Jumat, Februari 26, 2021

Egoisme Erdogan dan Ide Dialog Lintas Etnis di Arab Timur

Tragedi 11 September Setelah 15 Tahun

Tak ada peristiwa yang memilukan dalam sejarah modern Amerika Serikat daripada serangan teroris yang menghancurkan menara kembar Pentagon dan World Trade Center (WTC) pada...

Mengapa Indonesia dan Dunia Islam Membutuhkan Saudi?

Kunjungan Raja Salman ke Indonesia punya arti penting dalam memperkuat hubungan Indonesia-Saudi. Menilik durasi kunjungan, jumlah rombongan, maupun lamanya jarak waktu antara kunjungan kali...

Menakar Skenario Pasca Referendum Kurdistan

Pemerintah Regional Kurdistan Irak akhirnya benar-benar melaksanakan referendum pemisahan diri dari Irak. Kendati tantangan dan ancaman sangat besar, mereka bersikeras melaksanakan referendum yang jadi...

Mengantisipasi Runtuhnya Kekhilafahan ISIS

Operasi akbar menghapus militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dari kota Mosul telah bergulir sejak 17 Oktober 2016.  Hasilnya, kota Mosul bagian timur...
Avatar
Ibnu Burdah
Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Perkembangan baru di Efrin, Suriah bagian utara, menunjukkan besarnya potensi dan kompleksitas konflik di Arab Timur. Di tengah kepercayaan diri Turki dalam operasi Ghusnu al-Zaytun di Efrin yang digencarkan sejak sebulan lalu, tiba-tiba tersiar kabar tercapainya kesepakatan antara Kurdi Suriah dan rezim Assad. Agresi militer Turki dengan tujuan menghancurkan anasir-anasir apa yang mereka sebut teroris Partai Buruh Kurdi (PKK) di Suriah Utara menghadapi ujian baru yang tak sederhana.

Padahal, Turki sejak awal sangat percaya diri dengan operasi di lintas perbatasannya itu. Sebab, sebelum operasi itu digencarkan, Turki telah melakukan diplomasi tingkat tinggi sangat intensif ke Iran, Rusia, bahkan juga memberitahu pimpinan Suriah untuk memuluskan operasi militer itu. Turki sepertinya sangat yakin bahwa tiga penguasa de facto Suriah (Rusia, Iran, dan rezim Suriah) tak akan “mengganggu” operasinya di Efrin.

Faktanya, pasukan al-Quwwat al-Sya’biyyah, milisi pro-Assad, saat ini telah berderap menuju kota itu. Kemungkinan besar tentara reguler Suriah akan menyusul. Bagaimanapun, kendati sudah letih dengan perang, rezim Suriah tetap tidak rela wilayahnya dikuasai begitu saja oleh militer negara tetangga. Ini menyangkut kedaulatan dan kehormatan bagi negara yang dicabik-cabik perang itu, kendati Turki mengklaim memiliki hak masuk ke 30 kilometer wilayah Suriah berdasarkan kesepakatan antara dua negara.

Di samping itu, rezim Suriah sepertinya sedang memanfaatkan operasi militer Turki itu untuk menguasai kembali wilayah yang selama ini secara de facto dikuasai oleh pasukan Kurdi Suriah. Karena itu, rezim Suriah sengaja membiarkan aksi ofensif lintas perbatasan itu beberapa waktu. Terdesaknya pasukan Kurdi membuat mereka terpaksa meminta bantuan rezim Assad.

Hasilnya luar biasa. Pemandangan yang tak biasa terjadi. Kehadiran milisi pro-Assad dielu-elukan warga kota itu. Tanpa adanya operasi militer Turki, kehadiran milisi pro-rezim Assad di wilayah itu dipastikan akan direspons dengan sangat keras, baik oleh pasukan Penjaga Kurdi maupun masyarakatnya.

Reaksi Turki di lapangan terhadap perkembangan baru ini belum begitu jelas. Namun, seperti biasa, di level politik, Erdogan bergaya galak dan tanpa kompromi. Ia menyampaikan pernyataan sangat tegas bahwa Turki akan menjadikan milisi itu, bahkan tentara Assad, sebagai target jika mereka membela pihak Kurdi Suriah (PYD, Partai Uni Demokratik) atau menghalangi misi Turki di wilayah itu.

