in

Efek Jacinda Ardern dan Politik Anak Muda di Negeri The Hobbit


Jacinda Ardern di tengah anak-anak muda [sumber foto: viva.co.nz]

Tampilnya Jacinda Ardern sebagai pemimpin baru Partai Buruh benar-benar mampu menyuntikkan gairah baru bagi kaum progresif di Selandia Baru, terutama di kalangan anak-anak mudanya. Ia mampu mengubah wajah kampanye di kampus-kampus menjadi seperti konser musik Rock N’Roll.

Padahal, saat masa kampanye pemilihan umum Selandia Baru mulai bergulir April tahun ini, Partai Buruh masih belum mampu menyingkap mendung tebal yang terus menyelimuti perjalanan politik mereka selama sembilan tahun terakhir. Para pendukung setia mereka pun telah bersiap untuk kembali menjalani musim paceklik politik berkepanjangan untuk tiga tahun berikutnya.

Sementara itu, pesaing mereka, Partai Nasional, sudah sangat percaya diri mampu mencatat rekor gemilang: mempertahankan kekuasaan untuk keempat kalinya secara berturut-turut.

Jacinda Ardern terpilih sebagai pemimpin baru Partai Buruh pada 1 Agustus lalu, atau sekitar 7 minggu menjelang hari H pemilu. Ia menggantikan Andrew Little (52 tahun), pemimpin sebelumnya yang mengundurkan diri setelah hasil survei di penghujung Juli menunjukkan tingkat keterpilihan Partai Buruh yang cuma 24%, terendah selama 15 tahun terakhir.

Jacinda, demikian ia akrab dipanggil, adalah sosok muda yang paling cemerlang di gelanggang politik negeri the Hobbit saat ini. Berasal dari keluarga petani di salah satu daerah pinggiran Waikato, perempuan 37 tahun berparas cantik itu berhasil menembus ketatnya belantara politik untuk mencapai posisi tertinggi di partainya dalam rentang waktu 9 tahun. Dan sekarang ini, kursi Perdana Menteri tinggal tiga jengkal dari tempat ia berdiri.

Efek Jacinda dan Politik Personal

Sebenarnya nyaris tak ada yang keliru dari langkah-langkah politik Partai Buruh sebelum adanya penyerahan tongkat kepemimpinan ke Jacinda. Dari segi substansi, mereka telah melakukan analisis dan merumuskan kebijakan dan anggaran secara serius. Bahkan mereka ikut melibatkan lembaga-lembaga kajian ekonomi dan kebijakan publik profesional dalam proses itu.

Baca Juga :   Berpolitik dengan Passion

Sebelum masa kampanye, mereka sudah menyiapkan mesiu tajam berupa buku manifesto kebijakan Partai Buruh dengan lima sasaran tembak utama: pemotongan jumlah imigran, penanggulangan krisis perumahan di kota-kota besar, kenaikan subsidi layanan kesehatan, penanggulangan krisis lingkungan, dan yang paling progresif, pembebasan biaya kuliah.

Dan untuk membiayai kebijakan progresifnya itu, Partai Buruh telah menyiapkan seperangkat kebijakan pajak baru, seperti pajak wisatawan, pajak penggunaan air untuk tujuan komersial, pajak penjualan properti, dan penghapusan kebijakan pemotongan pajak yang menjadi andalan pemerintahan konservatif Partai Nasional.

Para ekonom dan ahli kebijakan publik independen pun telah melakukan uji publik terhadap rencana kebijakan Partai Buruh. Hasilnya: target ambisius namun cukup solid dan bisa dilaksanakan.


Namun selama masa kampanye, publik seolah tak mau peduli dengan isi manfesto Partai Buruh itu. Berbagai tur kampanye yang digalang oleh Andrew Little, dkk. selalu terasa sepi, dingin, dan lesu. Di sisi lain, tingkat elektabilitas Partai Buruh terus merosot tajam.

Sisa waktu kampanye yang hanya tinggal 1,5 bulan dan tren elektoral yang terus mengkhawatirkan mendorong para tokoh kunci partai untuk mengambil langkah berani: mengangkat Jacinda sebagai pemimpin baru menggantikan Andrew Little.

Manuver politik di masa injury time itu akhirnya menjadi keputusan terbaik yang pernah diambil oleh Partai Buruh selama satu setengah dekade terakhir. Para pendukung Partai Buruh dan swing voters kembali bergairah.

Hanya dalam rentang waktu kurang dari 24 jam, survei yang dilakukan oleh Newshub-Reid Research menunjukkan elektabilitas Partai Buruh melonjak tajam, dari 24% menjadi 34%.
Survei-survei yang muncul belakangan kemudian pun mengkonfirmasi hal serupa: Jacinda Effect telah menciptakan gempa politik di Selandia Baru.

