Banner Uhamka
Rabu, September 23, 2020
Banner Uhamka

Al-Baghdadi Sang Khalifah ISIS

Menakar Nasib Buruk Demokrasi Turki

  Dari hari ke hari, terhitung sejak awal 2013, absolute power yang bercokol di bawah pemerintahan AKP (Partai Pembangunan dan Keadilan) dengan tokoh sentral Presiden...

Ekonomi-Politik Turki Pasca Kudeta

Selang beberapa jam setelah kudeta superpendek (tidak lebih dari 24 jam) yang gagal atas kepemimpinan Presiden Tayyip Erdogan beberapa saat lalu, ruang diskusi sosial...

Merespons Hegemoni Cina

Seiring terdesentralisasinya lanskap unipolar dunia karena kian meredupnya hegemoni Amerika Serikat beberapa tahun terakhir, tak dapat dipungkiri bahwa posisi Cina kian menguat sebagai hegemoni...

Persekusi dan Nestapa Muslim Rohingya di Myanmar

Dunia paralel bukan hanya ada di dalam film superhero fiksi Doctor Strange garapan Marvel. Jika dalam film Doctor Strange kenyataan dapat berada di dua alam,...
Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah

[sumber: time.com]
Butuh waktu selama sepuluh tahun bagi Amerika Serikat untuk menemukan dan membunuh Usamah bin Ladin, pemimpin sentral al-Qaidah. Meskipun telah tiada, karisma kepemimpinan Usamah sebagai ikon jihadis global tak tergantikan oleh penerusnya sekalipun Aiman al-Zawahiri. Sampai akhirnya muncul tokoh bernama Abu Bakar al-Baghdadi.

Pengaruh al-Baghdadi

Para ahli sepakat bahwa al-Baghdadi, pemimpin militan negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), punya pangaruh lebih kuat ketimbang Usamah bin Ladin yang hanya berlatar belakang miliuner.

Pada tahun 2015 TIME menetapkan al-Baghdadi sebagai orang berpengaruh dunia (person of the year) nomor dua. Sementara itu, Forbes memasukkan al-Baghdadi dalam daftar orang berpengaruh di dunia menyalip Hillary Clinton.

Dipimpin al-Baghdadi, organisasi ISIS yang asalnya hanya kumpulan militan level lokal, hanya dalam waktu relatif singkat bermutasi menjadi organisasi paling ditakuti, mendunia, dan kaya raya. Al-Baghdadi berhasil mewujudkan khayalan kaum jihadis untuk memiliki negara khilafah, sebuah mimpi yang tak pernah menjadi kenyataan pada masa Usamah bin Ladin.

Identitas al-Baghdadi mendadak paling dicari semenjak organisasinya memenangi pertarungan pada tahun 2014 di dua negara, Irak dan Suriah. Memang, selama ini lebih banyak tulisan menceritakan sejarah asal-usul ISIS dibanding membahas siapa sosok di balik organisasi ultraradikal ini.

Siapa itu al-Baghdadi?

Abu Bakar al-Baghdadi memiliki nama asli Ibrahim bin Awwad al-Badri. Ia lahir tahun 1971 di dekat kota Samarra. Dia menempuh studi Islam dan memperoleh gelar master dan doktor di Universitas Ilmu Islam di daerah Adhamiya, pinggiran Baghdad. Konon, dia tinggal di rumah sederhana di dekat masjid di Tobchi, daerah sebelah barat Baghdad yang penduduknya terdiri warga Sunni dan Syiah. Al-Baghdadi mengenakan kacamata, pandai bermain sepakbola, dan berperilaku layaknya sarjana.

Menurut tetangganya, Abu Ali, yang berbicara kepada Daily Telegraph, al-Baghdadi datang ke Tobchi ketika dia berusia delapan belas tahun. “Kadang-kadang ia memimpin salat, saat imam masjid Tobchi bepergian,” kata Abu Ali.