Kita sudah terbiasa dengan omongan besar Erdogan. Ia selalu menetapkan standar sangat tinggi bagi kepentingan Turki di kawasan. Tapi, praktiknya sering jauh dari kenyataan. Coba kita pikirkan, Turki dalam operasi “terbatas” Ghusnu al-Zaitun ini dengan percaya dirinya hendak menghancurkan PKK. Padahal kelompok ini adalah kelompok yang usianya lebih dari 40 tahun. Mereka punya pengalaman gerilya dan punya pengaruh besar terhadap etnis-etnis Kurdi di Irak luar Suriah. Dan diakui atau tidak, pendukung PKK juga kuat di wilayah Turki sendiri. Lebih sulit lagi, operasi itu dilakukan di luar perbatasan negaranya.

Kendati tegas hendak melabrak siapa saja yang menghalangi operasi militer ini, pihak Turki belum melakukan konfrontasi terhadap milisi-milisi yang mulai berdatangan ini. Milisi-milisi ini sekali lagi memperoleh sambutan gegap gempita dari rakyat Kurdi di Efrin Suriah, sebab mereka dianggap sebagai penyelamat. Pekik Wihdah Suriah (Satu Suriah) mewarnai penyambutan massif warga terhadap kedatangan milisi-milisi itu.

Dengan fakta semacam itu, apakah Erdogan akan memaksakan egonya untuk melanjutkan perang di Efrin? Risikonya tentu tidak kecil sebab mereka kemungkinan besar akan berhadapan dengan kombinasi milisi-milisi itu, kekuatan Penjaga Kurdistan, rakyat Kurdistan Suriah di Efrin, dan tentara reguler Suriah yang kemungkinan juga akan menyusul.

Erdogan tentu tahu akan risiko militer, politik, dan kemanusiaan apa yang mesti dibayar jika Turki bersikeras memaksakan diri melaksanakan ucapannya itu. Turki dengan kemampuan militernya mungkin bisa memperoleh kemenangan tetapi pengorbanan yang harus diberikan dan korban kemanusiaan dan kehancuran kota yang selama ini relatif aman itu menjadi taruhan besar.

Tapi, Erdogan tetaplah Erdogan. Ia berteriak keras, menantang-nantang siapa saja yang berani menghalangi misi Turki di wilayah itu, termasuk penguasa Suriah tanpa berpikir panjang akan akibat-akibatnya jika perkataan itu benar-benar dilaksanakan.

Dialog Antaretnis Besar

Egoisme Erdogan dipastikan tak akan menyelesaikan persoalan. Jika ia melaksanakan apa yang ia katakan, maka situasi di kawasan itu dipastikan kembali memburuk. Bukan tidak mungkin wilayah Turki bagian selatan akan menjadi perluasan bagi bara konflik di Suriah bagian utara yang mulai melebar ini.

Salah satu gagasan penting yang belum banyak diwacanakan sebagai solusi konflik di kawasan ini (Arab Timur) adalah dialog etnis-etnis besar di kawasan. Pangeran Hasan bin Thalal dari Yordania, salah satu tokoh yang mendorong gagasan itu, menyebut mendesaknya dialog “bangsa-bangsa” di wilayah Arab Timur. Mencermati apa yang terjadi sekitar lima tahun terakhir, bahkan peristiwa-peristiwa sebelumnya di wilayah itu, Pangeran Hasan menyuarakan mendesaknya dialog empat etnis besar yang saling bersinggungan di wilayah itu: Turki, Arab, Iran, dan Kurdi.

Bagaimanapun, Kurdi telah menjadi unsur tersendiri di kawasan itu. Pembasmian terhadap aspirasi mereka melalui kekerasan hanya akan memperburuk situasi. Bukan hanya di Suriah tapi juga di Iran, Irak, dan Turki sendiri. Bagaimanapun, etnis Kurdi yang di Irak maupun Suriah memiliki jasa besar menyelamatkan kawasan Arab Timur dari cengkeraman teroris, baik itu ISIS, Tandzim al-Qaeda, maupun Jabhah al-Nusrah.

Kolom terkait:

Hasrat Kurdistan di Tengah Agresi Militer Turki dan Taktik Baru AS

Turki, Minyak, dan Referendum Kurdistan

Bara Menyala di Baghdad dan Kurdistan

Memerangi Terorisme, Belajar dari Turki

Erdogan dan Operasi Militer Turki di Suriah

Avatar
Ibnu Burdah
Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.