Baca Juga :   Islamofobia di Eropa dan Strategi Indonesia

Orang-orang kemudian mulai bertanya-tanya, sebenarnya faktor apa yang berada dibalik Jacinda Effect? Apakah ia membawa tawaran-tawaran kebijakan baru yang lebih diterima oleh publik? Well, not really.

Bila dilihat dari isi pesan yang disampaikan Jacinda dalam berbagai kesempatan wawancara dan pidato-pidato politiknya, sebenarnya ia hanya mengulang kembali apa yang sudah dikampanyekan oleh Andrew Little selama bertahun-tahun sebelumnya. Hampir semua isi pembicaraannya selalu mengacu kepada manifesto kebijakan Partai Buruh.

Sisi-sisi personal Jacinda-lah yang nampaknya memberi nyawa baru bagi Partai Buruh. Orang-orang selalu memberikan perhatian besar terhadap apa yang Jacinda bicarakan dan lakukan, termasuk sisi-sisi pribadi yang sebenarnya tidak terlalu relevan dengan substansi politik (misalnya tentang pacarnya, Clark Gayford, yang sekarang ini tinggal di Australia). Hal ini kemudian membuat sosoknya terus menjadi menu utama di berbagai media massa, hampir setiap hari.

Gaya komunikasi politik Jacinda pun sangat menarik untuk diamati. Tak seperti pendahulunya, Andrew Little, atau kompetitor-petahana, Bill English, Jacinda selalu berani secara tegas menunjukkan sikap pribadinya saat menanggapi berbagai isu yang terbilang kontroversial.
Sebagai contoh, di dalam salah satu wawancaranya, ia ditanya oleh salah seorang pembawa acara (laki-laki),

“Apakah Anda setuju seorang Perdana Menteri mengambil cuti hamil (maternity leave) saat sedang menjabat?”.

Lalu pembawa acara lainnya (juga laki-laki) menambahkan,
“Apakah menurut Anda pertanyaan ini pantas untuk ditanyakan?”

Kemudian dengan mimik muka yang berubah serius Jacinda menjawab dengan tegas,
“Saya tak masalah untuk ditanya seperti itu, karena saya terbuka tentang hal itu (rencana berkeluarga dan punya anak).

But, you (menunjuk si penanya), for other women, it is totally unacceptable in 2017 to say that women should have to answer that question in the work place”.

Video wawancara itu kemudian menjadi viral, dibagikan ribuan kali oleh netizen baik domestik maupun internasional, dan memicu perdebatan hangat di tengah masyarakat luas.

Baca Juga :   Jabhat Nusrah dan Evolusi Al-Qaidah di Suriah

Sebagian pengamat politik mencibir gaya politik personal yang dibawa oleh Jacinda dengan istilah politik tabloid. Perdana Menteri Bill English mengolok Jacinda Effect sebagai stardust (debu kosmik) yang akan cepat hilang.

Orang-orang yang tidak suka dengan gaya Jacinda berpandangan bahwa seorang pemimpin partai mestinya lebih menonjolkan sikap partai dan fokus menyampaikan kebijakan-kebijakan partai, alih-alih membangun sensasi dari kehidupan pribadi dan sikap-sikap personalnya.

Namun sepertinya publik Selandia Baru tak peduli dengan cibiran itu. Bagi mereka, sisi-sisi kehidupan pribadi dan pandangan personal seorang politikus jauh lebih menarik daripada platform partai politik yang seringkali terasa membosankan.

Lebih dari itu, gaya personal Jacinda juga dirasakan lebih otentik dan membuat publik mampu menangkap nilai-nilai moral yang betul-betul ia yakini. Dan di dalam politik modern, nilai-nilai moral adalah mata uang penting untuk membangun kepercayaan publik.

Dan pada akhirnya, Jacinda Effect benar-benar mampu menyelamatkan Partai Buruh dari nasib buruknya. Hasil perhitungan suara sementara Sabtu pekan lalu menunjukkan Partai Nasional masih menjadi partai terkuat dengan suara sebanyak 46%.

Namun dengan modal suara 35%, saat ini Partai Buruh memiliki kans untuk membentuk pemerintahan baru jika mereka mampu membangun koalisi dengan dua partai kecil lainnya dalam dua minggu ke depan. Sesuatu yang sulit untuk dibayangkan akan terjadi hanya dalam waktu 7 minggu.

Pertanyaannya, apakah politik anak muda Indonesia mampu bergerak sejauh itu?
“So comes snow after fire, and even dragons have their endings.”
― J.R.R. Tolkien, The Hobbit


Written by Moh. Abdul Hakim

Moh. Abdul Hakim

Kandidat Doktor Psikologi Politik, Massey University, New Zealand
Dosen Psikologi Sosial & Politik, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR