Senin, Oktober 26, 2020

Indonesia dan Pintu Jihad ISIS di Luar Suriah

Jokowi dan Urgensi Mereformasi Nawacita

Hari-hari ini kita menghadapi momen-momen penting yang menjadi bagian dari tonggak sejarah negeri ini: Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei), Hari Buku, dan 18 tahun...

Menanti Langkah Presidensial Jokowi tentang Munir

Penyebab kematian almarhum Munir Said Thalib masih menjadi misteri bahkan setelah 12 tahun kepergiannya. Bahkan Pollycarpus yang merupakan salah satu pelaku lapangan telah menghirup...

Sikap PDI Perjuangan dan Lepasnya Momentum Demokrasi

Demokrasi, tegas salah seorang ilmuwan politik Robert Dahl (1971), akan sulit terjadi pada sebuah negara tanpa pemilu yang kompetitif. Pemilu atau pemilihan kepala daerah...

Kelas Menengah Ngehe dan Pembangunan Kota

Ini lagi-lagi kisah kelas menengah ngehe di Jakarta dan sekitarnya. Mereka yang teramat politis karena perasaan "mabuk cinta" terhadap seorang gubernur pujaan membuatnya merasa...
Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah

Sejumlah perwira polisi berada di dekat barang bukti hasil penyisiran aparat di Kabupaten Poso yang digelar di Mapolda Sulawesi Tengah di Palu, Kamis (31/12). Barang bukti dengan atribut yang jelas tersebut menunjukkan adanya jaringan Islamic State of Iran and Suriah (ISIS) yang beroperasi di daerah bekas konflik horizintal itu. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/pd/15
Sejumlah perwira polisi berada di dekat barang bukti hasil penyisiran aparat di Kabupaten Poso yang digelar di Mapolda Sulawesi Tengah, Kamis (31/12). ANTARA FOTO/Basri Marzuki/pd/15

Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones berpendapat, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sama sekali tidak memiliki ketertarikan beroperasi di Asia tenggara, termasuk di Indonesia. Adapun kelompok Santoso yang beroperasi di Poso, Sidney menilai kelompok ini hanya mengklaim dirinya sebagai wakil ISIS di Indonesia. Kelompok Santoso hanya memanfaatkan nama besar ISIS, menunggangi nama ISIS demi membesarkan gerakannya.

Sidney Jones mengatakan hal ini saat mengisi diskusi bertema “Radikalisasi dan Deradikalisasi” di Goethe Institute, Jakarta (26/11).

Jika diperhatikan, selama ini memang tidak pernah ada pernyataan resmi atau pengakuan dari ISIS yang berpusat di Timur Tengah bahwa kelompok Santoso adalah “waralaba” ISIS di Indonesia. Tetapi apakah karena ini Indonesia tidak perlu lagi melihat ISIS sebagai sebuah ancaman?

Secara struktural memang belum ada bukti adanya perwakilan ISIS di Indonesia. Akan tetapi hal ini rupanya tidak menjadi penghalang bagi pengikutnya untuk mengekspresikan dirinya adalah bagian dari ISIS. Mereka yang terkait ISIS ada tiga tipe. Pertama, tipe simpatisan; mereka adalah kalangan yang memiliki kecendrungan tertarik terhadap ide-ide perjuangan ISIS. Mereka mewujudkan dengan membantu menyebarkan propaganda yang bersumber dari sayap media ISIS (media sosial) bahkan membantu menyebarkannya ke majelis-majelis secara underground.

Kedua, tipe muhajirin; kalangan ini adalah mereka yang memutuskan hijrah atau pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Mereka yang berhijrah tidak semua motivasinya untuk menjadi petempur tapi ada juga yang ingin sekadar menjadi warga sipil yang hidup dalam naungan khilafah yang didirikan ISIS.