Al-Baghdadi makin reaksioner seiring berjalannya waktu. Abu Ali menceritakan kenangannya tentang reaksi al-Baghdadi ketika ada acara pernikahan di Tobchi di mana kaum pria dan wanita menari bersama. Al-Baghdadi sedang menyeberang jalan dan melihat acara tarian itu. Dia berteriak ini bid’ah! Lalu dia membubarkan tarian tersebut.

Wael Essam, jurnalis Palestina yang berpengalaman meliput Irak, mewawancarai banyak orang Sunni yang pernah berteman dengan al-Baghdadi saat masih kuliah. Menurut mereka, al-Baghdadi adalah anggota Ikhwanul Muslimin. William McCants, penulis buku The ISIS Apocalypse menyatakan, al-Baghdadi bergabung dengan Ikhwanul Muslimin saat ia sekolah pascasarjana setelah dibujuk pamannya.

Menurut Essam, al-Baghdadi dekat dengan Mohammed Hardan, salah satu pemimpin Ikhwanul Muslimin. Hardan berangkat perang bersama mujahidin di Afghanistan dan pulang tahun 1990-an, dan pulangnya mengadopsi ideologi salafisme. Al-Baghdadi bergabung dengan kelompok Hardan secara organisasional dan ideologis. Dia juga pernah bergabung dengan Jays Mujahidin, kelompok militan Sunni.

Sekitar akhir tahun 2003 al-Baghdadi diam-diam mendirikan faksi islamis sendiri bernama Jays Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah. Setahun kemudian dia dijebloskan ke kamp Bucca (sebuah fasilitas penjara AS di Irak yang ditutup pada tahun 2009).

Tertangkapnya al-Baghdadi saat itu sebenarnya akibat ketidaksengajaan. Suatu ketika ia mengunjungi temannya di Fallujah bernama Nessayif. Intelijen Amerika Serikat membekuk mereka. Sebenarnya Baghdadi bukan sasarannya—melainkan Nessayif-lah yang diincar AS.

Abu Ahmed, mantan anggota ISIS yang mengenal al-Baghdadi di kamp Bucca, mengatakan kepada Guardian bahwa aparatur penjara awalnya memandang al-Baghdadi sebagai orang yang pandai mengingat ia memiliki gelar doktor dalam studi Islam. Hal ini juga membuat tahanan lain menaruh hormat kepadanya.

Al-Baghdadi Sosok yang Misterius

Al-Baghdadi adalah sosok yang pendiam, namun memiliki kemampuan bergerak di antara faksi-faksi yang bertikai di fasilitas tersebut, ketika mantan loyalis Saddam dan jihadis bercampur. Menurut William McCants, pihak Amerika mengizinkannya mengunjungi beberapa blok di kamp Bucca untuk memecahkan konflik; namun sebenarnya al-Baghdadi menggunakan kesempatan ini untuk merekrut lebih banyak pengikut.

Selama di penjara al-Baghdadi mengabdikan dirinya untuk urusan agama, memimpin salat, melakukan khutbah Jum’at, dan menyelenggarakan kelas untuk tahanan. Al-Baghdadi membentuk aliansi dengan banyak dari mereka dan tetap berhubungan saat dibebaskan pada Desember 2004.

Al-Baghdadi dibebaskan karena pihak Amerika menilai dia bukan sebagai ancaman tingkat tinggi bagi pasukan koalisi atau institusi Irak. Namun, sejak itu dia semakin berorientasi ekstrem. Ia bergabung dengan Majelis Syuro Mujahidin, organisasi cikal bakal ISIS yang dibentuk al-Zarqawi untuk menghimpun kelompok jihad Irak.

Mengingat dia menganut gagasan kemurnian agama (puritan), al-Baghdadi nampaknya tidak tertarik untuk bekerjasama dengan kelompok pemberontak yang beragam secara ideologis. Ia meninggalkan Ikhwanul Muslimin dan menyebutnya sesat. Ia juga meninggalkan Jays Mujahidin dan bahkan memusuhinya.

