OUR NETWORK

Indonesia Bersepeda

Sepeda perlahan metafora. Kita jangan tergesa atau mengebut tapi salah arah. Bersepeda memerlukan kekuatan, keseimbangan, kecerdikan, dan keberanian. Di atas sepeda atau “kereta angin”, kita melaju berharap lancar dan selamat sampai tujuan.

Kita mendapat suguhan gambar unik di majalah Tempo, 1 Juli 2019. Dua tokoh besar tampak naik sepeda. Mereka mungkin mau pelesiran atau mengelilingi Indonesia. Joko Widodo di depan, Prabowo Subianto duduk boncengan. Mereka bersepeda mengenakan busana rapi dan necis. Naik sepeda memberi capek. Keringat menetes tapi girang terasakan. Kita melihat dua tokoh di sepeda sedang berkirim pesan: “Indonesia, bersepedalah!” Kita diajak naik sepeda agar tak lagi memberi “asap” dan “bising” berdalih demokrasi. Indonesia sudah capek dengan pengotoran ide dan pembisingan perasaan.

Sepeda itu pula mengingatkan dengan kebiasaan Joko Widodo memberi hadiah sepeda ke warga di pelbagai acara. Kita diajak bercerita Indonesia melalui sepeda. Orang-orang masih mengidamkan mendapat sepeda dengan menjawab soal-soal mudah diajukan Joko Widodo. Peristiwa membagi sepeda mungkin sejenis hiburan bagi Joko Widodo di sela memikirkan kebijakan-kebijakan besar di Indonesia. Segala hal ingin dikerjakan dengan cepat: waduk, jalan, tol, bandara, dan lain-lain. Kecepatan mengurusi infrastruktur mendapat selingan sepeda. Di mata Joko Widodo dan publik, sepeda itu alat transportasi meski dimungkinkan menjadi metafora dalam penciptaan sejarah Indonesia abad XXI.

Joko Widodo boleh meniru sejarah bertokoh Soekarno. Dulu, Soekarno bersepeda, sebelum menjadi Presiden RI dan “terpaksa” naik mobil dari persekongkolan-mencuri. Konon, mobil untuk dinas di masa awal belum sanggup diadakan dengan cara membeli. Kita masih memiliki ingatan terang untuk cerita dan adegan Soekarno naik sepeda. Buku berjudul Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (1966) susunan Cindy Adams memuat episode Soekarno dan sepeda. Pada saat sekolah di HBS Surabaya dan mondok di rumah HOS Tjokroaminoto, Soekarno mencipta biografi bersama sepeda. Kita simak: “Aku mulai menabung dan menabung terus dan ketika uangku terkumpul delapan rupiah, kubeli Fongers jang hitam mengkilat, sepeda keluaran Negeri Belanda. Aku merawatnja bagai seorang ibu. Ia kugosok-gosok. Kupegang-pegang. Kubelai-belai.” Remaja sedang gandrung sepeda di tanah jajahan. Pada awal abad XX, sepeda telah memberi pikat atas kemodernan dan kesadaran nasionalisme.

Kita menengok ke novel berbahasa Jawa berjudul Kirti Junjung Derajat (1924) gubahan Jasawidagda. Novel bercerita pendidikan, pekerjaan, kota, pers dan organisasi. Novel berlatar awal abad XX, mengisahkan tokoh-tokoh mulai melek kemodernan dan kebangsaan. Sejarah dan pengaruh Boedi Oetomo diceritakan dengan memunculkan tokoh memiliki kemauan memajukan diri dan kaum muda dengan membuka usaha bengkel sepeda. Di Solo, sepeda-sepeda sudah berseliweran menandakan ada geliat pendidikan, bisnis, dan politik. Kota memuat sejarah Boedi Oetomo dan Sarekat Islam itu “bergerak” dengan sepeda, tak melulu mobil milik raja, bangsawan, birokrat kolonial, dan saudagar. Sepeda menjadi tema “kemadjoean” di kalangan bumiputra. Novel itu mungkin tak pernah dibaca Soekarno saat mengenang masa remaja memiliki sepeda. Sejak masa 1920-an, novel-novel berbahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka dan penerbit-penerbit partikelir pun mulai sering mengisahkan sepeda, selain kapal, mobil, dan kereta api. Sejak mula, sepeda itu ide-imajinasi tentang perubahan sedang berlangsung di tanah jajahan.

