Jumat, Oktober 30, 2020

Beras vs Quinoa dan Persaingan Politik di Malaysia

Indonesia dalam Pusaran Konflik Al-Aqsa

Krisis di Al-Aqsa sedikit menurun tensinya. Pendeteksi logam yang sempat dipasang oleh Israel di kawasan Masjid al-Aqsa telah dilepas. Namun, yang masih menjadi pergulatan...

Palestina Setelah HAMAS Merevisi Manifestonya

Belum lama ini Hamas mengumumkan manifesto barunya yang, konon, memakan waktu bertahun-tahun untuk mendiskusikannya di antara anggota Hamas, baik yang di dalam penjara ataupun...

Egoisme Erdogan dan Ide Dialog Lintas Etnis di Arab Timur

Perkembangan baru di Efrin, Suriah bagian utara, menunjukkan besarnya potensi dan kompleksitas konflik di Arab Timur. Di tengah kepercayaan diri Turki dalam operasi Ghusnu...

Kita dan Suriah: Tidak Trump, Tidak Putin, tapi Kita

Warga Muslim Suriah bersama warga Muslim dari enam negara Muslim lainnya (Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, dan Yaman) dilarang masuk Amerika Serikat begitu rezim...
Sudarnoto Abdul Hakim
Penulis adalah Associate Professor FAH UIN Jakarta, pemerhati Malaysia, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional.

Malaysia terus dihiasi oleh rivalitas politik antara dua kekuatan penting, yaitu UMNO yang dikomandoi oleh Perdana Menteri Najib Razak dan oposisi yang saat ini masih di bawah kepemimpinan Mahathir Mohamad. Berbagai upaya kedua belah pihak untuk secara terus menerus mempengaruhi dan memperoleh dukungan publik memenangkan Pemilu2018 pada Agustus nanti terus dilakukan.

Setiap momen akan dimanfaatkan kedua kekuatan ini secara maksimal bahkan untuk menyudutkan masing-masing pihak. Tidak jarang hal ini dilakukan oleh Mahathir, Najib, dan tokoh masing masing pendukung. Tentu saja Mahathir, khususnya sebagai tokoh yang telah memulai menabuh benderang penyerangan sejak beberapa tahun belakangan ini, sangat bersemangat untuk menyudutkan, memperlemah, dan mendegradasi Najib.

Serangan telaknya adalah kasus megakorupsi dan ini berhasil mengatraksi masyarakat dan bahkan partai-partai oposisi untuk secara bersama-sama mengakhiri dominasi UMNO. Meski tidaklah terlalu mudah, antara lain karena keluarnya Parti Islam se-Malaysia (PAS) dari opososi dan kemudian berkoalisi dengan UMNO, namun tekanan terus menerus kelompok oposisi cukup membuat Najib dan UMNO kerepotan. Akhir akhir ini, Najib kembali diserang oleh Mahathir dan beberapa tokoh oposisi lainnya terkait dengan isu quinoa.

Isu Quinoa

Objek serangan Mahathir dan tokoh oposisi lainnya ialah statemen  Najib yang mengatakan bahwa Najib akan mengkonsumsi quinoa; tidak lagi mengkonsumsi beras. Beras merupakan konsumsi pokok harian, khususnya bagi masyarakat atau puak Melayu. Nasi lemak menjadi sangat spesial dan ciri khas kuliner tradisional atau lokal Malaysia/Melayu dan itu dari beras.

Secara kultural, beras, nasi lemak, dan makanan-makanan tradisional lainnya merupakan bagian penting dari Malay identity yang seharusnya–sebagaima berbagai elemen kultural tradisional lainnya–dijaga, dirawat dan dijamin keberlangsungannya secara maksimal. Ini penting, antara lain, untuk alasan nasionalisme atau melayuisme dan menjaga dari serangan transnasionalisme kultural yang semakin hari semakin memperoleh tempatnya yang ekstensif di Malaysia, bahkan juga di berbagai wilayah negara lainnya.

Fenomena fast food seperti McDonald yang nampak menjamur di mana-mana adalah salah satu contoh kongkret dari arus transnasionalisme kuliner yang sebetulnya mengancam eksistensi makanan-makanan tradisional.

Menjadi konsumen produk-produk lokal, termasuk beras dan kuliner tradisional lainnya, merupakan cara atau pilihan yang diyakini penting untuk dilakukan. Dalam perspektif inilah maka statemen Najib untuk beralih dari beras ke quinoa sebagai bahan pokok makanan menjadi kontroversial dan amunisi bagi kelompok oposisi untuk semakin mengefektifkan tekanan terhadap Najib dan pemerintah UMNO.

Terlepas pilihan personal Najib untuk mengkonsumsi quinoa untuk alasan kesehatan, statemennya dinilai tidak sensitif terhadap pentingnya menjaga muruah dan eksistensi tradisi Melayu. Padahal, UMNO didirikan adalah untuk membela kepentingan Melayu. Najib, di mata masyarakat, akan bisa dinilai merusak dan mengkhianati eksistensi tradisi Melayu apalagi kalau kemudian nanti menjadi kebijakan resmi pemerintah.

Quinoa adalah biji-bijian yang berasal dari tanaman chenopodium quinoa yang kemudian menjadi bahan pokok makanan. Menurut catatan, tanaman yang sudah ada sejak kurang lebih 5.000 tahun yang lalu ini adalah tanaman asli daerah Andean Peru, Ekuador, Bolivia, dan Kolombia. Saat ini negara penghasil utama quinoa di dunia adalah Peru, Bolivia, dan Amerika Serikat (Colorado dan Nevada).

Harga quinoa ini jauh lebih mahal daripada beras, 23 kali lipat. Dari sisi kesehatan, quinoa ini memang dinilai lebih bagus/menyehatkan daripada beras, antara lain karena kadar karbohidratnya jauh lebih rendah; proteinnya sangat tinggi.

Hal kedua, serangan Mahathir dan tokoh oposisi lain kepada Najib seperti Lim Kit Siang ialah pola hidup mewah sehari-hari Najib. Memilih quinoa adalah memilih kemewahan karena, sebagaimana yang disebutkan di atas, harga quinoa adalah 23 kali lipat harga beras.

Pola hidup mewah dan greedy ini sejalan dengan kecenderungan koruptif yang dilakukan oleh Najib. Dan inilah sumber masalah kepemimpinan Najib dan UMNO yang bagi oposisi harus dihentikan. Quinoa hanyalah satu di antara sekian banyak bukti kemewahan Najib.

Statemen Najib “I don’t eat rice. I eat Quinoa” dan tweet Mahathir “I only eat local rice” menggambarkan pertentangan politik dan unending political rivalry di antara keduanya. Semangat Mahathir dengan kekuatan oposisinya untuk meruntuhkan Najib dan UMNO terus menyala.

Agustus 2018 adalah bulan menentukan karena pemilu diselenggarakan. Lim, sebagaimana yang dikutip oleh Reuters, mengatakan dengan tegas sebagai berikut: “The 14th general election will be quinoa vs. rice; clean government vs. kleptocracy; and Najib vs. people of Malaysia.  Kita tunggu.

Kolom terkait:

Najib dan Modal Kemenangan UMNO

General Assembly UMNO

Manfaat Punya Rival Tetangga Macam Malaysia

NKRI Harga Mati, Malaysia Terima Kasih!

Sudarnoto Abdul Hakim
Penulis adalah Associate Professor FAH UIN Jakarta, pemerhati Malaysia, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.