Al-Baghdadi selalu konsisten dalam pandangannya terhadap militan Sunni yang bukan bagian dari organisasinya. Al-Baghdadi mengatakan, “Memerangi mereka (kelompok Sunni lain) lebih utama daripada memerangi Amerika.”

Al-Baghdadi dipuja pengikutnya karena ia dipandang memenuhi banyak kriteria kepemimpinan. Konon, dia termasuk anggota konfederasi tribal Quraisy, salah satu suku terhormat di Timur Tengah karena suku ini berhubungan erat dengan Nabi Muhammad SAW. Lebih jauh, al-Baghdadi juga diklaim pengikutnya memiliki trah keturunan Nabi SAW dari garis cucunya yang bernama Hussein bin Ali bin Abi Thalib.

Saya pernah membaca biografi al-Baghdadi yang ditulis Turki al-Bin’ali, seorang ideolog ISIS asal Bahrain. Dia menggarisbawahi tentang nasab keluarga al-Baghdadi dan mengklaim memiliki trah keturunan Nabi Muhammad (ahl al-bait). Al-Baghdadi dikatakan berasal dari kabilah al-Badri yang sebagian besar berada di Samarra dan Diyala dan secara historis penduduknya dikenal sebagai keturunan Nabi.

Secara luas kaum militan islamis memang meyakini bahwa prasyarat kunci seorang khalifah atau emir harus berasal dari suku Quraisy. Dengan dilegitimasi sebagai tokoh yang berasal dari suku terpandang (Quraisy) sekaligus keturunan mulia (ahl al-Bait), plus punya gelar doktor studi Islam, tentu menjadi kombinasi identitas yang sempurna di mata kaum militan. Kriteria yang tidak dimiliki Usamah bin Ladin atau penerusnya, Aiman al-Zawahiri, yang hanya seorang insinyur dan dokter.

Meski profilnya sedikit demi sedikit mulai terungkap, hingga kini keberadaan al-Baghdadi tetap misterius. Akibatnya sering beredar rumor dan spekulasi tentang dirinya, mulai berita kematiaannya karena serangan udara sampai mati diracun.

Namun, seandainya suatu saat al-Baghdadi benar-benar meninggal, jelas ini akan menjadi pukulan keras bagi kelompok yang mengandalkan militansi dan fanatisme buta para pengikutnya tersebut. Tapi itu butuh waktu berapa tahun?

Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Komunikasi Publik Tokoh Politik

Komunikasi merupakan sarana yang memiliki signifikansi tinggi dalam mengkonstruksikan sebuah interaksi sosial. Hal ini dikarenakan melalui jalinan komunikasi, seseorang akan mengaktualisasikan suatu konsepsi diri...

Seharusnya Marx Menjadi PNS!

Duduk dan berbincang dengan teman-teman di warung kopi, tak lepas dengan sebatang rokok, saya bersama teman-teman lain kerap kali membicarakan dan mengolok-olok pelamar Calon...

Hubungan Hukum Agama dan Hukum Adat di Masa Kolonial

Dalam rangka memahami sistem sosial dan nilai-nilai yang berada di masyarakat, pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk mengangkat seseorang penasihat untuk membantu mereka dalam mengetahui...

Disiplin, Senjata Ampuh Melawan Corona

Sejak ditemukan penyakit Covid-19 yang diakibatkan oleh virus corona pada akhir tahun 2019, pandemi ini telah menembus angka 30 juta korban kasus positif di...

Teriakan yang Mematikan Pohon di Kepulauan Solomon

Ada kebiasaan menarik dari penduduk yang tinggal di Kepulauan Solomon: Meneriaki pohon. Untuk apa? Untuk menebang pohon yang mengganggu. Jika pohon itu terlalu besar, kayunya...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.