Ketiga, tipe jihadis; mereka adalah kalangan yang memilih melakukan teror di dalam negeri dan mencoba membuat kekacauan seperti dilakukan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso. Motivasi mereka adalah menghidupkan kembali konflik sektarian seperti di Ambon atau Poso sehingga menjadi “medan jihad” atau perang saudara.

ISIS bisa saja tidak tertarik meluaskan operasinya ke Indonesia. Akan tetapi telah terbukti bahwa ISIS juga tertarik menjadikan Indonesia sebagai sasaran rekrutmen ISIS melalui beberapa kali video yang dirilis resmi oleh sayap media ISIS berbahasa Indonesia.  Bahkan dalam video tersebut diperankan oleh orang Indonesia yang isinya ajakan kepada orang-orang Indonesia untuk berhijrah dan bergabung dengan mereka dengan berbagai iming-iming.

Di media sosial twitter pernah terkuak ada sebuah percakapan antara seorang simpatisan dan salah seorang muhajirin ISIS. Seorang simpatisan berkonsultasi ingin berhijrah ke Suriah dan menanyakan biaya, rute perjalanan sampai “agen” di Indonesia yang dipercaya bisa memberangkatkan dirinya ke Suriah. Si muhajir menjawab biaya yang dibutuhkan dengan menyebut nominal uang dalam kurs dolar AS.

Ia juga mewanti-wanti bahwa di Indonesia tidak ada pihak resmi dari ISIS yang berkapasitas sebagai agen yang membantu memberangkatkan.  Itu artinya si simpatisan harus berangkat secara mandiri, baru ketika sudah tiba di Turki akan ada pihak dari ISIS yang akan menghubungi dan membimbing masuk ke wilayah ISIS.

Beberapa WNI yang hendak pergi ke Suriah memang ada yang berhasil digagalkan, meski tidak seluruhnya. Dalam hal ini pemerintah Turki memang tengah disorot dunia agar memperketat perbatasannya, karena Turki kerap dijadikan jalur masuknya warga asing ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

Menyadari pengikutnya bakal menemui kesulitan menembus perbatasan Turki ke Suriah, petinggi ISIS sudah mengantisipasinya melalu juru bicaranya Al Adnani. Saat menyambut bergabungnya Boko Haram, militan di Nigeria, dengan ISIS, Adnani berpidato, “Bagi siapa pun yang mengalami kesulitan memasuki wilayah Suriah dan Irak, berjihadlah di wilayah Afrika.”

Pernyataan juru bicara ISIS tersebut adalah semacam undangan terbuka kepada pendukung ISIS di seluruh dunia bahwa “berhijrah ke bumi khilafah” bukan soal di wilayah Suriah atau Irak via Turki, tapi bisa juga di luar negara tersebut. Misalnya ke Nigeria, Libya, Yaman atau Mesir karena di negara-negara tersebut ISIS telah mengendalikan sebuah wilayah secara penuh, walau tak seluas di Suriah dan Irak.

Sementara di Yaman dan Afghanistan, meskipun tak mengontrol suatu wilayah, ISIS mengambil kesempatan di tengah perang saudara dan lemahnya pengawasan pemerintah dengan membuka kamp-kamp pelatihan untuk merekrut petempur sebanyak-banyaknya.

Dewan Keamanan PBB telah mengeluarkan resolusi yang mendesak negara-negara anggotanya untuk mencegah perekrutan dan bergabungnya warga mereka dengan kelompok militan seperti ISIS.

Selama ini pemerintah RI masih berkutat mencurigai WNI yang bergabung dengan ISIS ke Suriah melalui Turki. Bagaimana dengan adanya opsi hijrah ke Afrika seperti seruan jubir ISIS tersebut? Apakah pemerintah RI sudah mengantisipasi hal ini? Atau jangan-jangan sudah ada WNI yang bergabung dengan ISIS di negara-negara Afrika tersebut? Entahlah.

Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

  Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

ARTIKEL TERPOPULER

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.