OUR NETWORK
Indonesia dan Pintu Jihad ISIS di Luar Suriah
Sejumlah perwira polisi berada di dekat barang bukti hasil penyisiran aparat di Kabupaten Poso yang digelar di Mapolda Sulawesi Tengah di Palu, Kamis (31/12). Barang bukti dengan atribut yang jelas tersebut menunjukkan adanya jaringan Islamic State of Iran and Suriah (ISIS) yang beroperasi di daerah bekas konflik horizintal itu. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/pd/15
Sejumlah perwira polisi berada di dekat barang bukti hasil penyisiran aparat di Kabupaten Poso yang digelar di Mapolda Sulawesi Tengah, Kamis (31/12). ANTARA FOTO/Basri Marzuki/pd/15

Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones berpendapat, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sama sekali tidak memiliki ketertarikan beroperasi di Asia tenggara, termasuk di Indonesia. Adapun kelompok Santoso yang beroperasi di Poso, Sidney menilai kelompok ini hanya mengklaim dirinya sebagai wakil ISIS di Indonesia. Kelompok Santoso hanya memanfaatkan nama besar ISIS, menunggangi nama ISIS demi membesarkan gerakannya.

Sidney Jones mengatakan hal ini saat mengisi diskusi bertema “Radikalisasi dan Deradikalisasi” di Goethe Institute, Jakarta (26/11).

Jika diperhatikan, selama ini memang tidak pernah ada pernyataan resmi atau pengakuan dari ISIS yang berpusat di Timur Tengah bahwa kelompok Santoso adalah “waralaba” ISIS di Indonesia. Tetapi apakah karena ini Indonesia tidak perlu lagi melihat ISIS sebagai sebuah ancaman?

Secara struktural memang belum ada bukti adanya perwakilan ISIS di Indonesia. Akan tetapi hal ini rupanya tidak menjadi penghalang bagi pengikutnya untuk mengekspresikan dirinya adalah bagian dari ISIS. Mereka yang terkait ISIS ada tiga tipe. Pertama, tipe simpatisan; mereka adalah kalangan yang memiliki kecendrungan tertarik terhadap ide-ide perjuangan ISIS. Mereka mewujudkan dengan membantu menyebarkan propaganda yang bersumber dari sayap media ISIS (media sosial) bahkan membantu menyebarkannya ke majelis-majelis secara underground.

Kedua, tipe muhajirin; kalangan ini adalah mereka yang memutuskan hijrah atau pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Mereka yang berhijrah tidak semua motivasinya untuk menjadi petempur tapi ada juga yang ingin sekadar menjadi warga sipil yang hidup dalam naungan khilafah yang didirikan ISIS.

Ketiga, tipe jihadis; mereka adalah kalangan yang memilih melakukan teror di dalam negeri dan mencoba membuat kekacauan seperti dilakukan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso. Motivasi mereka adalah menghidupkan kembali konflik sektarian seperti di Ambon atau Poso sehingga menjadi “medan jihad” atau perang saudara.

ISIS bisa saja tidak tertarik meluaskan operasinya ke Indonesia. Akan tetapi telah terbukti bahwa ISIS juga tertarik menjadikan Indonesia sebagai sasaran rekrutmen ISIS melalui beberapa kali video yang dirilis resmi oleh sayap media ISIS berbahasa Indonesia.  Bahkan dalam video tersebut diperankan oleh orang Indonesia yang isinya ajakan kepada orang-orang Indonesia untuk berhijrah dan bergabung dengan mereka dengan berbagai iming-iming.

Di media sosial twitter pernah terkuak ada sebuah percakapan antara seorang simpatisan dan salah seorang muhajirin ISIS. Seorang simpatisan berkonsultasi ingin berhijrah ke Suriah dan menanyakan biaya, rute perjalanan sampai “agen” di Indonesia yang dipercaya bisa memberangkatkan dirinya ke Suriah. Si muhajir menjawab biaya yang dibutuhkan dengan menyebut nominal uang dalam kurs dolar AS.

Ia juga mewanti-wanti bahwa di Indonesia tidak ada pihak resmi dari ISIS yang berkapasitas sebagai agen yang membantu memberangkatkan.  Itu artinya si simpatisan harus berangkat secara mandiri, baru ketika sudah tiba di Turki akan ada pihak dari ISIS yang akan menghubungi dan membimbing masuk ke wilayah ISIS.

Beberapa WNI yang hendak pergi ke Suriah memang ada yang berhasil digagalkan, meski tidak seluruhnya. Dalam hal ini pemerintah Turki memang tengah disorot dunia agar memperketat perbatasannya, karena Turki kerap dijadikan jalur masuknya warga asing ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

Menyadari pengikutnya bakal menemui kesulitan menembus perbatasan Turki ke Suriah, petinggi ISIS sudah mengantisipasinya melalu juru bicaranya Al Adnani. Saat menyambut bergabungnya Boko Haram, militan di Nigeria, dengan ISIS, Adnani berpidato, “Bagi siapa pun yang mengalami kesulitan memasuki wilayah Suriah dan Irak, berjihadlah di wilayah Afrika.”

Pernyataan juru bicara ISIS tersebut adalah semacam undangan terbuka kepada pendukung ISIS di seluruh dunia bahwa “berhijrah ke bumi khilafah” bukan soal di wilayah Suriah atau Irak via Turki, tapi bisa juga di luar negara tersebut. Misalnya ke Nigeria, Libya, Yaman atau Mesir karena di negara-negara tersebut ISIS telah mengendalikan sebuah wilayah secara penuh, walau tak seluas di Suriah dan Irak.

Sementara di Yaman dan Afghanistan, meskipun tak mengontrol suatu wilayah, ISIS mengambil kesempatan di tengah perang saudara dan lemahnya pengawasan pemerintah dengan membuka kamp-kamp pelatihan untuk merekrut petempur sebanyak-banyaknya.

Dewan Keamanan PBB telah mengeluarkan resolusi yang mendesak negara-negara anggotanya untuk mencegah perekrutan dan bergabungnya warga mereka dengan kelompok militan seperti ISIS.

Selama ini pemerintah RI masih berkutat mencurigai WNI yang bergabung dengan ISIS ke Suriah melalui Turki. Bagaimana dengan adanya opsi hijrah ke Afrika seperti seruan jubir ISIS tersebut? Apakah pemerintah RI sudah mengantisipasi hal ini? Atau jangan-jangan sudah ada WNI yang bergabung dengan ISIS di negara-negara Afrika tersebut? Entahlah.

Iqbal Kholidi

Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

REKOMENDASI

KARTUN HARI INI

OPINI TERBARU

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…