in

Dalih Catalonia Ingin Merdeka


Para mahasiswa berunjuk rasa sehari setelah referendum kemerdekaan di Barcelona, Spanyol, Senin (2/10). ANTARA FOTO/REUTERS/Eloy Alonso

 

Wilayah Eropa Selatan terguncang. Spanyol salah satu negara terbesar di wilayah tersebut, selain Italia dan Portugal, sedang berseteru dengan Catalonia (Catalunya). Penyebabnya, Catalonia melakukan referendum pada 1 Oktober 2017. Pemerintah Spanyol menganggapnya ilegal karena tidak sesuai konstitusi.

Jika dilihat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, tampaknya Catalonia mengikuti jejak Yunani, Inggris, dan Skotlandia yang terlebih dulu melakukan referendum. Namun, berbeda dari ketiganya, Catalonia dianggap lebih menyedot perhatian kalangan dunia internasional. Ini tidak lain karena Spanyol berusaha semaksimal mungkin untuk menggagalkan referendum Catalonia. Kemudian, muncul pertanyaan seberapa pentingnya Catalonia bagi Spanyol?

Catalonia merupakan salah satu wilayah di Spanyol yang didiami oleh 7,45 juta orang. Dengan jumlah tersebut, Catalonia mengisi 1/5 dari jumlah seluruh populasi Spanyol. Catalonia juga menjadi penggerak perekonomian Spanyol. 1/5 GDP Spanyol berasal dari Catalonia. Belum lagi tingkat ekspor dan investasi luar negeri Catalonia yang mencapai tingkatan 25% dari total keseluruhan.

Jika dilihat lebih seksama, kontribusi Catalonia lebih tinggi daripada Madrid secara ekonomi. Bahkan jika dibandingkan dengan Skotlandia dan Inggris, kontribusi Catalonia untuk Spanyol dua kali lipat lebih besar. Apalagi jika referendum benar-benar berhasil, Catalonia diprediksi akan menjadi negara nomor 34 dengan GDP tertinggi di dunia.

Ini yang menjadi landasan kenapa Spanyol enggan melepaskan Catalonia. Terlebih ketika krisis ekonomi yang melanda Spanyol, Catalonia menjadi harapan tunggal untuk membangkitkan gairah perekonomian Spanyol.

Baca Juga :   Orlando dan Dunia yang Penuh Stigma dan Stereotip

Akan tetapi, justru krisis ekonomi Spanyol di tahun 2010 yang mengakibatkan Catalonia berhasrat untuk melepaskan diri dari Spanyol. Di tahun tersebut bahkan hampir 25% masyarakat Catalonia setuju untuk menjadi negara merdeka. Puncaknya di awal tahun 2017, hampir 40% masyarakat Catalonia menyetujui berpisah dari Spanyol.

Hasil referendum Catalonia (01/10/2017) menyatakan bahwa dari 2,2 juta pemilih terdapat 90% masyarakat Catalonia setuju untuk merdeka. Keberhasilan ini tentu disyukuri hampir seluruh masyarakatnya, namun tidak bagi pemerintah Spanyol. Ada kecaman sekaligus tindakan represif yang dilakukan pemerintah. Tindakan tersebut mengakibatnya setidaknya 800 orang terluka.


Toh, tak ada kecaman yang berarti dari Uni Eropa tentang apa yang dilakukan pemerintah Spanyol. Tampaknya Uni Eropa enggan turut campur lebih jauh. Selain itu, sepertinya Uni Eropa juga menyadari bahwa kehilangan Catalonia berdampak besar bagi perekonomian Eropa. Mereka tidak mau mengulangi apa yang telah dilakukan oleh Inggris.

Ada identitas Catalonia yang merasa bukan bagian dari Spanyol. Bahasa, tradisi, hingga budaya yang telah terpatri di sana dan bangsa Catalonia ingin mengembalikannya seperti di tahun 1930-an. Namun, karena pengaruh kekuasaan Raja Franco selama hampir 40 tahun, Catalonia harus menyatu dengan Spanyol dan karenanya membuat bahasa dan Catalonia “hilang”.

