bahkan sejak negara ini merdeka. Dilengserkannya Husni Mubarak melalui Arab Springs (2011) kemudian kudeta terhadap Muhammad Mursi oleh Militer (2013) telah memperburuk kawasan Sinai sebagai wilayah yang kosong dari penjagaan keamanan (security vacuum).

Meskipun Sinai adalah bagian dari Mesir, wilayah ini memiliki karakter yang berbeda. Mayoritas penduduk Sina adalah suku-suku Arab Badui yang yang secara kultur mereka lebih dekat dengan tradisi moyang mereka (jazirah Arab) daripada budaya Mesir. Dalam soal bahasa, mereka memiliki dialek tersendiri yang khas, lebih mirip dengan gaya bahasa orang Arab Saudi dan Yordania serta Syam.

Dengan beragamnya suku yang ada, yang masing-masing memiliki batas-batas teritorial kesukuan, kawasan Sinai mirip kawasan suku (tribal area) di perbatasan Pakistan-Afghanistan. Ironisnya, suku-suku itu sejak lama merasa diasingkan pemerintah di Kairo. Kondisi ini kerapkali menjadi penyulut gesekan-gesekan antara rakyat dengan elemen pemerintah di Sinai.

Pemerintah Kairo membagi wilayah Sinai menjadi dua muhafazhah (provinsi) dengan luas hampir berimbang. Provinsi Sinai Utara dan Sinai Selatan. Situasi Sinai Selatan relatif kondusif, masyarakatnya mayoritas menggantungkan hidup dari pariwisata. Kondisi berbeda di Sinai Utara yang telah lama dikenal sebagai zona konflik antara militer Mesir dan militan bernama Ansar Bayt al-Maqdis.

Banyak jihadis negara Mesir yang dipenjara selama pemerintahan Presiden Husni Mubarak dibebaskan setelah revolusi tahun 2011. Jihadis ini kemudian memainkan peran penting kelompok seperti Ansar Bayt al-Maqdis, yang pada akhir 2013 telah menjadi kelompok teroris paling aktif dan berdarah di Mesir

Sekitar akhir tahun 2014 kelompok ini melakukan ikrar kesetiaan secara terbuka kepada pemimpin ISIS di Suriah. ISIS meresponnya pada 2015 dengan menetapkan kawasan konflik tersebut menjadi bagian dari wilayat (provinsi) kekhalifahan ISIS, sementara Ansar Bayt al-Maqdis berubah nama menjadi ISIS provinsi Sinai.

Perubahan nama rupanya juga membawa dampak yang sangat terasa. Kelompok ini secara bertahap diketahui mengadopsi taktik dan metode operasional yang digunakan oleh ISIS di Irak dan Suriah. Tak hanya itu, ISIS di Sinai terindikasi kuat telah memperoleh bantuan teknis, rekrutmen, logistik atau pendanaan dari ISIS pusat secara signifikan.

Lebih jauh, investigasi yang dirilisi Reuters bulan ini melaporkan bahwa ISIS di Sinai Utara telah terbukti memaksakan hukum syariat secara ketat terhadap penduduk setempat seperti yang mereka lakukan di Irak dan Suriah.

Mokhtar Awad, peneliti Program Ekstrimisme di George Washington University, menilai tampaknya ISIS telah menginvestasikan lebih banyak waktu dan sumber daya di Sinai secara khusus. Pandangan ini cukup masuk akal, sebab setelah wilayah mereka di Libya jatuh, Sinai adalah satu-satunya aset yang masih dimiliki ISIS di kawasan Afrika Utara.

ISIS provinsi Sinai yang sebelumnya memusatkan pemberontakan terbatas di Sinai Utara, kini mulai mengusik Selatan yang selama ini relatif kondusif. Bahkan melancarkan serangan terorisme perkotaan seperti bom-bom spektakuler dengan jatuhnya korban massal di luar Sinai.

Pendek kata, kemampuan strategi pemerintah Mesir mengatasi terorisme yang biangnya ada di Sinai Utara kembali dipertanyakan. Jangan sampai citra Mesir sebagai destinasi turis berubah menjadi destinasi teroris di mata dunia.

Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ayat-Ayat Ekosistem dan Dakwah Politik Lingkungan

Postingan saya tentang ayat-ayat ekosistem di status akun Facebook perlu saya jelaskan. Walaupun sebagian besar pemberi komen di status tersebut bersuara mendukung, satu atau...

Mencermati Dampak Kebijakan Kendaraan Listrik di AS

Amerika Serikat (AS) baru saja menjalani transisi pemerintahan dari Presiden Donald Trump dari partai Republik kepada Joseph (Joe) Biden yang didukung partai Demokrat. Saat...

Mengapa Pancasila?

Oleh: Alif  Raya Zulkarnaen SMAN 70 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Rumusan-Rumusan Staatsidee 29 Mei-1 Juni 1945 “Ketuhanan yang Maha...

Kritik Jamaluddin al-Afghani Atas Khilafah Islamiyah

Sejak abad ke-9 M hingga memasuki abad ke-14 M menjadi masa keemasan Islam dalam panggung peradaban dan ilmu pengetahuan. Ternyata uforia ilmu pengetahuan terhenti...

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

ARTIKEL TERPOPULER

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Ada Apa Di Balik Pembangunan Jalan Tol Kita?

Dua catatan tentang jalan tol ini saya tulis lebaran tahun sebelumnya, saat terjadi tragedi di pintu keluar tol Brebes Timur (Brebes Exit/Brexit) yang menewaskan...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.