Kemahiran Soekarno naik sepeda dibuktikan saat kunjungan ke India. Di sana, ia mengajak Fatmawati naik sepeda. Adegan itu dipilih dalam garapan sampul buku berjudul Bung Karno: Arsitek Bangsa (2012) susunan Bob Hearing. Soekarno dan Fatmawati tampak gembira. Peristiwa itu mungkin mengingatkan dulu mereka pernah naik sepeda saat masih berada di Bengkulu masa 1930-an. Sepeda itu nostalgia asmara. Di India, Soekarno naik sepeda mungkin memberi cerita bahwa revolusi Indonesia boleh naik sepeda. Revolusi itu santai dan gembira. Soekarno mencipta biografi dan pesan ke publik dengan sepeda. Cara itu agak ditiru Joko Widodo tapi memilih adegan dan acara berbeda agar Indonesia bersepeda tetap dimengerti publik, dari masa ke masa.

Pada abad XXI, mengajak Indonesia bertema sepeda memang agak wagu tapi kita bisa menghubungkan ke masa lalu melalui cerita, bukan dokumen sejarah. Bukalah buku berjudul Teh dan Pengkhianat (2019), berisi cerita-cerita berlatar sejarah gubahan Iksaka Banu. Cerita berjudul “Di Atas Kereta Angin” mengembalikan kita ke masa lalu. Tokoh berkebangsaan Belanda membeli sepeda baru: “Si hitam cantik dengan merek Columbia Roadster tipe terbaru itu kubeli enam bulan lalu di toko A Resink and co, Yogyakarta. Sebuah fiets untuk pria dengan sadel kulit berwarna cokelat tua, ditopang busa dan pegas besar yang membuatnya tetap nyaman diduduki saat roda menghantam jalan berlubang.” Ia orang berduit dan memiliki kehormatan. Pembelian sepeda baru memunculkan ide memberikan sepeda lama bermerek Simplex ke “bujang rumah” bernama Dullah. Tuan kulit putih naik sepeda dan bujang rumah dicap bumiputra pun naik sepeda. Dulu, orang naik sepeda seperti memiliki keharuan berbusana rapi atau tampil parlente. Kebijakan tuan-hamba bersepeda itu sempat mendapat protes bakal mengganggu etika sosial buatan kolonial dan menjatuhkan martabat kaum Eropa di mata bumiputra. Pada awal abad XX, sepeda memang memicu debat sengit berkaitan identitas, nasionalisme, dan industri.

Kita belum pernah mendapat ada pengisahan atau membagi cerita pada saat Joko Widodo mengajak orang-orang berebutan menjawab demi mendapat sepeda. Sekian tahun berlalu, Joko Widodo dan sepeda sering foto dan berita. Pada saat mau melanjutkan masa pemerintahan periode kedua, Tempo mengingatkan kita (lagi) bahwa Joko Widodo itu bertema sepeda. Kita diajak bersepeda dengan janji memuliakan Indonesia. Kita berkeringat menggenjot pedal demi Indonesia. Bersepeda itu terpuji ketimbang rajin mengendarai mobil memberi asap mengotori langit Indonesia. Bersepeda memboncengkan teman itu terpuji untuk menandakan kita selalu bersama menapaki jalan arti Indonesia abad XXI.

Sepeda perlahan metafora. Kita jangan tergesa atau mengebut tapi salah arah. Bersepeda memerlukan kekuatan, keseimbangan, kecerdikan, dan keberanian. Di atas sepeda atau “kereta angin”, kita melaju berharap lancar dan selamat sampai tujuan. Kita ingin bersepeda sampai ke “surga” alias kebahagiaan, kemakmuran, dan kedamaian. Pilihan bersepeda belum ingin sampai ke suguhan imajinasi Triyanto Triwikromo dengan judul Bersepeda ke Neraka (2016). Di situ, ada ajakan: “Sekali-kali bersepedalah ke neraka. Tentu Anda harus bersahabat dengan api agar tidak merasakan panas yang menyengat. Tentang bagaimana bersahabat dengan api bertanyalah kepada iblis…” Cerita itu apik dan mencengangkan tapi kita sedang ingin bersepeda ke “surga”. Kita ingin berkeringat dan menebar pesan-pesan indah di sepanjang jalan. Bersepeda untuk mencipta sejarah dan cerita Indonesia. Begitu.

Kuncen Bilik Literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…