Minggu, November 29, 2020

In Memoriam Didi Kempot

Narasi Populisme Anies Baswedan yang Gabener

Salah satu kunci utama menggerakkan populisme akar rumput adalah menciptakan musuh bersama dengan mengumpulkan perasaan terancam. Melalui narasi semacam ini imajinasi keberpihakan kemudian dibayangkan...

Hari Santri: Pelecehan Seksual dan Wajah Layu Santri

Dengan terbata, lelaki yunior saya ini menceritakan penggalan kisahnya menjadi korban pelecehan seksual ketika mondok. Untuk ukuran dia yang terbilang jago berkelahi, saya tidak...

Gus Dur, Jokowi dan Keberpihakan ke Kaum Sarungan

Sarung bukan hanya sebuah pakaian bagi golongan Islam tradisional, khususnya Nahdlatul Ulama (NU), tapi telah menjadi bagian integral dari identitas dan kebudayaannya. Sarung hadir...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...
Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist

Hanya ada dua penyanyi di Indonesia yang tiap hari lagu-lagunya aku dengarkan di YouTube. Pertama Rhoma Irama. Kedua Didi Kempot.

Aku suka dangdutnya Rhoma sejak kecil. Saking jatuh cintanya kepada Rhoma Irama yang asal Tasikmalaya, mungkin dalam otakku terdapat semacam arketip serba indah tentang Tasik. Secara tak sadar, aku pun bercita-cita jadi orang Tasik. Harapannya kelak keturunanku berdarah Tasik. Tuhan memenuhi cita-cita terpendamku: berjodoh dengan gadis Tasik.

Dalam hati, setiap orang Tasik pasti bisa menyanyikan lagu-lagunya Rhoma Irama. Dan benar, istriku yang secantik Ani suka tembangnya Bang Haji Rhoma, idolaku.

Setelah Bang Haji, idolaku adalah Didi Kempot. Didi Kempot bagiku adalah sebuah keajaiban. Ia bisa menyanyikan lagu Jawa dengan irama yang enak di telinga dan lirik yang merakyat.

Merakyat, maksudku, lagu-lagu Didi merupakan pengalaman sehari-hari rakyat kecil di Pantura. Seperti putus cinta yang semudah membalikkan telapak tangan di Stasiun Balapan Solo.

Lagu Stasiun Balapan bagiku yang orang Pantura, liriknya sangat pas. Sekian tahun berpacaran, ketika ia ke Jakarta, putus. Pastilah sang gadis terpesona gemerlap Jakarta. Lalu melupakan kekasihnya di kampung.

Yang aku heran, apakah gadis-gadis Solo yg terkenal kesetiannya kini mulai mata duitan seperti gadis Pantura? Secara tersirat, Didi Kempot mengungkapnya di lagu Stasiun Balapan Solo tersebut.

Begitu juga lagu Pamer Bojo-nya Didi. Bagi orang Pantura, pamer istri muda adalah hal yang sangat biasa. Mantan istri kawin lagi, lalu pamer bojonya yang sugih, itu biasa sekali. Atau sebaliknya: sang pria yang tukmis, senang pamer bojo baru kepada mantan istrinya. Lagu Pamer Bojo terasa demikian “Nyirebon dan Ngindramayu” — meski diciptakan Didi, yang orang Solo.

Didi Kempot, adalah penyanyi yang piawai meracik musik dan lirik. Pengalamannya yang intens bergaul dengan rakyat kecil, membuat Didi tahu betul problema masyarakat akar rumput. Dan ia mampu mengungkapkannya dalam lagu campursari yang indah tersebut.

Popularitas Didi Kempot yang kini makin naik dan lagu-lagu lamanya yang ngehit kembali setelah lama tak terdengar, mengisyaratkan ada transformasi kultural di masyarakat Jawa. Salah satunya, legenda kesetiaan cinta di masyarakat Jawa kini mulai hancur dilanda pragmatisme matre. Ibaratnya, moralitas bawang putih kini tergerus moralitas bawang merah. Dan kesetiaan cinta pun kini fatamorgana belaka.

Kondisi itu diperparah dengan menguatnya etika dan moralitas generasi digital. Yaitu generasi yang hidup di dunia serba instan. Baik secara material maupun spiritual. Generasi ini sangat rapuh. Seperti gelas kaca yang mudah patah.

Nah, Didi Kempot mampu menangkap fenomena itu. Lalu, ia menciptakan tembang-tembang bernuansa broken heart, broken home, lara nestapa, dan sejenisnya. Dan publik milenial merasa terwakili. Tak hanya di Pantura. Tapi juga di pedalaman Jawa.

Didi Kempot menyadari betul, dunia digital telah merobek batas-batas kultural dan moral masyarakat. Ia kemudian, melalui lagu, menjadi jubir zamannya. Zaman ketika dunia, manusia, dan moralitasnya sudah terlipat.

Lagu-lagu Didi menjadi saksi sejarah generasi gadgetanium yang resah dan patah. Semoga Tuhan menerima amal jariyahmu dalam bentuk tembang yang mengabarkan fenomena zamannya.

Daaah Selamat Jalan ….Sayang

Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.