Sabtu, Januari 16, 2021

In Memoriam Dadang Hawari

In Memoriam Beddu Amang, Deklarator Pembubaran PKI Oktober 1965

Beddu Amang -- panggilan akrab Abdurrahman untuk Suku Bugis -- di tahun 1965-an mengukir kisah heroik. Sebagai aktivis HMI, yang juga pernah menjadi Ketua...

Pasca Pentersangkaan Ahok

Sebelumnya, saya perlu menegaskan terlebih dahulu posisi saya dalam tulisan ini. Saya tidak sedang mewakili pendukung Ahok. Begitu juga saya tidak sedang menjadi juru...

Ada Apa dengan Dian Sastro (Kok “Keminggris”)?

Nonton Ada Apa dengan Cinta 2 (AADC 2) membuat saya asyik pada kepribadian Cinta. Saking asyiknya, saya sampai tak bisa bedakan antara Cinta dan...

Islam dan Transformasi Sosial bagi Perempuan

Sehari lagi Ramadan akan meninggalkan kita. Tapi saya memboikot salat tarawih selama Ramadhan ini dan Ramadan tahun lalu. Alasannya, saya akan pergi salat tarawih,...
Amidhan Shaberah
Amidhan Shaberah
DR. KH. Amidhan Shaberah adalah Ketua MUI 1995-2015/Komnas HAM 2002-2007

Dunia psikiatri Islam menangis. Salah seorang “pendekar dan suhu”-nya Prof. Dr. Dadang Hawari, psikiater terkemuka di Indonesia meniggal, Kamis (4/12/2020) di Jakarta.

Dadang Hawari, tak hanya terkenal dalam dunia psikiatri, tapi juga terkenal sebagai da’i yang mumpuni. Dalam ceramah-ceramahnya, pria kelahiran Pekalongan 16 Juni 1940 tersebut selalu mengaitkan dunia kesehatan jiwa dengan agama. Khususnya Islam. Bagi Dadang, yang mendalami Islam sejak kecil di Kota Batik, kesehatan jiwa manusia tidak hanya terkait dengan masalah-masalah medis dan psikologis. Tapi terkait pula dengan keimanan dan spiritualitas.

Pendekatan Dadang Hawari tersebut saat itu, di tahun 70-80-an dianggap aneh dalam dunia kedokteran jiwa yang sekularistik. Di masa itu, pakar psikiatri, masih berkutat pada pengobatan kejiwaan dengan pendekatan medis dan psikologis. Pendekatan agama masih terpinggirkan. Karena dianggap tidak ilmiah.

Tapi Dadang Hawari terus mengampanyekan bahwa masalah kesehatan jiwa tidak hanya soal medis dan psikis, tapi juga soal agamis. Orang-orang yang mempunyai dasar keimanan dan ketauhidan yang kuat, kata Dadang Hawari, niscaya tidak mudah terserang depresi — salah satu penyakit kejiwaan yang paling banyak diderita manusia.

Menurut Dadang Hawari, agama sangat bermanfaat untuk terapi dan memelihara kesehatan jiwa. Ia menginisiasi pengobatan jiwa dengan konsep BPSS (Biology, Psychology, Social and Spiritual). Keempatnya merupakan sistem yang terpadu. Keterpaduan tersebut, ungkap Guru Besar Psikiatri Universitas Indonesia itu, merupakan suatu keniscayaan dalam memahami kesehatan jiwa manusia. Ini karena jiwa dan raga dalam kehidupan manusia saling mengisi dan menjadi sistem yang tak terpisahkan satu sama lain. Itulah sebabnya, jiwa yang kuat hanya tumbuh bersama raga yang sehat.

Dadang Hawari yang menekuni ilmu kedokteran sejak 1968 ini mengungkapkan: peran agama dalam dunia psikiatri modern telah diakui dunia internasional sejak 1993. Agama kini telah telah menjadi bagian integral dalam dunia psikiatri. Itulah sebabnya Dadang Hawari menyatakan seorang pasien gangguan kesehatan jiwa, tak cukup dianalisis dari aspek medis semata, tapi juga harus dianalisis dari aspek agamanya. Analisis pemahaman agama pasien tadi tidak hanya terkait dengan nama dan simbol agama, tapi terkait pula dengan perspektif keimanan dalam agama yang diyakininya.

Jika pemahaman agamanya menghasilkan tindakan yang destruktif, yang kemudian menimbulkan stres dan depresi, baik secara personal maupun sosial, berarti ia berpenyakit. Penyakit itu datangnya dari pemahaman agama yang salah. Kenapa? Karena agama seharusnya merupakan ajaran yang menyelamatkan dan menyehatkan. Jika agama ternyata menimbulkan keresahan dan gangguan jiwa, berarti ia salah dalam memahami agama. Itulah kaitan antara agama dan kesehatan jiwa.

“Semua agama, memerintahlan pengikutnya untuk berbuat baik. Dengan demikian, agama merupakan petunjuk hidup yang harus dijalankan secara benar, agar manusia selamat dalam mengarungi kehidupan,” kata dokter spesialis kejiwaan senior ini.

Secara khusus Dadang Hawari menyatakan, bila orang memahami secara mendalam, Rukun Islam dan Rukun Iman sebetulnya merupakan pedoman hidup dalam berumah tangga dan bermasyarakat untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akherat. Dengan menjalankan Rukun Islam dan Rukun Iman, seorang muslim mampu mengendalikan diri dan tercegah dari segala perbuatan keji dan munkar.

Di samping sebagai psikiater dan da’i, Dadang Hawari dikenal pula sebagai penulis buku yang produktif. Beberapa karya tulisnya yang terkenal — ‘Managemen Stress, Cemas dan Depresi’, ‘Doa dan Dzikir sebagai Pelengkap Terapi Medis’, serta ‘Dimensi Kesehatan Jiwa dalam Rukun Iman’ menjadi buku best seller.

Dalam bukunya yang lain, ‘Gerakan Nasional Anti Mo-Limo’ dan ‘Love Affairs (Perselingkuhan) Prevensi dan Solusi’ Dadang Hawari mengingatkan kita untuk menghindari perbuatan Lima (5) M. Yaitu, pertama, hindari madat alias narkotika karena merusak otak dan jiwa; kedua, hindari minuman keras, yang dapat merusak jiwa dan raga manusia; ketiga, hindari main judi yang dapat membawa kerugian moril maupun materil; keempat hindari maling termasuk korupsi yang menimbulkan bencana ekonomi; dan kelima hindari madon atau main perempuan, prostitusi, pelacuran, dan penyimpangan seksual lainnya karena merusak rumah tangga dan kehidupan sosial.

Dadang Hawari adalah salah satu psikiater terkenal di Indonesia. Dia kerap menjadi narasumber berbagai media nasional untuk berbagai kasus psikologi dan psikiatri. Dia adalah sosok yang tidak asing lagi di kalangan pemerintahan, ilmuwan, agamawan, dan juga masyarakat awam. Aktivitasnya beragam, mulai psikiater, mengisi ceramah masalah kesehatan, hingga meniti karir akademisnya menjadi Guru Besar Tetap di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Selamat jalan Profesor Dadang Hawari. Allah niscaya memelukmu di sorga karena pengabdianmu untuk nusa dan bangsa tiada tara.

Amidhan Shaberah
Amidhan Shaberah
DR. KH. Amidhan Shaberah adalah Ketua MUI 1995-2015/Komnas HAM 2002-2007
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.