Sejatinya pemerintah Spanyol telah memberikan daerah otonomi khusus bagi Catalonia, namun sejak tahun 2010 UU tersebut dicabut. Alasannya, tidak ada negara dalam negara. Hal tersebut yang memicu digelarnya jajak pendapat di tahun yang sama yang menyatakan lebih baik Catalonia merdeka.

Baca Juga :   Agar Spirit Pancasila Tumbuh dan Terawat

Mengacu pada catatan Ben Smith (2017), jika referendum berhasil, adanya kesempatan yang lebih bagi masyarakat Catalonia untuk lebih ikut masuk ke dalam parlemen Catalan. Proporsi sejumlah 30% diberikan oleh parlemen Catalan untuk kelompok non-partai politik. Selain itu, penggunaan kembali bahasa Catalan sebagai bahasa resmi merupakan daya tarik tersendiri bagi masyarakat Catalan.

Pemerintah Catalan tinggal menunggu waktu sangat singkat untuk mendeklarasikan keberhasilan referendum. Jika demikian yang terjadi, Uni Eropa akan limbung, meski tentu saja pemerintah Spanyol maupun Uni Eropa tak akan sudi mengaku pemerintah Catalan. Baginya, Catalan adalah bangsa Spanyol dan pernyataan tersebut tidak akan diganggu gugat.

Referendum selalu menarik perhatian di dunia internasional. Tidak jarang referendum yang berhasil memakan korban jiwa jumlahnya tidak sedikit. Bangsa Indonesia tentu tidak akan lupa sebuah peristiwa kelam antara tahun 1998-1999. Peristiwa yang menyebabkan Timor Leste (Timor Timur) lepas dari pangkuan ibu pertiwi.

Kemunculan partai ekstrem kanan ditengarai menjadi salah satu penyebab terjadinya referendum. Partai berhaluan kanan biasanya menyuarakan nilai-nilai identitas yang mulai kabur akibat derasnya pengaruh dari luar. Jiwa nasionalisme yang cenderung ke arah chauvinistik terus digelorakan demi pemurnian identitas asli asal bangsa.

Tampaknya Artur Mas sebagai pimpinan Catalonia sekaligus pimpinan partai Convergence and Union (CIU) belajar dari Geert Wilders, Theresa May, dan Donald Trump bagaimana cara mengakomodasi masyarakat dan mengkalkulasi perhitungan suara agar masyarakat tertarik untuk menggelorakan kembali jiwa nasionalisme yang sedang tercerabut. Ditambah lagi ada fakta bahwa jika Catalonia benar-benar merdeka, ekonomi mereka tak akan limbung bahkan justru hampir menyamai Spanyol.

Baca Juga :   Donald Trump dan Fenomena Politik Anomali

Mengembalikan rasa nasionalisme kadang perlu digelorakan untuk membangkitkan masyarakat yang terpengaruh identitasnya oleh infiltrasi dari pihak luar. Namun seringkali, rasa ingin membangkitkan nasionalisme biasanya disusupi oleh kepentingan politik. Alhasil, rasa nasionalisme hanya digunakan sebagai batu loncatan oleh mereka yang sering mencetuskan kata tersebut.

Pada akhirnya kata tersebut hanya dijadikan bumbu utama sekaligus tameng oleh mereka agar nanti mereka bisa mulus melaju tanpa hambatan untuk menjadi penguasa tunggal. Dan Indonesia pernah merasakan hal tersebut di tahun 1965.

Kolom terkait:

Wilders dan Gagalnya Hat Trick Populisme Barat

Geger Brexit, Populis Kanan Eropa, dan Indonesia

Geert Wilders, Politik di Belanda, dan Sebagian dari Kita

Janji Donald Trump (Ternyata) Bukan Omong Kosong

Pemilu dan Masa Depan Imigran Muslim di Prancis


Written by Moddie Wicaksono

Moddie Wicaksono

Pegiat GASPOLIAN (Gerakan Sadar Politik Internasional) Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR